Merasa Tersaingi, Tukang Ojek Diminta Tahan Diri

- Editor

Senin, 15 Juni 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian meminta tukang ojek untuk menahan diri dan menyikapi inovasi teknologi secara positif. Munculnya aplikasi pemesanan dan layanan ojek belakangan ini, seperti Go-Jek dan GrabBike, ditolak oleh sebagian pengojek di Jakarta dan sekitarnya.

Sejumlah pengguna melaporkan dugaan intimidasi dari tukang ojek lokal kepada pengemudi Go-Jek melalui media sosial. Para tukang ojek melarang pengemudi Go-Jek masuk karena khawatir bakal kehilangan pelanggan. Namun, sejauh ini, intimidasi sekadar lisan, belum menjurus ke tindak kekerasan.

“Jika tukang ojek yang biasa mangkal merasa tersaingi, tingkatkan pelayanan sehingga pelanggan tidak lari, saya yakin segmennya beda. Mohon tahan diri. Kami polisi akan melindungi siapa pun dari aksi kekerasan atau pelanggaran hukum. Kami akan tindak siapa pun pelakunya,” kata Tito seusai menemui Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di Balai Kota Jakarta, Senin (15/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tito menambahkan, inovasi baru dengan memanfaatkan kemajuan teknologi semestinya disikapi positif. Dia yakin pasar yang disasar berbeda.

Seperti sudah diterapkan jasa transportasi taksi, ada perusahaan yang menyasar kalangan eksekutif, ada pula yang menyasar pasar menengah bawah. Dengan penduduk yang mencapai lebih dari 10 juta orang, DKI Jakarta merupakan pasar yang sangat besar.

Selain penolakan dari sebagian tukang ojek lokal, kehadiran Go-Jek yang didukung Basuki menuai protes dari Organisasi Pengusaha Nasional Angkutan Bermotor di Jalan (Organda) DKI Jakarta. Ketua Organda DKI Jakarta Safruhan Sinungan berpendapat, dukungan Gubernur kepada Go-Jek tidak sejalan dengan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Menurut Safruhan, sepeda motor tidak tepat untuk dijadikan angkutan umum barang ataupun orang. “Kami berulang memprotes keberadaan angkutan liar, termasuk ojek. Stop mendukung keberadaan Go-Jek dan ojek,” ujarnya.

Basuki mengatakan, keberadaan Go-Jek justru membantu tukang ojek. Aplikasi berbasis teknologi informasi yang diterapkan membuat operasi ojek jadi efisien. “Mereka (tukang ojek di Go-Jek) tak perlu ngetem di pinggir jalan sehingga waktu tak terbuang. Penumpang pun lebih terjamin keamanannya karena pengojek diseleksi dan diawasi oleh Go-Jek. Jika terjadi sesuatu terhadap penumpang, Go-Jek bertanggung jawab,” tuturnya.

Pendiri Go-Jek, Nadiem Makarim, menolak Go-Jek digolongkan sebagai perusahaan transportasi. “Go-Jek itu bukan usaha transportasi ataupun logistik. Kami perusahaan peranti lunak,” katanya.

Menurut Nadiem, protes dari tukang ojek terjadi hanya di beberapa pangkalan tertentu. Bentuknya verbal. Di ratusan pangkalan, para tukang ojek berbaur. Perselisihan terjadi karena miskomunikasi. Go-Jek justru mendapat apresiasi positif karena dapat mengurangi risiko kemacetan akibat operasi kendaraan yang tak efisien di jalan raya.

MUKHAMAD KURNIAWAN

Sumber: Kompas Siang | 15 Juni 2015

Informasi terkait

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Berita ini 17 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Jumat, 7 Agustus 2026 - 16:30 WIB

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB

Artikel

Jejak 100 Hari Pemburu Kayu

Jumat, 7 Agu 2026 - 16:30 WIB