Home / Berita / Perkawinan dengan Robot Seks Diprediksi Terjadi Tahun 2050

Perkawinan dengan Robot Seks Diprediksi Terjadi Tahun 2050

Robot seks yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan makin banyak beredar di pasaran dan diminati konsumen. Hal itu membuat jalan perkawinan antara manusia dan robot makin besar.

Beredarnya robot seks yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan di pasaran membuat jalan perkawinan antara manusia dan robot makin besar. Meski banyak tentangan akibat besarnya dampak terhadap kondisi kejiwaan, moral dan peradaban manusia, perkawinan legal antara manusia dan robot itu diperkirakan akan terjadi abad ini.

KOMPAS/WIKIPEDIA–Konsep artis tentang robot yang mirip manusia dari majalah sains Galaxy tahun 1954. Kini robot humanoid berkembang makin pesat dengan disematkannya kecerdasan buatan di dalamnya. Penggunannya pun makin luas, termasuk untuk memenuhi kebutuhan intim.

Hubungan manusia dengan robot kian dekat. Robot yang semula hanya dimanfaatkan untuk keperluan industri, terus merambah ke bidang layanan atau jasa, kini penggunaannya sudah menjangkau wilayah pribadi, termasuk urusan hubungan intim. Bahkan, perkawinan dengan robot diprediksi akan dilegalkan di sejumlah negara pada 2050.

Prediksi itu dibuat peneliti kecerdasan buatan David Levy pada 2007 setelah menyelesaikan pendidikan doktornya di Universitas Maastricht, Belanda. Dalam disertasinya yang berjudul Hubungan Intim dengan Pasangan Buatan, dia memproyeksinya robot akan semakin mirip dengan manusia, baik dalam penampilan, fungsi, maupun kepribadian.

”Tren menunjukkan penampilan robot makin mirip manusia. Robot juga akan makin banyak bersentuhan dengan manusia,” kata Levy, seperti dikutip dari Livescience, 12 Oktober 2007. Lebih dari 10 tahun berlalu, nyatanya robot seks memang makin mirip manusia. Kecerdasan buatan yang disematkan kepadanya membuat robot seks bisa tampil dan memiliki karakter mirip manusia.

Hubungan intim dengan robot untuk saat ini mungkin dianggap aneh, janggal, atau mengalami kelainan. Namun, saat hubungan seks, bahkan perkawinan, dengan robot dianggap sebagai gaya hidup dan ditanamkan citra ”kehebatan” di dalamnya, hubungan badan dengan robot pada masa depan bisa jadi akan dianggap lumrah atau menantang.

Sejarah peradaban
Ketertarikan manusia dengan benda mati sebenarnya bukan hal baru dalam sejarah peradaban manusia. Bangsa Yunani memiliki mitologi tentang seorang pematung bernama Pygmalion yang jatuh cinta dengan patung gading buatannya yang dinamai Galatea. Wujud yang berbeda membuat mereka tak mungkin bersatu. Namun, Dewi kecantikan Afrodit (Aphrodite) yang kasihan dengan Pygmalion pun kemudian menghidupkan Galatea hingga mereka bisa hidup bersama.

Kini, manusia pun banyak yang jatuh cinta dengan boneka seks. Beberapa di antaranya bahkan mengawininya, seperti yang dilakukan aktor dan binaragawan Kazakhstan, Yuri Tolochko. Dikutip dari nypost.com, pada 10 Desember 2019, boneka seks yang terbuat dari silikon dan dinamai Margo itu dilamarnya setelah menjalani delapan bulan pacaran.

Di Jepang, salah satu negara produsen dan konsumen boneka seks terbesar di dunia, boneka seks dijual secara terbuka. Kualitasnya yang baik membuat boneka yang dijual hingga 700.000 yen atau sekitar Rp 87 juta per buah itu banyak membuat pembelinya jatuh cinta. Bahkan, dikutip dari tokyoweekender.com, sebagian pemilik rela mengajak kencan hingga menyewakan apartemen khusus bagi boneka seks kesayangannya.

Peminat boneka seks juga cukup banyak. Mereka rata-rata pria berumur 30 tahun walau ada beberapa di antara berumur 70-80 tahun. Nilai produksi boneka seks ini diperkirakan jutaan dollar AS setiap tahunnya. Selain Jepang, pangsa pasar boneka itu antara lain Amerika Serikat, Eropa, dan China.

Boneka seks itu terus berkembang hingga menjadi robot seks. Kecerdasan buatan yang disematkan pada robot itu membuat robot memiliki karakter yang menyerupai manusia, seperti bisa berbicara atau punya ekspresi wajah. Di pasaran, robot seks ini dijual antara 8.000-10.000 dollar AS atau antara Rp 109 juta-Rp 137 juta dengan kurs Rp 13.700 per dollar AS.

Makin miripnya manusia dan robot membuat sejumlah orang sanggup jatuh cinta dengannya, bahkan mengajaknya menikah. Meski terdengar aneh, ”Jatuh cinta dan hubungan seks dengan robot tidak bisa dihindari,” ujar Levy.

Survei yang dilakukan Justin J Lehmiller, psikolog AS yang banyak meneliti tentang fantasi seksual dan penulis buku Tell Me What You Want (2018), terhadap lebih dari 4.000 orang di AS menunjukkan 14,3 persen orang pernah memiliki fantasi seksual dengan robot. Fantasi itu dimiliki 1 dari 6 laki-laki dan 1 dari 10 perempuan. Kelompok terbanyak yang memiliki fantasi seksual dengan robot adalah mereka yang mengaku transjender dan queer.

Namun, memiliki fantasi seksual dengan robot belum tentu menunjukkan mereka ingin berhubungan seksual dengan robot. Itu terjadi karena sebagian besar orang yang memiliki fantasi itu tidak memiliki robot seks.

Menurut Justin di psychologytoday.com, 18 Desember 2018, alasan terbesar manusia memiliki minat seksual dengan robot adalah untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya melalui seks. Perasaan diinginkan, diakui, dicintai, dan mampu memuaskan pasangan adalah sebagian rasa yang diinginkan seseorang ketika berhubungan seksual.

REALDOLL’S INSTAGRAM/THE JAKARTA POST–Robot seks Harmony, boneka seks yang dilengkapi kecerdasan buatan ini, memiliki ekspresi dan bisa melakukan sejumlah gerakan manusia, termasuk mengenali apa yang disukai dan tidak disukai pemiliknya.

Solusi vs moral
Kebutuhan emosional itulah yang ditawarkan robot seks dengan kecerdasan buatan. Jika alasan seseorang jatuh cinta karena suka, robot seks bisa diprogram untuk menyukai pemiliknya. Demikian pula jika alasan cinta dengan orang lain karena kepribadian dan pengetahuan yang dimiliki, robot juga bisa diprogram untuk memilikinya.

”Seratus tahun lalu, perkawinan antar-ras dan sesama jenis adalah hal terlarang di AS. Sejak 50 tahun lalu, pernikahan antar-ras adalah hal legal dan pernikahan sesama jenis juga sudah diizinkan di sejumlah negara bagian AS,” katanya. Kondisi itu menunjukkan perkawinan manusia dengan robot pun adalah bukan hal yang mustahil pada masa depan.

Perkawinan dengan robot bisa dijadikan solusi untuk membuat mereka yang tidak bisa memiliki pasangan, seperti masyarakat umumnya, untuk menjadi lebih bahagia. Orang yang sulit membangun hubungan romantis karena terlalu pemalu, tidak tampan, pribadi yang tidak menyenangkan atau memiliki masalah psikologis bisa menjadikan robot sebagai salah satu solusi mendapatkan kepuasan seksual.

Robot seks juga dianggap sebagai solusi bagi orang yang memiliki kelainan seksual, seperti paedofil, hingga menghindarkan mereka dari melakukan tindakan kriminal. Robot seks juga dianggap bisa mengurangi pelacuran dan perdagangan orang.

Namun, Christine Hendren dari Universitas Duke, Durham, AS, dalam pertemuan tahunan Perhimpunan untuk Kemajuan Sains Amerika (American Association for the Advancement Science) di Seattle, AS, Sabtu (15/2/2020), seperti dikutip BBC, mengatakan, taruhan penggunaan robot seks sangat tinggi.

”Penggunaan robot seks itu seperti menormalkan dan memberi kesempatan seseorang untuk mempraktikkan perilaku (seksual) yang seharusnya justru mendapat penanganan,” katanya.

Produsen robot seks umumnya menyasar orang-orang yang di dunia nyata tidak memiliki hubungan sosial berarti, orang yang sulit membangun hubungan emosial secara wajar. Karena itu, iming-iming produsen robot seks umumnya adalah menawarkan pasangan seksual yang bisa memahami sepenuhnya sang pemilik robot.

”Hubungan dengan pasangan didasarkan pada keintiman, keterikatan, dan hubungan timbal balik. Itu tidak dapat ditiru oleh mesin,” kata profesor etika budaya robot dan kecerdasan buatan dari Universitas De Montfort, Leicester, Inggris, Kathleen Richardson.

Karena itulah, sejumlah pegiat dan akademisi sejak beberapa tahun terakhir rajin mengampanyekan bahaya robot seks karena bisa menghancurkan kondisi psikologis dan moral masyarakat. Kelompok itu, yang antara lain Campaign Against Sex Robots (CASR) atau Kampanye Melawan Robot Seks di Inggris menginginkan penggunaan robot seks dengan kecerdasan buatan diatur ketat.

Namun, sebagian ahli juga meragukan hubungan seks manusia dengan robot akan menjadi hal yang umum, setidaknya dalam waktu yang tidak lama lagi. Menurut Justin, meski 1 dari 7 respondennya memiliki fantasi seksual dengan robot, minat tulus untuk berhubungan seks dengan robot masih rendah. Karena itu, menurut dia, terlalu dini untuk menyimpulkan peran robot dalam kehidupan seksual manusia pada masa depan.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 20 Februari 2020

Share
x

Check Also

Selaraskan Energi Terbarukan dan Konservasi Alam

Pembangunan PLTA Batang Toru agar seiring dengan penyelamatan dan pelestarian orangutan tapanuli yang sangat endemik ...

%d blogger menyukai ini: