Home / Berita / Agrobisnis; Jangan Malu Belajar dari India…

Agrobisnis; Jangan Malu Belajar dari India…

Tahun 1946, seusai kemerdekaan dan masih mengalami blokade ekonomi dari Belanda, Indonesia masih bisa menepuk dada karena bisa menawarkan bantuan beras kepada India sebesar 500.000 ton.

India saat itu mengalami krisis pangan seusai mengalami kekeringan. Berikutnya, diplomasi beras ala Perdana Menteri Sjahrir pun dilakukan. Indonesia membantu beras kepada India, ditukar dengan pemberian bahan pakaian dan alat-alat pertanian oleh India untuk Indonesia.

Itu kisah keemasan masa lalu. Kini, situasi berubah. Indonesia, sekarang menerima impor beras, termasuk dari India, karena gagal mempertahankan ketahanan pangan dalam negeri dengan berbagai alasan.

India saat ini menjadi salah satu lumbung pangan dunia. Produksi beras India saat ini mencapai 104,4 metrik ton per tahun. Produksi itu seperempat dari produksi padi dunia, di mana jumlahnya mencapai 485,9 metrik ton. Nilai ekspor beras India mencapai 4,6 triliun dollar Amerika Serikat (AS) per tahun.

Di luar padi, India juga memproduksi beberapa produk pangan, seperti gandum, jagung, tebu, kapas, minyak biji-bijian, dan nutrisereal.

Prestasi ini tidak datang tiba-tiba. Pemerintah India memiliki perhatian khusus di bidang pertanian. Mereka memiliki lembaga riset baik untuk pertanian, perikanan, maupun bidang lain yang dibiayai pemerintah, yaitu Indian Council of Agricultural Research (ICAR).

Di luar itu, negeri berpenduduk terbesar kedua setelah China (1,2 miliar jiwa) tersebut memiliki lebih dari 30 kampus pertanian (bandingkan dengan Indonesia yang hanya memiliki IPB). Negeri di Asia Selatan ini benar-benar paham bahwa ketahanan pangan adalah kunci keberhasilan masa depan.

Swapan Kumar Datta, Wakil Direktur Jenderal ICAR, menjelaskan bahwa ICAR bertugas meneliti guna menghasilkan rumusan terbaik untuk pemerintah. Di bidang pertanian, misalnya, mereka meneliti benih-benih unggul yang bisa meningkatkan produktivitas pangan India.

Padi dikembangkan di lahan seluas 44 juta hektar di India. Beras terbaik India saat ini adalah beras Pusa Basmati 1509 yang ditemukan tahun 2013. Produksinya lebih dari 6 ton per hektar dengan musim tanam hanya 120 hari. Beras ini menjadi beras unggulan India karena produksinya tinggi dengan masa tanam tidak panjang.

Sebelum mendapatkan beras Pusa Basmati terbaik ini, India sudah mencoba empat jenis padi. Padi itu mulai dari padi tradisional (Taraori Basmati), di mana produksinya hanya 2,5 ton per hektar dengan masa tanam 160 hari, padi Pusa Basmati 1 dengan produksi kurang dari 5 ton per hektar dengan masa tanam 140 hari (tahun 1989), padi Pusa Basmati 1121 dengan produksi 5 ton per hektar dan masa tanam 145 hari (tahun 2004), serta padi Pusa Basmati 6 dengan produksi 5,5 ton per hektar dan masa tanam 150 hari (tahun 2008).

”Untuk bisa berhasil harus mau berinvestasi. Di bidang pertanian, petani harus disubsidi agar mau mencoba benih terbaru yang ditemukan. Jika nantinya petani gagal dengan benih itu, disediakan uang kompensasi sehingga mereka tetap bisa hidup. Ini yang membuat petani mau mencoba benih guna mendapatkan hasil terbaik,” ujar Kumar Datta dalam Syngenta Media Workshop, pekan lalu, di Pune, India.

Bukan hanya beras yang menjadi salah satu contoh keberhasilan India dalam mengelola pertanian. Tahun 2004, Kumar Datta menyebutkan, India masih mengimpor kapas. Dua tahun berselang, dengan optimalisasi lahan dan produktivitas, India sudah berhasil mengekspor kapas.

Swapan menyatakan, produksi kapas India mencapai 12,8 triliun dollar AS. Dari jumlah itu, 4,4 triliun dollar AS diekspor ke beberapa negara lain. Adapun ekspor kapas dan produk tekstil India mencapai 25 triliun dollar AS setahun.

Yang juga penting, menurut Swapan, adalah riset. Di India, ICAR melakukan riset pertanian, perikanan, dan berbagai bidang lain. Riset, lanjutnya, tidak akan sia-sia karena dari riset akan ada kemungkinan bisa selangkah lebih baik dari sebelumnya.

Urusan riset bukan main-main bagi India. Mereka mendirikan berbagai lembaga penelitian di bidang pertanian. Tahun 1898, India memiliki Imperial Bacteriological Laboratory di Pune. Tahun 1905, mereka mendirikan Imperial Agricultural Research Institute di Pusa. Berikutnya, tahun 1948, didirikan Indian Council of Agricultural Research yang bertahan hingga kini. Hingga tahun 2013 setidaknya ada 17 lembaga penelitian pertanian yang dibangun di India.

Terbuka
Selain fokus membuat kebijakan pertanian dalam negeri, India juga sangat terbuka bekerja sama dengan berbagai lembaga dan perusahaan swasta pertanian. Salah satu kerja sama dengan pihak swasta adalah dengan Syngenta, perusahaan swasta internasional di bidang penjualan bibit dan produk pertanian sejenis.

Petani KubisSyngenta masuk India tahun 2000. Berikutnya, Syngenta mendirikan beberapa pusat penelitian dan laboratorium di India serta membina petani untuk memproduksi pangan dengan produktivitas tinggi dan kualitas baik. Tahun 2006, Syngenta mendirikan pusat riset dan teknologi di Goa. Lembaga ini merupakan satu-satunya fasilitas riset kimia Syngenta di luar Eropa. Selanjutnya, Syngenta pun meluncurkan benih beras unggulan, yaitu Tegra, di India.

”Kami bertekad membawa benih-benih potensial untuk kehidupan. Benih terbaik akan menyebabkan produktivitas meningkat dalam kurun waktu singkat. Artinya, penggunaan pupuk dan pestisida pun akan terkurangi. Ini akan menjamin keberlangsungan pertanian ke depan,” ujar Steven Hawkins, Regional Director Syngenta Asia Pasifik.

Sebut saja benih tomat dengan sistem seedlet Syngenta (benih biasa diolah menjadi benih unggul dengan ditambah beberapa material) yang ditanam petani India, Niles Khokrale (32), di lahan Hiware, Pune. Benih tomat seedlet yang ditanam Niles dalam waktu 45 hari akan tumbuh subur 10 kali lipat dibandingkan tomat yang ditanam dengan bibit dan metode biasa.

”Dengan cepatnya benih tumbuh, penggunaan pestisida bisa dikurangi. Ini akan baik untuk tanaman dan menjamin produk kami sehat dikonsumsi,” kata Niles.

Di sini, India sangat terbuka dengan masuknya teknologi pertanian dari luar, seperti yang dibawa Syngenta. Nah, bagaimana pertanian Indonesia ke depan?

Kementerian Pertanian mengatakan berusaha mewujudkan ketahanan pangan secara bertahap. Saat ini, pemerintah berusaha menambah lahan pertanian dari 8 juta hektar lahan menjadi 10 juta hektar lahan pertanian pada tahun 2015. Pemerintah yakin, tanpa lahan yang cukup, swasembada pangan sulit dicapai.

Namun, perlu diingat, ini semua bukan sekadar menambah lahan pertanian. Meskipun lahan ditambah, jika pemerintah tidak sungguh-sungguh menjadikan pertanian sebagai fokus garapan, usaha ini akan sia-sia.

India mengajarkan, mereka mau melakukan riset, memberikan subsidi, bahkan memberikan uang kompensasi kepada petani agar pertaniannya berkembang. Akankah Indonesia berani melakukannya?

Tidak perlu malu mengakui, India jauh di depan kita dalam pertanian. Tak ada salahnya belajar dari India demi perbaikan kondisi pertanian Tanah Air.(Oleh: Dahlia Irawati)

Sumber: Kompas, 6 Desember 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mitigasi Risiko Tsunami Selatan Jawa

Potensi tsunami yang mencapai 20 meter di selatan Jawa agar disikapi dengan perbaikan tata ruang ...

%d blogger menyukai ini: