Home / Berita / Mengenal Antareja, Bor Raksasa Asal Jepang Andalan Proyek MRT

Mengenal Antareja, Bor Raksasa Asal Jepang Andalan Proyek MRT

Perusahaan pembuat terowongan asal negeri Sakura, Japan Tunnel Systems Corporation (JTSC) menjadi pemasok Antareja, mesin bor bawah tanah raksasa yang menjadi andalan pemerintah dalam menggarap proyek mass rapid transit (MRT) di Jakarta.

Dono Boestami, Direktur Utama PT MRT Jakarta menjelaskan Antareja menggunakan teknologi berbasis Earth Pressure Balance (EPB) yang pertama kali digunakan di Indonesia. Ia menerangkan, Antareja memiliki diameter sekitar 6,7 meter dengan panjang 43 meter.

“Bobotnya mencapai 323 ton, mulai dari bagian kepala (cutterhead) hingga bagian akhir (backup cars). Antareja ini ini akan mampu melakukan pengeboran terowongan jalur bawah tanah MRT dengan kecepatan 8 meter per hari,” ujar Dono di Jakarta, Senin (21/9).

Ia memperkirakan dengan menggunakan mesin bor buatan Jepang, pengerjaan konstruksi jalur terowongan bawah tanah MRT diperkirakan akan berlangsung mulai September 2015 hingga Desember 2016.

Untuk tahap awal, Antareja akan digunakan untuk menggali terowongan MRT dari Patung Pemuda Senayan menuju Setiabudi. Mesin bor tersebut akan dioperasikan oleh kontraktor paket pekerjaan CP 104 dan CP 105 yaitu SOWJ joint venture yang terdiri dua perusahaan Jepang yaitu Shimizu dan Obayashi serta dua perusahaan nasional PT Wijaya Karya Tbk dan Jaya Konstruksi.

“Total ada empat mesin bor Antareja yang akan digunakan dalam pekerjaan konstruksi proyek MRT Jakarta. Mesin bor pertama telah berada di lokasi Patung Pemuda dan siap dioperasikan. Sementara mesin bor kedua, saat ini sedang dalam proses perakitan dan akan segera menyusul untuk beroperasi dalam waktu dekat,” ujar Dono.

Sebagai informasi, saat ini penyelesaian proyek MRT Jakarta koridor Selatan-Utara Fase 1 (Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia) secara keseluruhan telah mencapai hampir 30 persen, dengan rincian untuk pengerjaan proyek pada struktur layang sudah menyelesaikan 18 persen dan struktur bawah tanah sebesar 43 persen sampai 31 Agustus 2015.

Pekerjaan konstruksi yang tengah dilakukan saat ini antara lain pekerjaan pembuatan pondasi kolom jalur dan stasiun layang, pekerjaan pembangunan stasiun bawah tanah, dan pekerjaan konstruksi depo MRT. Guna menggarap mega proyek transportasi MRT, dibutuhkan dana sekitar US$ 1,5 miliar. (gen)

Resty Armenia

Sumber: CNN Indonesia Senin, 21/09/2015
———–
Jokowi Puji Kecakapan Jepang Bangun MRT di Jakarta

Presiden Joko Widodo takjub akan hasil kerja perusahaan konstruksi Jepang, yang melakukan alih pengetahuan dan teknologi dalam pembangunan proyek mass rapid transit (MRT) di Jakarta. Menurut Jokowi, perusahaan Jepang telah menunjukkan pekerjaan rapi dan cepat dalam membangun sistem transportasi massal berbasis rel tersebut.

“Manajemen yang mengerjakan bagus sekali. Jepang, kita memang harus ngomong apa adanya, sangat bagus,” ujar Jokowi dalam acara peresmian mesin bor bawah tanah di Bundaran Senayan, Jakarta, Senin (21/9/2015).

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu menceritakan, pada saat proyek MRT dimulai tahun 2013, banyak warga yang menolak pelaksanaan proyek tersebut. Mereka khawatir akan kekuatan terowongan bawah tanah dan kemacetan yang mungkin timbul akibat pembangunan MRT. Setelah dua tahun berlalu, Jokowi menilai bahwa rekayasa dan manajemen lalu lintas yang diterapkan PT MRT Jakarta telah berjalan baik.

“Kata Pak Dirut (Direktur Utama PT MRT Jakarta Dono Boestami, red), semuanya berjalan sesuai dengan schedule. Alhamdulillah, sekarang kita bisa lihat proses pengerjaan sangat bagus. Ketakutan kalau ini dikerjakan pasti ada kemacetan di mana-mana, ternyata dengan management traffic yang baik, juga enggak ada apa-apa,” kata Jokowi.
Jokowi merasa bangga akan mesin bor bawah tanah yang digunakan untuk membangun terowongan bawah tanah jalur MRT dari Bundaran Senayan hingga Bundaran Hotel Indonesia (HI). Mesin buatan Jepang itu memiliki diameter 6,7 meter dengan total panjang 43 meter dan bobot 323 ton.

“Mesin ini mampu mengebor 8 meter per harinya dan tadi saya lihat bagus sekali, tidak menimbulkan suara bising,” kata Jokowi seusai melihat-lihat lokasi pengerjaan bawah tanah di Bundaran Senayan.

Jokowi berharap agar keberhasilan proyek MRT bisa berlanjut hingga proyek itu bisa benar-benar tuntas pada akhir 2018 untuk fase pertama koridor Lebak Bulus-Bundaran Hotel Indonesia.

759ba323574d4224853e30c2c78073fcKOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES–Mesin bor yang akan mulai dioperasikan untuk menggali jalur bawah tanah MRT di Bundaran Patung Pemuda Membangun, Senayan, Jakarta, Senin (21/9/2015).

Duta Besar Jepang di Indonesia Tanizaki Yasuaki mengatakan, perusahaan-perusahaan Jepang telah berkontribusi dalam membangun infrastruktur Indonesia mulai tahun 1968. Mereka tidak hanya membantu proses konstruksi, tetapi juga mengembangkan sumber daya manusia melalui alih teknologi.

“Mesin bor yang digunakan proyek MRT ini sangat unik karena merupakan teknologi asli Jepang. Teknologi ini digunakan karena keterbatasan alat konstruksi untuk membangun di bawah tanah. Kami harapkan, ke depan, Indonesia bisa mengambil manfaat dari bantuan kami dalam hal teknis hingga kemampuan manajerial,” ucap Yasuaki.

Penulis : Sabrina Asril
Editor : Laksono Hari Wiwoho

Sumber: Kompas, Senin, 21 September 2015 | 13:11 WIB

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: