Home / Berita / Birahi Manusia, Antara Permainan dan Kesucian

Birahi Manusia, Antara Permainan dan Kesucian

Keberanian penyanyi Via Valen mengungkap pelecehan seksual yang dialaminya di media sosial patut diapresiasi dan didukung. Meski Via enggan melaporkan kasus itu ke polisi, unggahan gambar tangkapan layar (screenshot) berisi kalimat yang merendahkan dirinya itu mampu mendorong artis lain yang juga pernah mengalami pelecehan seksual bersuara.

Tak mudah bagi korban pelecehan seksual, baik dewasa maupun anak, mengutarakan apa yang dialaminya. Mereka harus mampu menundukkan rasa malu, bingung, takut, hingga rasa direndahkan yang dialaminya. Mereka juga harus siap menghadapi ‘pelecehan’ berikutnya akibat pandangan masyarakat yang seringkali justru menyalahkan korban.

Namun, keberanian Via mengungkapkan pelecehan yang dialaminya itu setidaknya memberi efek jera bagi pelaku. Ini juga menjatuhkan sanksi sosial untuk pelaku, dan mengingatkan orang lain untuk tidak melakukan hal-hal yang merendahkan martabat perempuan lain.

Keberanian Via Valen mengungkapkan pelecehan yang dialaminya itu setidaknya memberi efek jera bagi pelaku

Pikiran laki-laki
Batas pelecehan seksual secara individual memang sangat luas, bergantung nilai budaya dan pandangan pribadi seseorang tentang seksualitas. Pelecehan seksual tidak melulu terkait dengan sentuhan fisik atau ucapan menggoda, siulan dan kedipan mata pun bisa masuk kategori pelecehan seksual.

Perempuan dan laki-laki memang memiliki cara pandang yang berbeda terhadap isu-isu seksualitas. Laki-laki lebih ekspresif dan bebas mengungkapkan hal-hal terkait nafsu seksualnya. Mengucapkan kata-kata menggoda, bahkan terkadang bernada cabul, hingga menilai tubuh perempuan banyak dilakukan laki-laki meski umumnya tidak bersifat personal atau di depan perempuan secara langsung.

KOMPAS/IRMA TAMBUNAN–Aktivis sejumlah komunitas perempuan di Jambi yang tergabung dalam Save Our Sisters menolak segala bentuk kekerasan dan pelecehan seksual pada perempuan. Salah satu isu kampanye digaungkan soal penolakan pelecehan seksual di kampus.

Dalam berbagai pertunjukan hiburan tradisional atau modern, lawakan, pidato pejabat, hingga ceramah agama dengan pembicara laki-laki, sering disisipkan ujaran-ujaran berbau seksual untuk mengundang tawa atau menarik pendengar.

Di era media sosial, candaan bernada seksual menemukan wadah baru. Guyonan seksual banyak mengisi grup-grup WhatsApp yang anggotanya didominasi kaum bapak. Sementara kaum ibu lebih banyak diam atau memilih keluar grup jika candaan sudah mengarah ke pornografi.

Laki-laki memang memikirkan seks lebih banyak dibanding perempuan. Bahkan ada mitos yang menyebut laki-laki memikirkan seks tiap 7 detik sekali alias sekitar 8.200 kali dalam sehari di luar jam tidur.

Namun, studi yang dilakukan psikolog Universitas Negeri Ohio, Mansfield, Amerika Serikat Terri Fisher dkk yang dipublikasikan di Journal of Sex Research, 24 Mei 2011, membantahnya. Studi itu menyebut lelaki memikirkan seks 19 kali dan perempuan 10 kali sehari. Itu berarti, laki-laki memikirkan hal- hal terkait seks sebanyak 1-2 kali setiap jam.

Lelaki memikirkan seks 19 kali dan perempuan 10 kali sehari. Itu berarti, laki-laki memikirkan hal- hal terkait seks sebanyak 1-2 kali setiap jam.

Jumlah pikiran tentang seks itu hampir sama dengan pikiran mereka tentang makan dan tidur. Meski studi itu tidak bisa mempelajari lama pikiran dan jenis pikiran seksual seseorang, hasilnya tetap konsisten dengan pandanggan selama ini bahwa lelaki lebih banyak memikirkan seks dibanding perempuan.

Makhluk seksual
Ketua Bagian Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Denpasar Wimpie Pangkahila, Senin (11/6/2018), mengatakan, manusia, tidak peduli laki-laki dan perempuan, sejatinya adalah makhluk seksual. Mereka sama-sama memiliki dorongan seksual, membutuhkan hubungan seksual dan menginginkan kepuasan seksual.

“Nilai-nilai sosial yang berlaku membuat ekspresi seksual laki-laki dan perempuan berbeda,” katanya.

Perbedaan ekspresi seksual laki-laki dan perempuan itu tidak dipengaruhi struktur otak manusia. Secara fisiologis, otak laki-laki dan perempuan memang sedikit berbeda. Tetapi itu tidak berkaitan dengan ekspresi seksualnya.

Ketua Bagian Anatomi-Histologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado Taufiq Pasiak mengatakan, pada perempuan, otak kanannya lebih dominan dibanding laki-laki. Akibatnya, perempuan lebih emosional dalam menyikapi segala sesuatu.

Selain itu, corpus callosum atau serabut saraf besar yang menghubungkan otak kanan dan otak kiri pada otak perempuan lebih tebal dibanding otak laki-laki. Dampaknya, perempuan lebih terampil mengartikulasikan emosinya dalam bentuk verbal dibanding laki-laki.

Sementara itu, terkait urusan seksual, ukuran bagian preoptic medial nucleus di otak laki-laki lebih besar dibanding perempuan. Beda ukuran itu hanya mempengaruhi posisi seksual laki-laki dan perempuan. Beda ukuran preoptic medial nucleus itu tidak memengaruhi ekspresi seksualnya.

Evolusi
Taufiq yang juga menjadi Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Unsrat menambahkan, ekspresi seksual itu lebih banyak dipengaruhi oleh proses evolusi manusia daripada struktur otaknya.

Ekspresi seksual itu lebih banyak dipengaruhi oleh proses evolusi manusia daripada struktur otaknya.

Evolusi membuat laki-laki memandang seks sebagai alat pemuasan nafsu dan kesenangan. Sementara bagi perempuan, seks adalah sarana menjalin keintiman, kelekatan, dan proses reproduksi. Laki-laki melihat seks sebagai permainan yang menyenangkan, seks adalah alat rekreasi. Sedang bagi perempuan, seks adalah hal yang suci.

Pandangan itu muncul karena sejak awal evolusi manusia, laki-laki lebih banyak berperan di sektor publik atau di luar rumah hingga peluang berhadapan dengan hal-hal yang menegangkan dan mengancam jauh lebih besar. Situasi itu membuat mereka mudah stres dan lelah hingga butuh hiburan melalui hubungan seksual.

Sebaliknya, perempuan lebih banyak berperan di sektor privat atau di dalam rumah yang kurang menghadapi ketegangan dan ancaman. Situasi itu membuat perempuan di masa lalu cenderung tidak mencari hiburan sehingga mereka lebih pasif terhadap persoalan seksualitas.

Namun, zaman terus berubah. Manusia terus bervolusi.

Meningkatnya kesetaraan jender, menguatnya partisipasi perempuan di ruang publik, munculnya kesadaran laki-laki untuk membangun relasi baru dengan perempuan hingga perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat ekspresi perempuan terhadap seksualitas mulai berubah.

Wimpie mengakui, saat ini pasien perempuan yang berkonsultasi kepada dirinya lebih terbuka mengungkapkan permasalahan seksualnya. Bahkan, perempuan juga semakin berani dan jujur mengungkapkan keinginan seksualnya, termasuk keluhan terhadap pasangannya.

“Keterbukaan itu sangat membantu dokter mengatasi permasalahan yang dihadapi pasien,” katanya.

Ke depan, ekspresi perempuan terhadap isu seksualitas akan makin terbuka. Perubahan cara pandang terhadap isu-isu seksualitas itu sudah terjadi di banyak negara, termasuk Indonesia, sejak ditemukannya kontrasepsi. Perubahan itu diyakini akan makin cepat karena sikap generasi milenial yang kian permisif terhadap isu-isu seksual.

Etika
Meski sebagian perempuan semakin terbuka terhadap isu-isu seksual, namun nilai, etika, dan budaya yang dianutnya terhadap persoalan seksualitas dan relasi laki-laki dan perempuan tidak berubah. Perempuan tetap memandang seksualitas sebagai hal yang suci.

Meski sebagian perempuan semakin terbuka terhadap isu-isu seksual, namun nilai, etika, dan budaya yang dianutnya terhadap persoalan seksualitas dan relasi laki-laki dan perempuan tidak berubah.

“Perempuan tetap akan tersinggung jika harga dirinya direndahkan secara seksual,” kata Wimpie.

Taufiq menambahkan, tidak ada yang salah jika laki-laki memilki ekspresi seksual yang terbuka karena evolusi menjadikannya seperti itu. Namun, itu bukan berarti laki-laki bebas melampiaskan hasrat seksualnya, termasuk dengan mengeluarkan kata-kata menggoda, karena bisa menyinggung bukan hanya korban, namun juga seluruh perempuan.

Etika dan budaya yang menghormati dan menghargai perempuan harus tetap dijaga. Penghormatan itu juga tetap berlaku di dunia maya. “Kendalikan diri, jangan mengumbar hasrat seksual tanpa mengindahkan etika dan budaya,” katanya.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 12 Juni 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Tiktok dan ”Techno-nationalism”

Bytedance-Oracle-Walmart sepakat untuk membuat perusahaan baru yang akan menangani Tiktok di AS dan juga seluruh ...

%d blogger menyukai ini: