Home / Berita / Meningkatkan Kewaspadaan dengan ‘Boplang’

Meningkatkan Kewaspadaan dengan ‘Boplang’

Setahun terakhir, Tugiran (48) sekeluarga menggantungkan keselamatan hidup pada bilah kayu atau boplang. Setiap pergerakan kayu tersebut menjadi penanda kapan mereka harus segera pindah atau kapan tetap bisa bertahan di rumah.

Boplang dalam istilah teknis bangunan berfungsi untuk menentukan posisi pembuatan struktur bangunan. Namun, di rumah Tugiran, boplang yang berasal dari papan bekas itu berfungsi sebagai sistem peringatan dini (early warning system/EWS), penanda terjadinya rekahan tanah yang sekaligus juga mendeteksi bahaya tanah longsor.

Boplang berupa sebuah papan kayu dalam posisi horisontal yang ditopang oleh batang kayu di sisi kanan dan kiri. Papan yang dipaku pada dua batang kayu itu pun ditanam di tanah, di mana satu batang ditanam di bagian tanah yang retak, dan satu batang lainnya di tanah yang aman, tanpa retakan. Bagian tengah papan horisontal dibelah, dan pergeseran bidang papan yang telah terpotong itulah yang menjadi penanda adanya gerakan tanah.

Tugiran mengatakan, di awal pemasangan boplang, retakan dan rekahan memang tidak terlalu sering terjadi dan pergerakan yang juga tidak terlalu signifikan. Namun, sejak Februari lalu, situasi berubah. Dalam satu minggu, katanya, berdasarkan pengukuran dari pergerakan boplang, tanah bergeser sekitar 2-3 sentimeter. Dipicu oleh tingginya intensitas hujan, pergerakan tanah pun terus terjadi.

Dengan terus mengamati pergerakan boplang, Tugiran dan keluarga pun terus waspada. Mereka pun mulai bersiap-siap mengungsi. Di saat hujan deras, mereka mengurangi aktivitas di area yang terdeteksi terjadi pergerakan tanah cukup intens, seperti di kandang dan dapur. Dua ruangan ini merupakan bangunan tersendiri, terpisah dari rumah.

KOMPAS/REGINA RUKMORINI–Warga Desa Ngargoretno, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, bergotong royong merangkai dan memasang perangkat yang berfungsi sebagai sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) longsor di tepi jalan desa, beberapa waktu lalu. EWS ini dirancang sederhana, hasil dari kreativitas warga, untuk mengantisipasi dampak bencana longsor dan tanah bergerak, yang kerap terjadi di desa tersebut.

Kewaspadaan Tugiran dan deteksi boplang pun pada akhirnya terbukti tidak salah. Hujan dengan intensitas tinggi akhirnya meluruhkan sebagian tanah pekarangan Tugiran bersama dengan bangunan dapur, kandang, beserta satu boplang yang dipasang sebagai EWS.

Seiring dengan kondisi tersebut dan juga mempertimbangkan bahaya longsor yang mengancam, Tugiran pun memutuskan mengungsikan istri dan dua anaknya ke rumah kerabat yang berada di lokasi yang lebih aman. Tugiran tetap bertahan di rumah.

“Saya tetap merasa aman karena ada boplang yang menjadi petunjuk, indikator bahaya longsor di rumah,” ujarnya.

Soim, salah seorang relawan sekaligus ketua komunitas relawan Garuda Bukit Menoreh Salaman, mengatakan, posisi rumah Tugiran di perbukitan menoreh paling atas dibandingkan rumah-rumah lainnya. Selain berpotensi menimbun rumah-rumah di bawahnya, longsor dari rumah Tugiran– jika terjadi–juga berpotensi menyumbat sungai kecil.

“Longsoran tanah yang menyumbat sungai tersebut menimbulkan dampak bencana lebih besar karena dapat menyebabkan aliran air di musim hujan terhambat sehingga berisiko menimbulkan banjir bandang,” ujarnya.

Ahli geologi dari Jepang
Soim mengatakan, ide membuat EWS dari boplang didapatkan dari arahan dan penjelasan dari tim ahli geologi dari Universitas Kyoto, Jepang yang berkunjung dan meneliti potensi longsor dari retakan tanah di Desa Sidosari, Kecamatan Salaman pada 2014.

Karena merasa ilmu yang didapatkan menarik dan berguna untuk diterapkan, maka Soim pun mencoba dengan membuat EWS tersebut di tanah pekarangannya di Desa Ngargoretno. Sama seperti Desa Sidosari yang juga berada di perbukitan Menoreh, Desa Ngargoretno juga termasuk daerah rawan longsor.

EWS tersebut, kata Soim, pertama kali dibuat di bagian depan rumah, yang rencananya akan dibangun teras. Sekitar tiga hingga empat bulan memasang, dan mengamati, papan boplang pun mulai terlihat merenggang. Jarak antar ujung papan yang bertambah panjang menunjukkan bahwa ada gerakan tanah yang berpotensi longsor.

Tanda pergerakan tanah yang diperlihatkan oleh boplang tersebut, membantu Soim merancang teras yang akan dibangunnya.

“Karena ternyata di lokasi itu rawan longsor, maka saat membangun teras, saya pun berupaya memperkuat bangunan dengan pondasi cakar ayam,” ujarnya.

Semula, pengetahuan tentang EWS sederhana tersebut disimpannya sendiri. Informasi tersebut, menurut, dia belum perlu dibagikan karena rata-rata kejadian longsor terjadi mendadak tanpa penanda retakan atau rekahan tanah.

Tahun 2017, barulah warga mulai melihat banyak terjadi rekahan dan retakan tanah. Melihat itu, Soim pun berpikir bahwa informasi tentang pembuatan EWS sederhana tersebut harus segera disosialisasikan. Dia pun kemudian bergerak, mengajari warga untuk membuat boplang di lokasi yang dirasa rawan longsor.

Tidak hanya di Desa Ngargoretno, Soim pun mengajari dan membantu warga desa lain, yaitu Desa Giripurno, Kecamatan Borobudur, ikut membuat dan memasang boplang. Hingga kini, di Desa Ngargoretno dan Desa Giripurno telah terpasang EWS boplang di enam lokasi, di mana di satu lokasi bisa terpasang satu hingga tiga boplang.

Semakin siaga
Keberadaan boplang, menurut Soim, sekaligus membuat setiap warga semakin waspada dan siaga menghadapi bahaya longsor. Kewaspadaan ini secara otomatis terbentuk karena mereka terbiasa mengamati dan melihat pergeseran papan kayu setiap hari, terutama setelah hujan.

Pujo Prayitno (67), ketua Komunitas Peduli Menoreh, mengatakan, EWS sangat diperlukan oleh warga desa, terutama mereka yang bertempat tinggal di daerah rawan longsor. “Dengan EWS yang bekerja akurat, warga dapat bersiap-siap menyelamatkan diri sebelum bencana datang,” ujarnya.

Pujo, yang juga bertempat tinggal di Desa Ngaroretno, pernah merasakan menjadi korban longsor pada 2004. Karena rumah yang dihuni luluh lantak diterjang longsor, dia pun terpaksa membangun rumah baru dan di lokasi yang lebih aman.

Dahulu, musim hujan menjadi masa yang menyeramkan bagi warga desa.

Saat hujan deras, Pujo bersama sejumlah warga biasanya akan berkeliling mengunjungi rumah-rumah warga lain, terutama di daerah yang berpotensi longsor atau rawan tertimbun longsoran, dan meminta mereka segera meninggalkan rumah dan pergi ke lokasi lain yang lebih aman. Namun, kini, dengan adanya EWS boplang, upaya antisipasi dan menyelamatkan diri bisa dilakukan dengan lebih baik.

Kepala Seksi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Magelang, Didik Wahyu Nugroho, mengatakan, potensi longsor di Kabupaten Magelang, terutama di wilayah perbukitan Menoreh, terbilang tinggi.

EWS belum bisa dipasang di semua lokasi rawan karena mahal, sekitar Rp 30 juta-Rp 100 juta. EWS tersebut biasanya bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau pengadaan dari APBD Kabupaten Magelang.

“Biasanya EWS bernilai mahal itu, memiliki kinerja yang terlalu rumit dan sulit dipahami oleh warga desa,” ujarnya.

Dengan mempertimbangkan hal tersebut, Didik mengatakan, pihaknya selalu mendorong warga di daerah rawan longsor agar mampu mandiri, membuat EWS sendiri, dengan cara kerja EWS yang lebih mudah dipahami. BPBD Kabupaten Magelang juga sudah berupaya membuat EWS yang lebih sederhana, yang diharapkan dapat ditiru, dibuat oleh warga.–REGINA RUKMORINI

Sumber: Kompas, 11 April 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: