Home / Berita / Mengenali Gejala dan Prosedur Tes Covid-19

Mengenali Gejala dan Prosedur Tes Covid-19

Apa dan bagaimana sebenarnya tes untuk virus korona baru? Dalam keterbatasan reagen, alat dan tenaga, siapa yang diprioritaskan untuk dites? Simak gejala Covid-19 dan apa yang harus dilakukan jika timbul gejala.

KOMPAS/KRISTI UTAMI–Petugas sedang mendorong pasien terduga Covid-19 dalam kegiatan simulasi penangan Covid-19 di RSUD dr Soeselo Kabupaten Tegal, Rabu (4/3/2020). Mengacu pada standar yang ada, petugas medis yang menangani pasien dalam pengawasan Covid-19 harus mengenakan hazmat atau pakaian astrounat.

Batuk pilek dan sedikit demam lazim bagi orang yang tinggal di daerah tropis seperti Indonesia. Dengan obat bebas yang dibeli di warung atau toko swalayan serta istirahat sehari dua hari, gangguan itu biasanya segera hilang. Namun, di tengah pandemi Covid-19, kita jadi ragu dan bingung, kapan harus pergi ke dokter dan tes untuk virus korona baru jika kena batuk pilek, agar tak terlanjur parah.

Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat menyatakan, jika Anda tinggal di wilayah yang sedang terjangkit Covid-19 atau baru pulang dari wilayah seperti itu, segera periksa ke dokter dan ceritakan riwayat paparan. Dokter akan memutuskan apakah Anda perlu dites.

Namun, perlu diingat, sejauh ini belum ada obat untuk Covid-19. Orang dengan gejala ringan sebaiknya melakukan karantina mandiri di rumah dan minum obat sesuai petunjuk dokter.

Selasa (17/3/2020) lalu, para peneliti di China mengumumkan bahwa obat flu Avigan (Favipiravir) efektif mengatasi Covid-19. Saat ini, pemerintah sedang mengupayakan untuk mengimpor obat tersebut.

Jika timbul demam serta gejala seperti batuk dan sesak napas, segera pergi ke rumah sakit. Gejala lain yang perlu diwaspadai adalah nyeri atau rasa tertekan di dada, kebingungan, lemah lesu, muka atau bibir kebiruan.

Dokter akan menilai untuk menentukan apakah pasien memiliki gejala sesuai dengan Covid-19 dan apakah pasien harus dites. Kebanyakan pasien yang positif Covid-19 mengalami demam atau gejala gangguan saluran pernapasan akut seperti batuk dan sesak napas.

Yang diprioritaskan untuk diperiksa adalah pasien yang sedang dirawat dan menunjukkan gejala Covid-19, hal ini terkait dengan pengendalian infeksi. Selain itu, orang lanjut usia serta orang dengan gangguan kesehatan kronis dan kekebalan tubuh rendah. Penyebabnya, orang lanjut usia serta mereka yang mengidap gangguan jantung, paru, ginjal, diabetes atau sedang menjalani pengobatan untuk menekan kekebalan tubuh, berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi dari Covid-19.

Kelompok lain yang perlu dites adalah semua orang termasuk petugas kesehatan yang dalam 14 hari sejak timbul gejala berkontak dekat (berada sekitar 2 meter) dengan pasien terduga maupun yang terkonfirmasi (positif) terkena Covid-19. Selain itu, mereka yang terkena semburan batuk atau bersin penderita serta yang baru kembali dari wilayah terjangkit Covid-19.

Pengambilan contoh
Untuk tes diagnostik Covid-19, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan CDC merekomendasikan pengumpulan swab (usap) dari bagian saluran pernapasan atas, yakni hidung dan tenggorokan. Alat usap hanya boleh terbuat dari serat sintetik, bukan dari kalsium alginat maupun kayu, karena bisa mengandung zat yang mematikan virus ataupun mempengaruhi pemeriksaan yang menggunakan teknik reaksi rantai polimerase (polymerase chain reaction/PCR).

Setelah mengambil sampel, tempatkan segera alat usap ke dalam tabung steril yang mengandung 2-3 mililiter cairan atau media untuk virus dan kirim ke laboratorium. Dengan PCR, materi genetik dari sampel penderita nantinya akan dicocokkan dengan kode genetik virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19.

Bagi pasien yang batuk, dahaknya juga perlu diperiksa. Sedangkan untuk pasien yang menggunakan ventilator, perlu pemeriksaan contoh sel dari brokus dan alveolus yang diambil dengan bronkoskop. Sampel yang diambil harus segera dimasukkan ke dalam tabung steril dan antibocor.

Simpan sampel atau spesimen pada suhu 2-8°C selama 72 jam setelah dikumpulkan. Jika tes atau pengiriman tertunda, spesimen perlu dibekukan pada suhu -20°C hingga -70°C. Namun, harus dihindari pembekuan dan pencairan spesimen berulang kali.

WHO menyatakan, pengumpulan cepat dan pengujian spesimen dari pasien terduga Covid-19 adalah prioritas untuk manajemen klinis dan pengendalian wabah. Kasus terduga harus ditapis untuk mengetahui jenis virus lewat tes amplifikasi asam nukleat (NAAT) dengan Real Time (RT)-PCR. Kalau tes untuk Covid-19 belum ada di suatu negara, maka spesimen perlu dirujuk ke tempat lain.

Jika diperlukan, pasien dites untuk mengetahui kuman lain di saluran pernapasan sesuai panduan untuk tes pneumonia. Meski sampel dari saluran pernapasan menunjukkan hasil paling signifikan, karena kedua tempat itu merupakan tempat virus bereplikasi, namun virus juga dapat dideteksi dari spesimen lain, misalnya tinja dan darah, seperti halnya virus korona pada SARS dan MERS. Untuk pasien yang telah meninggal, perlu dipertimbangkan otopsi dengan memeriksa jaringan paru.

Tenaga medis yang mengambil sampel harus mengenakan alat pelindung diri (APD) berupa sarung tangan, baju yang menutup seluruh tubuh dari kepala sampai kaki, masker serta lapisan pelindung wajah.

Adapun pemeriksaan perlu dilakukan di laboratorium dengan peralatan dan tingkat keamanan memadai, minimal Bio Safety Level (BSL) 2. Sedangkan untuk kultur virus harus di laboratorium dengan tingkat keamanan minimal BSL 3. Petugas dan peneliti harus terlatih dengan teknis dan prosedur keamanan yang sesuai.

Seandainya pemeriksaan spesimen dari saluran pernapasan atas (usap hidung dan tenggorokan) memberikan hasil negatif, bagi pasien yang dinilai kemungkinan besar terkena Covid-19 perlu dilakukan pemeriksaan sampel dari saluran pernapasan bawah (dari bronkus dan alveolus).

Gaetan Burgio dari Fakultas Penelitian Kedokteran John Curtin, Universitas Nasional Australia, mengatakan, kecepatan hasil tes dipengaruhi teknologi yang digunakan, ketersediaan reagen, jumlah teknisi laboratorium serta protokol pelaksanaan tes. Pada situasi pandemi, menurut dia, kecepatan mendapatkan hasil tes menjadi sangat penting.

“Para pasien yang diisolasi bisa jadi tidak patuh. Hasil yang cepat memungkinkan kita dengan cepat mendeteksi positif dan menindaklanjuti pasien dalam isolasi,” ujarnya seperti dikutip the Guardian Australia, Rabu (18/3). Di negara bagian Victoria, Australia, pasien bisa mendapat hasil tes dalam waktu 48-72 jam.

–Perbedaan Social Distancing, Karantina, dan Isolasi di Masa Tanggap Covid-19.

Kandidat uji cepat
Laman Universitas Oxford, Inggris, Rabu, mengumumkan, ilmuwan dari Departemen Ilmu Teknik dan the Oxford Suzhou Centre for Advanced Research (OSCAR) yang dipimpin Prof Zhanfeng Cui dan Prof Wei Huang, telah mengembangkan teknologi pemeriksaan cepat bagi SARS-CoV-2. Tes itu jauh lebih cepat, hanya 30 menit dibandingkan dengan teknik pemeriksaan yang ada saat ini yang perlu sekitar 1,5-2 jam untuk mendapatkan hasil.

Menurut Wei Huang, tes ini sangat sensitif, sehingga bisa mendeteksi pada kondisi sangat awal. Teknologi ini hanya membutuhkan penghambat panas sederhana yang mempertahankan suhu konstan untuk transkripsi balik RNA dan amplifikasi DNA. Hasilnya dapat dibaca dengan mata telanjang.

Teknologi itu telah divalidasi untuk menguji sampel di Rumah Sakit Umum Luohou Shenzhen, China. Hasilnya sesuai dibandingkan dengan hasil pemeriksaan RT-PCR konvensional. Saat ini para peneliti sedang mengembangkan alat itu agar lebih ringkas dan sederhana sehingga bisa digunakan pada klinik daerah terpencil dan bandar udara.

Sementara itu, di pasaran juga telah beredar test kit atau rapid test yang bisa memberikan hasil sangat cepat, sekitar 15-30 menit. Tes itu dinilai bisa meringankan dan mempercepat layanan pemeriksaan patologi.

The Guardian Australia mengutip, para ahli memperingatkan, tes ini kemungkinan akan kurang akurat dibandingkan dengan tes PCR berbasis laboratorium karena yang dideteksi adalah antibodi, bukan virusnya. Cara itu bisa mendapatkan hasil negatif palsu. Bagi yang menunjukkan gejala kuat Covid-19 harus dites ulang dengan teknik PCR.

GUGUS TUGAS PERCEPATAN PENANGANAN COVID-19–Data Covid-19 di Indonesia dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 di Indonesia, per Senin (23/3/2020), pukul 15.00 WIB.

Karena itu, kita perlu tetap fokus melakukan tes dengan PCR dan menyampaikan hasilnya segera kepada dokter dan pasien agar penyakit bisa segera diatasi. Selain itu juga bisa segera dilakukan karantina mandiri bagi orang-orang di lingkungan pasien yang belum menunjukkan gejala maupun yang gejalanya ringan sehingga yang bersangkutan tidak beredar dan menularkan ke orang lain.

Oleh ATIKA WALUJANI MOEDJIONO

Editor: ILHAM KHOIRI

Sumber: Kompas, 24 Maret 2020

Share
x

Check Also

Endcorona, Aplikasi Deteksi Mandiri Risiko Covid-19 Buatan Mahasiswa UI

Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia berkolaborasi membuat platform self-assessment atau deteksi ...