Home / Berita / Misteri Selamatnya Kampung Kinta dari Likuefaksi Dikaji

Misteri Selamatnya Kampung Kinta dari Likuefaksi Dikaji

Zona rawan likuefaksi suatu wilayah tak bisa ditentukan menurut batas-batas administratif. Itu membutuhkan peta rinci atau mikrozonasi sesuai karakter dan kepadatan tanahnya.

Fenomena Kampung Kinta di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu, yang selamat dari bencana likuefaksi menguatkan pentingnya pembuatan mikrozonasi dengan mempertimbangkan pengetahuan lokal. Sebanyak 744 rumah di Kelurahan Petobo hancur akibat likuefaksi jenis aliran, tapi kampung yang pertama dihuni di kawasan itu masih utuh.

”Kinta dalam bahasa Kaili bermakna ’halaman depan’ yang kerap dipakai sebagai nama kampung kecil pertama yang ada di sebuah kawasan di Lembah Palu,” kata Iksam, arkeolog yang juga Wakil Kepala Museum Daerah Provinsi Sulawesi Tengah, di Palu, Kamis (15/11/2018).

KOMPAS/AHMAD ARIF–Kampung Kinta di Kelurahan Petobo, Kecamatan Palu Selatan, Kota Palu selamat dari bencana likuefaksi, seperti terlihat Rabu (14/11). Sebanyak 744 rumah di Kelurahan Petobo hancur akibat likuefaksi jenis aliran, namun kampung yang pertama dihuni di kawasan ini masih utuh.

Dari pantauan lapangan, kondisi 10 rumah di Kinta masih utuh, termasuk ruas jalan aspal sepanjang 20 meter di kampung itu. Padahal, sekeliling area tersebut tertutup lumpur tebal hingga ketinggian hampir 2 meter.

”Tak lama setelah gempa, saya mendengar suara gemuruh diikuti dengan pohon kelapa dan rumah-rumah yang bergerak mendekat dari arah timur dan utara. Namun, aliran lumpur itu seperti memutari Kinta,” kata Buyung (30), warga Kinta.

Menurut dia, sekitar 100 orang di Petobo menyelamatkan diri ke Kinta, tetapi sebagian warga yang tinggal di kampung itu justru meninggal karena saat kejadian berlari meninggalkan rumah mereka. ”Padahal, kalau bertahan di Kinta sebenarnya malah selamat. Namun, waktu itu kami tidak tahu. Semua orang panik,” tuturnya.

Iksam mengatakan, hingga pertengahan tahun 1970-an, Kampung Kinta seperti pulau kecil yang berada di tengah kawasan berawa. ”Untuk ke sana harus naik gerobak sapi. Saat itu belum ada perumnas. Itu menunjukkan bahwa masyarakat dulu sebenarnya sudah memiliki kesadaran untuk mencari tempat yang paling aman,” ujarnya.

–Lokasi Kampung Kinta di tengah-tengah likuefaksi Petobo, Kota Palu.

Pentingnya mikrozonasi
Peneliti likuefaksi Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Adrin Tohari, mengatakan, fenomena Kinta menarik dikaji lebih lanjut. ”Lembah Palu itu dulunya laut. Hipotesisnya, ada lapisan-lapisan tanah lebih padat yang membentuk pulau. Tanah yang mengalami likuefaksi mengitari lapisan padat tersebut. Namun, untuk memastikan itu, harus diteliti struktur tanahnya,” ujarnya.

Menurut Adrin, bencana yang terjadi di Petobo merupakan likuefaksi aliran, yang merupakan salah satu jenis terparah. Likuefaksi jenis aliran itu dipengaruhi oleh adanya kemiringan lereng. ”Daerah yang mengalami likuefaksi struktur tanahnya berupa endapan aluvial dan lebih muda yang belum padat,” katanya.

Daerah yang mengalami likuefaksi struktur tanahnya berupa endapan aluvial dan lebih muda yang belum padat.

Fenomena Kinta itu menunjukkan pentingnya membuat peta mikrozonasi di wilayah. ”Tidak bisa zona bahayanya ditentukan berdasarkan batas-batas administratif, tetapi harus betul-betul rinci sesuai dengan karakter dan kepadatan tanahnya. Peta bahaya likuefaksi yang dibuat Badan Geologi tahun 2012 belum bisa dijadikan patokan,” ucapnya.

Adrin menambahkan, kerentanan bahaya likuefaksi di Lembah Palu pada umumnya sangat tinggi. Likuefaksi jenis lain yang lebih banyak ditemukan di Lembah Palu adalah semburan pasir, seperti terjadi di Desa Birumaru, Kabupaten Sigi, yang berbatasan dengan Petobo.

Menurut Rizaldi Alif, warga Desa Birumaru, saat gempa, muncul banyak semburan lumpur di dalam rumah warga. ”Air lumpur yang keluar di dalam rumah kami sampai tumit. Saat ini kami masih bingung, apakah desa kami bisa seperti Petobo nantinya,” katanya.

Selain itu, banyak ditemukan likuefaksi di pinggir pantai yang menyebabkan beberapa permukiman masuk ke laut. ”Daerah reklamasi termasuk yang sangat berisiko mengalaminya. Mikrozonasi yang akurat bisa digunakan untuk penyesuaian tata ruang. Mana yang terancam likuefaksi semburan pasir, aliran, dan osilasi,” kata Rizaldi.

Sementara itu, Sekretaris Badan Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Radmono Purbo memaparkan, saat ini lembaganya tengah membuat peta mikrozonasi untuk Lembah Palu. ”Dalam beberapa hari ini akan final dan jauh lebih detail dibandingkan dengan yang tahun 2012,” ucapnya.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 16 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Elang Hitam Penjaga Kedaulatan Negara

Penggunaan pesawat udara nirawak jadi tren global. Selain lebih murah, risiko pun kecil. Kini, saatnya ...