Home / Berita / Mobil Menjadi Sahabat dan Keluarga

Mobil Menjadi Sahabat dan Keluarga

Dua tahun lalu di Frankfurt Motor Show di Jerman, para produsen otomotif banyak memperkenalkan teknologi nirkabel pengisian baterai kendaraan listrik alias wireless charging. Berselang dua tahun, para produsen otomotif memamerkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence). Toyota Motor Corp menjadi salah satu pendorong utamanya.

Tidak ada yang bisa membayangkan sebelumnya bahwa sekumpulan besi, aluminium, atau bahkan kini karbon yang dikemas terstruktur, yang membawa manusia berpindah dari satu tempat ke tempat lain akan mengalami revolusi sedemikian hebat. Dulu ketika mobil ngadat, sebagian pemilik kendaraan memiliki sugesti, dengan sedikit elusan atau bisikan, mobil akan kembali normal dan dapat dikendarai. Bagaikan sahabat atau anggota keluarga.

Kini para ahli di Toyota Motor Corp (TMC) meyakini, melalui perantaraan teknologi, mobil akan benar-benar menjadi sahabat Anda, bahkan keluarga. Sesuatu yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

KOMPAS/MAHDI MUHAMMAD–Toyota Motor Corporation (TMC) memperkenalkan kendaraan Toyota Comfort Ride pada Tokyo Motor Show 2017, Oktober 2017. Ilmuwan TMC membenamkan teknologi kecerdasan buatan pada mobil ini yang juga sekaligus memanfaatkan bahan bakar hidrogen untuk penggunaan sehari-hari.

Itulah yang ditawarkan TMC di Tokyo Motor Show pada Oktober 2017. Sebelumnya, kecerdasan buatan TMC ini juga diperagakan di Consumer Electronics Show 2017 di Las Vegas, Amerika Serikat, Januari 2017. Teknologi AI menjadi titik sentral konsep berkendara TMC masa depan.

Aisha
Semua berawal dari Aisha, yang diterjemahkan para ilmuwan TMC sebagai kesayangan (beloved). Mereka kemudian menerjemahkan Aisha sebagai sebuah kendaraan yang dicintai tidak hanya oleh pemiliknya, tetapi juga seluruh keluarga. Kendaraan tidak sebatas sekumpulan benda mati yang tersusun dan terstruktur semata, tetapi kendaraan menjadi ”seseorang”.

Terjemahan dari penamaan ini kemudian diwujudkan dalam beberapa konsep, diberi nama Concept-i Series, yang telah diperkenalkan di CES 2017. Ketiga kendaraan konsep terdiri dari Concept-i, i-Walk, dan i-Ride. Masing-masing memiliki keunikan tersendiri. Mulai dari kendaraan keluarga berkonsep multipurpose vehicle (MPV), kendaraan bagi individu dengan kebutuhan khusus, dan kendaraan di dalam ruangan.

MAHDI.MUHAMMAD–Toyota memperagakan salah satu teknologi terbarunya di ajang Tokyo Motor Show di Tokyo, Jepang, Oktober 2017.

Perbincangan antara pengendara dan kendaraan yang dinaikinya menjadi salah satu hal yang diinginkan dalam konsep Aisha ini. Sedih, senang, emosi tinggi, semua kondisi yang dihadapi oleh manusia, semua perasaan manusia bisa diolah dan dihadapi mesin. Mobil menjadi seperti layaknya best friend forever, istilah pertemanan masa kini. Teknologi AI menjadi jembatan bagi para ilmuwan TMC untuk mewujudkannya.

Pengenalan karakteristik manusia menjadi hal penting dan tugas itu dibebankan pada sensor-sensor yang dipasang di sekujur tubuh mobil konsep ini. Apabila mobil sekarang menggunakan sensor untuk mengenali kondisi lalu lintas di sekeliling, sensor ini digunakan untuk memindai tubuh, termasuk retina mata dan wajah.

Pengenalan kondisi tersebut yang akan menentukan ”sikap” dan juga perlakuan yang akan diberikan si mobil kepada pengemudinya.

Kiyotaka Isei, President Advanced R & D and Engineering Company TMC, menyebutkan, sensor atau pemindai mata sebagian besar diletakkan di bagian-bagian interior yang menghadap langsung pengemudi, seperti kaca depan, spion dalam, pilar A, dan dasbor.

Perubahan-perubahan mimik wajah dan gerakan retina mata akan dibaca dan kemudian diteruskan pada sebuah central processing unit (CPU), yang menjadi otak sebuah komputer untuk kemudian diproses dan diterjemahkan. Begitu juga dengan sensor-sensor yang ditanam di kursi pengemudi, yang bisa memindai detak jantung dan suhu tubuh seseorang dari suhu tubuh di permukaan kulit.

Semua data itu akan dikirim ke otak kendaraan, yakni ECU, untuk diproses lebih lanjut. Pengenalan kondisi tersebut yang akan menentukan ”sikap” dan juga perlakuan yang akan diberikan si mobil kepada pengemudinya. ”Ekstraksi informasi ini bisa dilakukan dalam 5 hingga 20 detik. Perubahan-perubahan emosi bisa dibaca sang mobil,” kata Isei.

Apabila pengemudi dalam kondisi bad mood, misalnya, dalam beberapa detik mobil akan bertindak cepat untuk membuat pengemudi nyaman berada di dalam kabin. Caranya, dengan membuat suhu udara di kabin menjadi lebih sejuk dan memutar musik yang sesuai dengan mood si pengemudi untuk mengurangi tekanan darah dan emosinya.

KOMPAS/MAHDI MUHAMMAD–Toyota Motor Corporation (TMC) memperkenalkan tiga kendaraan yang menggunakan teknologi kecerdasan buatan pada tiga kendaraan konsep mereka, Concept-i Series, pada Tokyo Motor Show 2017 di akhir tahun lalu. Meski belum akan diproduksi massal, TMC berencana menguji coba kendaraan ini pada 2020 saat Olimpiade Tokyo 2020.

Lebih jauh lagi, jika pengemudi dalam kondisi emosi yang sangat tinggi, si mobil bisa memberi masukan agar si pengemudi tidak mengemudikan kendaraan itu dan mengambil alih kemudi atau mengaktifkan mode swakemudi (autonomous drive).

Tak sebatas mengenali pengemudi atau pemilik melalui sensor-sensor yang ditanam di sekujur bodi mobil, keterhubungan mobil dengan dunia sosial di internet pun bisa digunakan untuk memantau situasi atau mood si pengemudi nantinya.

Makoto Okabe, Project Manager Electric Vehicle TMC, mengatakan, hal itu bisa terjadi karena sistem pengoperasian utama ECU yang merupakan otak mobil terhubung dengan akun-akun media sosial yang dimiliki si pemilik mobil. Dari akun-akun tersebut, seluruh data diproses sebagai sebuah informasi yang akhirnya menjadi landasan pembuatan keputusan oleh sang mobil.

KOMPAS/MAHDI MUHAMMAD–Bagian interior Toyota Concept-i, mobil yang memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan. Tahun 2020 mobil ini direncanakan diuji coba di jalanan ”Negeri Matahari Terbit” itu.

Tantangan
Era keterhubungan ini juga menghadirkan tantangan tak kalah serius yang harus dihadapi TMC dan produsen otomotif lainnya. Selain infrastruktur berkendara yang mendukung kendaraan-kendaraan cerdas seperti ini, tantangan lain adalah faktor keamanan, khususnya keamanan siber (cyber security).

Keterhubungan antara manusia dan mobil sudah hampir pasti akan membutuhkan berbagai data si pemilik kendaraan dan akan disimpan di dalam otak kendaraan. Atau lebih jauh, data si pemilik kendaraan dan mungkin keluarganya akan disimpan dalam server perusahaan otomotif yang sewaktu-waktu bisa digunakan dalam kondisi darurat.

TMC ingin memastikan keamanan dan kenyamanan berkendara sekaligus perlindungan data pribadi konsumennya.

Misalkan, apabila terjadi kecelakaan. Keterhubungan, mulai dari penentuan lokasi kecelakaan menggunakan perangkat global positioning system (GPS) dan juga berbagai sensor yang merekam semua hal di dalam mobil, bisa memudahkan proses tanggap darurat atau pertolongan pertama pada kecelakaan. Polisi atau paramedis dengan cepat bisa menentukan lokasi dan melakukan penjemputan.

Namun, bagi pegiat keamanan data pribadi, tentu saja hal ini menjadi satu isu tersendiri dan harus dipecahkan bersama. Apalagi serangan-serangan malware makin mewabah dan mengglobal. TMC menyadari hal itu.

Okabe mengatakan, hal itu memang menjadi tantangan. TMC ingin memastikan keamanan dan kenyamanan berkendara sekaligus perlindungan data pribadi konsumennya. Bekerja sama dengan beberapa perusahaan teknologi, TMC berusaha menyempurnakan keamanan sistem berkendara ini. ”Hal itu yang perlu kami jawab dan pastikan sebelum kendaraan meluncur di jalanan,” katanya.

TMC memiliki dua tahun lagi sebelum mobil ini akan diuji coba di jalan raya Jepang pada tahun 2020, bertepatan dengan pelaksanaan Olimpiade Tokyo 2020. Tidak hanya tantangan menghadirkan mobil listrik yang mampu mengurangi polusi udara di Jepang yang harus dihadapi sekarang, tetapi juga menghadirkan keajaiban berkendara berikutnya bagi masyarakat dunia.

KOMPAS/MAHDI MUHAMMAD–Sejumlah jurnalis asal Indonesia menyaksikan proses penguisian bahan bakar hidrogen yang diproduksi di Hama Wing atau Yokohama Wind Power Plant ke dalam tangki forklift. Waktu pengisian tangki bahan bakar hanya 3 menit, jauh lebih cepat daripada pengisian tenaga listrik baterai pada mobil EV biasa, yang membutuhkan waktu hingga 8 jam. Hama Wing yang terletak di Prefektur Kanagawa, Kota Yokohama, merupakan pusat pembangkit tenaga angin yang didirikan sejak tahun 2007, hasil kerja sama beberapa perusahaan teknologi, yaitu Toyota Motor Corporation, Toshiba, Pemerintah Yokohama, dan Badan Lingkungan Hidup Jepang.

MAHDI MUHAMMAD

Sumber: Kompas, 16 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: