Home / Berita / Mengolah Emas Menggunakan Boraks

Mengolah Emas Menggunakan Boraks

Meskipun dampak negatifnya sudah diketahui secara luas, penambangan emas dengan merkuri masih terus terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Berdasarkan data Asosiasi Penambang Rakyat Indonesia, hingga November 2017 terdapat sekitar 850 titik pertambangan emas skala kecil yang tersebar di 197 kota/kabupaten di 32 provinsi (Kompas, 13/11/2017).

Kebanyakan pertambangan emas skala kecil atau pertambangan rakyat itu menggunakan merkuri dalam proses pengolahan emas. Padahal, penggunaan merkuri memunculkan aneka persoalan, mulai dari pencemaran lingkungan hingga masalah kesehatan. Dalam kadar tertentu, paparan merkuri yang masuk ke tubuh manusia bisa menyebabkan kerusakan saraf, otak, dan organ tubuh.

KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN–Petugas menunjukkan emas hasil produksi PT Aneka Tambang (Antam) di pabriknya di kawasan Pologadung, Jakarta, beberapa waktu yang lalu.

Meski pemerintah telah melarang dan penegakan hukum kerap dilakukan, penggunaan merkuri dalam penambangan emas tak mudah dihentikan. Kondisi itu menunjukkan, upaya meminimalkan penggunaan merkuri tidak cukup dilakukan dengan regulasi dan penegakan hukum. Dibutuhkan upaya serius untuk mendorong para penambang emas beralih menggunakan bahan yang lebih ramah lingkungan.

Kondisi itu mendorong dosen Teknik Pertambangan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) “Veteran” Yogyakarta, Rika Ernawati (44), meneliti penggunaan boraks dalam pengolahan emas. Hasil penelitian Rika itu dituangkan dalam disertasi doktoral di Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Pada Senin (30/7/2018), Rika menjalani ujian terbuka untuk mempertahankan disertasinya yang berjudul “Karakteristik Endapan Emas Epitermal dan Pengaruhnya terhadap Pengolahan Akhir Menggunakan Boraks Pengganti Merkuri pada Penambangan Rakyat”. Dalam ujian itu, Rika meraih predikat sangat memuaskan.

“Penggunaan merkuri punya banyak dampak negatif. Makanya kita harus mencari cara alternatif mengolah emas tanpa menggunakan bahan berbahaya,” kata Rika saat ditemui Kompas, Rabu (1/8/2018), di Yogyakarta.

Sudah dipakai
Rika menjelaskan, salah satu cara alternatif mengolah emas tanpa menimbulkan efek berbahaya adalah menggunakan boraks. Boraks adalah campuran garam mineral konsentrasi tinggi yang biasa dipakai untuk sejumlah keperluan. Di dunia industri, boraks antara lain dipakai untuk pengawet kayu, pengontrol kecoa, dan bahan pembersih.

Penggunaan boraks dalam pengolahan emas sudah banyak diteliti dan dibahas dalam berbagai jurnal ilmiah. Selain itu, boraks juga sudah dipakai dalam pengolahan emas di sejumlah negara. “Di Filipina, boraks sudah dipakai dalam pengolahan emas selama sekitar 30 tahun,” ujar Rika.

Rika memaparkan, pengolahan emas menggunakan boraks membutuhkan peralatan yang sedikit berbeda dengan pengolahan emas memakai merkuri. Tahapan pengolahan emas dengan boraks pun juga sedikit berbeda.

Pengolahan emas dengan merkuri umumnya terdiri dari beberapa tahapan. Tahap pertama adalah memecah batuan yang mengandung endapan emas hingga berukuran kecil, yakni sekitar setengah sentimeter (cm). Proses memecah batuan ini bisa dilakukan secara manual atau menggunakan alat bernama crusher. Batuan yang sudah berukuran kecil itu kemudian dimasukkan ke dalam alat mill untuk digiling selama sekitar 4 jam hingga ukuran lebih kecil. Dalam proses penggilingan itu, batuan-batuan tersebut dicampur dengan air.

Setelah penggilingan selama 4 jam, merkuri ditambahkan ke dalam alat milling, lalu dilakukan penggilingan lagi selama 2 jam. Dalam penggilingan kedua ini, merkuri akan bekerja menangkap butiran emas yang ada sehingga tercipta ikatan amalgam atau ikatan antara merkuri dan emas. Sesudah penggilingan selesai, ikatan amalgam itu diperas untuk mengeluarkan kandungan air.

Setelah itu, campuran merkuri dan butiran emas yang ada dibakar untuk menghilangkan kandungan merkuri. “Dalam proses pembakaran itu, merkuri akan hilang atau menguap ke udara. Nah, merkuri yang menguap ke udara itulah yang berbahaya. Kalau uap merkuri mengenai tanaman padi, misalnya, maka padi itu akan mengandung merkuri,” ujar Rika.

Selain uap merkuri hasil pembakaran, pengolahan emas dengan merkuri juga menghasilkan limbah cair berbahaya. Di lokasi pertambangan rakyat, limbah cair yang mengandung merkuri itu kerap dibuang langsung ke sungai tanpa diolah lebih dulu sehingga mencemari lingkungan.

KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERIN–Inilah lokasi pengolahan emas hasil tambang liar di Gunung Botak, Kabupaten Buru, Maluku, Minggu (8/11/2015). Pengolahan emas yang menggunakan merkuri itu telah mencemari lingkungan di sana.

Keunggulan
Rika mengatakan, pengolahan emas menggunakan boraks juga diawali dengan memecah batuan yang mengandung endapan emas dengan crusher, lalu batuan yang telah dipecah-pecah itu digiling memakai mill selama 4 jam. Sesudah itu, batuan hasil penggilingan disaring, lalu dialirkan ke alat bernama meja goyang (shaking table) untuk memisahkan konsentrat emas dengan mineral lain.

Setelah itu, konsentrat emas yang terkumpul didulang atau panning untuk memisahkan mineral lain yang masih tercampur. Sesudah itu, konsentrat emas yang terkumpul dicampur dengan boraks dan sedikit air. Campuran konsentrat emas dan boraks itu lalu dibakar untuk menghasilkan bullion atau logam emas yang kadang masih terikat dengan logam lain seperti perak. Setelah dimurnikan, bullion bisa diolah menjadi perhiasan.

Rika memaparkan, fungsi boraks dalam proses pengolahan itu adalah membersihkan konsentrat emas dari kandungan mineral lain sekaligus menurunkan titik leleh emas sehingga proses pembakaran bisa berlangsung lebih cepat.

Proses pengolahan emas memakai boraks memiliki sejumlah keunggulan dibanding pengolahan dengan merkuri. Kelebihan pertama adalah tidak adanya limbah berbahaya, baik dalam bentuk cair maupun uap, yang dihasilkan dari pengolahan memakai boraks.

Selain itu, pengolahan dengan boraks membutuhkan waktu lebih singkat dan biaya lebih murah dibanding pengolahan dengan merkuri. “Harga merkuri itu kan lebih mahal daripada boraks,” ujar Rika. Beberapa penelitian juga menunjukkan, pengolahan dengan boraks bisa menghasilkan emas yang lebih banyak.

Namun, pengolahan dengan boraks membutuhkan tenaga yang lebih karena penambang harus melakukan pendulangan secara manual. “Pengolahan dengan boraks memang membutuhkan tenaga ekstra. Kalau pakai merkuri, kita hanya diam saja, merkurinya yang kerja,” tuturnya.

Selain itu, kata Rika, tidak semua endapan emas bisa diolah dengan boraks. Dari dua tipe endapan emas yang ada, hanya endapan emas tipe epitermal yang bisa diolah dengan boraks, sementara endapan emas tipe porfiri tidak bisa.

“Perbedaan porfiri dan epitermal itu pada proses pembentukannya. Kalau endapan porfiri itu terbentuknya dekat dengan magma, sementara endapan epitermal lebih dekat ke permukaan bumi,” katanya.

Dalam penelitiannya, Rika mengambil sampel endapan emas dari tiga lokasi pertambangan rakyat, yakni di Desa Paningkaban, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah; Desa Jendi, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah; serta Desa Lamuntet, Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Berdasar penelitian Rika, endapan emas dari tiga lokasi itu bisa diolah menggunakan boraks.

Kondisi itu menunjukkan, pengolahan emas memakai boraks sangat mungkin diterapkan di pertambangan-pertambangan rakyat di Indonesia. Namun, agar boraks bisa dipakai secara luas untuk mengganti merkuri, masih dibutuhkan upaya bersama dari berbagai pihak, terutama pemerintah.–HARIS FIRDAUS

Sumber: Kompas, 3 September 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: