Home / Berita / Mengintip Kota Masa Depan Korea

Mengintip Kota Masa Depan Korea

Menyinggahi Songdo merupakan salah satu perjalanan mengesankan ke Korea Selatan pada akhir November 2015. Kota di kawasan Incheon tersebut termasuk futuristik dengan beragam kecanggihan teknologi.

Ketakjuban pertama terhadap kota Songdo dimulai saat kami masuk ke G Tower, lokasi kantor Incheon Free Economic Zone (IFEZ). Sambutan hangat langsung menyapa belasan orang dalam rombongan Telkomsel Indonesia. Tanpa banyak cakap, kami diarahkan masuk ke ruang pertama. Di sini kami sempat bingung karena tiba-tiba lampu dimatikan. Tak lama kemudian, seluruh dinding ruangan seperti berubah menjadi layar monitor. Di dinding itulah dipertontonkan video singkat mengenai IFEZ.

IFEZ adalah zona strategis ekonomi di Asia Tenggara yang dipromosikan Korea Selatan mulai 11 Agustus 2003. Daerah ekonomi bebas tersebut terdiri atas tiga kota, yaitu Songdo (diarahkan menjadi kota pusat bisnis dan teknologi informasi), Yeongjong (pusat distribusi dan wisata), serta Cheongna (pusat bisnis, keuangan, wisata, dan teknologi).

Luas total wilayah kawasan ekonomi bebas tersebut adalah 169,5 kilometer persegi. IFEZ terletak 50 kilometer dari pusat kota Seoul atau lebih kurang bisa ditempuh dalam waktu 1-1,5 jam dari Seoul. Di kawasan IFEZ tinggal 2,9 juta orang. Di daerah tersebut terdapat pelabuhan sekaligus bandar udara internasional Incheon, Korea Selatan.

Namun, yang paling menarik adalah tiga kawasan itu sedang dibangun menjadi kawasan terintegrasi dalam hal teknologi. Saat itu, rombongan kami diajak mengintip pusat kendali seluruh sistem operasi layanan umum Cheongna.

990a01d7b56a4c0994c3ad4f71731339KOMPAS/DAHLIA IRAWATI–Suasana ruang kontrol atau pusat kendali sistem layanan publik terintegrasi di Incheon Free Economic Zone (IFEZ). Korea Selatan ingin menjadi pusat bisnis dunia dengan cara merintis pembuatan zona bebas ekonomi untuk bisnis dan perusahaan di dunia. IFEZ terdiri atas tiga kota, yaitu Songdo, Cheongna, dan Yeongjong. Tiga wilayah itu sedang dibangun dengan konsep sistem teknologi terintegrasi, dalam hal layanan publik.

Pusat kendali sistem operasi Cheongna tersebut berupa ruangan besar dengan monitor besar yang menunjukkan aneka macam video. Mulai dari video situasi jalan, jalur bus, temperatur udara, dan beberapa layanan publik lain. Beragam monitor tersebut dipantau beberapa orang di balik meja komputer masing-masing.

Menariknya, layar monitor tersebut menunjukkan seluruh aktivitas layanan publik di kota pada saat itu. Sistem terkomputerisasi tersebut menyala selama 24 jam penuh. “Titik merah berkedip-kedip itu menunjukkan ada masalah atau gangguan di dalam layanan publik tersebut,” tutur Cheong Ho Jang, petugas operasional pusat kendali layanan publik di IFEZ. Jang saat itu menunjuk titik merah berkedip di layar monitor.

Sensor
Jang menceritakan, untuk memantau seluruh sistem layanan publik di Cheongna, pemerintah memasang lebih dari 800 sensor dan 300-an kamera pemantau (CCTV). Jang mengatakan bahwa pertama kali yang dilakukan pemerintah adalah mereklamasi lahan yang semula laut atau rawa. Berikutnya, pemerintah membangun jaringan internet berupa serat optik (fiber optic).

Ada tiga tahap pembangunan kawasan IFEZ, yaitu pembangunan infrastruktur oleh pemerintah (tahun 2003-2009), pembangunan layanan publik dan persiapan kerja sama pemerintah swasta dalam pembangunan kota terkoneksi teknologi (tahun 2010-2016), serta perluasan kota terintegrasi teknologi dan perluasan layanan publik (tahun 2017-2020).

“Saat ini proses pembangunan sistem teknologi informasi di Cheongna mencapai 70 persen. Adapun di dua kota lain, yaitu Songdo dan Yeongjong, masih 30 persen. Pada 2016, harapannya pembangunan sistem teknologi informasi di Songdo dan Yeongjong bisa menyamai Cheongna,” kata Jang.

Pembangunan pusat kendali sistem operasi Cheongna didahulukan mungkin karena kota tersebut diarahkan menjadi kota terlengkap, yaitu menjadi pusat bisnis, keuangan, wisata, dan teknologi sekaligus. Mungkin, dengan membangun sistem yang paling kompleks pertama kali, dinilai akan mempermudah pembangunan sistem di dua kota lain yang tidak begitu kompleks.

Dari buku penjelasan mengenai IFEZ yang diberikan kepada pengunjung disebutkan, investasi Pemerintah Incheon untuk menarik modal asing masuk ke IFEZ mencapai 71 miliar dollar AS (tahun 2014). Adapun investasi awal pemerintah untuk membangun IFEZ adalah 23 miliar dollar AS.

d6d61926577441e6aadb63ac485ae1d2KOMPAS/DAHLIA IRAWATI–Suasana Songdo Central Park, Korea Selatan, awal Desember 2015. Meski merupakan kota berteknologi tinggi, Songdo tetap menjaga alamnya dengan baik. Songdo Central Park adalah salah satu ruang publik yang bisa dimanfaatkan warga untuk menikmati keindahan alam.

Dengan kawasan ekonomi bebas tersebut, Incheon berhasil menarik masuk 75 perusahaan multinasional dari 16 negara ke kawasan IFEZ. Secara bertahap, Korea Selatan pun berusaha mewujudkan mimpinya menjadi pusat bisnis dunia.

Bekerja keras
Kerja keras Korea Selatan untuk mewujudkan impiannya menjadi pusat bisnis dunia mungkin tecermin dalam kerja keras penduduknya. Orang Korea selama ini dikenal sebagai pekerja keras, berani, dan tidak berhenti jika tujuan belum tercapai.

Selama beberapa hari mengunjungi Korea, nyaris kami tidak menemukan orang Korea mengobrol di pinggir jalan tanpa ada kegiatan khusus. Saat bekerja, mereka fokus pada pekerjaan, bahkan lembur hingga pukul 20.00-21.00 waktu setempat.

Bekerja bagi warga Korea Selatan berbeda dengan kebanyakan orang di Indonesia. Jika di Indonesia bekerja mungkin bisa dengan bercanda, tidak demikian halnya di Korea. Di kantor Microsoft Office Korea misalnya, nyaris tidak ada orang ngobrol saat bekerja. Mereka berbicara dengan teman sekantor di ruang istirahat kantor.

“Orang Korea tidak ada yang duduk-duduk di jalan karena malu. Lebih baik dipakai bekerja. Saat bekerja pun fokus sehingga tidak ngobrol macam-macam. Orang Korea tidak ada budaya seperti itu,” kata Cindy Seol, warga Seoul yang menjadi pemandu kami selama di Korea.

Sifat kerja keras juga terlihat dari sosok Cindy. Perempuan yang mahir berbahasa Indonesia itu hampir selalu meminta dicatatkan sejumlah kosakata bahasa Indonesia yang baru didengarnya. Ia bertekad menguasai beragam kosakata sinonim bahasa Indonesia agar lebih fasih berbahasa Indonesia.

Padahal, Cindy sudah bisa dibilang mahir berbahasa Indonesia. Ini karena perempuan berusia 30 tahun itu pernah setahun tinggal di Solo, Jawa Tengah, untuk belajar bahasa Indonesia. Selama itu, Cindy menyerap logat dan budaya Indonesia. Bahkan hingga kini, logat Jawa Tengah dalam bahasa Indonesia Cindy pun tak juga hilang.

Cindy datang ke Indonesia tanpa tahu negara di mana Indonesia itu. Hanya saja, suatu kali Cindy pernah menonton kisah pewayangan. Itulah yang membuat Cindy tertarik dengan Indonesia. Ia pun bertanya kepada temannya, di mana ia bisa belajar mengenai bahasa dan budaya yang terbaik di Indonesia. Sang teman mengarahkan Cindy ke Solo. Itu asal mula Cindy belajar mengenai Indonesia.

“Saya ingin menambah kosakata bahasa Indonesia saya. Saya masih harus belajar banyak agar mahir bahasa Indonesia,” tekad Cindy.

Cindy mengakui bahwa selama belum benar-benar mampu, orang Korea memang akan mengejar keinginannya hingga dapat. Terutama dalam hal ekonomi. “Orang Korea harus bekerja keras karena tidak memiliki sumber daya alam. Kami harus bekerja keras membuat barang-barang yang bisa diekspor agar bisa hidup. Itu sebabnya kami bekerja sangat keras,” kata Cindy.

Ah, memang besi itu harus ditempa sedemikian keras untuk menjadi barang berharga. Situasi sulit biasanya akan melahirkan sosok-sosok tangguh sebagai pemenang. Akankah kita bisa belajar dari kerja keras Korea?–DAHLIA IRAWATI
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Desember 2015, di halaman 26 dengan judul “Mengintip Kota Masa Depan Korea”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: