Home / Berita / Merekayasa Gunung Kelud

Merekayasa Gunung Kelud

Terowongan menembus kawah Gunung Kelud di Jawa Timur, yang dibangun Belanda sekitar 100 tahun lalu, merupakan rintisan rekayasa mereduksi bahaya dari sumbernya. Namun, terowongan untuk mengurangi volume air kawah itu tertutup saat Kelud meletus Februari 2014. Seiring terbentuknya kembali danau kawah Kelud, saatnya rekonstruksi dimulai.


Antisipasi letusan Kelud tahun ini terbilang sukses jika dilihat dari ketiadaan korban jiwa, sekalipun perintah evakuasi diberikan kurang dari dua jam sebelum letusan. Selain kesigapan proses evakuasi terhadap 86.000 warga di lokasi bencana, hal tersebut juga karena letusan Kelud saat itu tanpa lahar letusan.

”Jika saat itu letusan Kelud diiringi lahar letusan, mungkin ceritanya lain,” kata geolog dari Museum Geologi Bandung, Indyo Pratomo. Indyo, doktor lulusan Universitas Blaise Pascal, Perancis, yang disertasinya tentang Kelud. Ia masih aktif meneliti karakter Kelud.

16969896hSebelum letusan Februari lalu, danau kawah Kelud menghilang akibat letusan efusif 2007. Saat itu, dasar danau bocor. Pada bekas danau terbentuk kubah lava yang tumbuh cepat, yang terbongkar saat letusan Kelud 2014 dan terlontar dalam bentuk hujan kerikil dan abu hingga ke Jawa Barat.

Namun, bahaya letusan Kelud sebenarnya terletak pada keberadaan danau kawahnya. Letusan mematikan berasal dari lahar letusannya yang menyapu desa-desa hingga memopulerkan nama ”kelud” (Jawa = sapu lidi). Kata ”lahar”, yang kini digunakan internasional, juga dari fenomena khas Gunung Kelud.

Kedahsyatan sapuan lahar Kelud tercatat teks Sanskerta, Goentoer Pabanjoepinda yang ditulis 1334 dan dikutip Indyo Pratomo dalam disertasinya, Etude de l’éruption de 1990 du Volcan Kelud (1992). Disebutkan, ”… Bumi mengguncang, uap panas dimuntahkan dari gunung api dan banyak abu jatuh, gemuruh guntur, petir besar-besar…, muntahan lahar segera tiba kemudian….”

Menurut Indyo, karakter Kelud akan kembali seperti dulu. ”Karena itu, kita harus mewaspadai ancaman lahar letusan yang mematikan. Datangnya sekonyong-konyong dan mampu mencapai jarak 25 kilometer dalam waktu 30 menit. Ini seperti menumpahkan air secara tiba-tiba dari ember,” katanya.

Kini, dasar kawah Kelud mulai terisi air yang dikhawatirkan segera terbentuk danau lagi. ”Terowongan di Kelud sangat penting, jangan sampai tersumbat. Saya sudah mengingatkan ini saat sidang kabinet di pemerintahan lalu membahas erupsi Kelud. Semoga mitigasi bencana ini juga menjadi prioritas kabinet sekarang,” kata Kepala Badan Geologi Surono.

Volume air danau kawah Kelud harus dijaga kurang dari 5 juta meter kubik. ”Lebih dari itu volumenya akan sangat berbahaya,” katanya.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendrasto, ditemui di Kediri, mengatakan, instansinya serius mengkaji perubahan karakter Gunung Kelud. ”Potensi terbentuknya kembali danau kawah Kelud sangat tinggi. Kami harus lakukan langkah-langkah antisipasinya sejak awal,” katanya. ”Terowongan lama sudah tertutup, harus dipikirkan untuk memperbaiki atau membangun terowongan baru.”

Hendrasto mengatakan, jika letusan Februari lalu menyebabkan dasar danau turun, artinya volume air danau kawah akan lebih besar. Dibutuhkan pembangunan terowongan baru pada bagian bawahnya. Namun, jika tak terjadi penurunan, cukup memperbaiki saluran lama.

Sejarah rekayasa
Upaya merekayasa ancaman Kelud sebenarnya sudah lama. Upaya tertua dalam sejarah adalah pembangunan sodetan dari Sungai Konto ke Sungai Harinjing yang dikenal sebagai Sungai Serinjing di Desa Siman, Kepung, Kediri (lihat ”Kelud Revolusi Gunung Api”, laporan khusus Ekspedisi Cincin Api Kompas, 21 Januari 2012).

Prasasti Harinjing atau disebut Sukabumi yang ditemukan di sekitar Desa Siman mencatat itu. Prasasti berangka tahun 921 Masehi itu diperkirakan dibuat pada era Tulodong, memuat informasi pembangunan bendungan (mula dawuhan) dan saluran sungai (dharmma kali) yang keduanya dibangun 804 Masehi. Saluran sungai yang dimaksud adalah Sungai Harinjing atau Sungai Serinjing.

Boomgaard dalam A World of Water: Rain, Rivers, and Seas in Southeast Asian Histories (2007) menyebutkan, bendungan dan saluran sungai itu kemungkinan terhubung candi. Menurut dia, rencana besar penyaluran air itu salah satu strategi besar mengendalikan air dan mengurangi dampak bencana.

Baru pada era Belanda upaya mengendalikan letusan Kelud dilakukan pada sumbernya, yaitu merekayasa volume air Danau Kawah Kelud. Berpatokan bahwa ancaman Kelud membesar seiring besarnya volume air kawah, Belanda berupaya membuat saluran air guna mengurangi volume.

Kusumadinata (1979) mencatat, 11 Juli 1907, Belanda membuat saluran air di lereng barat Kelud. Dampaknya, tinggi muka air kawah turun 7,4 meter dan isi air berkurang 4,3 juta meter kubik. Pada 1919, penggalian terowongan untuk mengalirkan air danau dilanjutkan. Air dari terowongan, menurut rencana, akan dialirkan ke arah Kali Bladak atau Kali Badak. Namun, terowongan itu pernah runtuh dan pekerjaan terhenti. Pembuatan terowongan dimulai lagi pada 1923 dengan menggali tujuh terowongan pembuangan utama dan beberapa saluran sekunder. Pembangunan ini sukses.

Namun, seluruh terowongan rusak, tersumbat saat Kelud meletus 1951. Garis tengah danau yang semula 500 meter menjadi 700 meter, volume air danau pun bertambah menjadi 23,1 juta meter kubik.

Pada 1953, perbaikan terowongan dimulai dan selesai 1955. Pada 1966 dibangun terowongan Ampera sepanjang 20 meter. Volume air danau menjadi 4,3 juta meter kubik.

Analisis PVMBG menunjukkan, jumlah korban Kelud berbanding lurus dengan volume air danau kawah. Saat Kelud meletus 1919, volume air danau kawah saat itu 40 juta meter kubik. Jarak luncur lahar letusan saat itu 37,5 km dan jumlah korban tewas 5.110 jiwa.

Terowongan Ampera meredam amarah Kelud. Menurut Indyo, saat gunung meletus pada 1990, volume danau kawah tersisa 3-4 juta meter kubik. ”Saat itu hanya lumpur yang muncrat keluar. Bahayanya relatif kecil walau ada korban tewas 30 orang,” katanya.

Berdasarkan data itu, pembangunan terowongan merekayasa ancaman Kelud tak terbantahkan. Dengan siklus letusan 15-20 tahunan, sebaiknya dirintis sekarang. ”Saat ini juga semestinya bisa,” kata Hendrasto.

Lahar letusan memang ancaman terbesar Kelud. Namun, memasuki musim hujan, bahaya lahar hujan adalah hal paling mendesak diantisipasi.

Oleh: Ahmad Arif

Sumber: Kompas, 28 November 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: