Minat Periset Asing Bertambah

- Editor

Jumat, 11 April 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Potensi Hayati Indonesia Belum Diteliti Maksimal

Ratusan peneliti asing mengajukan proposal penelitian bidang hayati di Indonesia setiap tahun. Bidang ilmu biologi, ekologi, primatologi, dan oseanografi menjadi kajian yang banyak diminati.
”Periode 2009-2013, kami menerima 600-800 proposal peneliti asing. Kami kabulkan 400-600,” kata Lukman Shalahuddin, Kepala Bagian Administrasi Perizinan Peneliti Asing Kementerian Riset dan Teknologi, Kamis (10/4), di Jakarta.

Banyaknya proposal yang masuk pada periode itu berbeda jika dibandingkan dengan periode 2000-2007. Saat itu, jumlah proposal yang masuk berkisar 100-300. ”Kami jelas melihat, minat peneliti asing terhadap keanekaragaman hayati Indonesia semakin besar,” ujarnya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Informasi itu sesuai dengan tren penelitian dunia akhir-akhir ini yang banyak mengarah pada bidang bioteknologi, terkait dengan kekayaan flora dan fauna dari hutan ataupun laut Indonesia.

”Permintaan kerja sama penelitian bidang biologi dengan kami terus bertambah,” kata peneliti serangga pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Rosichon Ubaidillah.

Lukman merinci, jumlah proposal penelitian yang disetujui pada 2009 ada 461 proposal, 2010 (547), 2011 (460), 2012 (544), dan 2013 (546). Ia tak bisa menjelaskan alasan penurunan jumlah proposal pada 2011.

Asal negara
Proposal-proposal penelitian tersebut mayoritas dari para peneliti yang berasal lima negara maju, yaitu Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Perancis, dan Inggris. Setiap tahun, mereka mengajukan 80-120 proposal (Amerika Serikat), 60-90 proposal (Jepang), 30-90 proposal (Jerman), 10-70 proposal (Perancis), dan 40-60 proposal (Inggris).

penelitiAsingHDua tahun terakhir, kata Rosichon, muncul lonjakan minat meneliti kekayaan alam Indonesia dari para peneliti Tiongkok. Sebagian besar mengajukan izin penelitian yang mengarah pada penelitian obat.

”Korea Selatan sebelumnya juga menunjukkan minat yang tinggi,” ujarnya.

Indonesia, negara laboratorium alam terbesar kedua setelah Brasil, banyak dituju peneliti dengan topik proposal menyingkap keanekaragaman hayati. Lokasi-lokasi penelitian mereka tersebar di seluruh Indonesia, terutama yang memiliki taman nasional, seperti Taman Nasional Gunung Salak dan Halimun (Jawa Barat), Taman Nasional Bali Barat, dan Taman Nasional Kutai (Kalimantan Timur).

Ancaman
Sri Wahyono, Kepala Subbagian Administrasi Perizinan Peneliti Asing yang juga Biro Hukum dan Humas Kemristek mengatakan, meski jumlah proposal yang dikabulkan ratusan, proses seleksinya ketat. ”Ada proposal-proposal yang tidak lolos karena alasan keamanan lokasi penelitian dan sumber daya hayati Indonesia,” ujarnya.

Sejak 2013, keputusan tim penilai menyatakan bahwa peneliti-peneliti yang memilih lokasi penelitian di Papua cenderung ditolak. ”Hanya peneliti-peneliti yang sudah memiliki kerja sama cukup lama dengan Indonesia yang kami setujui. Kalau proposal dari peneliti baru agak susah,” kata Lukman.

Tingginya minat asing meneliti di Indonesia dimaklumi. Sebab, potensinya luar biasa. Di sisi lain, kerja sama itu butuh kejelian agar tak merugikan. ”Kami berhati-hati agar kekayaan Indonesia tetap terjaga, tetapi peneliti kita tetap bisa berkembang,” kata Deputi Kepala LIPI Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati Siti Nuramaliati Prijono. (A05/GSA)

Sumber: Kompas, 11 April 2014

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 22 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB