Menyelundup ke Eropa demi Menuntut Ilmu

- Editor

Senin, 17 Oktober 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Alijullah Hasan Jusuf (65) tak kuasa menahan air mata tatkala mengisahkan pengalamannya menjadi penumpang gelap ke Eropa, tahun 1960-an. Suaranya tersendat di menit ke-3. Lalu kisahnya diteruskan istrinya, Suryati Harefa, hingga tuntas di menit ke-20.

“Saya tak kuat menahan haru ketika menuturkan kisah yang saya alami 48 tahun silam,” kata Alijullah-akrab dipanggil Ali-saat peluncuran buku terbitan Penerbit Buku Kompas, Paris Je Reviendrai, Aku Kan Kembali, di toko buku Gramedia Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (8/10). Buku itu merupakan kelanjutan dari buku pertamanya, Penumpang Gelap Menembus Eropa Tanpa Uang, yang diluncurkan setahun lalu. Buku pertama mengisahkan keberanian dan kecerdikan Ali pergi ke Belanda, sedangkan buku kedua mengisahkan perjalanannya menuju Paris, Perancis.

penumpang-gelap-menembus-eropa-tanpa-uangIa menumpang pesawat Qantas Boeing 707 secara ilegal dari Bandara Kemayoran, Jakarta. Ali naik pesawat Jakarta-Paris tanpa paspor, tiket, dan visa pada 18 Agustus 1968. Keberanian itu muncul dari mimpinya mengecap pendidikan di Eropa karena situasi politik di Indonesia kala itu tidak kondusif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Keinginan kuat untuk belajar di luar negeri membuatnya tak kapok mengulangi petualangannya menjadi penumpang gelap. Sepuluh bulan sebelumnya, Ali melakukan hal serupa.

Ali tak hanya mengandalkan keberuntungan. Semua langkah telah direncakanan secara matang. “Selalu ada plan B sebagai persiapan ketika plan A gagal,” ujar pria asal Aceh ini.

Semangat untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya sudah tumbuh di batinnya saat remaja. Setamat sekolah menengah di Tanah Rencong, ia merantau ke Jakarta. Ia ingin mendapatkan pendidikan yang lebih baik daripada yang ada di daerahnya. Pada usia 17 tahun, Ali mematok impian merengkuh ilmu di Universitas Sorbonne (Paris); Universitas Leiden (Belanda); atau Universitas Cambridge (Inggris).

Sesampainya di Paris, ia didepak ke Jakarta oleh Pemerintah Perancis lantaran tak memiliki paspor. Ali pulang ke Indonesia dengan komitmen tetap ingin kembali ke Paris. “Au revoir, Paris, mais je reviendrai. Selamat tinggal, Paris, tetapi aku akan kembali,” ucap Ali.

Setiba di Indonesia, Ali bekerja sebagai pesuruh kantor agar bisa menabung untuk terbang ke Paris dengan cara yang legal. Akhirnya, pada 18 Februari 1970, ia terbang kembali ke Paris untuk mengambil studi sastra budaya dan komersial di Universitas Sorbonne. “Kali ini tak ada yang saya cemaskan karena sudah punya paspor, tiket, dan visa,” tuturnya.

Pelecut bagi anak muda
Pada acara peluncuran buku itu, menurut wartawan Kompas,Budiarto Shambazy, kisah perjalanan Ali melukiskan kegigihan luar biasa. Mantan Duta Besar RI untuk Tiongkok, Juwana, menilai, Ali adalah sosok yang memiliki keinginan kuat untuk belajar di negeri orang.

Kisah Ali dapat menjadi pelecut bagi anak muda untuk menuntut ilmu. Tentu bukan kenekatan naik pesawat secara ilegal itu yang patut ditiru, melainkan kegigihannya dalam mengejar mimpi secara tak biasa.

Kini, Ali menjalani usia senjanya di Paris setelah pensiun sebagai staf bagian protokoler Kedutaan Besar RI untuk Perancis. (C09)
——
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 17 Oktober 2016, di halaman 12 dengan judul “Menyelundup ke Eropa demi Menuntut Ilmu”.

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 49 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB