Home / Berita / Nobel bagi Peneliti Obat Anti Parasit

Nobel bagi Peneliti Obat Anti Parasit

Penemuan untuk Mengatasi Onkosersiasis, Filariasis, dan Malaria
Tiga ilmuwan meraih Hadiah Nobel Bidang Kedokteran atau Fisiologi 2015 atas penelitian mereka untuk mengatasi sejumlah penyakit yang disebabkan parasit. Mereka adalah William C Campbell (85) dari Amerika Serikat, Satoshi Omura (80) dari Jepang, dan Youyou Tu (85) dari Tiongkok.

Penelitian mereka telah menyelamatkan ratusan juta nyawa, mencegah kecacatan, dan mengurangi jumlah kasus infeksi. Hasil riset mereka juga memacu peningkatan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi.

Peraih Nobel kedokteran tersebut diumumkan oleh Hanss Frossberg, anggota Dewan Nobel, seperti dilaporkan wartawan Kompas, M Zaid Wahyudi, di Nobel Forum, Institut Karolinska, Stockholm, Swedia, Senin (5/10).

Frossberg mengatakan, penyakit akibat parasit menyerang manusia sejak ribuan tahun lalu dan menjadi masalah global. Penyakit itu umumnya ditemui di negara- negara berkembang sehingga menghambat peningkatan mutu dan kesejahteraan manusia. Oleh karena itu, Hadiah Nobel tahun ini diberikan atas pengembangan terapi yang merevolusi penanganan penyakit akibat parasit.

William C Campbell merupakan research fellow emeritus di Drew University, Madison, New Jersey, Amerika Serikat. Adapun Satoshi Omura adalah profesor emeritus di Kitasato University, Jepang. Mereka menemukan avermectin, obat yang secara radikal menurunkan jumlah kasus penyakit onkosersiasis (river blindness) dan filariasis atau kaki gajah.

Sementara Youyou Tu adalah Ketua Profesor di China Academy of Traditional Chinese Medicine, Beijing, Tiongkok. Ia menemukan Artemisinin, obat yang mampu menekan angka kematian akibat malaria.

Beragam penyakit
Penyakit akibat parasit amat beragam. Cacing parasit (helmints) menyerang sepertiga penduduk dunia, khususnya di kawasan Sahara Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara, dan Amerika Selatan.

Onkosersiasis menyebabkan peradangan kronis pada kornea yang berujung pada kebutaan. Sementara filariasis yang diderita lebih dari 100 juta orang di dunia bisa menyebabkan tersumbatnya saluran getah bening hingga terjadi pembengkakan pada kaki, lengan, skrotum, dan payudara. Akibatnya, penderita mengalami stigma dan disabilitas.

cf735b0059c8494eb606ed06f5d24430REUTERS/BRIAN SNYDER – AP PHOTO/SHIZUO KAMBAYASHI – AP PHOTO/XINHUA/JIN–Penerima Nobel Bidang Kedokteran 2015. Dari kiri: William C Campbell, Prof Emeritus Satoshi Omura, dan Youyou Tu.

Seperti filariasis, malaria adalah penyakit yang menginfeksi manusia sejak berabad silam. Malaria disebabkan parasit sel tunggal yang menyerang sel darah merah sehingga pasien mengalami demam, bahkan kerusakan otak dan kematian. Malaria merenggut 450.000 nyawa dalam setahun yang didominasi anak-anak dan mengancam lebih dari 3,4 miliar warga dunia.

Omura memilih 50 bakteri Streptomyces strain baru dari ribuan sampel yang ia isolasi dari tanah. Tujuannya, untuk mengetahui aktivitas bakteri dalam melawan mikroorganisme penyebab penyakit.

Sementara hasil eksplorasi Campbell atas bakteri Omura menunjukkan bahwa salah satu sampel bakteri efektif melawan parasit yang hidup di hewan ternak ataupun binatang peliharaan. Agen bioaktif dalam bakteri itu dimurnikan dan dinamai Avermectin yang kemudian dimodifikasi secara kimiawi agar menjadi senyawa yang lebih efektif dan diberi nama Ivermectin.

Saat uji coba pada manusia yang terinfeksi parasit, Ivermectin terbukti efektif membunuh mikrofilaria (larva parasit filaria).

Sementara itu, efektivitas pengobatan malaria memakai obat anti malaria, klorokuin dan kuinin terus menurun. Ketika upaya eradikasi malaria pada 1960-an gagal, Tu mengembangkan obat tradisional anti malaria bersumber dari ekstrak tanaman Artemisia annua. Tu adalah orang pertama yang membuktikan komponen dari tanaman itu, yang belakangan diberi nama Artemisinin, efektif membunuh parasit malaria yang menginfeksi hewan ataupun manusia.

Penemuan Avermectin dan Artemisinin mengubah secara fundamental pengobatan penyakit akibat parasit.

Dua penemuan itu membawa perubahan besar bagi manusia untuk mampu melawan penyakit akibat parasit yang dialami ratusan juta orang setiap tahun. Harapannya, derajat kesehatan dan kesejahteraan manusia akan meningkat seiring dengan berkuranganya jumlah penderita penyakit tersebut. (ADH)
———————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 Oktober 2015, di halaman 14 dengan judul “Nobel bagi Peneliti Obat Anti Parasit”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: