Home / Berita / Mobile Internet: Kebutuhan dan Gaya Hidup Masyarakat

Mobile Internet: Kebutuhan dan Gaya Hidup Masyarakat

Cepatnya perkembangan teknologi membuat mobile internet atau internet pada gawai menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Selain membentuk pola pikir dan gaya hidup, mobile internet pun memperluas jangkauan dan cakupan bisnis para pelaku usaha di berbagai tingkatan, termasuk usaha kecil dan menengah atau UKM.

Hal tersebut terungkap pada hasil riset yang dilakukan Indosat Ooredoo bersama Penelitian dan Pelatihan & Bisnis (P2EB) Fakultas Ekonomika & Bisnis (FEB) Universitas Gadjah Mada. Riset tersebut berfokus mengenai “Dampak Ekonomi dan Sosial Mobile Internet di Indonesia”. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif.

Direktur P2EB FEB UGM, Bambang Riyanto, di sela-sela pemaparan hasil riset tahap I, di Jakarta, Kamis (9/11), mengatakan, digunakan juga data jumlah pelanggan jasa telepon seluler sebagai indikator variabel perilaku penggunaan mobile internet. “Kami melakukan FGD (diskusi kelompok terarah) dan wawancara mendalam kepada para koresponden dari berbagai profesi,” ujar Bambang.

Pelaksanaan FGD melibatkan sekitar 70 orang, sedangkan wawancara mendalam dilakukan pada 20 orang. Para koresponden berasal dari sejumlah daerah, seperti Daerah Istimewa Yogyakarta, Kota Solo, Kabupaten Karanganyar, dan Kabupaten Wonogiri. Masih tahap awal, riset dilakukan secara makro, pada Agustus-Oktober 2017.

Bambang menuturkan, temuan riset kualitatif antara lain menyebutkan bahwa mobile internet merupakan kebutuhan dan telah membentuk mindset (pola pikir) serta gaya hidup masyarakat. “Mereka (koresponden) menolak ketika ditanya bagaimana jika internet ditiadakan. Mobile internet sudah menjadi sesuatu yang penting bagi masyarakat,” ujarnya.

Mobile internet merupakan kebutuhan dan telah membentuk mindset (pola pikir) serta gaya hidup masyarakat.

Namun, masyarakat juga dinilai telah overdosis dalam penggunaan mobile internet. Itu antara lain terlihat pada fenomena bahwa mobile internet telah mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Hal itu, menurut Bambang, menimbulkan kekhawatiran pada generasi Z, yang cenderung asyik pada gawai ketimbang berkehidupan sosial.

Anggota tim dari P2EB FEB UGM, Purwanto menuturkan, yang paling dikhawatirkan adalah mudahnya pengguna mobile internet termakan kabar yang belum teruji kebenarannya. “Salah satu saran dalam FGD ialah pentingnya perubahan kurikulum di sekolah. Para siswa sekolah diharapkan dapat dilatih untuk membaca, kritis, meneliti, dan membandingkan informasi,” ucap Purwanto.

Para siswa sekolah diharapkan dapat dilatih untuk membaca, kritis, meneliti, dan membandingkan informasi.

Bambang mengatakan, hal positif yang terasa dari penggunaan mobile internet antara lain yakni meluasnya kesempatan untuk memeroleh tambahan pendapatan. Banyak anggota masyarakat yang melakukan moonlighting (menyambi kerja), seperti beraktivitas jual-beli secara daring. Mobile internet memudahkan proses transaksi.

Sementara itu, Arti Adji, anggota tim riset dari P2EB FEB UGM, menambahkan, mobile internet telah memperluas cakupan dan mengefisienkan bisnis. “Para koresponden kami, yang sebagian dari UKM, merasakan, penjualan produk menjadi lebih cepat. Dengan mobile internet, mereka tinggal mengirim foto untuk menawarkan pesanan,” kata Arti.

Lebih jauh, lanjut Arti, mobile internet secara umum telah mengefisienkan pekerjaan. Misalnya, koordinasi seperti logistik dan shift (pergantian jam kerja) dapat melalui grup Whatsapp, yang tak perlu memakan waktu lama.

Pengaruhi PDB
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet (APJII) pada 2016, pengguna internet di Indonesia telah mencapai hampir 133 juta orang atau sekitar 50 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Penggunaan mobile internet pun telah memengaruhi produk domestik bruto (PDB).

Bambang mengatakan, hal itu berdasarkan riset dengan menggunakan data dari 1980-2016. “Berdasarkan data-data tersebut, kami menganalisis bahwa setiap peningkatan 10 persen pelanggan seluler, ada kenaikan PDB sebesar 0,4 persen. Artinya, mobile internet berkolerasi positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia,” kata Bambang.

Peningkatan sebesar 0,4 persen tersebut lebih tinggi dari tren di Asia Tenggara dan Asia. Setiap peningkatan 10 persen penggunaan seluler di negara-negara Asia Tenggara, ada kenaikan PDB sebesar 0,2 persen. Sementara itu, setiap peningkatan 10 persen penggunaan seluler di 46 negara di Asia, ada kenaikan PDB sebesar 0,3 persen.

Selain itu, riset menunjukkan dampak mobile internet terhadap peningkatan PDB lebih besar di negara-negara berpendapatan menengah-rendah (termasuk Indonesia) dan berpendapatan tingggi, daripada dampak mobile internet di negara-negara berpendapatan rendah.

Pada perbandingan di antara 4 negara, Indonesia, Thailand, Malaysia, dan India, ditemukan bahwa peningkatan PDB Indonesia tak berbeda dengan Thailand dan India. Namun, dibandingkan Malaysia, dampak mobile internet terhadap peningkatan PDB di Indonesia lebih rendah 0,03 persen.

Peningkatan PDB akibat dampak penggunaan mobile internet di Indonesia tak berbeda dengan Thailand dan India. Namun lebih rendah 0,03 persen dari Malaysia.

Hal tersebut diduga karena faktor-faktor yang mendukung pengembangan mobile internet seperti infrastruktur, kebijakan pemerintah, regulasi, dan iklim bisnis di Indonesia setara dengan Thailand dan India, tetapi di bawah Malaysia.

Sementara itu, Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo Deva Rachman, menuturkan, riset ini juga bagian dari komitmen pihaknya untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan masyarakat digital Indonesia. Riset diharapkan meningkatkan peran mobile internet dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat, baik sosial maupun ekonomi.

“Riset juga untuk mengetahui dampak negatif yang harus ditangani bersama, sehingga masyarakat akan lebih fokus memaksimalkan manfaat digital bagi kehidupan mereka. Selain itu, hasil riset ini juga nantinya akan kami sampaikan sebagai rekomendasi kepada pemerintah,” ucap Deva.

Adapun penelitian dilaksanakan dalam tahun jamak (multiyears). Pada tahap 2, riset akan lebih mendalam untuk mengetahui detail perilaku pengguna mobile internet. Nantinya, akan ada 1.800 orang yang dilibatkan, dari sejumlah daerah seperti Kota Medan, Kabupaten Deli Serdang, Kota Solo, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Karanganyar, serta Kota Ternate dan sekitarnya.–ADITYA PUTRA PERDANA

Sumber: Kompas, 9 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: