Penularan Covid-19 pada Anak Sulit Dideteksi

- Editor

Jumat, 20 Maret 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Orangtua diimbau agar mewaspadai penularan penyakit Covid-19 pada anak. Hal itu disebabkan gejala penyakit tersebut tidak spesifik.

Gejala penyakit coronavirus disease 2019 atau Covid-19 pada anak tidak spesifik, termasuk kadang penderita tidak mengalami demam. Hal itu membuat penyakit yang disebabkan virus korona jenis baru ini pada anak sulit dideteksi. Untuk itu, orangtua perlu lebih memperhatikan kondisi anaknya, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan pasien yang positif terinfeksi virus tersebut.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Siswa menjalani pemeriksaan suhu tubuh sebelum memasuki ruang kelas di SD Islam Al Bayan, Kota Tangerang, Banten, Senin (9/3/2020). Pemerintah menerbitkan lima protokol terkait penanganan coronavirus disease 2019 (Covid-19). Pemerintah meminta masyarakat untuk lebih waspada dalam menghadapi penyebaran virus korona jenis baru ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dokter spesialis kesehatan anak dari Departemen Medik Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM), Darmawan Budi Setyanto, mengatakan, sebanyak 30-40 persen anak yang menjadi pasien Covid-19 tidak menunjukkan gejala demam. Biasanya, gejala yang timbul hanya terkait gangguan saluran pernapasan.

”Gejala pada anak berupa batuk ataupun suara napas yang terganggu. Namun, jika sudah sampai menginfeksi paru-paru, gejala yang timbul bisa disertai sesak,” katanya di Jakarta, Senin (16/3/2020).

Karena itu, Darmawan mengimbau orangtua agar selalu memperhatikan kondisi kesehatan anaknya. Kecepatan deteksi dini dibutuhkan untuk mencegah kondisi memburuk. Orangtua ataupun keluarga terdekat yang mengalami gejala penularan Covid-19 dianjurkan tidak berdekatan dengan anak minimal dalam jangka waktu 14 hari.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Aman Bhakti Pulungan menambahkan, edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat terkait deteksi dini dan penanganan penyakit Covid-19 harus lebih masif dilakukan. ”Pastikan informasi yang diberikan sampai ke masyarakat, bahkan sampai di tingkat keluarga,” ujarnya.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Siswa taman kanak-kanak diperiksa suhu tubuhnya dan diwajibkan membersihkan tangannya dengan hand sanitizer sebelum memasuki lingkungan sekolah di Jakarta Nanyang School (JNY), BSD City, Tangerang, Banten, Rabu (4/3/2020). Pemeriksaan suhu tubuh dilakukan kepada semua siswa, guru, dan tamu. Bagi siswa yang suhu tubuhnya di atas 37 derajat celsius akan dipulangkan. Pemeriksaan suhu tubuh ini sebagai upaya antisipasi pihak sekolah terhadap Covid-19 yang disebabkan virus korona jenis baru.

Untuk itu, puskesmas berperan dalam mengedukasi masyarakat terkait tindakan preventif dan promotif penanggulangan Covid-19. ”Kapasitas tenaga kesehatan yang ada di puskesmas juga harus ditingkatkan. Pemerintah sudah mengeluarkan imbauan soal edukasi ini, tetapi belum sampai dan belum diimplementasikan dengan benar,” ujarnya.

Karantina mandiri
Ketua Unit Kerja Koordinasi Infeksi dan Penyakit Tropis IDAI Anggraini Alam menyampaikan, edukasi lain yang penting untuk dipahami masyarakat yaitu pengertian karantina mandiri. Sejumlah masyarakat diminta melakukan karantina mandiri selama 14 hari meskipun tidak menunjukkan gejala.

Karantina ini diartikan membatasi diri untuk tidak berhubungan dengan orang lain dan tidak beraktivitas di luar rumah. Tujuannya, jika ada gejala dan risiko infeksi, tidak sampai menular kepada orang lain.

Hal itu berbeda dengan isolasi mandiri. ”Kalau isolasi mandiri itu dilakukan kepada orang yang mengalami gejala mirip influenza, seperti batuk, pilek, dan demam. Mereka tentu merupakan orang yang masuk kelompok orang dalam pemantauan karena ada riwayat pulang dari negara terjangkit atau bertemu dengan pasien yang positif. Isolasi ini artinya jika ada anak di rumah, jangan sampai ada interaksi terlebih dahulu,” tutur Anggraini.

Selain itu, para orangtua diimbau agar tidak membawa anak-anaknya dalam kegiatan yang banyak orang berkumpul. Saat ini, sejumlah sekolah memberlakukan sistem belajar di rumah selama minimal dua minggu. Waktu ini harus digunakan untuk berdiam di rumah dan jangan justru berlibur atau bepergian. ”Penularan dari Covid-19 ini sangat cepat,” ucapnya.

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 19 Maret 2020

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 9 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru