Home / Berita / Menguak Misteri Hutan Sulawesi

Menguak Misteri Hutan Sulawesi

Proyek Wallace bukan sekedar ekspedisi, tapi merupakan investasi bagi masa depan.

Akhirnya, rencana ekspedisi setahun di hutan tropis bagian utara Sulawesi dimulai sudah (lihat AKU TAHU/ Oktober ’84 hal 10). L,ebih dari 150 orang ilmuwan 19 negara, mulai bulan lalu, meng-ambil bagian dalam ekspedisi itu. Biaya proyek, diperkirakan mendekati Rp.550 juta. Tujuannya? Meneliti ekosistem unik daerah ini, yang berkembang sendiri terputus dari pulau-pulau di sekitar sejak jutaan tahun lalu. Ekspedisi ini bukan hanya akan memberikan informasi taksonomi (penggolongan binatang dan tumbuhan menurut hubungan alamnya), yang sangat penting dalam membantu usaha melestarikan dan mengelola hutan, tapi juga memperdalam pengetahuan tentang hutan tropis di seluruh dunia.

Dilaksanakan oleh Royal Entomological Society of London (RESL), atau Masyarakat Entomologi Kerajaan, ekspedisi ini untuk mengenang 100 tahun Royal Charter dan 150 tahun pendiriannya. Proyek Wallace , namanya, untuk menghormati Alfred Russel Wallace, seorang ilmuwan abad Victoria yang juga bekas ketua organisasi tersebut. Wallace pernah bekerja selama 8 tahun di kepulauan Indonesia, dimana ia mengembangkan ide evolusi yang sebanding dengan teori Darwin. Padahal, keduanya, tak tahu-menahu tentang penelitian masing-masing. Sayang, Darwin lebih dulu menerbitkan kesimpulannya, sehingga lebih terkenal. Peralihan daerah biogeografi antara Asia dan Australia, termasuk Sulawesi di dalamnya, seringkali dikenal sebagai “garis Wallace” (Wallacea).

Proyek ini, yang dilaksanakan bekerjasama dengan LIPI, adalah ekspedisi entomologi terbesar yang pemah dilakukan —berpusat di Taman Nasional Dumoga-Bone, di bagian utara semenanjung Sulawesi. Di Sulawesi Utara ini, dengan dukungan dana dari Bank Dunia, suatu proyek irigasi besar telah dibangun. Maksudnya , untuk meningkatkan produksi pertanian di daerah yang baru dibuka itu. Tapi, dengan dibukanya hutan, terjadilah erosi berakibat pengendapan lumpur dalam sistem irigasi tersebut, mengancam proyek pengembangan pertanian itu.

Jadi, untuk mencegah berlanjutnya “pemerkosaan” alam oleh para petani itu, cadangan air Dumoga Bone ditetapkan sebagai daerah taman nasional, dengan persetujuan Persatuan Intemasional untuk Pelestarian Alam, Wodd Wildlife Fund, Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia. Kini, akibatnya, air cukup tersedia bagi proyek-proyek irigasi persawahan di lembah Dumoga itu. Dari segi produksi pangan, ini penting untuk “menyuapi” rakyat kita yang kian membengkak. Daerah ini telah menghasilkan sekitar 400.000 ton beras, selain sejumlah besar kopra, kentang, kacang, dan rempah-rempah. Tapi, meningkatnya pertanian di situ, juga membawa bahaya, seperti umumnya terjadi di Asia Tenggara: berkembangbiaknya hama. Satu tujuan utama proyek ini, meneliti pengaruh penggarapan tanah pertanian atas populasi dan sifat serangga setempat, dan pengaruh setiap perubahan itu terhadap ekosistem hutan.

Di daerah Asia Tenggara lainnya, sejenis belalang coldat (Niloparvata lugens) berjumlah besar, dan beberapa jenis keluarganya, telah menghancurkan produksi beras. Bahkan terjadi setelah diperkenalkannya padi varietas unggul. Belalang hijau, terutama Nephotettix virescens dan N. nigropictus, telah menyebar di seluruh Sulawesi Utara. Seperti belalang sangit, ia menghisap cairan dalam tumbuhan, menyebabkannya mati. Dalam jumlah besar, ia mampu membabat habis tanaman padi. Bencana, tentu. Bahkan, yang lebih merugikan lagi, bisa membawa dan menularkan penyakit virus tanaman dari satu tempat ke tempat lain.

Gawat! Sayang, tidak seperti belalang sangit, kita tak tahu banyak tentang biologi belalang jenis ini, terutama di daerah tropis. Hampir 3000 spesies belalanghijau tercatat di daerah Pasifik, tapi cuma 21 jenis yang diketahui berasal dari Sulawesi. Karena ia memilih inakan dan bertelur di bagian tanaman yang masih muda, bergerombol di pucuk-pucuk pohon, sulit untuk menangkapnya. Hanya dengan cara modem jumlah nyata belalang ini bisa dihitung. Proyek ini bertujuan mengidentifikasi spesies-spesies berpotensi hama, serta menemukan musuh alamnya, seperti sejenis parasit telur belalang, yang bisa dimanfaatkan untuk memberantas/mengendalinya secara biologis.

Hama tanaman lain, di Sulawesi, termasuk sejenis ngengat yang menyerang (menggerogoti batang) tanaman jagung dan cengkeh, ulat yang menyerang kelapa, lalat buah, dan beragam jenis kumbang, kepik dan ngengat belum dikenal yang menyerang tanaman kacang kedelai, sayuran, buah-buahan dan tanaman kopi. Program Entomologi Pertanian dipimpin Prof. Helmut van Emden dari Universitas Reading, bertujuan untuk mengidentifikasi serangga yang sudah dan berpotensi merusak tanaman, dan meneliti cara biologis untuk mengendalikan hama tanaman ini. Persoalannya, apakah perbedaan ekologis bisa menghasilkan cara pengendalian hama dengan musuh alami hama tanaman ini? Itu yang masih tanda tanya.

Lembah Dumoga-Bone adalah contoh evolusi pertanian yang berkem-bang dari pertanian rakyat berskala kecil menjadi pertanian yang dikelola secara intensif. Ini termasuk daerah belum ditanami dan baru dibersihkan, maupun daerah-daerah yang sudah digarap selama beberapa tahun. Serangga setempat masih dalam tahap memilih-milih tanaman santapannya, mengembangkan jenis “spesialis” yang hanya menyantap tanaman tertentu; sedangkan pemangsa dan parasitnya pun masih dalam masa peralihan dan spesialisasi di lingkungan daerah pertanian yang baru itu. Menurut Van Emden, pembukaan daerah pertanian baru memberi kesempatan meneliti serangan hama itu, dan membandingkan pengaruh yang ditimbulkannya pada daerah kecil dengan yang jauh lebih luas di daerah lain. Ia bermaksud mempersiapkan suatu penuntun bagi masyarakat setempat untuk mengenal gejala-gejala akibat hama, mengidentifikasi jenis hamanya, dan memperhitungkan kerugian yang diakibatkannya. Ini akan merupakan dasar untuk penelitian lebih lanjut mengenai asal usul masalah hama yang disebabkan migrasi serangga dari tempat jauh (luar daerah), atau serangga lokal yang memanfaatkan tumbuhan liar sebagai “pangkalannya” selama pergantian musim tanaman. Penelitian ini, ditambah penelitian terhadap batas-batas pengendali biologis alami (pemangsanya) seperti ular, binatang menyusui, burung dan serangga-serangga pemang sa, akan berarti penting bagi para produsen tanaman tropis di seluruh dunia.

Manusia Lagi
Bermunculannya daerah pertanian baru, juga mempunyai pengaruh terhadap menjangkitnya penyakit. Proyek irigasi, misalnya, bisa menjadi tempat baru berkembarig biaknya nyamuk penular penyakit malaria dan filariasis; dan dimana riam dan jeram terbentuk, lalat hitam (simuliid blaeflies) bisa berkembang biak. Bahkan bekas jejak kaki manusia di tanah becek bisa menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Daerah penghunian baru juga memberi kesempatan berkem-bangnya serangga-serangga penyebar penyakit seperti lalat, kutu,kecoa dan juga nyamuk. Filariasis, yang diketahui menyebabkan penyakit kaki gajah, temyata ada di Sulawesi Utara, namun tak ada yang tahu nyamuk pembawanya maupun tempatnya berkembang biak. Demam berdarah, yang disebabkan gigitan nyamuk di siang hari, seperti Aedes aegypti, adalah penyakit anak-anak paling ditakuti. Inilah contoh bahaya yang bisa meledak menjadi wabah yang, akibat penghuni-an baru manusia, mendorong berkembangbiaknya semacam nyamuk itu, bila keadaan-keadaan tertentu tidak dipelihara dengan baik (kebersihan, misalnya).

Sulawesi, paling tidak, mempunyai 10 jenis nyamuk, termasuk Anopheles sulawesi, yang dicurigai dapat menularkan malaria. Bahkan, jenis yang kebal terhadap obat-obat anti-malaria, sudah luas memusingkan negara-negara Asia Tenggara. Para transmigran dari daerah-daerah berpenduduk padat di Indonesia, kemungkinan, telah terjangkit suatu penyakit menular ketika dipindahkan, membuka risiko baru mewabahnya penyakit. Terutama typhus, penyakit binatang-binatang pengerat kecil (tikus, misalnya), yang dapat ditularkan melalui kutunya. Parasit-parasit ini akan diambil dari binatang-binatang pengerat yang dijebak selama ekspedisi, dan tentu juga dari tubuh para anggota ekspedisi akibat ke luar masuk hutan. Dr. Graham White, dari Sekolah Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Tropis London, memimpin Program Medis Entomologi. Kata dia, sambil ketawa geli, sebagian besar anggota ekspedisi me-mang terpaksa menjadi “bahan percobaan” untuk berbagai serangga pengisap darah dan penyakit parasit —mau tidak mau.

Namun, sebagian besar masalah yang menyita Proyek Wallace, adalah tentang keragaman serangga (insect diversity) dan Program Regenerasi Hutan yang dipimpin oleh Dr. Andrian Marshall dari Universitas Aberdeen. Pengelolaan taman nasional secara efektif, tergantung pada pengetahuan dan pengertian akan saling ketergantungan antara berbagai spesies binatang dan turnbuh-tumbuhan. Ekspedisi ini memperinci komposisi jenis-jenis binatang sepanjang lintas hutan, untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang spesiesnya terutama sangat beraneka ragam. Daerah semacam ini sangat penting untuk dilestarikan.

Juga, spesies mana yang merupakan indikator dapat diandalkan dari tipe habitat, dan yang menyebabkan kerusakan habitat, akan diteliti. Serangga memegang peran penting dalam ekosistem hutan dimana pun; niereka berfungsi sebagai penyerbuk dan pembusuk tanarnan, dan merupakan makanan banyak binatang vertebrata yang merupakan daya tarik setiap taman nasional. Mereka menyerang biji-bijian, tanaman kecil maupun besar. Namun, spesies yang paling merusak pun amat penting dalam regenerasi hutan: menghancurkan pohon-pohon kelewat tua sehingga tanaman baru tumbuh bisa mendapatkan cahaya untuk berkembang terus. Hutan merupakan siklus kelahiran, kelahiran kembali, siklus nutrien, dan mata rantai makanan yang rumit. Banyak tanaman mengembangkan daya tahan zat kimiawi terhadap serangga, dan beberapa jenis bahan kimia ini — seperti kunaniol, kokain, reserpine dan strychnine — mempunyai sifat-sifat farmakologis yang penting. Penelitian terhadap kelompok herbivorajuga me – mungkinkan kita menemukan produk lain yang sangat bermanfaat.

Dari segi apa pun, kita perlu hutan —secara fisik, estetik , dan komersial. Sayang, kita belum begitu mengerti tentang hutan itu sendiri. Kita pun belum mengenal sebagian besar komponen hutan yang dinamis dan spesifik. Mungkin ada ratusan ribu spesies serangga yang perlu ditemukan dan diuraikan, dan Proyek Wallace, seperti juga program-program besar lainnya, boleh berharap , bahwa setengah dari spesies yang ditemukannya. akan merupakan sesuatu yang baru dalam ilmu pengetahuan. Banyak spesies ini akan berguna bagi usaha komersial, untuk memerangi hama tanaman dan penular penyakit, misalnya, atau sebagai penyerbuk tanaman, penggembur tanah, untuk pendaur ulang dan dekomposisi, dan sebagai indikator biologis akan terjadinya polusi udara dan air. Ekspedisi-ekspedisi masa lalu telah membuktikan manfaat-manfaat semacam ini, seperti penemuan kumbang penyerbuk curculionid di Kamerun yang ternyata sangat bermanfaat untuk meningkatkan produksi minyak kelapa sawit di Malaysia.

Menyelidiki Puncak Pohon
Ada juga misteri ilmu pengetahu-an yang harus dipecahkan. Ekosistem hutan cenderung terkonsentrasi di dasar pohon, atau di lapisan atas, sekitar 50 meter di atas kepala. Namun , inilah lapisan yang paling sulit diteliti. Kita bisa men4:ali lapisan bawah itu bagian per bagian, dan menyemprotkan bagian atas dedaunan itu dengan insektisida untuk mengumpulkan serangga. Ini memang memberitahu kita apa yang ada di sana, tapi tidak yang dilakukannya. Ini perlu cara yang lebih kompleks, mempergunakan alat pelacak radioaktif untuk meneliti sarang-sarang rayap, juga perangkap-perangkap serangga untuk menangkap jenis-jenis serangga di musim berbeda.

Departemen Pertahanan Inggris memberi dukungan yang tak ternilai untuk ekspedisi ini: menyediakan dukungan logistik, insinyur-insinyur, tim survei dan meteorologi yang dikepalai Letkol. Hugh Rose. Semua perlu peta, tentu saja , dan beberapa kelompok pengukur tanah akan melakukan survei topografi taman itu untuk Pemerintah Indonesia. Mereka juga akan mengusahakan serangkaian stasiun cuaca untuk mencatat situasi iklim, dalam hubungannya dengan siklus pertumbuhan dan migrasi serangga hama utama dari luar negeri. Dalam medan yang begitu berat, adanya kesatuan militer yang ahli dan handal dalam hal penjelajahan hutan dan survival, memang menenteramkan hati.

RESL juga menyadari pentingnya pendidikan dan pelatihan. Proyek Wallace bukan sekedar menekankan pentingnya meneliti hutan basah tropis yang kian punah, tapi juga merupakan langkah besar ke arah kerja sama intemasional. Anggota-anggota ekspedisi, rencananya, akan memberikan latihan spesialisasi pada para mahasiswa entomologi, ekologi, evolusi dan pelestarian Indonesia. Dan, diharapkan akan diberi beasiswa untuk melanjutkan pelatihan ini setelah 1985. Referensi hasil yang ditemukan akan didirikan di London, Indonesia, dan pusat-pusat riset di seluruh dunia Sedangkan pangkalan tetap (base camp) proyek itu, akan disumbangkan kepada Pemerintah Indonesia, sebagai pusat untuk meneruskan penelitian terhadap ekologi hutan tropis. Proyek ini, amat bermanfaat dari segi ilmiah dan komersial, serta akan meningkatkan mutu pengelolaan taman nasional serta cadangan air di negara-negara tropis. Proyek Wallace, sebenarnya, lebih dari sekedar ekspedisi, tapi merupakan investasi bagi masa depan. Terima kasih.– B. Knight/C.Sehofield

Sumber: Majalah AKU TAHU/Maret 1986

Share
%d blogger menyukai ini: