Home / Berita / Mengapa Laki-laki Membeli Seks?

Mengapa Laki-laki Membeli Seks?

Sebagian laki-laki berani membayar jutaan rupiah demi cinta semalam, plus bonus risiko tertular penyakit seksual, dan atau ributnya rumah tangga jika sampai ketahuan. Apa yang mendorong kaum adam melakukan hal itu?

Jika sekadar seks yang diinginkan, laki-laki bisa mendapatkannya secara gratis. Nyatanya, sebagian laki-laki berani membayar jutaan rupiah demi cinta semalam, plus bonus risiko tertular penyakit seksual atau ributnya rumah tangga jika sampai ketahuan.

Pandemi Covid-19, pembatasan sosial berskala besar, atau situasi ekonomi yang sulit tak mengurangi hasrat sebagian kaum Adam mencari cinta sesaat. Terungkapnya prostitusi yang melibatkan pelaku dunia hiburan dengan tarif puluhan juta rupiah di Medan, Sumatera Utara, Selasa (13/7/2020), menunjukkan tak gentarnya pria berburu kenikmatan seksual dalam kondisi apa pun.

Namun, kuatnya budaya patriarki membuat identitas ataupun kisah laki-laki yang membeli seks nyaris tidak pernah terungkap jelas dari setiap kasus prostitusi yang diungkap. Hal itu sangat kontras dengan begitu mudah diumbarnya identitas penjaja seks yang umumnya perempuan. Situasi itu membuat sanksi sosial lebih banyak dialami perempuan penjaja seks, daripada sang laki-laki hidung belang.

Sejak kapan laki-laki mulai membeli seks memang tak ada catatan pasti. F Arnold Clarkson dalam History of Prostitution di The Canadian Medical Association Journal, September 1939, menulis banyak orang menyebut pelacur sebagai profesi tertua di dunia. Namun, tentu itu sulit dibuktikan. Hal yang pasti, berkembangnya pelacuran sangat erat dengan tumbuhnya rumah bordir dan berkembangnya cinta bebas. Namun, sejumlah catatan sejarah menyebut prostitusi sudah ada jauh sejak ratusan tahun sebelum Masehi.

Berapa banyak laki-laki yang membeli seks juga tidak diketahui pasti. Sejumlah studi seperti yang dilakukan Svel Axel Mansson sebagaimana dikutip

Scientific American, 1 Oktober 2012, menyebut 16 persen laki-laki Amerika Serikat membeli seks. Di Belanda dan Spanyol, negara yang melegalkan prostitusi, sebanyak 14 persen dan 40 persen laki-lakinya menggunakan jasa pekerja seks.

Di Indonesia, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional Nafsiah Mboi seperti dikutip Kompas, 5 Maret 2012, memperkirakan ada 3,1 juta laki-laki pembeli seks pada 2006. Namun, jumlah itu kemungkinan bisa bertambah hingga 8 juta-10 juta orang laki-laki berdasarkan pengamatan tempat-tempat yang berpotensi menjadi lokalisasi.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA—Salah satu pekerja seks komersial menunggu pelanggannya di salah satu rumah yang berada di Sunan Kuning, Kota Semarang, Jawa Tengah, Rabu (19/6/2019). Pemerintah Kota Semarang pada bulan Agustus berencana menutup kawasan lokalisasi tersebut dan mengubahnya sebagai pusat kuliner. Dalam beberapa bulan ini para penghuninya dilatih secara bertahap dari manajemen usaha hingga memasak.

Jumlah uang yang dikeluarkan para pria hidung belang untuk mendapatkan kepuasan sesaat itu juga tak main-main. Penghitungan Biro Riset Infobank yang dipublikasikan di majalah Infobank, April 2012, menunjukkan transaksi prostitusi di Indonesia mencapai Rp 5,5 triliun per bulan. Dengan meningkatnya pendapatan masyarakat dan mobilitas penduduk yang makin tinggi, nilai transaksi prostitusi tersebut saat ini diprediksi makin besar.

Insting
Jadi, mengapa laki-laki rela mengeluarkan uang yang besar untuk sekadar membeli seks yang sebenarnya bisa didapat secara gratis, baik dari istri, pasangan, atau selingkuhannya? Cara ini juga dianggap lebih sehat karena meminimalkan penularan penyakit infeksi menular seksual.

Tidak ada alasan tunggal yang bisa menjelaskan mengapa laki-laki membeli seks. Para pembeli seks tidak memiliki kepribadian atau karakter khusus. Mereka juga bisa berasal dari latar belakang sosial, ekonomi, budaya, profesi, atau agama apa pun. Namun, insting dasar manusia bisa menjadi dasar alasan kenapa pria membeli hal yang berisiko.

Laki-laki membeli seks karena mereka suka. Alasan ini murni didorong keinginan pria untuk mendapatkan kepuasan seksual. Alasan kesukaan ini pula yang membuat lelaki rela mengeluarkan uang puluhan hingga ratusan juta untuk memenuhi hobinya, termasuk demi mendapat sebuah sepeda bermerek yang sedang tren akhir-akhir ini.

Namun, para pembeli seks umumnya mencari lebih dari sekadar kepuasan seksual. Sebagian laki-laki membeli seks untuk mencari keintiman yang diinginkan, memenuhi fantasi erotis mereka, atau sekadar melepaskan diri dari beban psikologis yang mereka hadapi. Hubungan seksual yang mereka inginkan dan bayangkan itu tidak bisa mereka peroleh dari istri atau pasangannya.

Psikolog peneliti perilaku seksual pria yang juga dosen Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma, Depok, Wahyu Rahardjo, Minggu (19/7/2020), mengatakan, banyak laki-laki membeli seks untuk mencari sensasi seksual alias sexual sensation seeking.

”Makin berisiko ketahuan atau risiko yang lain, makin menantang bagi mereka,” katanya. Laki-laki mudah bosan dengan aktivitas seksual yang biasa dan normatif. Mereka senang mencoba hal-hal yang baru atau hal-hal yang tidak lazim, tetapi tetap ingin menikmatinya.

Keinginan untuk mencari sensasi seksual itu sering kali membuat lelaki kurang peduli dengan risiko kesehatan, khususnya terkait penyebaran penyakit infeksi menular seksual. Namun, ”Player (pemain) sejati biasanya melindungi diri dari risiko,” tambahnya.

Mengutip teori roda berwarna tentang cinta dari John Alan Lee (1973), lanjut Wahyu, laki-laki penikmat layanan seks komersial yang sulit setia dengan satu pasangannya umumnya memiliki dua karakter dasar cinta, yaitu Eros dan Ludus.

Eros artinya sang lelaki lebih mementingkan seks daripada cinta. Secara seksual, mereka lebih mudah tertarik pada tampilan fisik dan visual pasangannya. Kepuasan syahwat lebih utama dibandingkan perasaan. Mereka sangat mudah suka dengan orang atau pasangannya karena daya tarik fisiknya semata, bukan kepribadiannya.

Sementara Ludus merupakan tipe orang yang lebih suka bermain-main dalam menjalin hubungan, bukan orang yang suka berkomitmen atau menjalin hubungan yang stabil. Karena itu, mereka umumnya memiliki pasangan lebih dari satu orang.

Dalam konteks budaya, antropolog yang banyak meneliti soal jender dan seksualitas yang juga Ketua Program Pascasarjana Antropologi Universitas Indonesia, Depok, Irwan Martua Hidayana, Selasa (21/7/2020), mengatakan, laki-laki membeli seks tidak lepas dari konstruksi maskulinitas dalam masyarakat.

Dalam banyak budaya di Indonesia, konstruksi maskulinitas yang terkait seksualitas menempatkan laki-laki sebagai orang yang harus memiliki kekuatan secara seksual. Kekuatan itu bukan hanya ditunjukkan melalui fisik, tetapi juga dominasi seksual.

KOMPAS/HERU SRI KUMOR—Poster untuk berhenti atau menjauhi perilaku seks bebas dibawa salah seorang remaja yang ikut dalam pawai memeringai Hari AIDS Internasional pada 1 Desember di area bebas kendaraan bermotor Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (1/12/2019).

Konstruksi maskulinitas itu pula yang menjadikan laki-laki yang memiliki beberapa pasangan, bahkan melakukan seks pranikah, dianggap sebagai hal yang biasa atau diterima secara sosial. Demikian pula dengan membeli seks. Konstruksi ini pula yang membuat sejumlah laki-laki membeli seks untuk menunjukkan dominasi dan kontrolnya terhadap perempuan.

Sementara itu, perempuan dalam bangunan maskulinitas itu sering ditempatkan sebagai kelompok submisif yang lebih rendah dibandingkan laki-laki. Banyak anak perempuan dididik untuk senantiasa setia, patuh, dan melayani suami mereka sepanjang dia bertanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga. Banyak perempuan itu pula diajarkan untuk tak mempermasalahkan jika suami mereka mencari pengalaman seks di luar rumah.

Namun, konstruksi maskulinitas itu sejatinya tidak hanya menistakan perempuan, tetapi juga menjerumuskan laki-laki dalam perilaku kesehatan yang berisiko. Demi mengejar maskulinitasnya, banyak pria harus menderita berbagai penyakit menular seksual akibat ’jajan’ di luar rumah. Repotnya, secara tak sadar, penyakit itu sering kali dia tularkan kepada istri atau pasangan sahnya.

Kuasa uang
Selain itu, membeli seks menjadi simbol kuasa (power) bagi laki-laki. Dengan membayar jasa penjaja seks komersial, laki-laki ingin menunjukkan dia mampu atau memiliki kuasa untuk memenuhi kebutuhan seksnya, meski itu harus mengeluarkan uang. Walau bisa mendapatkan seks secara percuma, tetapi dengan membayar, hal itu memberi kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Makin mahal harga yang harus dibayar, lanjut Wahyu, berarti sang lelaki memiliki sumber daya uang yang besar pula. Karena itu, makin mahal tarif penjaja seks komersial, makin tinggi pula kuasa dan kebanggaan yang dimiliki sang lelaki. Sebab, bagaimana pun juga, uang menjadi salah satu sumber harga diri laki-laki.

”Makin tinggi harga yang harus dibayar akan meningkatkan prestise laki-laki. Itu juga menunjukkan dia mampu bersaing dengan laki-laki lain, baik secara seksual maupun ekonomi,” tambah Irwan.

Di luar keinginan untuk mendapatkan keintiman yang diinginkan, fantasi erotis, sensasi seksual, hingga dominasi dan kontrol, sebagian laki-laki membeli seks karena ingin mendapatkan relasi sosial, bahkan beberapa di antaranya berkembang menjadi hubungan yang emosional.

Sosiolog Udo Gerheim dari Universitas Bremen, Jerman, seperti dikutip Scientific American mengatakan sejumlah pembeli seks berharap hubungan yang tulus dan saling percaya dengan penjaja seks komersial. Sementara psikolog Universitas Free, Berlin, Jerman, Dieter Kleiber juga melihat beberapa pembeli seks menginginkan hubungan emosional meski dalam konteks berbayar.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA—Salah satu pekerja seks komersial (PSK) yang hadir pada peresmian penutupan lokalisasi Gambilangu di Terminal Mangkang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (19/11/2019). Dalam beberapa bulan ini mereka dilatih berbagai macam keterampilan agar tidak kembali bekerja sebagai PSK.

Meski demikian, Wahyu menilai motivasi sebagian laki-laki membeli seks yang ingin membangun relasi sosial itu hanya bisa terjadi jika di antara pembeli dan penjaja seks itu sudah terbentuk relasi lebih dari sekadar ikatan seksual. Artinya, laki-laki itu sudah menjadi pelanggan tetap penjaja seks tersebut. Karena itu, motif dasar laki-laki membeli seks tetap keinginan mereka untuk mendapat pengalaman seksual.

”Jika ingin membangun relasi sosial, biasanya yang terjadi adalah perselingkuhan, yang diawali dari membincangkan persoalan pribadi atau rumah tangga dengan teman, bukan dari membeli seks,” tambahnya.

Dalam konteks membeli seks, relasi sosial emosional biasanya diawali oleh relasi seks terlebih dahulu. Sebaliknya, dalam kasus perselingkuhan, umumnya diawali dengan relasi sosial yang intim dan bisa berlanjut ke hubungan seks.

Meski demikian, baik membeli seks maupun perselingkuhan sama-sama menandakan hubungan seksual yang tidak sehat, terlebih bagi pasangan atau suami-istri. Untuk membangun hubungan suami-istri yang sehat, Wahyu mengingatkan pentingnya memiliki pasangan tetap dan selalu mengomunikasikan apa keinginan masing-masing pihak, termasuk dalam persoalan seksual.

Irwan menambahkan, untuk mencegah lelaki membeli seks, penting untuk membangun kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam keluarga, khususnya antara suami dan istri. Hubungan yang setara akan mendorong komunikasi yang baik antara suami dan istri mengenai hal apa pun, termasuk dalam urusan kepuasan seksual.

Oleh M Zaid Wahyudi, wartawan Kompas

Editor: ICHWAN SUSANTO, EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 24 Juli 2020

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: