Home / Berita / Metode Kreatif Beri Solusi Masalah Pendidikan

Metode Kreatif Beri Solusi Masalah Pendidikan

Langkah kreatif merupakan salah satu jalan keluar dari permasalahan kinerja dan kualitas pendidikan di Indonesia Timur tanpa perlu menunggu bantuan dari peemrintah pusat yang membutuhkan waktu lama. Kerja sama antara pemerintah daerah, lembaga swadaya masyarakat, serta gerakan akar rumput menjadi kunci menghasilkan program yang terus bergulir.

Konsep seperti itu diterapkan di Provinsi Maluku dan Nusa Tenggara Timur. Faktor geografis membuat kedua provinsi tersebut tidak bisa mendapat bantuan pemerintah pusat secara tepat waktu. Daripada menunggu, masyarakat yang menginginkan perubahan membuat gerakan akar rumput untuk bersama-sama mencari solusi.

“Prinsipnya, program dirembukkan dan ditentukan oleh masyarakat setempat,”kata pendiri gerakan Heka Leka di Maluku, Stanley Ferdinandus ketika memberi paparan dalam Forum Pembangunan Indonesia 2018 yang bertajuk “Mencari Jalan Keluar Menyelesaikan Kesenjangan Regional di Wilayah Indonesia Timur”di Jakarta, Rabu (11/7/2018). Acara tersebut diadakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Knowledge Sector Initiative.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Pakar Biologi Molekuler Institut Eijkman Herawati Sudoyo menjadi salah satu pembicara dalam Forum Pembangunan Indonesia 2018, di Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Gerakan Heka Leka bertumpu pada falsafah budaya Maluku yang disebut siwalima (perbedaan). Prinsipnya adalah manusia dianugerahi keragaman oleh Sang Pencipta. Sejatinya, karunia tersebut tidak boleh digunakan untuk memecah belah persatuan. Justru, keragaman merupakan kekuatan yang memperkaya masyarakat.

“Berdasarkan prinsip itu pula Heka Leka melihat setiap wilayah memiliki permasalahan yang unik dan membutuhkan jalan keluar berbeda-beda,” tutur Stanley. Akan tetapi, terdapat pula benang merah persoalan seperti guru-guru yang kesulitan mendidik siswa sesuai kebutuhan perkembangan zaman, sarana fisik sekolah yang tidak memadai, dan jarak dari rumah ke sekolah.

Stanley menilai, kemampuan guru mendidik siswa merupakan prioritas utama yang harus segera dibenahi. Apabila guru-guru mumpuni, sarana yang ada walaupun terbatas, bisa dimanfaatkan secara maksimal. Heka Leka bekerja sama dengan gerakan Mari Berbagi Seni dari Jakarta.

Pendiri Mari Berbagi Seni Tita Djumaryo mengatakan pertama kali gerakan tersebut datang ke Maluku pada tahun 2015. Mereka menemukan, umumnya guru-guru mendidik siswa dengan cara yang sangat kaku. Mereka terpaku pada buku pelajaran, padahal teks-teks tersebut bisa diadaptasi sesuai dengan budaya lokal. Selain itu, guru-guru banyak yang mengira mendisiplinkan siswa dengan cara yang tegas sama dengan bersikap galak.

“Langkah pertama yang dilakukan ialah mengajak guru mengalami pembelajaran yang menyenangkan. Caranya dengan bernyanyi, menggambar, mendongeng, dan melakukan permainan tradisional,” ujar Tita.

Guru-guru secara bertahap terbuka wawasan bahwa ada berbagai cara mengemas pembelajaran. Cara tersebut juga tidak membutuhkan biaya mahal. Misalnya, untuk pelajaran IPA siswa mengenal manfaat hidung sebagai indera pencium dengan menggunakan tanaman yang ada di sekitar seperti pala dan cengkeh. Untuk pelajaran seni, siswa belajar menciptakan warna-warna sendiri dengan memadukan pasir yang sudah dicampur pewarna makanan.

“Selain siswa senang belajar, guru juga berkurang rasa stresnya karena mereka tidak perlu bersikap galak untuk memastikan siswa konsentrasi belajar,” kata Tita. Total, ada 1.075 guru yang sudah mengikuti kegiatan tersebut. Mereka tersebar di seluruh kepualauan di Maluku.

Menggiatkan warga
Sementara itu, di Kabupaten Manggarai Timur dan Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, masyarakat terlibat aktif mengawasi kinerja guru. Permasalahan utama di wilayah tersebut ialah guru-guru yang bolos mengajar di sekolah. “Mengutip data Institut Smeru, 10 persen guru di wilayah perkotaan mangkir dari tugas. Sementara, di wilayah pedesaan jumlahnya mencapai 20 persen. Salah satu alasan utamanya ialah jarangnya pengawas sekolah memantau sekolah-sekolah dikarenakan masalah jarak dan waktu,” papar Pakar Analisa Pembangunan Bank Dunia Dewi Susanti.

Bank Dunia bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Nasional dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Pengurangan Kemiskinan serta pemerintah daerah membuat program Kiat Guru. Dalam hal ini, peran komite sekolah dan masyarakat sekitar sekolah dimaksimalkan. Mereka mengawasi dan memastikan guru-guru tidak membolos.

Setiap pagi, guru difoto sebelum mengajar di kelas sebagai bukti bahwa ia tidak meninggalkan kewajibannya. Selain di NTT, program Kiat Guru juga dilaksanakan di Kalimantan Barat, yakni di kabupaten Landak, Ketapang, dan Sintang. (DNE)–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 12 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: