Home / Artikel / Menghadapi Korona dengan Bahasa Sederhana

Menghadapi Korona dengan Bahasa Sederhana

Hampir setiap provinsi di Indonesia memiliki suatu kantor atau balai bahasa yang ditugaskan melestarikan bahasa daerah. Mereka memiliki kompetensi menyusun materi tentang pandemi yang mudah dipahami masyarakat lokal.

Seiring pandemi Covid-19, terjadi banjir istilah asing. Sebut saja droplet, positivity rate, dan testing and tracing. Sekarang OTG, ODP, dan PDP sudah diganti dengan kasus suspek, kasus probable, dan kasus konfirmasi. Itu pun tetap berbau asing.

Mau bepergian naik kereta api sekarang kita tidak perlu lagi surat izin keluar masuk (SIKM), cukup mengurus surat Corona Likelihood Metric atau CLM. Selain itu, masih ada real time polymerase chain reaction (atau RT-PCR), WFH, SFH, PSBB proporsional, PSBB transisi, dan lain-lain.

Untuk mengetahui pemahaman masyarakat, penulis melakukan survei sangat sederhana di sekitar rumah, persisnya di perbatasan DKI dan Depok, Jawa Barat. Survei melibatkan 30 orang dengan mengobrol santai di depan rumah dan di pos satpam.

Salah memahami informasi
Responden terdiri dari beberapa petugas satpam, pengemudi ojek daring, sopir mobil pribadi, tukang kebun, pembantu rumah tangga, karyawan toko, buruh pabrik, ibu rumah tangga, dan tiga orang yang sedang menganggur. Di antara responden ada lulusan SD, SMP, dan SMA. Yang pernah kuliah sengaja tidak dilibatkan.

Responden ditanya apakah mereka pernah mendengar istilah PSBB, ODP/PDP, dan new normal. Bagi responden yang mengaku pernah mendengar istilah tersebut, selanjutnya ditanya apakah mereka tahu artinya. Hasilnya mengagetkan.

Ternyata rata-rata 50 persen responden belum pernah mendengar istilah tersebut atau pernah mendengar, tetapi tidak mengerti artinya. Beberapa orang merasa bersalah karena mereka tidak mengerti. Misalnya, satu mengatakan, ”Maaf Om, saya tidak tahu apa itu protokol kesehatan. Saya cuma sekolah sampai SD.”

Sementara responden yang mengaku mengerti, pemahamannya tidak selalu sesuai dengan yang dimaksud. Misalnya, menurut seorang responden makna PSBB adalah ’Persatuan Skala Besar-Besaran’, sedangkan responden lain mengartikan ’Ada sanksi sehingga masyarakat takut’.

Mengenai ODP, pemahaman responden sangat beragam. Di antara mereka ada yang menjawab ”sudah ada indikasi korona”, ada yang mengartikan ”orang yang sudah diperiksa, tetapi belum tahu hasilnya”, dan ada yang memahami ODP sebagai ”gejala demam atau riwayat perjalanan dari zona merah dan diisolasi dua minggu”.

Demikian juga dengan PDP, pengertian responden satu dengan responden lain jauh berbeda. Yang paling mengkhawatirkan adalah respons terhadap new normal. Beberapa orang menginterpretasikannya sebagai ”kembali normal seperti biasa” dan ”kehidupan seperti biasa sebelum ada virus-bebas bersosialisasi”.

Berkaitan dengan Covid-19 dan kesan masyarakat ”cuek” atau ”tidak disiplin”, survei kecil ini menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya salah memahami informasi dari sumber-sumber resmi atau malah tidak mengerti sama sekali.

Salah satu penyebabnya adalah penggunaan istilah-istilah dari bahasa Inggris. Apalagi, hanya 20 persen masyarakat Indonesia yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari; yang lain cenderung menggunakan bahasa daerah (Sensus 2010 dianalisis Ananta et al, 2015).

Dengan demikian, sebagian masyarakat mungkin akan lebih gampang menerima informasi dan imbauan jika disampaikan dalam bahasa ibu atau bahasa daerah. Survei ini dilakukan di pinggiran ibu kota negara, cuma 15 kilometer dari Monas. Seandainya survei dilakukan di daerah yang lebih pelosok, bisa jadi hasilnya akan semakin mengkhawatirkan.

Jalan keluar
Bagaimana jalan keluarnya? Pengalaman di beberapa negara menarik untuk disimak. Misalnya, di wilayah utara Republik Kamerun di Afrika Tengah, yang beberapa tahun lalu terkena wabah kolera. Pemerintah setempat menyampaikan informasi dan anjuran kepada masyarakat dengan bahasa resmi negara, yaitu Perancis, tetapi tidak dihiraukan penduduk.

Kemudian pemerintah mengganti kebijakan dengan menggunakan bahasa Fufulde, bahasa daerah di wilayah itu. Baru setelah itu masyarakat paham apa yang harus mereka lakukan untuk menghindari penyakit kolera.

Maju ke zaman sekarang, Universiti Malaysia Sabah (UMS), bekerja sama dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sudah menyusun petunjuk tertulis dalam delapan bahasa daerah Sabah, termasuk bahasa Bajau dan Rangas, tentang cara menghindari penyakit korona secara efektif.

Petunjuk tersebut disusun dengan melibatkan penutur bahasa lokal dan tidak memakai kata serapan dari bahasa Inggris maupun singkatan yang sulit dihafal dan dipahami. Contoh lain lagi dari Filipina di mana Himpunan Mahasiswa Kedokteran berinisiatif menyusun informasi mengenai Covid-19 dalam beberapa bahasa daerah, termasuk bahasa Ilokano.

KOMPAS/SRI REJEKI—Beberapa frasa yang muncul sebagai padanan frasa dalam bahasa Inggris, new normal.

Selain orang dewasa, anak-anak juga butuh informasi yang mudah dicerna. Di Irak Utara (wilayah Kurdi) kementerian pendidikan telah mempersiapkan buku pelajaran khusus tentang korona untuk tiap kelas, dari kelas I sampai XII. Masing-masing buku diterjemahkan ke dalam tujuh bahasa setempat, termasuk bahasa Kurdi, Syriak, Soran, dan Arab.

Buku-buku didistribusikan kepada anak-anak di rumah masing-masing, kemudian pelajaran disampaikan melalui televisi, sekali lagi dengan menggunakan bahasa daerah.

Ada semboyan ”utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing”. Bahasa daerah digunakan sebagai bahasa pengantar dalam proses pendidikan hanya bila perlu untuk penyampaian pengetahuan tertentu.

Nah, dari pengalaman di beberapa negara dapat disimpulkan bahwa informasi dan petunjuk akan lebih gampang diterima jika disampaikan dengan bahasa sehari-hari. Indonesia juga perlu mempertimbangkan pemakaian bahasa daerah untuk menyampaikan pengetahuan tentang kesehatan.

Hampir setiap provinsi di Indonesia memiliki suatu kantor atau balai bahasa yang ditugaskan melestarikan bahasa daerah. Mereka memiliki kompetensi yang tepat untuk menyusun materi yang diperlukan, tentu saja dengan melibatkan masyarakat setempat.

Dengan menghindari istilah asing dan singkatan rumit, serta menggunakan bahasa sehari-hari, diharapkan masyarakat dapat memiliki pemahaman yang benar sehingga mampu mengatasi pandemi ini.

Hywel Coleman, Honorary Senior Research Fellow, University of Leeds, Inggris; Berdomisili di Depok, Jawa Barat.

Sumber: Kompas, 26 Agustus 2020

Share
%d blogger menyukai ini: