Home / Berita / Minuman Beralkohol; Kontroversi Paradoks Perancis

Minuman Beralkohol; Kontroversi Paradoks Perancis

Meski mengonsumsi makanan berkolesterol dan mengandung lemak jenuh dalam jumlah besar, kematian akibat penyakit jantung koroner di Perancis lebih rendah daripada negara lain dengan pola makan serupa. Fenomena yang disebut Paradoks Perancis itu diduga akibat kebiasaan orang Perancis meminum anggur atau wine secara teratur.


Fenomena itu telah diamati para epidemiolog sejak 1980-an. Menurut Jean Ferrières dalam The French paradox: lesson for other countries di jurnal Heart, Januari 2004, kondisi serupa ditemukan di Spanyol. Namun, tidak di Inggris atau Finlandia.

Sejumlah hipotesis diajukan sejumlah pihak untuk menjelaskan fenomena itu. Salah satu yang mengemuka adalah kebiasaan masyarakat Perancis mengonsumsi anggur merah atau red wine dalam jumlah kecil secara rutin.

Data yang dikumpulkan untuk mendukung hipotesis itu menunjukkan, konsumsi anggur merah secara moderat meningkatkan konsentrasi kolesterol high density lipoprotein (HDL), yaitu jenis kolesterol yang mengikat kolesterol lebih sedikit sehingga disebut kolesterol baik. Mekanisme itu menyebabkan tingkat kematian akibat penyakit jantung koroner rendah.

Meski demikian, efek pengurangan risiko penyakit jantung koroner itu bukan disebabkan kandungan etanol atau senyawa alkohol dalam wine yang diperoleh dari fermentasi buah anggur merah. Buah anggur merah mengandung zat aktif resviratrol dan sejumlah polifenol lainnya yang bersifat anti oksidan.

Dosen toksikologi analisis di Fakultas Farmasi Institut Teknologi Bandung, Rahmana Emran Kartasasmita, Selasa (9/12), mengatakan, resviratrol dan polifenol mencegah terjadinya platelet atau saling menempelnya sel darah merah yang bisa memicu penyumbatan pembuluh darah. Kondisi itu yang membuat aliran darah lancar dan mengurangi risiko penyakit jantung koroner.

”Berbagai studi menunjukkan bukti ilmiah manfaat baik minuman beralkohol bagi tubuh, termasuk red wine, sangat kurang,” katanya.

Berbagai bukti menunjukkan, konsumsi minuman beralkohol punya banyak dampak buruk bagi tubuh. Senyawa etanol dalam minuman beralkohol akan mengalami metabolisme dalam tubuh menjadi asetaldehida. Selanjutnya, asetaldehida akan mengalami metabolisme lanjutan menjadi asam asetat yang meracuni berbagai organ tubuh.

Guru Besar Ilmu Farmakologi dan Farmasi Klinik Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada Zullies Ikawati mengatakan, Paradoks Perancis masih kontroversial di antara ahli. Meski dalam kasus di Perancis risiko penyakit jantung koroner bisa dikurangi, risiko berbagai penyakit lain akibat konsumsi etanol tetap tinggi, seperti kanker hati.

Selain itu, Paradoks Perancis mensyaratkan konsumsi anggur merah dalam jumlah kecil dan rutin. Konsistensi pola minum seperti itu diyakini sulit karena salah satu efek etanol adalah menimbulkan kecanduan. Konsumsi etanol memberi rasa nikmat dan nyaman sehingga menimbulkan kecanduan.

Jean Ferrières mengingatkan, rendahnya kematian akibat penyakit jantung koroner bisa disebabkan sejumlah faktor lain, seperti tingginya konsumsi buah dan sayuran, banyak melakukan aktivitas fisik, serta menghindari rokok. Berbagai faktor itulah yang belum dilihat sehingga menyimpulkan anggur merah baik bagi kesehatan tidaklah memiliki bukti kuat yang mencukupi.

Oplosan
Jika konsumsi etanol yang memang merupakan alkohol untuk minuman sudah memiliki dampak besar terhadap kesehatan, penambahan metanol dan sejumlah zat lain dalam cairan oplosan tentu akan memberi dampak lebih besar. Metanol adalah salah satu jenis alkohol yang digunakan untuk bahan bakar dan pelarut kimia, tidak untuk diminum.

Menurut Zullies, metanol di dalam tubuh akan dimetabolisme menjadi formaldehida dan kemudian dimetabolisme lebih lanjut menjadi asam formiat. Asam formiat itu yang menimbulkan efek toksik dalam tubuh.

”Manusia lebih sensitif terhadap efek toksik metanol daripada primata lain,” katanya. Dalam waktu kurang dari dua jam, metanol langsung menekan sistem saraf pusat. Setelah 48 jam sejak diminum, muncul tanda-tanda keracunan yang gejalanya berbeda pada setiap orang.

Tingkat racun metanol tidak ditentukan konsentrasi metanolnya, tetapi kecepatan pembentukan asam formiat dalam tubuh dan kecepatan lever untuk mendetoksifikasikannya. Karena itu, konsumsi metanol dalam jumlah kecil dan konsentrasi rendah tetap berbahaya bagi tubuh.

Rahmana menambahkan, tingginya asam formiat dalam darah akan menyebabkan darah menjadi asam. Jika darah terlalu asam, sistem fisiologi tubuh akan terganggu hingga bisa menimbulkan kematian.

Untuk mencegah dampak mematikan dari konsumsi metanol, seseorang yang telanjur menenggak metanol harus memuntahkannya atau diinduksi untuk muntah. Jika metanol telanjur masuk dalam darah, metanol dikeluarkan melalui cuci darah atau dialisis.

Kandungan metanol yang beracun dalam darah juga bisa dinetralkan dengan memberikan korban zat anti racun berupa cairan etanol yang diinfuskan ke tubuh korban. Pemasukan etanol itu demi mempertahankan konsentrasi etanol dalam darah tetap rendah dan mencegah metanol teroksidasi atau dimetabolisme tubuh menjadi asam formaldehida dan asam formiat.

Oleh: M Zaid Wahyudi

Sumber: Kompas, 13 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Antisipasi Risiko Tsunami di Selatan Jawa

Kajian terbaru menunjukkan potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Jawa. Hal itu menjadi momentum ...

%d blogger menyukai ini: