Home / Berita / MikroHidro; Berjuang Bersama untuk Listrik yang Terjangkau

MikroHidro; Berjuang Bersama untuk Listrik yang Terjangkau

Bagi Gimah (32), buruh pemetik teh, uang sebesar Rp 10.000 sangat berarti untuk membeli bensin guna menyalakan listrik di rumahnya di Dusun Promasan, Desa Ngesrepbalong, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Ia tinggal di emplasemen milik perkebunan teh yang tidak terjangkau layanan listrik dari PLN karena sulitnya akses menuju ke sana.

Ada 22 keluarga yang tinggal di emplasemen berdinding kayu dan berlantai tanah milik perkebunan dan perusahaan pengolah teh PT Rumpun Sari Medini tersebut. Emplasemen di lereng Gunung Ungaran itu hanya bisa dicapai dengan menempuh jalan berbatu sejauh 8 kilometer melalui kebun teh dari desa terdekat. Jika menggunakan mobil gardan ganda atau motor trail, harus ditempuh paling tidak satu jam.

Dengan penghasilan yang sangat terbatas, para pemetik teh dan buruh perkebunan lainnya harus menyisihkan dana cukup besar untuk mendapat listrik. Dengan upah Rp 450 per kilogram pucuk teh, rata-rata pemetik teh mendapat Rp 13.500 untuk 30 kilogram daun teh yang mereka petik.

”Rata-rata saya dan suami bisa dapat Rp 25.000 sampai Rp 30.000 setiap hari. Uang itu untuk kebutuhan sehari-hari, kalau sisa baru untuk beli bensin. Lampu di rumah bisa menyala paling tiga kali seminggu, itu pun hanya dari jam enam sore sampai jam sembilan malam. Tidak kuat beli bensinnya,” kata Gimah, Minggu (16/11).

Relawan PeduliBensin di Promasan dijual seharga Rp 10.000 sebelum harga bahan bakar minyak bersubsidi naik. Selain untuk bahan bakar sepeda motor, bensin juga digunakan untuk menyalakan generator. Namun, tidak semua warga memiliki generator. Biasanya, seorang anak akan mengalirkan listrik ke rumah orangtuanya.

Setelah kenaikan harga BBM, biaya untuk listrik pun otomatis meningkat. Mimpi Gimah, juga warga lain di lokasi itu sama, mereka ingin merasakan listrik yang murah dan dapat tersedia sepanjang waktu.

”PLN pernah ke sini, tetapi selalu dikatakan sulit karena ongkosnya terlalu besar untuk memasang listrik di sini,” kata Rubiah (55), yang tinggal di lereng Ungaran tersebut sejak lahir.

Mimpi Gimah dan buruh lainnya mulai terwujud ketika relawan, yang tergabung dalam Salatiga Peduli, Semarang Peduli, Pekalongan Peduli, juga berbagai komunitas lain, memulai ide membangun pembangkit listrik tenaga mikrohidro pada 2011. Melihat warga di Promasan kesulitan mendapat listrik, muncul dalam pikiran mereka untuk mencari sumber energi alternatif yang murah dan mudah.

Minggu (16/11), para relawan itu menangis haru karena melihat hasil kerja mereka. Turbin dan generator listrik yang mereka rakit menghasilkan listrik dengan tegangan 230 volt dan bisa menyalakan lampu di masjid. Mereka memulai setahap demi setahap, berkunjung setiap hari Minggu ke lokasi itu, dan memulai sedikit demi sedikit.

Saptoyo (43), guru olahraga SMA Negeri 5 Semarang, yang tergabung dalam relawan Semarang Peduli, menceritakan, awalnya mereka membangun bendungan kecil seluas 3 meter x 5 meter untuk membendung aliran sungai kecil di desa itu. Mereka memecahkan batu-batu besar di lokasi itu kemudian mengambil pasir yang tersedia di pinggiran sungai.

Bagaimana dengan semen? ”Kami urunan (iuran). Yang lagi dapat rezeki bisa beli semen satu zak, dibawa ke mari. Kadang ada teman atau relasi yang menyumbang juga,” kata Saptoyo.

Setelah bendungan selesai, mereka memasang pipa untuk mengalirkan air ke turbin. Pipa PVC itu disangga batu, ranting, dan tali rafia. Di ujungnya, setelah menurun dengan kemiringan tertentu, air yang keluar dengan tekanan tertentu akan memutar kincir yang juga mereka buat sendiri. Kincir akan memutar roda yang kemudian akan menghidupkan generator.

Setyo Hartono (33), relawan dari Boja, Kendal, yang sehari-hari berprofesi sebagai pengemudi mobil travel, mengatakan, kincir air dibuat dari pipa besi bekas berdiameter 1,5 inci. Ia kemudian merangkainya di sebuah pelat besi berbentuk lingkaran. Sebelumnya, ia menggunakan cakram rem sepeda motor untuk merangkai kincir, tetapi ternyata terlalu besar.

Sementara itu, generator listrik juga bukan barang baru yang dibeli dari toko. Para relawan mendapatkannya dari seorang guru di Boyolali yang menyumbangkannya.

”Kami semua memulai dari nol. Sebelumnya kami tidak mengerti apa itu pembangkit listrik tenaga mikrohidro. Kami cari informasi dari berbagai sumber, dari internet, dari teman yang mengerti tentang listrik, tentang penghitungan-penghitungan teknik. Akhirnya seperti ini,” kata Hartono.

Sebelum akhirnya pembangkit tersebut berhasil menghasilkan listrik pun, mereka masih harus bergelut membenahi posisi kincir, kemiringan air dengan kincir, yang semuanya hanya disangga dengan kayu-kayu bekas. Jarum penunjuk tegangan listrik di generator terus naik, sampai akhirnya kembali ke nol gara-gara sambungan pipa lepas. Mereka pun berusaha keras menyambung pipa kemudian membenahi sudut jatuhnya air dengan kincir.

Tidak surut
Kegagalan demi kegagalan ternyata tidak menyurutkan semangat mereka sampai akhirnya jarum menunjuk angka 230 volt. Jerih lelah itu akhirnya terbayar ketika lampu berhasil menyala dan mereka saling berpelukan dan menangis haru.

”Ini belum permanen. Kami masih menunggu biaya lagi untuk membuatnya permanen, dengan pipa-pipa besi, lalu untuk membuat rumah kincir. Generator yang ada sanggup menghasilkan listrik hingga 5.000 watt. Ini sangat cukup untuk kebutuhan warga,” kata Hartono.

Ia telah berhitung. Dengan debit air rata-rata 15-20 liter per detik saja, listrik akan mampu menyala terus selama 24 jam. Pada musim hujan, debit air diperkirakan akan lebih tinggi sehingga akan lebih memudahkan produksi listrik. Dia berharap warga nantinya dapat segera menikmati listrik dari pembangkit baru tersebut, apalagi saat ini harga premium naik menjadi Rp 8.500 per liter, yang bisa dijual hingga Rp 12.000 per liter di Promasan.

Santo Handoyo (59), relawan dari Kota Salatiga, mengatakan, modal para relawan selama ini hanyalah niat dan semangat gugur gunung atau gotong royong. ”Gugur gunung adalah modal sosial bangsa Indonesia yang selama ini banyak dilupakan. Ketimbang mengeluh dengan keadaan, kami memilih berbuat sesuatu bagi sesama,” kata Santo.

Tidak hanya membantu warga Promasan mendapat listrik yang murah, mereka juga mengadakan banyak aksi lain seperti membantu membangun rumah bagi warga yang terkena musibah juga menyediakan ambulans gratis.

Joko Suyanto (47), relawan dari Semarang yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi truk, mengatakan, dengan berbagi, dia merasa tidak pernah kekurangan. ”Kalau dipikir dengan logika, saya hanya sopir yang penghasilannya tidak seberapa. Tapi kenyataannya, ketika saya menolong orang lain, saya tidak kekurangan, bahkan rezeki saya ditambahkan,” ujarnya.(Amanda Putri)

Sumber: Kompas, 5 Desember 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: