Home / Berita / Meniti Karir Setelah SMTA

Meniti Karir Setelah SMTA

Anda telah lulus, dari SMA jurusan IPA. Ingin melanjutkan kemana? Mungkin ada baiknya juga bila anda sedikit mengetahui dulu apa-apa yang akan anda hadapi di beberapa jurusan yang akan anda pilih nanti. Dan harapannya di masa depan.

Dan anda, akhirnya, lulus juga. Mungkin dengan dikatrol, mungkin pula tidak, entahlah. Yang penting ‘kan anda lulus, katrolan itu bukan kemauan anda, ya? Dan selamat tinggal, sekolah kumuh jurusan IPA itu, dengan guru-gurunya yang seakan — aneh tapi nyata — merasa ilmu pengetahuan berhenti sejak ratusan tahun lalu; buta terhadap perkembangan baru, apa lagi yang di abad 20 ini. Ya, selamat tinggal kepada mereka-mereka, walau anda masih saja tetap mendengar cacian itu: mutu lulusan sekarang jauh merosot! Tak peduli, jalan terus, toh kesalahan itu tak seluruhnya dari anda. Yang mengajarnya dong, coba disorot. Produk baik, adalah berkat rancangan yang baik pula, bukan? Apakah ada yang berani bilang, bahwa anak-anak dalam dekade belakangan ini, lahir dengan inteligensia yang lebih rendah? Tentu tidak, bahkan mereka mungkin lebih cerdas, dengan begitu banyak dan cepatnya rangsang. an informasi yang diterima anak-anak kini dibandingkan mereka-mereka yang hidup di zaman lalu. Salah siapa? Intan pun perlu digosok, tinggal siapa yang menggosoknya? Yah, sudahlah, anda ‘kan telah lulus . .. . dan selamat tinggal. Selamat datang kehidupan dewasa, hari-hari masa depan . . . mau jadi apa? Ah, ini lagi, menambah pusing kepala. Tapi, mungkin anda termasuk yang paling optimis, tak begitu peduli; bukankah karir seseorang amat luas di depan? Mungkin anda pun menunjuk, kepada mereka-mereka — Liem Swie Liong, Mas Agung bahkan Presiden sendiri — yang tanpa bekal pendidikan formal tinggi tapi sukses luar biasa. Yah, tapi anda harus ingat, bahwa orang-orang semacam mereka itu, menurut orang Barat, adalah yang one in a million. Satu dalam sejuta, begitulah, yang beruntung dikaruniaiNya bakat —atau rasa— luar biasa. Contoh terakhir, si Ellyas Pical itu. Dia hanya berpendidikan sampai kelas V SD, tapi memang tak apa-apa. Dia ‘kan ingin menjadi petinju, bangku sekolah mana yang bisa mengajarinya? Orang yang berbakat besar seperti dia, bukan sekolah formal yang harus dimasukinya, tapi sasana tinju. Begitu pula para jenius musik di Barat: begitu bakat besar mereka terlihat, dari usia dini, langsung ke konservatorium. Yah, mereka-mereka ini beruntung dikaruniaiNya bakat luar biasa, orang-orang satu dalam sejuta. Tapi, kita-kita dan anda-anda selebilinya, yang biasa disebut manusia normal, memang tak ada pilihan lain kecuali melirik ke pendidikan formal itu. Dan memang, pendidikan formal adalah cara yang paling “mudah”, dan terjamin, untuk meraih kesempatan yang lebih baik di masa depan. Cuma anda pun jangan terkecoh tentang bakat tadi. Menjadi seorang Barnard, Einstein, von Neumann dan sebagainya pun dikaruniaiNya bakat luar biasa. Bakat yaug hanya akan berkembang bila digosok dalam bangku-bangku pendidikan formal. Dan inilah yang penting, bila anda memilih jurusan apa yang akan anda masuki: pilihlah yang sesuai cita-cita dan kata hati anda. Dan anda boleh jamin, bahwa anda tak akan gentar sedikit pun menghadapi masa depan itu, karena anda telah memilih jalan yang menurut anda terbaik. Bahwa anda tak mungkin tak berhasil, karena anda telah memilih keahlian yang mendarah daging dalam diri anda. Anda lulusan SMA jurusan IPA, mau kemana? Pilihlah sesuai rasa anda, dan di bawah kami sajikan beberapa pilihan yang mungkin dapat membantu anda. Anda telah lulus, selamat, dan semoga berhasil.
—————————-

Pendidikan insinyur Teknik

Pendidikan Insinyur teknik itu gado-gado. Ada ilmuwan teknik, ada profesional teknik.

Oleh Dali S. Naga

Adi dan Ida merasa bangga dan berbahagia. Beberapa hari yang lalu, mereka telah dinyatakan lulus dari sekolah menengah. Menurut istilah sekarang, sekolah itu bernama Sekolah Menengah Atas jurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Masih dalam luapan kegembiraan itu, segera pula, mereka menyusun rencana hidup selanjutnya. Kedua-duanya mempunyai keinginan yang sama: melanjutkan sekolah, ke perguruan tinggi.

Agaknya, cita-cita mereka mempunyai akibat sampingan. Keinginari itu membunuh kegembiraan lulus SMA yang baru saja berumur seminggu. Mereka mulai sadar, bahwa jalan masuk ke perguruan tinggi itu, diikuti pula oleh ratusan ribu lulusan SMA yang sama-sama lulus seminggu lalu. Lagi pula, mereka, masih merasa bingung: perguruan tinggi mana yang akan mereka datangi? Jurusan apa yang perlu mereka pilih?

Setelah melihat banyak gelar terpampang di sekitar mereka, Adi pun berkata, “Saya ingin menjadi insinyur.” Rupanya, gelar insinyur Yang disandang berbagai ahli yang ada di sekitar hidupnya, menarik perhatiannya.
“Insinyur pertanian?” tanya Ida.
“Bukan, bukan,” jawab Adi. “Itu.Insinyur lulusan ins-titut Teknologi Bandung atau ITB.” “O, insinyur teknik,” kata Ida sekenanya. “Saya juga mau.”

Demikianlah, Adi dan Ida sekelebat bercita-cita menjadi insinyur teknik. Kata insinyur teknik pun mereka ciptakan, guna membedakannya dengan kata insinyur pertanian. Namun, sampai di sini, mereka pun menghadapi masalah baru.

Mereka belum mengetahui benar, apa sebenarnya pendidikan insinyur teknik itu? Mereka juga belum memahami benar apa saja pekerjaan insinyur teknik. Dan lebih celaka lagi, mereka juga belum mengetahui, apa-apa saja yang diajarkan pada pendidikan insinyur teknik? Mereka tidak kehilangan akal. Mereka berbagi tugas untuk mencari informasi tentang pendidikan insinyur teknik. Para ahli teknik mereka datangi, untuk menanyakan seluk beluk pendidikan itu.

Gado-gado Ilmuwan & Profesional
Karena cukup gesit, Ida cepat memperoleh sejumlah informasi.
“Pendidikan insinyur itu,” kata Ida ketika bertemu dengan Adi, “adalah gado-gado.”
“Ha! Gado-gado?” seru Adi agak terkejut. Tanpa menghiraukan keterkejutan Adi, Ida pun meambahkan, “Pendidikan teknik tingkat tinggi diberikan di universitas, di institut teknologi, di sekolah tinggi teknik, dan bahkan di politeknik.”
“Masa bodoh,” kata Adi. “Coba terangkan dulu apa yang dimaksud dengan gado-gado itu.”
“Sabar, sabar. Menurut informasi yang saya peroleh,” kata Ida selanjutnya, “istilahnya juga bermacam-macam.
Ada yang menamakannya teknik, ada yang menamakannya rekayasa, serta ada pula yang menamakan enjiniring.”
“Kita namakan teknik saja,” tegas Adi, “karena itulah yang paling banyak digunakan orang untuk istilah Inggris engineering.”

Segera pula Ida menuturkan kisah yang diperolehnya dari seorang insinyur teknik. Menurut sang insinyur, kata Ida, insinyur teknik itu adalah gado-gado yang terdiri atas ilmuwan teknik dan profesional teknik. Mereka, selain mempelajari ilmu teknik, juga mempelajari teknologi teknik. Porsi ilmu dan porsi teknologi, di dalam pendidikan itu, belum pernah ditetapkan secara jelas. Perimbangannya juga berubah-ubah, menurut waktu dan tempat.

Sekalipun demikian, di universitas dan di institut teknologi, porsinya cukup berimbang. Sekali waktu, ilmu bisa jadi sedikit lebih banyak dari teknologi; waktu lain, teknologi sebaliknya sedikit lebih banYak dari ilmu.

Namun, di akademi dan di politeknik, porsi teknologi teknik jauh lebih besar dari porsi ilmu. Bahkan, ketrampilan di bidang teknologi teknik, diberikan dalam takaran yang cukup besar. Pendidikan ini hanya menyiapkan profesional teknik.

“Lantas,” tanya Adi, “apa saja kerja ilmuwan teknik, apa pula kerja profesional teknik?”
“Ilmuwan teknik berkecimpung terus di bidang ilmu teknik,” kata Ida menjelaskan. “Mereka ada di perguruan tinggi, di laboratorium, dan di bidang penelitian. Pokoknya, ilmuwan teknik lebih mementingkan ilmu teknik. Mereka terus belajar, mencari, dan kalau dapat, menemukan sesuatu yang baru di bidang teknik.”

Menurut informasi yang diperoleh Ida, pekerjaan profesional teknik jauh lebih luas. Dan itupun masih terbagi, menurut bidang teknik yang mereka pelajari. Pekerjaan mereka bermacam ragam, dari kearsituran sampai ke teknik nuklir, dari pertambangan sampai ke mesin dan industri.

Lulusan teknik sipil, misalnya, membangun rumah, jalan, bendungan, irigasi, dan bahkan gedung pencakar langit. Lulusan teknik tenaga listrik bekerja di bidang pembangkitan tenaga listrik, pendistribusian tenaga listrik, sampai ke bidang peralatan listrik. Lulusan teknik telekomunikasi, bekerja di bidang telekomunikasi dan elektronika yang berhubungan dengan itu. Lulusan teknik elektronika, bekerja di bidang elektronika, sampai ke mikroelektronika di dalam komputer. Lulusan teknik mesin bekerja di bidang permesinan. Ada yang di bidang otomotif, ada yang di bidang konstruksi, dan bahkan ada yang di bidang pompa dan kompresor. Sejenis dengan itu, ada juga jurusan pesawat terbang, jurusan perkapalan dan cntah apa lagi.

Masih banyak jurusan di pendidikan insinyur teknik ini. Ada jurusan teknik perminyakan, ada jurusan teknik kirnia, pertambangan, geodesi, dan ada pula teknik nuklir. Sifat kerjanya juga bermacam ragam, dari yang bersifat seni seperti. pada arsitektur, sampai ke yang bersifat industri seperti pada teknik mesin. Dari yang berukuran kecil, seperti pada mikroelektronika dan mikromekanika, sampai ke yang sangat besar seperti pada konstruksi waduk atau kapal tangki.

Pekerjaan mereka tak jarang bersinggungan dengan bidang profesi lain. Elektronika banyak digunakan di bidang medik, di bidang perkantoran, di bidang teknologi kerumahtanggaan. Bahkan, semua bidang teknik ini, muncul di bidang pertahanan dan kemiliteran. Karena bidang teknik ini menyentuh bidang profesi lainnya, insinyur teknik perlu juga mengenal dan memahami profesi lain yang mereka sentuh itu.

Jabatan Insinyur
Teknik Dua hari kemudian, Adi memperoleh informasi tentang jabatan insinyur teknik. Segera pula ia mencari Ida untuk menyampaikan informasi itu. Kebetulan, Ida juga telah memperoleh informasi tambahan.
“Insinyur teknik itu dapat memilih jabatan.” kata Adi.
“Jadi kepala negara,” jawab Ida, ” seperti Presiden Sukarno atau Presiden Carter.”
“Bukan itu maksud saya,” kata Adi mengoreksinya. Apa yang ia maksudkan?

Pertama, kata Adi, mereka dapat memegang jabatan di bidang perencanaan dan pengawasan. Mereka merencanakan bangunan, alat, dan konstruksi. Rencana itu, mereka tuangkan dalam bentuk gambar, beserta berbagai perhitungannya; tersusun sampai ke bagian terperinci yang siap untuk dikerjakan. Kelak, ketika rencana itu dilaksanakan atau diwujudkan, maka mereka juga melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan itu. Jika perlu, mereka melakukan pengujian atau testing bahan dan konstruksi.

“Nah,” kata Ida, “saya mau memegang jabatan itu.”
“Nanti dulu,” kata Adi, “harus masuk pendidikan insinyur teknik dulu, dan setelah itu, harus memperoleh pekerjaan!”
“Idilh, kok begitu,” tukas Ida sebal.” Bercita-cita kan boleh.”
“Hati-hati,” tandas Adi, “Di sini, tidak semua bidang teknik itu merancang. Yang paling banyak merancang adalah bidang arsitektur, bangunan, serta instalasi listrik dan pipa”

Kedua, kata Adi lagi, adalah jabatan di bidang pembuatan atau produksi. Rencana yang telah disusun itu dilaksanakan dan, dalam hal ini, perlu ada yang melaksanakannya. Di sini, insinyur teknik dapat banyak berperan. Mereka membangun rumah, jalan, jembatan, pelabuhan, bandar udara. Menurut istilah sekarang, menjadi pemborong atau kontraktor. Mereka juga dapat bekerja di bidang produksi pabrik.

“Apa yang mereka kerjakan di pabrik itu?” tanya Ida.
“Nah. Di sinilah memang letak persoalannya,” jawab Adi.”Proses pabrik di impor dari luar negeri. Jadi, mereka hanya mengontrol saja .”

Ketiga, kata Adi melanjutkan, adalah bidang perawatan. Mereka merawat bangunan, mesin, listrik, serta semua alat teknik yang sudah berjalan. Selama tidak ada kerewelan, pekerjaan mereka hanya meliputi rawatan rutin. Servis, kata orang Jakarta. Dan insinyur teknik boleh saja santai.

Tetapi, sekali ada kerewelan, mereka bukan main sibuknya. Apa lagi, kalau perusahaan itu menuntut kelancaran baik siang maupun malam, maka kerewelan itu hisa membuat mereka bekerja seperti “orang gila.” Sebab itulah, biasanya, insinyur teknik membuat rencana rawatan ke masa depan, untuk menjaga kerusakan yang beruntun. Rencana. ini perlu, karena alat yang dipasang pada waktu yang sama, kelak akan sama tuanya pula. “Kalau rusak banyak piltak yang mengeluh,” kata Ida. “Adakah yang memuji kalau sentuanya berjalan lancar?”

Keempat, kata Adi meneruskan kisalutya, adalah reparasi;. Ada insinyur teknik yang hanya bekerja di bidang pereparasian. Kalau ada kerusakan, ruaka mereka memperbaikinya. Setiap hari, mereka hanya berhadapan dengan barang rusak. Sering tempat kerja mereka itu dikenal sebagai bengkel. “Insinyur rusak,” kata Ida sambil tertawa. “Seperti dokter saja.”

Kelima, sambung Adi, adalah di bidang pemasaran atau sales engineer. Pabrik mengharapkan agar produksinya dibeli orang. Namun pembeli ingin mengetahui seluk-beluk produksi itu. Tidak semua seluk beluk alat dikenal oleh pembeli. Apa lagi, kalau alat itu rumit seperti mesin cetak, komputer raksasa, dan sejenisnya. Nah, di sini, insinyur teknik banyak berperan. Mereka :menjelaskan hal itu kepada calon pembeli.

Jabatan ini juga memerlukan keahlian tambahan. Mereka harus mampu membuat calon pembeli tertarik atau terkesan. “Jabatan ini cukup cocok buatmu, Ida,” kata Adi lagi. “Biasa merayu, he he. Tapi, itulah jabatan insinyur teknik. Kalau perlu, insinyur teknik dapat pula menjadi direktur, menteri, duta besar.”

Pelajaran Pendidikan Insinyur Teknik
Kini, giliran ida yang menyampaikan hasil buruan informasinya. Informasi ini berhubungan dengan pelajaran di dalam pendidikan insinyur teknik.

“Pendidikan teknik dibagi dalam jurusan atau program studi,” kata Ida memulai penjelasannya. “Pelajaran di setiap jurusan berbeda, sesuai dengan cabang ilmu teknik dari jurusan itu.”Kalau jurusan elektroteknik, jelas mempelajari listrik. Jurusan mesin mempelajari mesin. Jurusan tambang mempelajari pertambangan.

“Kalau itu saya juga tahu,” potong Adi. “Masa jurusan sipil belajar farmasi.”
“Eh, bukan begitu maksudnya,” kata Ida. “Sekalipun demikian, pada umumnya, ada sejumlah pelajaran yang menjadi prasyarat pada semua jurusan itu.”

Pertama, adalah matematika. Pada sejumlah jurusan, selain matematika dasar selama beberapa semester, diberikan lagi beberapa semester maternatika lanjutan. Jenis matematika lanjutan ini bergantung kepada jurusan bersangkutan.

Matematika ini sangat diperlukan pada ilmu teknik. Teknologi teknik juga memerlukannya. Bahkan, matematika komputasi juga penting. Insinyur teknik zaman dulu sering membawa mistar hitung. Insinyur sekarang sering membawa kalkulator elektronik. Dan di masa depan, barangkali, akan sering membawa komputer.

“Kalau begitu,” kata Adi, “mereka yang tidak senang matematika jangan masuk pendidikan insinyur teknik.”
“Tidak semua jurusan menuntut matematika sebanyak jawab Ida. “Ada juga yang tidak begitu banyak. Namun, kalau tidak senang matematika, ya, jangan masuk pendidika5 teknik dong.”

Kedua adalah fisika. Dasar dari ilmu teknik adalah fisika dan, pada beberapa jurusan, juga kimia. Pelajaran fisika sangat diperlukan. Pada beberapa jurusan, selain beberapa semester fisika dasar, terdapat lagi beberapa semester fisika lanjutan. Ada fisika klasik ada fisika modern atau atom. Selanjutnya, titik berat jenis fisika juga berbeda dari jurusan ke jurusan. Di jurusan sipil, misalnya, mekanika statika banyak digunakan. Di jurusan mesin, mekanika dinamika dan termodinamika banyak digunakan. Dan di elektroteknik, fisika yang menyangkut atom dan elektron adalah penting.

Ketiga adalah kimia. Tentunya, kimia terutama diperlukan pada jurusan teknik kimia, perminyakan, pertambangan, dan semacamnya. Tanpa kimia, jurnsan teknik kimia tidak akan ada. Hanya saja, kimianya ini, bukan kintia untuk obat. Itu urusan jurusan farmasi.

“Masih ada prasyarat lain?” tanya Adi.
“Sabar, masih ada,” jawab Ida.

Keempat adalah gambar. Gambar diperlukan pada ba-nyak jurusan pendidikan insinyur teknik. Ada gambar seni dan ada pula gambar teknik. Arsitektur jelas berkaitan dengan gambar yang bersifat seni. Bahkan di jurusan arsitektur ini, gambar adalah pelajaran utama.

Jurusan sipil memerlukan gambar bangunan dan konstruksinya. Jurusan mesin memerlukan gambar mesin beserta bagian alatnya. Jurusan elektroteknik memerlukan gambar alat elektroteknik dan rangkaian listriknya.

Sebenarnya, pada gambar ini juga muncul matematika-nya. Gambar itu memerlukan perhitungan dan pengukuran. Bahkan, gambar teknik dapat menggunakan alat gambar yang makin rumit. Belakangan ini, ada gambar yang dapat dilakukan melalui komputer.

Semoga Berhasil
Demikianlah, setelah memahami beberapa garis besar tentang pendidikan insinyur teknik, Adi dan Ida memantapkan pilihan mereka. Karena bercita-cita menjadi perancang bangunan, Ida memilih teknik sipil. Adi, yang tertarik kepada barang aneh yang bernama mikroelektronika, memilih teknik elektronika.

Mereka mulai giat mempersiapkan diri. Matematika dipelajari lagi secara tekun. Fisika dan kimia dibaca ulang untuk memantapkan penguasaannya. Bahasa juga perlu. Soalnya, buku yang ada, kebanyakan ditulis dalam bahasa Inggris. Bahasa Indonesia juga penting. Semua ilmu disalurkan melalui bahasa. Membaca melalui bahasa, menulis juga melalui bahasa. Apa lagi, masa’ lulusan perguruan tinggi tidak dapat berbahasa dengan benar dan baik? Malu dong.

Mudah-mudahan Adi dan Ida berhasil mewujudkan cita-cita mereka itu . . . dan semoga pula mendapatka’n pekerja-an yang sesuai bila sudah meraih gelar nantinya. Kita doakan.
————————

Ingin Jadi Insinyur?

Berapa persen dari industri kita yang sudah melakukan proses perancangan sendiri? Belum banyak. Sebagian besar masih mengimpor rancangan dari luar negeri.

Oleh Bagyo Y. Moeliodihardjo

Nah. Ternyata koq memilih program studi tidak gampang, ya ?! Padahal, Abdul Omprengan, siswa SMA-MCLVIII yang lulus Ebtanas dengan NEM 8.0 bulan kemarin, sejak kecil sudah mempunyai cita-cita untuk menjadi insinyur —tidak seperti Adi dan Ida tadi yang sekelebatan memilih cita-citanya. Karena jaring PMDK tidak ikut menjaringnya, maka ia mengikuti ujian tulis Sipenmaru. Sewaktu akan mengisi Formulir Pendaftaran, mulai timbul keragu-raguan, melihat bahwa ternyata begitu banyak program studi pada fakultas-fakultas teknik.

Sementara Abdul termangu-mangu, nanar memandangi Buku Petunjuk Pengisian Formulir Pendaftaran-nya, temannya sekelas menegurnya. Gadis ini, Centilwati namanya, berpendapat bahwa tiada guna jadi insinyur di Indonesia. Paling-paling, setelah selesai sekolah nanti, jadi tukang catut atau istilah kerennya sales-manager “Mendingan masuk Fakultas Ekonomi, sudah pasti terpakai ilmunya!” kata si Centil kepada si Abdul, yang sedang bengong tadi. Walaupun si Centil mengatakan hal tersebut sambil bergurau dengan gayanya yang centil, bagi si Abdul, kata-kata ini dikajinya benar-benar. Soalnya, pendapat si Centil bukan tidak beralasan. ‘Kan sudah banyak contohnya! Benarkah pendapat si Centil ?

Bagi negara yang sedang berkembang, sudah berkali-kali dinyatakan, bahwa kita membutuhkan sekian ribu insinyur. Bahkan mulai tahun 1984, pemerintah telah mencanangkan suatu crash-program untuk memproduksi sarjana-sarjana teknik dalam jumlah besar. Apakah kita memang membutuhkan tenaga insinyur sebanyak itu? Bagaimana prospek masa depan para insinyur tersebut?

Suatu bayangan idam-idaman setiap mahasiswa teknik, adalah menjadi seorang perancang. Entah merancang pesawat terbang, mobil, komputer, kapal, pabrik, rumah, gedung bertingkat, sepeda, bahkan bajaj atau becak. Pokoknya, merancang sesuatu bentuk, dan melakukan perekayasaan untuk merealisir rancangan tadi. Akan tetapi, menginjak tahun kedua Repelita IV (tahap industrialisasi), relatif masih sedikit sekali insinyur kita yang bekerja sebagai perancang. Ini, tidak bisa dilepaskan dari masalah bisnis dan ekonomi, memang. Berapa persen dari industri kita yang sudah melakukan proses perancangan sendiri? Ternyata, masih sedikit sekali, mungkin berkisar antara 10 sampai 20%. Sebagian besar industri kita, masih harus mengimpor rancangan-rancangan dari luar negeri, karena proses mengalihkan teknologi tidak sama dengan membeli teknologi.

Sebetulnya, bagaimana sih kait-mengait berbagai aspek itu misalnya ekonomi, bisnis, sosial, politik, teknologi, dan sebagainya? Untuk dapat sedikit merasakan apa yang terjadi, marilah kita coba mengikuti urutannya mulai dari awal. Sebelum memulai suatu usaha apapun, yang kita butuhkan pertama-tama, adalah semangat dan niat. Sudah tentu, semangat dan niat saja, tidak cukup untuk dijadikan modal usaha. Dari sini, kita perlu modal berupa uang, untuk membiayai usaha kita. Bila masih miskin, kita perlu pinjam uang untuk modal. Darimana kita dapat meminjainnya? Sudah tentu, dari orang kaya, atau bank. Adakah orang kaya, atau bank, yang sedemikian dermawannya mau meminjamkan uangnya untuk usaha kita tanpa pamrih? Ada. Tapi, yang begini renik sekali jumlahnya, sehingga bila anda tetap berkeras menunggu sampai bertemu dermawan seperti ini, maka anda boleh jamin menunggu sampai Lebaran Kuda! Oleh karena itu, untuk memperoleh modal, kita harus mau mengikuti syarat-syarat yang ditentukan peminjam —sepanjang persyaratan tersebut masuk akal sehat.

Andaikan modal sudah kita peroleh. Maka usaha sudah dapat kita mulai, yaitu usaha industri. Suatu usaha industri itu berarti merancang dan memproduksi sesuatti. Proses perancangan di sini, mungkin agak berbeda, dengan proses perancangan yang dilakukan di sekolah-sekolah tugas perancangan dibuat untuk sebuah prototip. Di industri perancangan, dilakukan untuk membuat produk yang akan diproduksi secara masal. Suatu produk yang akan dilemparkan ke pasar, harus melalui pelbagai proses uji coba, dimana hasil rancangan berkali-kali disempurnakan sesuai dengan hasil uji coba. Dengan demikian, proses ini jadi mahal harganya. Untuk menghemat biaya, mungkin kita lebih baik membeli saja rancangan yang sudah ada. Misalnya, daripada merancang dari awal rumah yang hendak kita bangun, lebih murah membeli rancangan yang ada di buku-buku arsitektur.

Setelah produk selesai dibuat, akan timbul masalah pemasaran. Siapa yang mau membeli produk kita? Kalau produk hanya bisa dijual di sekitar kampung kita saja, maka jelas usaha kita terancam bangkrut. Coba bayangkan, bila kita menjual kacang goreng. Ternyata yang dibeli hanya 2 bungkus. Padahal kita sudah mengeluarkan investasi untuk panci, kompor, dan gerobag dorong! Untuk memenuhi selera pembeli yang lebih luas (misalnya di luar kampung kita sendiri), barang buatan kita haruslah mengikuti standar-standar tertentu.

Bila lingkup pemikiran di atas kita buat lebih luas, maka usaha pengem-bangan industri, di suatu negara pun mirip dengan itu. Modal harus kita peroleh, dari pinjaman negara-negara industri, atau bank-bank internasional. Persyaratan pinjaman harus kita penuhi. Kemudian, bila kita ngotot mempergunakan rancangan sendiri, maka besar kemungkinan biaya akan naik berlipat-lipat. Sehingga, terpaksa kita gunakan rancangan baku, yang dibeli dari luar negeri berdasarkan lisensi. Teknik melola proses produksi, mungkin masih dapat kita pelajari sendiri. Tapi, untuk memasarkan produk kita? Bila tidak mau mati bersaing dengan sebangsa, harus berusaha menjual ke luar negeri. Wah, ini repot!

Demikian rumitnya masalah kait mengait ini. Sehingga, bila kita amati, sebagian besar industri kita belum menggunakan rancangan sendiri. Lalu, apa kerja para insinyur kita, bila kebutuhan akan perancang masih belum memadai? Masih banyak tugas mereka, misalnya memelihara dan memperbaiki peralatan, melola proses produksi, dan lain sebagainya. Sisanya . . .menjual produk di pasar alias salesman!!

Bidang pemasaran memang menarik, ktrena lebih cepat menghasilkan uang (berdasarkan bonus), lebih terbuka kesempatannya untuk naik ke jenjang berikutnya, dan kurang menuntut ketrampilan profesi sebagai ahli teknik sendiri. Jadi, kedua belah pihak memang saling memanfaatkan. Pihak industri, karena menginginkan keuntungan lebih cepat, segan untuk melakukan perancangan sendiri. Ini menyebabkan lowongan untuk perancang menjadi sempit. Tetapi, di lain pihak, para sarjana teknik sendiri cenderung untuk memilih pekerjaan yang mudah dan cepat menghasilkan uang, daripada menjadi perancang teknik.

Hal ini berkaitan pula dengan pola pendidikan teknik yang dianut banyak perguruan tinggi. Bukan rahasia lagi, bahwa kurikulum pendidikan teknik yang ada, tidak cukup besar memberikan perhatian pada ketrampilan perancangan. Hal ini, mungkin disebabkan oleh kurangnya fasilitas laboratorium (komputer dan sebagainya) yang diperlukan untuk tugas perancangan, maupun kurang pengalaman dari pengajar sendiri dalam melakukan perancangan.

“Wah, jangan terlalu pesimis, Centil!” kata Abdul kepada Centil. Paling tidak, insinyur sipil dan arsitek, tidak akan lepas dari tugas perancangan. Sedangkan bagi bidang teknik lainnya, justru sarjana-sarjana teknik yang mempunyai motivasi dan kemampuan profesional tinggi, mempunyai kesempatan besar di sini. Banyak rancangan baku, yang dibeli dari luar negeri, tidak sesuai dengan kebutuhan negara kita. Oleh karena itu, kemampuan perancangan kita sendiri, akan semakin besar dibutuhkan dalam pembangunan. Para industriawan, tidak akan semudah dulu lagi membeli rancangan dari luar negeri, karena persaingan keras di dalam negeri menuntut rancangan yang sesuai dengan kondisi dan situasi di negara kita.

Di samping itu, bagi seorang insinyur masih banyak tugas lain, selain merencana. Tugas-tugas perneliharaan, dan pelaksanaan, amat banyak mem-butuhkan tenaga insinyur. Mau jadi pedagang dengan meinjadi salesman? Masih terbuka kesempatan lebar. Dalam dunia bisnis modern sekarang, seorang salesman dituntut untuk menguasai masalah-masalah teknis, agar produk yang dijualnya dapat sesuai dengan kebutuhan konsumen. Bila anda sudah mempunyai latar belakang teknik, dengan sedikit bakat dan kemauan, tidak terlalu sulit mempelajari teknik-teknik penjualan. Mau jadi manajer? Seperti juga untuk sales, kesempatan untuk jadi manajer masih terbuka lebar. Kursus-kursus pendek, untuk mempelajari teknik sales atau manajerial, cukup banyak ditawarkan. Tapi, bila anda “hanya” mempunyai latar belakang ekonomi atau bidang lain yang non-teknis, kemungkinan untuk dapat mempelajari masalah-masalah teknis jauh lebih sedikit.

“Aaah, sudahlah. Mari kita makan bakso dulu, setelah itu kita coba isi formulir ini bersama-sama!” potong si Abdul sambil menarik Centil pergi.

——————————–
Lewat Bidang Kedokteran

Oleh E. Nugroho

Karir di bidang kedokteran mungkin paling jelas: lulus, jadi dokter. Benar sesederhana itu?

Bagi banyak siswa SMA, bayangan tentang karir di bidang kedokteran, sering lebih jelas daripada bidang-bidang lain. Bila lulus, jadi dokter: jelas saja, bukan? Boleh dibilang begitu. Namun, banyak juga yang perlu lebih diketahui.

Pendidikan kedokteran, kini, umumnya dapat diselesaikan dalam waktu 6 tahun. Tiga tahun pertama, di tingkat pra-klinik, dan sisanya tingkat klinik. (Bila anda kebetulan masuk universitas swasta, hmm, ya sedikit lebih lama).

Pada tingkat I, diajarkan ilmu-ilmu biologi, kimia, matematika, fisika. Tak ubahnya seperti di SMA, cuma sedikit lebih mendalam. Juga disertai dengan praktikum, yang sering tak dilakukan di SMA. Banyak yang mempertanyakan, apakah pelajaran-pelajaran tersebut tidak membuang-buang waktu saja? Yah, membosankan atau tidak, berguna atau tidak, nyatanya sampai sekarang masih diberikan.

Dasar-dasar llmu Kedokteran
Tingkat II merupakan pendidikan kedokteran yang sebenarnya. Di tingkat ini, para mahasiswa mulai diperkenalkan dengan dasar-dasar ilmu kedokteran, yaitu anatomi, ilmu faal atau fisiologi, biokimia, ilmu kesehatan masyarakat, dan histologi. Ilmu-ilmu ini merupakan dasar ilmu kedokteran, karena mempelajari keadaan tubuh manusia dalam keadaan sehat. Pada tahap ini, mahasiswa boleh dikata belum tahu apa-apa tentang penyakit. Tapi, di sinilah kita akan tahu betapa miripnya tubuh manusia dengan mesin. Betapa “sederhananya” tubuh manusia itu sebenarnya, bila dilihat dari sudut ilmu fisika, mekanika, dan ilmu-ilmu lain.

Dalam anatomi, misalnya, dengan rhembedah mayat (umumnya tiap 7 — 8 mahasiswa mendapat satu mayat yang akan “habis” diiris-iris pada akhir pelajaran), kita mengetahui sejelas-jelasnya tubuh manusia: tulang ini berada di mana — bagian kiri atau kanan? Lubang pada tulang ini untuk lewat saraf apa?; Tonjolan tulang ini untuk tempat menempel otot apa?; pembuluh darah, urat saraf, harus diketahui dengan tepat kemana “lari”nya, setelah melewati bagian tertentu mereka membelok kemana, di mana mereka bercabang, dan seterusnya. Pengetahuan mendetil ini, akan diuji dalam bagian ilmu anatomi, yang disebut topografi. Biasanya diberi potongan kaki atau badan manusia. Yang terlihat hanya penampangnya saja. Dan anda ditanya, “potongan ini potongan apa — setinggi apa — yang ditunjuk ini otot apa — saraf apa ?” Bagi orang awam, membedakan potongan lengan orang dewasa dan potongan paha anak kecil, misalnya, bukan pekerjaan mudah.Tapi, bagi mahasiswa kedokteran tingkat II, itu pekerjaan sehari-hari (jangan tanyakan pada dokter di tempat praktek. Karena umumnya 90% ilmu tadi telah “dikembalikan” pada pengajarnya: lupa!), yang memang harus dipelajarinya.

Anatomi mengajaikan kita pengetahuan tentang “onderdil” tubuh manusia, secara lengkap. Tapi, cara kerja alat-alat tubuh itu, baru dipelajari secara mendetil dalam ilmu faal alias fisiologi. Mengapa jantung berdenyut? Konon, jantung akan berdenyut lebih cepat, bila volume darah di dalam jantung berkurang. Benarkah? Ini akan ditunjukkan dalam percobaan-percobaan dengan jantung kucing (atau kura-kura). Jantung dilepaskan dari badan, dan disambungkan ke pipa-pipa, sehingga volume cairan yang mengalir ke jantung itu dapat diukur para mahasiswa. Benarkah otot bekerja karena aliran listrik? lni bisa dilihat dari otot kodok. Otot dilepaskan, dan diikatkan pada alat pengukur. Percobaan-percobaan fisiologis juga dilakukan pada manusia; misalnya, mengukur tekanan darah, melihat efek bila orang diputar ke satu arah, mengukur volume pernafasan dan sebagainya.

Histologi memperkenalkan kita pada dunia jaringan tubuh lewat mikroskop. Mahasiswa belajar mengenal gam-baran mikroskopis seluruh jaringan tubuh yang normal: otot, otak, pembuluh darah, tulang, kelenjar dan lain-lain. Ini perlu untuk membedakan jaringan tubuh yang abnormal, akibat sakit, kanker dan lain-lain (jaringan yang abnormal ini akan diajarkan pada tingkat III).

Juga, di tingkat ini, kita telah mulai diberi dasar-dasar ihnu kesehatan masyarakat. Ilmu ini —tentunya karena dianggap penting— diajarkan terus menerus sampai lulus ujian dokter. Namun, tak sedikit mahasiswa yang muak dengan ilmu ini. Bukan karena ilmunya sendiri membosankan, tapi karena apa yang mereka pelajari sungguh berbeda dengan kenyataan sehari-hari. Jagalah kebersihan, katanya. Tapi, di fakultas itu sendiri, mereka menyaksikan WC yang (waktu itu) begitu jorok. Bagaimana? Sesungguhnya, ilmu inilah yang memegang peranan terpenting dalam karir para mahasiswa itu, bila mereka nantinya berniat memegang jabatan manajerial (di rumah sakit maupun di kantor-kantor kesehatan pemerintah). Mungkin, yang perlu dibenahi adalah cara mengajarkannya, yang harus dibawakan secara aktual, melihat situasi yang nyata.

Tingkat berikutnya, tingkat III, memberi dasar kepada para mahasiswa tentang keadaan-keadaan tubuh manusia pada keadaan sakit atau abnormal. Maka, di sini diberikan pelajaran tentang kuman-kuman, cara mengenal dan membiakkannya (ilmu mikrobiologi). Dalam praktek dokter yang sebenarnya, ilmu ini banyak terpakai. Misalnya, bila penyakit tak dapat didiagnosa dengan cara-cara lain, darah si sakit diambil dan dibiakkan kumannya. Dari sini, mungkin ditemukan penyebab penyakit tadi, juga obat apa yang cocok untuk melawan kuman itu.

Ilmu lain di tingkat ini ialah ilmu tentang parasit (parasitologi). Umumnya, jatah yang dinantikan dalam praktikum di sini ialah pembagian tahi! Tugas: mencari telur cacing dan menentukan jenis cacingnya. Dengan mengetahui jenis cacing ini, obat yang tepat dapat diberikan. Dalam ilmu parasitologi ini, juga diajarkan tentang anatomi dan perilaku nyamuk dan serangga lainnya, jamur-jamur dan sebagainya. Pokoknya semua parasit pada tubuh manusia.

Ilmu yang juga sangat menarik ialah yang disebut farmakologi, ilmu tentang obat. Bagaimana obat bekerja? Bagaimana pembagian jenis-jenis obat? Apa khasiatnya? Untuk lebih mendekatkan dengan kehidupan nyata, dilakukan praktikum dengan teman sendiri maupun dengan hewan. Misalnya, seorang rekan diminta meminum obat, yang khasiatnya melebarkan pembuluh darah. Teman-temannya mengikuti pengaruhnya, dengan mengukur denyut jantung, pernafasan, suhu tangannya, dan sebagainya. Untuk melihat efek obat yang lebih “berat” dan berbahaya, obat bius misalnya, dilakukan percobaan pada anjing atau tikus. Ini semua merupakan persiapan untuk menggunakan obat sesungguhnya pada manusia, pasien.

Di tingkat ini, juga diberikan ilmu patologi anatomik, dan patologi klinik. Ilmu ini mempelajari badan yang dalam keadaan sakit. Pada dasarnya, ini adalah pekerjaan di laboratorium. Melihat gambaran jaringan kanker di bawah mikroskop dan menentukan jenisnya; menghitung jumlah darah merah, jumlah darah putih dan sel-sel sejenisnya; menentukan ada tidaknya gula atau protein dalam air kencing, dan lain-lain.

Dari berbagai pelajaran di atas, yang langsung dipakai dalam praktek dokter sehari-hari cuma farmakologi: pengetahuan tentang obat. Yang lain praktis tak dikerjakan sendiri. Curiga penyakit cacingan? Kirim saja pasiennya ke laboratorium. Mau tahu jenis infeksi apa? Kirim saja pasien ke. laboratorium untuk diperiksa darah, kencing, dan kotorannya. Maka, bagi sebagian besar dokter, ilmu-ilmu tadi juga 90% telah dikembalikan ke pengajarnya: lupa. Yang diingat cuma garis-garis besarnya, yang penting saja. Dalam kehidupan nyata, dalam praktek, semua pekerjaan lab itu ternyata lebih cepat, lebih tepat, dan lebih praktis dilaku-kan oleh orang lain: petugas lab —analis— yang sering bukan dokter.

Dunia Klinik
Memasuki tahun ke empat, kita menginjak dunia nyata, dunia klinik. Kini, para mahasiswa dibagi menjadi rombongan-rombongan kecil, masing-masing belajar dan bekerja di bagian-bagian rumah sakit. Setiap satu atau dua bulan, rombongan bertukar tempat. Sambil berkuliah, mereka juga digilir menjaga klinik/ bangsal/orang sakit —giliran siang atau malam. Melelahkan, namun juga menyenangkan. Karena mereka kini sudah dipanggil “dokter”, oleh para pasien, dan juru rawat.

Pada dasarnya ada 4 bagian yang dianggap penting, yang disebut bagian besar —yaitu bagian ilmu bedah, ilmu penyakit dalam, ilmu kesehatan anak, kebidanan dan penyakit kandungan. Maka ilmu-ilmu ini diperdalam dua kali: di tingkat IV dan VI. Yang lain, seperti ilmu penyakit Telinga-Hidung-Tenggorok, penyakit mata, bagian penyakit kulit, penyakit syaraf dan lain-lain cuma diajarkan sekali (satu masa kepaniteraan).

Dalam klinik ini, para mahasiswa diajarkan cara menangani pasien, yang pada prinsipnya dibagi dalam 4 tahap pemeriksaan. Pertama selalu dimulai dengan anamnesis; artinya menanyakan keluhan, menggali riwayat penyakit pasien, dan keterangan-keterangan lain yang diperlukan. (Umumnya, bagi dokter umum, dengan ini saja ia telah dapat mengambil keputusan apa yang harus diperbuatnya). Setelah anamnesis, dilakukan pemeriksaan fisik dengan melihat, mendengar dan meraba. Setelah itu dilakukan pemeriksaan laboratorium yang diperlukan. Dari sini diperoleh perkiraan diagnosa pasien, dan pengobatan atau cara penanganannya. Dalam tahap klinik ini, mahasiswa juga diminta mempraktekkan apa yang dipelajari di tingkat-tingkat sebelumnya. Misalnya, setiap ujian ilmu penyakit dalam, anda ha-rus memeriksa sendiri darah, kencing, dan tahi pasien. Sebenarnya, keharusan ini kadang mengusik hati nurani si mahasiswa. Mengapa orang sakit, hanya karena miskin, perlu disakiti lagi dengan menusuk tangannya? Bila seorang anak tidak mau kencing, demi kepentingan diri sendiri, mahasiswa tidak segan (kadang kala “diharuskan” pengujinya) memasukkan pipa kateter untuk mengambil langsung kencing tadi. Tentu dengan jerit tangis, dan menambah kemungkinan infeksi, si anak. Tapi apa daya. Mereka orang miskin dan bodoh, yang tak mengetahui haknya dirampas oleh birokrasi di rumah sakit. Mahasiswa yang lebih berperikemanusiaan kadang mencari kencing seadanya. Tentu dengan catatan, ia telih tahu benar, bahwa pasiennya tak menunjukkan kelainan dalam air seninya. (Masalah-masalah “kecil” ini praktis tak pernah dibahas dalam diskusi-diskusi mengenai dokter dan pendidikannya).

Bila mahasiswa telah melewati tingkat V, mereka berhak mendapat gelar Drs. Med., alias sarjana kedokteran. Gelar yang sering meinbikin orang tertawa sinis, karena dengan gelar dan ijasah ini, dokterandus itu tak bisa berbuat apa-apa di masyarakat.

Bila telah lulus ujian di semua bagian, mahasiswa umumnya dinyatakan lulus sebagai dokter. Tidak ada ujian khusus. Dan dimulailah tahap baru: kehidupan sebagai dokter baru.

Gaji 50.000
Semua sarjana, wajib menunaikan tugas sarjana. Resminya begitu. Dan bagi kebanyakan dokter, ini berarti dikirim ke pedalaman. Statusnya kini pegawai.negeri (calon) golongan III/a, dengan gaji sekitar 50.000 rupiah. Tak cukup untuk hidup layak, apalagi bila telah berkeluarga. Maka ia diperbolehkan berpraktek umum, mencari uang (kalau tega) dari bayaran rakyat miskin pedesaan itu. Setelah selesai tugasnya, ia diperbolehkan mengambil spesialisasi, atau pindah ke kota. Di kota, ia dapat memilih tetap menjadi pegawai negeri, atau dipekerjakan di unit-unit kesehatari swasta, rumah sakit, fakultas kedokteran swasta, dan lain-lain.

Tapi itu bukan satu-satunya jalan ke Roma. Bila nasib baik, apalagi kalau ada kenalan, anda dapat juga tak usah dikirim ke desa. Langsung bekerja di kota, yaitu menjadi pengajar di tingkat pra-klinik fakultas kedokteran, pemerintah maupun swasta. Tapi maklum, yang ingin di kota lebih banyak daripada tempat yang tersedia. Maka banyak juga yang tak tertampung.

Apa daya? Masih ada satu pilihan bagus: langsung bekerja di perusahaan farmasi. Karir di perusahaan fatmasi ini, sering dicibirkan mereka yang bekerja sebagai pegawai negeri. Padahal, di negara maju, sumbangan sektor swasta ini tak sedikit bagi dunia kesehatan. Misalnya, obat-obat baru banyak yang ditemukan di perusahaan-perusahaan swasta itu. Apakah ini tidak berguna bagi masyarakat? Tapi, kenyataannya, karir di sektor ini tak diakui eksistensinya oleh Departemen Kesehatan.

Bekerja di pemerintah maupun swasta, anda tidak selalu harus mengandalkan keahlian sebagai dokter. Bila yang dipegangnya adalah jabatan administratif, sebagai kepala rumah sakit atau kepala biro misalnya, maka sebenarnya titel dokternya boleh ditanggalkan. Karena yang dibutuhkan adalah kemampuan administratif alias manajemen. Maka di luar negeri, tak jarang jabatan-jabatan itu diisi oleh orang yarng bukan dokter.

Jadi, seorang dokter tidak harus membuka praktek umum. Ini bukan karir yang dicita-citakan banyak dokter. Yang sering dicita-citakan adalah peningkatan statusnya di instansi tempat dia bekerja: menjadi kepala bagian, kepala rumah sakit, kepala dinas, atau menjadi dirjen. Tapi, kalau anda hanya puas dengan praktek umum sebagai dokter umum, sebenarnya pengetahuan yang diajarkan di fakultas kedokteran itu amat-amat berlebihan. Karena, yang diperlu-kan untuk ini, mungkin hanya sepersepuluh dari semua pengetahuan yang diajarkan padanya. Cuma, satu kelebih-an anda, apalagi kalau anda cukup idealis mau bertahan di desa-desa: anda secara langsung menolong penderitaan orang banyak, rakyat miskin.
——————————-

Karir Sebagai Apoteker

Hanya datang dua kali seminggu, honor anda bisa berkisar antara 350.000 sampai 450.000. Lumayan, bukan?

Pendidikan apoteker kini, umumnya, singkat saja: cukup lima setengah tahun. Tidak semua fakultas farmasi memakai kurikulum yang sama, tapi perbedaannya tak banyak. Gambaran di bawah ini, diperoleh dari seorang apoteker, yang lulus tiga tahun lalu dari Universitas Gadjah Mada. Di sini, berbeda dengan fakultas kedokteran, dipakai sistem semester. Jadi, seluruhnya ada 11 semester. Tapi, untuk praktisnya, mungkin lebih mudah kita sebut tingkatnya saja.

Di tingkat I, seperti di fakultas kedokteran, diulang lagi pelajaran-pelajaran biologi, fisika, matematika, dan kimia. Sedikit diperdalam, dan ditambah praktikum. Namun, di tingkat ini juga, anda telah diperkenalkan dengan dunia farmasi lewat ilmu farmasetika: dasar-dasar pengetahuan tentang cara membuat salep, puyer, tablet dan lain-lain. Ilmu ini, karena memang penting, akan diajarkan terus menerus sampai tahun ke IV.

Menginjak tingkat II, farmasetika ini lebih diperdalam lagi. Diajarkan cara menghitung dosis, obat yang tak boleh dicampur, dan sebagainya. Praktikum di bidang ini punya keunikan tersendiri. Biasanya kita diberi resep, dan disuruh membuatnya. Tapi, bila dosis yang tertera di situ terlalu tinggi, atau obat-obat yang tertulis itu seharusnya tak boleh dicampur, dan anda tetap membuatnya, oleh asisten anda dipersilakan pulang.

Di tahun ini juga, diajarkan analisa kimia kualitatif dan kuantitatif; artinya menentukan zat atau obat apa yang ada dalam suatu campuran, dan menghitung kadarnya. Bagi apoteker di apotik, ini nyaris tak berguna. Tapi, ilmu ini penting sekali, buat mereka yang bekerja di lab perusahaan farmasi. Dengan analisa ini, mereka dapat mengetahul formula obat-obat buatan pabrik lain, dan menirunya.

Mirip dengan di kedokteran, di sini diajarkan juga parasitologi dan mikrobiologi (lihat tulisan tentang kedokteran). Dokter cenderung memakai mikrobiologi untuk menentukan jenis kuman, dan kepekaannya. Tapi, di dunia farmasi, ia sering dipakai untuk menentukan kadar obat. Caranya? Dengan membandingkan kadar obat standar dan obat yang tak diketahui. Bila daya bunuhnya terhadap ku-man sama, maka kadarnya tentu sama, bukan?

Yang membosankan, di tingkat ini, ialah pelajaran kimia organik. Sulit dan tak ada penerapan praktisnya. Tapi, sebenamya, ia perlu untuk dasar. Yang menarik ialah ilmu farmakognosi: ilmu tentang tanaman obat. Bila anda diberi serbuk jamu, misalnya, anda harus dapat menentukan daun atau akar apa yang ada di dalamnya, dengan memeriksanya di bawah mikroskop, mencium baunya atau mencicipi rasanya. Sulit, namun menarik.

Pada tahun ke III, diajarkan ilmu fisiologi dan biokimia, seperti rekannya di kedokteran. Ditambah lagi dengan kimia organik medisinal, yaitu ilmu kimia yang mengkhususkan diri pada ‘pembuatan bahan-bahan obat. Ada lagi ilmu fitokimia. Di sini, antara lain, dipelajari cara-cara mengekstraksi zat alkaloid dari tanaman, misalnya kulit jeruk, serbuk vanili, dan lain-lain. Ilmu manajemen diberikan juga. Ini mengingat tugas apoteker, di kemudian hari, banyak berhubungan dengan manajemen; di apotik, di badan-badan pemerintah, maupun di perusahaan-perusahaan.

Menginjak tingkat IV, pelajaran farmasetika diperdalam lagi. Kini, ia sering disebut teknologi farmasi, karena mulai digunakan mesin-mesin untuk membuat kapsul, tablet dan sebagainya —persiapan untuk bekeda dalam industri.

Di samping itu, diajarkan farmakologi (lihat tulisan tentang kedokteran) dan biofarmasi. Ilmu yang terakhir ini, antara lain, mempelajari kadar obat dalam tubuh; karena dua obat yang berbeda cara pembuatannya, dapat memberikan kadar yang berbeda dalam darah. Dipelajari juga ilmu kimia klinik, dan analisa obat dan makanan (AOM). Bila anda praktikum di sini, anda akan diberi coklat atau makanan lain untuk dianalisa.

Pada tahun ke-V, diadakan Kuliah Kerja Nyata dan skripsi. Setelah skripsi lulus, anda boleh mendapat gelar Drs. dan diwisuda. Tapi, masili perlu kuliah sebentar lagi, untuk menjadi apoteker. Di Gadjah Mada, waktu itu masih diberikan pelajaran tambahan, yaitu administrasi farmasi, toksikologi, farmakologi klinik, kesehatan masyarakat, pengawasan mutu obat dan kontrol kualitas. Ada pelajaran yang harus dipilih, yakni farmasi rumah sakit, pengelolaan apotik, sistem informasi obat, dan pengelolaan produksi. Setelah itu harus praktek kerja di apotik, rumah sakit, dan pabrik obat. Di universitas lain, setelah diwisuda, langsung praktek kerja. Semua pelajaran diajarkan sebelum diwisuda.

Dua Pilihan
Dulu, setelah lulus —dalam rangka wajib sarjana— pemerintahlah yang menentukan penempatan anda selanjutnya. Namun kini, karena pemerintah kewalahan, sedikit banyak anda dapat menentukan karir anda sendiri. Pada dasarnya, ada 2 pilihan: menjadi pegawai negeri, atau kerja di swasta. Sebagai pegawai negeri, anda mungkin ditempatkan di apotik rumah sakit, atau di badan-badan kesehatan lainnya; sebagai apoteker atau sebagai pejabat pemerintah. Karena dimaklumi gaji pegawai negeri kecil, anda diperbolehkan menjadi penanggung jawab 1 apotik. Umumnya, di Jakarta, honornya sekitar 200.000 rupiah sebulan. Ada yang rajin datang, ada yang cuma datang 1-2 kali sebulan. Bila apotik meminta datang lebih sering, katakanlah 2 kali seminggu, umumnya honor berkisar dari 350.000 sampai 450.000 rupiah. Lumayan. Departemen Kesehatan dulu pernah meminta, agar apoteker benar-benar bertanggung jawab di apotik, alias datang setiap hari. Tapi, umumnya, belum dilaksanakan.

Bagi mereka yang memilih swasta, banyak yang bekerja di pabrik obat, bekerja di laboratorium atau sebagai ma-najer. Yang pandai berwiraswasta, dan punya modal, dapat mendirikan pabrik obat, seperti Wim Kalona dengan pabrik Darya Varya-nya.

Buat mereka, yang bekerja di apotik maupun sebagai manajer di perusahaan atau instansi pemerintah, pengetahuan yang dimanfaatkannya praktis cuma 10% dari seluruh pengetahuan yang diterimanya sewaktu mahasiswa. Yah, seolah-olah suatu pemborosan ilmu. Namun apa daya.

Sedangkan bagi anda-anda, yang gagal masuk fakultas/ jurusan farmasi, silakan berwiraswasta. Bila modal anda telah cukup, anda dapat mendirikan apotik atau pabrik obat, dan menggaji apoteker. Sama saja, bukan? Karena, nyatanya, banyak juga apoteker yang fidak memanfaatkan, ilmunya untuk mencari nafkah.
———————————–

Gaji Sarjana Baru

Apa yang menentukan besar kecilnya gaji permulaan anda?

Oleh B. Setiawan

Sekitar 600.000 orang telah lulus ujian SMA bulan Mei lalu. Dan tiga tahun lagi, dalam tahun 1988, menurut Dirjen Pendidikan Tinggi Depdikbud, Prof. Dr. Sukadji Ranuwihardja, jumlah lulusan SMA akan mencapai 1,2 juta orang! Masalahnya sudah kuno, memang: jumlah yang akan tertampung di perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta, hanya sekitar 300.000 orang; sedang dalam beberapa tahun mendatang ini, kapasitas perguruan tinggi —negeri dan swasta– tampaknya tidak akan naik banyak.

Keinginan masyarakat, untuk menyekolahkan anaknya terus sampai ke perguruan tinggi, merupakan fenomena yang menggembirakan, dan seharusnya ditampung oleh pemerintah. Namun, pertanyaannya, mengapa mesti meneruskan ke perguruan tinggi? Sebab utama dari minat yang besar untuk meneruskan pendidikan sampai perguruan tinggi, dan mencapai gelar sarjana, ialah status sosial dan material. Memang nyatanya, seorang sarjana lebih dipandang oleh masyarakat, dan lebih mudah mendapatkan pekerjaan. Ini disebabkan, karena dewasa ini, jumlah sarjana masih terlalu sedikit. Jumlah dokter hanya sekitar 15.000 orang, apoteker sekitar 3000 orang, insinyur 36.000; sarjana ekonomi, sarjana hukum dan lain-lain juga cuma beberapa ribu saja. Bandingkan ini dengan negara-negara maju. Amerika Serikat dengan penduduk 230 juta, jumlah sarjananya ada beberapa juta orang. Jepang dengan pen duduk 110 juta, punya 3.5 juta insinyur; setiap tahun dicetak 74.000 insinyur baru. Indonesia, dengan 160 juta penduduk, seharusnya juga perlu mempersiapkan diri untuk menghasilkan beberapa ratus ribu sarjana setiap tahun. Jadi, tak heran ‘kan, kalau keadaan kita kini mengikuti pepatah kuno: barang langka “mahal” harganya. Ya! Sampai berlebih-lebihan, bahkan.

Berapa gaji sarjana yang baru lulus dari perguruan tinggi? Dari suatu survei beberapa perusahaan di Jakarta, didapatkan gambaran sebagai berikut:

Umumnya, seorang sarjana-baru boleh mengharapkan gaji permulaan antara 100.000 dan 500.000 rupiah, dengan rata-rata 250.000 rupiah. Dewasa ini, yang paling banyak dicari adalah sarjana ekonomi, jurusan akuntansi. Ini mencerminkan kebutuhan perusahaan-perusahaan untuk menata informasi keuangannya. Insinyur jurusan mesin, dan kimia, juga cukup banyak permintaannya. Seorang apoteker baru dapat mengharapkan gaji permulaan antara 200.000 – 300.000 rupiah.

Apakah yang menentukan besar kecilnya gaji permulaan ini? Ternyata, yang paling penting, adalah kebutuhan perusahaan mengenai jabatan dan pekerjaan yang lowong. Dengan gelar yang sama, sarjana akan ditawari gaji yang berbeda, tergantung dari rasa “butuh” masing-masing perusahaan. Prestasi selama dalam pendidikan juga memegang peranan. Tapi, kecepatan kenaikan pangkat dalam pekerjaan, ternyata bukan hanya ditentukan oleh kemampuan intelektualnya, tapi juga oleh hal-hal lain seperti: tanggung jawab, disiplin, dan kemampuan kerja sama —dengan atasan, teman-teman sekerja maupun bawahan.

————————————-

Bahasa Asing dan Kemajuan Karir

Oleh Julius Chandra

Penguasaan bahasa asing bekal penting bagi kemajuan karir anda di kemudian hari.

Hmm. Taruhlah anda itu telah dan sedang duduk di salah satu fakultas. Selamat, anda termasuk se-, gelintir yang beruntung, tersaring dari sekian ratus ribu calon-berpotensi-penganggur. Bangga ? Boleh, boleh . . . untuk sementara, paling tidak. Soalnya, setelah penyaringan calon-berpotensi-penganggur tahap I tadi, tak menghitung masalah drop-out, gerbang calon-berpotensi-penganggur tahap II masih pula menunggu di depan. Alias, setelah lulus nanti — jadi sarjana, keren ah! — mau kerja di mana? Kalau anda cukup kreatif (dan ini sebenarnya yang dituntut dari seorang sarjana), anda tak perlu bekerja untuk orahg lain, malah membuat pekerjaan untuk orang lain — alias berwiraswasta. Tentu anda perlu modal, dan mengetahui betul suka dukanya. Tapi, buat apa anda belajar bertahun-tahun, kalau bukan saatnya semacam ini dimana pengetahuan anda itu akan keras diuji? Mau jadi pegawai negeri, mikir-mikir gaji mencekik, penerimaan pegawainya pun sama pelitnya. Masuk swasta? Sama langkanya, pun kalau yang PMA, yang diutamakan lebih-lebih yang berkemampuan dan fasih berbahasa asing; paling tidak bahasa Inggris. Memang anda pernah diajarkan bahasa itu, paling sedikit 6 tahun di sekolah menengah, dan beberapa tahun lagi di PT. Tapi, melihat hasilnya, kelihatannya cara sekolah-sekolah kita mengajar bahasa asing, perlu dirorribak besar? Entahlah, isyu semacam ini selayaknya cuma dikulum bapak-bapak kita di Depdikbud. Wong mereka yang berkepentingan, toh? Ha! Dan anda yang ketiban pulung. Jangan ‘gitu dong, tapi penguasaan bahasa-bahasa asing adalah kebutuhan lain yang juga penting. Terutama, bagi siswa/ mahasiswa kita, sebagai bekal untuk karirnya kelak.

Alasan-alasannya lebih dari cukup banyak. Dan pertimbangannya juga bisa praktis sekali. Misalnya, pengalaman dari mereka-mereka yang telah bekerja dalam dunia industri, mulai dari manajer sampai ke teknisinya, akan mengungkapkan bahwa bekal kemampuan berbahasa asing —terutama bahasa Inggris— akan lebih “melicinkan jalan” bagi kemajuan mereka. Mereka yang bekal pendidikan formal serta pengalaman kerjanya kurang, kadang-kadang berhasil diterima untuk suatu jabatan tertentu, semata-mata karena lebih fasih berbahasa asing; lebih mampu untuk “belajar magang” dari berbagai buku atau manual yang belum ada dalam bahasa Indonesia. Seperti faktor “kepribadian” yang sering menjadi faktor X dalam melamar pekerjaan, penguasaan lebih dari satu bahasa paling tidak bisa disebut faktor Y.

Semua ini terjadi, karena Indonesia menganut pola ekonomi pintu terbuka. Untuk bid,ang perdagangan dan industri, mau tak mau, masuklah faktor komunikasi, konsepsi, dalam hampir banyak tahap kegiatannya yang tentunya memerlukan kemampuan berdwibahasa, atau bertribahasa. Ambil saja, misalnya, permasalahan alih teknologi yang sekarang sering dikupas itu. Orang sering kurang menginsafi, betapa besar peran bahasa dalam alih teknologi itu. Penerjemahan manual, atau spesifikasi alat-alat, sering terlambat karena belum ada cukup penulis teknis dwibahasa yang andal. Dan satu kenyataan lagi, karena ada istilah-istilah teknis yang sukar di Indonesiakan secara cespleng, maka dipakailah terus istilah-istilah Inggrisnya. Akibatnya, teknisi yang kurang mampu berbahasa Inggris, seolah-olah tidak mendapatkan bobot informasi yang sama. Ini adalah kekurangan dari bahasa Indonesia sendiri, dan para pemakainya, karena tidak kunjung menyepakati suatu pembakuan peristilahan secara umum. Namun, untuk keadilan, kita juga bisa mengatakan bahwa dalam dunia industri kita, sering berlangsung “penindasan terselubung” oleh bahasa. Si atasan, yang keseringan berbahasa asing, berbeda pen-dapat dengan si bawahan yang susah-payah harus meng-utarakan pikirannya dalam bahasa kedua itu; dengan akibat tidak semua kebenaran dapat diungkpkan. Namun, untuk memecahkan hal ini, biarkanlah yang berwenang dalam politik kebudayaan berikhtiar untuk jangka panjangnya. Dalam situasi yang realistik seperti sekarang ini, pilihan kita sempit, yaitu: belajar menguasai bahasa asing, belajar melalui penguasaan bahasa asing, untuk memperkaya sumberdaya Indonesia.

Apakah Ada Pengaruh Dwi Bahasa Terhadap Pola Persepsi?
Belajarlah bahasa asing sedini mungkiri. Ini adalah anjuran dari banyak ahli psikologi dan neurologi, yang menurut penelitian mereka dikatakan: tidak hanya kemampuan verbalisasi si anak didik meningkat, tetapi juga kecerdasannya secara umum. Obler dan Martin Albert menulis dalam buku mereka tahun 1978, The Bilingual Brain, bahwa “pemahaman akan beberapa bahasa mempunyai konsekuensi anatomis”. Konsekuensi anatomis itu, selain mengungkapkan dirinya dalam proses bahasa, juga dalam persepsi yang berbeda akan lingkungannya. Mereka yang belajar bahasa Latin, misalnya, mengalami peningkatan kesadaran akan tatabahasa dan kepekaan akan arti-arti yang diam-diam membawa pengaruh terhadap cara mereka memandang dunia. Efek ini, sayang, telah lama tidak diperhatikan oleh para ilmuwan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh ahli neurologi George qemann, dan ahli psikologi Harry Whitaher, ditemukan bahwa bahasa yang kedua akan menempati daerah lebih besar di otak , daripada bahasa pertama (bahasa ibu). Juga, orang yang berdwibahasa atau lebih, mempunyai, kemampuan lebih besar dalam membedakan figur dengan latar belakangnya, peka terhadap rangsangan pendengaran dan penglihatan. Bagi Indonesia, dengan banyaknya bahasa daerah, sebenarnya terdapat juga kondisi semi dwibahasa, sejak kita kecil. Apakah dengan adanya penelaahan tentang manfaat dwi-bahasa, kita tidak sebaiknya memberikan perhatian juga terhadap bahasa-bahasa daerah? Namun, karena yang disoroti adalah bahasa asing, maka sebaiknya kita tidak mempersoalkannya dahulu.

Kita dapat mempertanyakan: apa fungsi terpenting dari belajar bahasa asing itu. Apakah terutama pada segi komunikasinya (berbicara dan bertukar pikiran dengan orang, berbahasa asing)? Atau, apakah dalam skala luas (massal), fungsi utamanya adalah pada segi konsepsionalnya? Bahasa Inggris, misalnya (atau Jerman, Belanda, dan bahasa Barat lain), mempunyai tingkat abstraksi tinggi, dan karenanya bisa menyampaikan modus-modus pengalaman/persepsi yang dibutuhkan oleh para konseptor, para pernikir, perencana, ilmuwan dan,manajer, dalam penuangan gagasannya. Untuk ini, reading dan writing menjadi pokok penting dalam belajar, bukan conversation (yang dalam kursus-kursus populer terlalu sering ditekankan, dengan mengor-bankan penyerapan maksimal perbendaharaan serta syntax bahasa asing tersebut). Conversation, dalam praktek, adalah kemampuan yang dengan sendirinya akan mengikuti reading dan writing. Namun, tetap sebagai bahasa kedua, yang jarang dipakai karena kurang lawan bicara native speakers, maka ketrampilan conversation itu pun cepat hilang atau menumpuk kalau tidak sering dilatih dalam kesempatan khusus. Kecuali kalau kita mau terus menerus berbahasa asing di lingkungan kita, dan menjadi a-sosial (juga mengorbankan bahasa lndonesia) bisa jadi.

Kita dapat mengambil contoh dari Jepang. Banyak dari sarjana-sarjana mereka, yang bekerja sebagai eksekutif, mempunyai kemampuan “percakapan bahasa Inggris” yang rata-rata kurang dibandingkan dengan kemampuan konsepsionalnya, misalnya dalam hal menulis surat. Lingkungan sosial di Jepang memang kurang mendukung praktek conversation itu. Keadaannya, mungkin, tidak banyak berbeda dari Indonesia. Tapi, di sekolah dan universitas, reading serta writing bahasa Inggris sangat digalakkan, ka-rena dipandang merupakan bahasa ilmiah dan manajemen internasional yang terpopuler.

Kalau Anda Belajar Sendiri…
Mengikuti kursus, atau pelajaran di sekolah, memang tak dapat dikecualikan —minimal untuk memperoleh ngikuti kursus, atau pelajaran di sekolah, memang “‘dasar pengetahuan dan ketrampilan. Belajar bersama juga mempurlyai efek positif, dalam hal kemungkinan berkomunikasi dengan sesama murid, dan kemungkinan dikoreksi oleh guru. Tapi, bahasa adalah sesuatu runtunan gagasan yang hidup, sehingga ia pun harus “dihidupi” sesering mungkin. Karenanya, senantiasa diperlukan dukungan dari belajar sendiri, yaitu:

  • Mencari lingkungan pergaulan yang banyak mernakai/ membaca dalam bahasa asing yang dipelajari.
  • Banyak membaca, dan “membaca untuk belajar” —yaitu mencatat arti kata-kata/ungkapan-ungkapan khas yang diperoleh dari bacaan tersebut untuk kemudian diulangi lagi terus menerus.
  • Memperbanyak cara kontak lain dengan bahasa yang dipelajari, misalnya untuk bahasa Inggris dapat dengan mendengarkan radio, televisi, video, mengikuti klub percakapan, berkorespondensi, dan sebagainya.
  • Menulis untuk diri sendiri sesering mungkin dalam bahasa bersangkutan. Untuk kelancaran, tidak perlu dirisau-kan dahulu kalimat-kalimat yang campur aduk (Indonesia dan bahasa asing), sebab inti pokoknya adalah penuangan pikiran. Selama matrix bahasa asing belum tertanam cukup dalam, pasti akan lebih banyak bahasa awak yang bermain. Dengan latihan dan ketekunan, lambat laun porsi pengungkapan dalam bahasa asing pun meningkat.
  • Mencari orapg yang sanggup mengoreksi, tanpa diri sendiri menjadi enggan untuk mengungkapkan diri semaksi-mal mungkin. Dalam praktek, rekan pengoreksi ini penting sekali, terkadang lebih membantu daripada guru yang resmi. Nah, kalau anda menguasai b’ahasa asing ini, tambah bekal pendidikan anda di PT, kemungkinan cepat diterima kerja tentu lebih besar. Bukan itu saja, anda pun berkesempatan meneguk banyak ilmu dari buku-buku bernilai —yang tak kunjung diterjemahkan sampai kini— selain ilmu diktat anda di PT. Paling tidak, gelar sarjana anda, lebih berbobotlah —bukan sekedar kertas diploma.

Sumber: Majalah AKU TAHU/Juni 1985

Share
%d blogger menyukai ini: