Home / Berita / Microsoft Asia Innovation; Kecerdasan Buatan untuk Masa Depan Dunia

Microsoft Asia Innovation; Kecerdasan Buatan untuk Masa Depan Dunia

Berbekal informasi yang dikirim melalui telepon genggam mereka, petani di Negara Bagian Andhra Pradesh, India, menanam benih padi pada hari-hari terbaik sesuai rekomendasi dari Sowing Application atau Aplikasi Waktu Tanam. Ketika rekomendasi itu diikuti, ternyata hasil panen padi mereka lebih banyak hingga 30 persen.

Informasi tersebut didistribusikan berkat kerja sama Microsoft dengan the International Crops Research Institute for the Semi-Arid Tropics (ICRISAT). ICRISAT punya misi untuk membantu petani di areal pertanian yang miskin air, sedangkan Microsoft India Development Center kebetulan bermarkas di Hyderabad, ibu kota Andhra Pradesh.

Mengapa informasi rekomendasi masa tanam begitu berarti? Karena lahan pertanian di Andhra Pradesh tidak seluruhnya didukung jaringan irigasi. Ketersediaan air dengan demikian begitu penting saat mereka menanam.

Pesan singkat (SMS) itu dikirimkan kepada petani pada 10 Juni 2016. Tiap petani juga menerima sembilan pesan singkat lain, di antaranya terkait penanganan benih, persiapan lahan, kedalaman penanaman benih, pencegahan hama, hingga waktu panen terbaik.

“Waktu tanam petani pada Juni atau Juli 2016 silam sebenarnya terlambat seminggu hingga 10 hari dibanding waktu tanam tahun sebelumnya yang dilakukan sesuai tradisi. Namun berkat teknologi ternyata hasilnya lebih banyak,” kata Anil Bhansali, Managing Director, Microsoft India (R&D), ditemui di Microsoft India Development Center di Hyderabad, Rabu (17/5).

Aplikasi Waktu Tanam dihadirkan Microsoft didukung oleh peran kecerdasan buatan yang menganalisis data curah hujan selama 45 tahun terakhir, dan data masa tanam selama 10 tahun terakhir.

Ketika pertanian menopang kehidupan 250 juta orang di India dengan luas lahan mencapai 159,7 juta hektar tercatat sebagai lahan pertanian di sebuah negara yang terluas kedua di dunia, penerapan aplikasi Sowing akan diperluas. Karena ketika kesejahteraan petani terangkat, kesenjangan juga berkurang dan perekonomian secara luas terangkat.

Desember 2016, Microsoft India berkolaborasi dengan L V Prasad Eye Institute juga meluncurkan program Microsoft Intelligent Network for Eyecare (MINE). Kecerdasan buatan digunakan dalam program ini untuk memaksimalkan perawatan mata demi meminimalkan potensi kebutaan.

Bagi India, program ini sangat penting karena setidaknya 6,8 juta orang India mengalami kebutaan. Sebesar 40 persen kebutaan dipicu oleh katarak.

Pasien memilih
Supaya efektif dan efisien, Microsoft mengerahkan Cortana Intelligence Suite untuk membangun kecerdasan buatan khusus terkait perawatan mata. MINE, kata Anil Bhansali, akan diperkuat kekayaan data, komputasi awan, dan analisis yang mendalam. MINE juga meredefinisi perawatan mata dengan kekuatan teknologi dan para ahli global yang saling berbagi pengalaman.

KOMPAS/HARYO DAMARDONO–Microsoft India menampilkan inovasi dalam bidang kesehatan yang disebut 99 DOTS (Directly Observed Treatment, Short-Course), Kamis (18/5), di kantor Microsoft di Hyderabad. Dengan 99 DOTS, konsumsi obat oleh pasien dapat dipantau sehingga pasien dipastikan menghabiskan obat sesuai dosisnya. Jika tidak, pasien justru akan mengalami kekebalan tubuh terhadap penyakit.

Berkat kecerdasan buatan, misalnya, mampu ditampilkan kemampuan penglihatan seseorang berusia 10 tahun yang mengalami miopia atau rabun jauh kemudian diperlihatkan prediksi kemampuan penglihatan pada usia 15 tahun. Kecerdasan buatan mampu memproyeksikan tingkat keburaman dari penglihatan yang mulai berkurang sehingga pasien dapat memilih intervensi seperti apa yang diinginkan, apakah memakai kacamata atau menjalani operasi lasik, misalnya.

Inovasi lain yang ditampilkan adalah Project Sangam. Kata sangam dalam bahasa Hindi berarti ‘perjumpaan’. Proyek itu dibangun untuk mengurangi pe-ngangguran di India dengan meningkatkan keterampilan warga India. Melalui aplikasi tersebut, warga dapat mempelajari keahlian baru, seperti kemampuan berbahasa Inggris, keterampilan untuk bekerja di perhotelan, atau keterampilan teknik untuk memperbaiki mobil.

Setelah keahlian itu dikuasai, mereka dapat langsung mencari kerja melalui aplikasi tersebut. LinkedIn yang telah diakuisisi Microsoft memungkinkan warga melamar pekerjaan secara daring. Bahkan, ijazah para pelamar dapat diunggah melalui aplikasi. Kemudian, aplikasi itu secara otomatis menyortir calon pelamar dengan kemampuan yang mendekati syarat yang ditentukan.

Bagaimana memastikan identitas pelamar kerja? Di India ternyata terdapat Aadhaar, semacam KTP elektronik, yang diterbitkan oleh the Unique Identification Authority of India (UIDAI), sebuah lembaga pemerintah di bawah Kementerian Elektronik dan Teknologi Informasi. Dengan menelusuri nomor Aadhaar, identitas dan informasi menyangkut pelamar kerja dapat langsung diketahui.

Di sisi lain, pemberi kerja atau pengusaha dapat mewawancarai calon pekerja melalui Skype Lite yang khusus disediakan untuk pasar India. Skype Lite ini ringan oleh karena disesuaikan dengan kecepatan jaringan internet di India, yang tentu tidak sebaik jaringan internet di negara maju.

Membantu manusia?
Microsoft menegaskan, demokratisasi kecerdasan buatan telah membantu manusia menuntaskan berbagai persoalan. Kecerdasan buatan juga membantu manusia menghadapi berbagai tantangan.

“Komputer kini jadi makin humanis dan lebih berpengetahuan. Kami berupaya membawa demokratisasi kecerdasan buatan ke berbagai aspek,” ujar Sundar Srinivasan, General Manager Artificial Intelligence Microsoft India.

Tentu saja, tumbuh berkembangnya kecerdasan buatan bukan tanpa catatan. Profesi akuntan, pekerja pabrik, hingga dokter dikhawatirkan tergeserkan. Apalagi ketika dikembangkan berbagai jenis algoritma.

Dalam 10 tahun mendatang, bagaimana wajah dunia? Bagaimana teknologi dapat membentuk dunia? Sejauh mana kecerdasan buatan, misalnya, dapat memengaruhi hidup manusia? Ketika pertanyaan itu dilontarkan, Sundar hanya tersenyum.

Pertanyaan itu ternyata tidak mudah dijawab. Sundar mengaku tidak punya jawabannya. Namun, senyuman para punggawa Microsoft menggambarkan optimisme mereka.

Terkait kecerdasan buatan, fisikawan terkemuka Stephen Hawking, akhir tahun lalu, di Universitas Cambridge, Inggris, mengatakan, “kecerdasan buatan dapat mendatangkan kebaikan atau sebaliknya keburukan yang terburuk bagi manusia”.

Persoalannya, kata Hawking, sejauh ini tidak diketahui apakah kecerdasan buatan mengarah kepada kebaikan atau tidak. Tidak dipastikan pula apakah kecerdasan buatan pada akhirnya akan melanggengkan manusia dan kemanusiaan.

Namun, ajang Microsoft Asia Innovation Tour 2017 tampak mencoba untuk mempersuasi jurnalis yang diundang bahwa kecerdasan buatan akan membuat manusia bekerja lebih efisien. Manusia bahkan akan mempunyai banyak waktu luang untuk mengerjakan berbagai hal.

Menurut Sundar, kecerdasan buatan, misalnya, akan membantu manusia dalam banyak hal, seperti dalam hal menyetir. Kini, Microsoft memang sedang mengembangkan teknologi untuk membantu manusia dalam hal menyetir. Algoritma sedang disusun.

Kamera akan mengamati perilaku pengemudi yang mengalami intervensi, mulai dari penggunaan telepon genggam, kepadatan lalu lintas yang bertambah, hingga kelelahan. Sensor kemudian akan memperingatkan pengemudi supaya keselamatannya terjamin dan jika perlu, kendaraan itu diprogram untuk mengurangi kecepatan bahkan mengerem.

“Anda bisa perhatikan, kalau kami tidak melenyapkan pengemudi. Kami hanya membantu pengemudi karena tingginya jumlah kematian di jalan raya akibat kecelakaan,” ujar Sundar.

Namun, bukankah kecerdasan buatan sedang digunakan untuk menghadirkan mobil nirawak? Mei ini, beredar video yang memperlihatkan upaya Aurora Flying Sciences’ Aircrew Labor In-cockpit Automation System (ALIAS) untuk mendaratkan sebuah Boeing 737-800NG dalam simulator di John A Volpe National Transportation Systems Center di Massachusetts.

Jadi, akankah kecerdasan buatan membantu manusia atau menyingkirkan manusia? “Ya, itu kan (kendaraan nirawak) dibuat oleh pesaing kami, bukan oleh Microsoft,” ujar Sundar, berkilah. Tampaknya, waktu yang akan menjawab sepositif apa relasi manusia dengan komputer berkecerdasan buatan.–HARYO DAMARDONO DARI HYDERABAD
———————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Juni 2017, di halaman 26 dengan judul “Kecerdasan Buatan untuk Masa Depan Dunia”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: