Mitigasi Bencana Jadi Tantangan

- Editor

Senin, 28 Desember 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Daerah Belum Masukkan Peta Kerentanan
Tsunami yang menewaskan sekitar 160.000 warga Aceh pada 26 Desember 2004 memberi pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia. Meski sejak itu ada kemajuan mitigasi tsunami, perlu perbaikan sistem karena kejadian serupa amat mungkin terulang. Apalagi, Indonesia mengembangkan pembangunan berbasis maritim.

“Saat ini, kita sudah bisa memberikan peringatan dini tsunami dalam lima menit setelah gempa bumi terjadi atau rata-rata 30 menit sebelum tsunami tiba di pantai. Kita masih berusaha mempersingkat diseminasi peringatan ini jadi tiga menit seperti Jepang,” kata Deputi Bidang Geofisika Badan Meterologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Masturyono di Jakarta, Minggu (27/12), terkait peringatan 11 tahun tsunami Aceh.

Masturyono menambahkan, BMKG juga telah berkoordinasi dengan badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) agar peringatan dini tsunami itu ditindaklanjuti dengan prosedur yang benar, salah satunya memasang sirene tsunami di kawasan rentan. “Itu belum pernah ada 11 tahun lalu saat tsunami melanda Aceh. Karena itu, jika kita bandingkan, tingkat risikonya saat ini lebih kecil dibandingkan 11 tahun lalu,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Meski demikian, peneliti tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Widjokongko, mencatat sejumlah kelemahan sistem mitigasi tsunami yang perlu dibenahi. “Rantai peringatan dini dan perangkat pendukung, seperti sirene, belum secara rutin dicek apakah beroperasi atau tidak,” ucapnya.

Temuan Widjokongko, banyak sirene tsunami saat ini tak beroperasi, terutama yang dibangun BNPB dan BPBD. Selain itu, banyak tempat evakuasi sementara yang telah dibangun di sejumlah tempat ternyata terbengkalai dan jadi masalah sosial, misalnya di Bengkulu dan Padang. “Kemanfaatan rute dan tempat evakuasi sementara perlu dievaluasi,” ujarnya.

Peta bencana
Widjokongko menambahkan, peta yang menggambarkan tingkat ancaman tsunami di tiap kota atau daerah secara umum sudah ada, tetapi belum dalam skala rinci sehingga belum operasional. Rencana tata ruang wilayah sejauh ini juga belum memasukkan peta kerentanan bencana, padahal banyak proyek dibangun di kawasan pesisir yang rentan dilanda tsunami.

Sementara itu, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung, Irwan Meilano, mengatakan, dari aspek keberulangan, tsunami dengan kekuatan setara tahun 2004 pernah menghantam Aceh paling tidak tiga kali dalam rentang 2.800 tahun. “Penelitian terbaru membuktikan, deformasi pasca gempa 2004 masih berlangsung di wilayah Aceh sampai kini, bahkan berdampak sampai daratan Malaysia,” ujarnya.

Tak hanya Aceh atau zona subduksi di Samudra Hindia, lanjut Irwan, banyak wilayah Indonesia juga berada di kawasan rentan gempa dan tsunami. Catatan BMKG sepanjang 2015, telah terjadi lebih dari 4.300 gempa dengan 360 gempa yang dirasakan. Hal itu berarti tiap hari terdapat satu gempa terasa. Tujuh di antaranya adalah gempa yang menimbulkan kerusakan. “Artinya, tiap dua bulan sekali, Indonesia mengalami kerusakan akibat gempa. Ini tinggi sekali,” kata Irwan.

Hampir semua gempa merusak itu terjadi pada sumber gempa yang tidak didefinisikan pada gempa Indonesia tahun 2012. “Karena itu, perlu strategi efektif untuk mempercepat pendefinisian sumber gempa,” ucapnya.

Terkait hal itu, riset dasar harus menjadi prioritas, terutama karena pemerintah sedang berusaha mempercepat pembangunan infrastruktur, antara lain kereta cepat, kereta massal bawah tanah, reaktor nuklir di Serpong, dan bendungan. “Upaya itu harus disertai dengan pemahaman potensi bencana yang baik,” kata Irwan. (AIK)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 28 Desember 2015, di halaman 13 dengan judul “Mitigasi Bencana Jadi Tantangan”.

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB