Home / Berita / Ojek, Makanan, dan Makin Sempitnya Waktu di Jakarta

Ojek, Makanan, dan Makin Sempitnya Waktu di Jakarta

Sambil rapat dengan sejumlah rekan kerja, Irwandi (27), perancang grafis, menggenggam telepon pintar. Dengan sentuhan jari telunjuk di ponsel berlayar datar, dia masuk ke dalam aplikasi Go-Jek. Ayah satu anak itu lalu memilih fitur antar makanan (food delivery) yang disebut Go-Food.
Di fitur itu muncul beragam menu makanan, seperti bakmi, aneka nasi, aneka ayam dan bebek, soto, bakso, sop, sate, burger, sandwich, serta steak yang menggugah selera. Tanpa pikir panjang, Irwandi memesan empat paket burger dari sebuah restoran di Pacific Place, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Makanan itu sampai di lokasi rapat di Jalan Wijaya 1, Jakarta Selatan, dalam waktu kurang dari 30 menit. Pengantarnya adalah pengemudi ojek yang bergabung dalam perusahaan layanan transportasi dan kurir berbasis teknologi Go-Jek. Irwandi lalu membayar tagihan makanan Rp 235.000.

Begitu bungkus makanan dibuka, Irwandi dan kawan-kawan langsung menyantap burger yang masih hangat. “Saya terbantu dengan fitur Go-Food. Hanya dengan sentuhan jari, kita bisa memesan makanan tanpa perlu terjebak macet di jalanan,” kata pria yang tinggal di Pondok Kopi, Jakarta Timur, itu, Sabtu (11/4).

Jean (23), karyawan swasta, juga merasakan manfaat pemesanan makanan via online. Perempuan yang tinggal di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, itu kerap memesan makanan melalui situs Foodpanda ( www.foodpanda.co.id). Menurut dia, memesan makanan secara online menghemat waktu dan membuatnya lebih produktif. “Paling terasa manfaatnya saat jalanan padat lalu lintas. Kita tidak perlu terjebak macet berjam-jam hanya untuk mencari makanan,” katanya.

Managing Director Foodpanda Sander van Der Veen mengatakan, Foodpanda, yang berpusat di Berlin, Jerman, dan memiliki cabang di lebih dari 40 negara, memiliki pelanggan dari berbagai kalangan. Untuk melayani kalangan warga asing yang bekerja di Jakarta, Foodpanda tak hanya menjangkau restoran lokal, tetapi juga sejumlah restoran yang menyediakan masakan otentik khas dari sejumlah negara.

Menurut Van Der Veen, Jakarta merupakan pasar yang menjanjikan karena kota ini merupakan salah satu kota di dunia dengan pengguna internet, media sosial, dan ponsel pintar terbanyak. “E-commerce tumbuh pesat di kota ini,” ucapnya (Kompas, 16/11/2014).

Pendiri dan Chief Executive Officer Go-Jek Nadiem Makarim menuturkan, perusahaannya bekerja sama dengan lebih dari 15.000 restoran, rumah makan, dan pedagang kaki lima di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Selain menawarkan beragam pilihan makanan, fitur Go-Food juga memiliki keunggulan, makanan bisa sampai ke tujuan secepat mungkin karena perusahaan ini bekerja sama dengan 3.000 pengemudi ojek. “Tukang ojek yang berada paling dekat dengan restoran yang dituju akan membawa makanan itu kepada pemesan secepat mungkin,” kata Nadiem.

Nadiem menjelaskan, selama April pengiriman makanan melalui fitur Go-Food tidak dikenai biaya perjalanan. Mulai Mei, pemesanan dikenai tarif Rp 25.000. Setelah 6 kilometer akan ada penambahan Rp 4.000 per 1 kilometer. Karena layanan tersebut juga termasuk dalam fitur Shopping, terdapat penambahan biaya Rp 10.000.

Fitur Go-Food, ujar Nadiem, diluncurkan untuk menambah referensi makanan dan meningkatkan produktivitas warga Ibu Kota. “Selama ini, kita hanya memesan makanan restoran siap saji yang sudah terkenal. Ada kalanya kita juga perlu mencoba makanan lokal,” katanya.

97a1630fc70344a3b64ab21835d313d3Para pengemudi ojek bersiap mengantar pesanan makanan pengguna aplikasi ponsel pintar Go-Jek, saat peluncuran fitur Go-Food di Jakarta, Rabu (8/4). Keberadaan aplikasi pesan antar makanan memudahkan kehidupan warga Ibu Kota yang kian terimpit kemacetan. KOMPAS/DENTY PIAWAI NASTITIE

Penjelasan teknis seputar Go- Food langsung dipraktikkan Kompas, Sabtu malam. Kala itu, salah satu awak redaksi mencoba memesan sop konro dari Rumah Makan Samino di kawasan Permata Hijau melalui gawai Android. Tak sampai setengah jam, seorang tukang ojek yang mengenakan jaket warna hijau itu datang menenteng bungkusan seporsi sop tulang iga ke lantai 3 Gedung Kompas, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta.(Denty Piawai Nastitie)
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 April 2015, di halaman 26 dengan judul “Ojek, Makanan, dan Makin Sempitnya Waktu di Jakarta”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: