Home / Berita / Mendeteksi Abu Letusan Gunung Berapi dengan AVOID

Mendeteksi Abu Letusan Gunung Berapi dengan AVOID

Letusan gunung berapi sudah terbukti memiliki dampak yang sangat besar bagi dunia penerbangan, baik keselamatan maupun bisnis penerbangan.

Contoh dampak keselamatan penerbangan adalah peristiwa yang menimpa pesawat Boeing B747-200 milik British Airways.

Pada tahun 1982, pesawat dengan nomor penerbangan 009 itu terpaksa mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusuma saat perjalanan dari Inggris menuju Australia. Pasalnya, saat di atas udara Indonesia, mesin pesawat kemasukan debu vulkanis dari letusan Gunung Galunggung di Garut.

Mesin pesawat pun mati mendadak dan pesawat turun dengan cepat. Untunglah sebelum mencapai daratan, pilot berhasil menghidupkan lagi mesin pesawat setelah mencoba berkali-kali. Pesawat pun terpaksa mendarat darurat di bandara terdekat yang memadai.

Contoh dampak pada bisnis penerbangan terjadi pada tahun 2010 lalu. Awal bulan April 2010, Gunung Eyjafjallajokul di Islandia meletus. Akibatnya, pada 15 dan 21 April, kawasan udara di atas daratan Eropa tertutup debu vulkanis.

Otoritas penerbangan negara-negara Eropa pun menutup penerbangan hingga lebih dari 80 persen. Sekitar 100.000 penerbangan dibatalkan. Jutaan penumpang telantar di bandara-bandara Eropa. Kerugian akibat penutupan tersebut diperkirakan mencapai 2,6 miliar dollar AS (sekitar Rp 30 triliun).

Saking berpengaruhnya dampak letusan gunung berapi, saat terjadi peristiwa tersebut, otoritas penerbangan setempat akan mengeluarkan ashtam, notam (notice to airmen) khusus tentang debu vulkanis.

Masalah utamanya, partikel debu vulkanis ini sangat kecil, tidak kasat mata. Saat sudah menyebar di angkasa, debu bahkan tidak bisa dideteksi oleh radar. Jika salah prediksi, maka kejadian seperti yang dialami B747-200 British Airways bisa saja terulang dengan akibat yang lebih fatal.

Sensor debu
Pada 13 November lalu, tiga perusahaan dan dua lembaga pendidikan yang bekerja sama mengembangkan teknologi pendeteksi debu vulkanis di angkasa melakukan percobaan berarti.

Tiga perusahaan tersebut adalah maskapai EasyJet dari Inggris, pabrik pesawat Airbus, Nicarnica Aviation, serta Duesseldorf University of Applied Sciences dan Institute of Earth Science.

Mereka mencoba satu alat pendeteksi yang dinamakan AVOID (Airborne Volcanic Object Imaging Detector) ciptaan Dr Fred Prata dari Nicarnica Aviation. Sistem AVOID ini seperti radar cuaca, tetapi untuk abu.

AVOID menggunakan teknologi infra merah yang dipasangkan pada pesawat untuk memberikan gambar-gambar kepada para pilot dan pusat komando operasional suatu maskapai. Dengan gambar-gambar ini, pilot akan dapat melihat awan abu hingga 100 km di depan pesawat mereka pada ketinggian antara 5.000 dan 50.000 kaki. Dengan demikian, mereka akan dapat menyesuaikan rute pesawat untuk menghindari awan abu tersebut.

Di darat, informasi yang didapat dari pesawat berteknologi AVOID akan diolah dan digunakan untuk menciptakan sebuah gambar abu vulkanis yang akurat, dengan menggunakan data waktu terkini. Hal ini dapat membuka kawasan udara baru, yang jika tanpa teknologi ini maka harus ditutup akibat letusan gunung berapi.

Percobaan dilakukan dengan menyebarkan satu ton abu vulkanis di atas Teluk Biscay. Abu vulkanis tersebut berasal dari letusan Gunung Eyjafjallajokul pada 2010 lalu. Abu dikumpulkan dan dikeringkan oleh Institute of Earth Science di Reykjavik. Abu kemudian diambil dan diterbangkan oleh EasyJet menuju Toulouse.

Sebuah pesawat Airbus A400M kemudian menyebarkan abu tersebut di ketinggian 9.000-11.000 kaki, menyerupai ketinggian debu saat letusan gunung tahun 2010 lalu. Abu membentuk awan artifisial dengan kedalaman 600 hingga 800 kaki dengan diameter 2,8 km. Awalnya, awan debu ini dapat dilihat dengan mata telanjang. Namun, dengan cepat, awan pecah sehingga debu sulit terdeteksi.

Selanjutnya, sebuah pesawat Airbus A340-300 yang sudah dilengkapi teknologi AVOID diterbangkan menuju lokasi awan debu tersebut. Untuk memperkuat percobaan, sebuah pesawat kecil Diamond DA42 milik Duesseldorf University of Applied Sciences juga diterbangkan menuju lokasi.

Hasilnya, dari jarak 60 km, sensor AVOID di A340-300 mampu mengidentifikasi serta mengukur awan debu tersebut. Sensor vulkanis dapat mendeteksi awan debu dan mengukur kepadatannya, yang antara 0,1 gram dan 1 gram per meter persegi, atau dengan konsentrasi antara 100 ?g hingga 1.000 ?g per meter kubik. Angka ini merujuk pada kisaran konsentrasi yang diukur dalam peristiwa meletusnya gunung berapi Eyjafjallajokul bulan April dan Mei 2010.

Berguna
Keberhasilan percobaan ini disambut dengan sukacita. “Ini merupakan contoh bagaimana industri dan ilmu pengetahuan dapat bekerja sama untuk memecahkan suatu masalah,” ujar Dr Fred Prata.

Bagi industri penerbangan di Eropa, percobaan ini sangat berarti. Sampai saat ini, ancaman letusan gunung berapi di Islandia masih mengancam. Menurut Magnus Tumi Gudmundsson dari Institute of Earth Science, selain Gunung Eyjafjallajokul, masih ada dua lagi gunung berapi yang dikhawatirkan meletus, yaitu Gunung Hekla dan Katla.

Pada periode 1970 hingga 2010, telah terjadi tujuh letusan gunung di Islandia. Beruntung pada periode tersebut, abu vulkanis justru berembus menjauh dari Eropa akibat embusan angin selatan.

“Namun ketika angin berembus dari barat laut, abu tersebut akan menyebar ke wilayah Eropa, sama halnya ketika Eyjafjallajokul meletus pada tahun 2010,” ujarnya.

EasyJet langsung menyatakan akan memakai teknologi ini. “Hal ini merupakan langkah kunci dalam rangkaian uji coba teknologi dan akan mengarah pada sertifikasi komersial. EasyJet mulai sekarang akan bekerja menuju sistem non-integrasi yang dapat berdiri sendiri, dan diharapkan dapat dipasang pada sejumlah pesawat kami pada akhir tahun 2014 nanti,” ujar EasyJet Engineering Director Ian Davies.

Bagi penerbangan di Indonesia, hasil penelitian ini tentu juga sangat berarti. Di Indonesia banyak sekali gunung berapi yang sangat aktif dan sering meletus menyemburkan abu vulkanis. Tahun ini saja, setidaknya ada Gunung Lokon, Gunung Sinabung, dan Gunung Merapi yang meletus. Dengan mengaplikasikan teknologi hasil penelitian ini, tentu dampak abu vulkanis terhadap penerbangan nasional bisa diminimalkan. (Gatot R)

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Angkasa edisi Desember 2013.

Editor : Tri Wahono

Sumber: Kompas, Jumat, 14 Februari 2014 | 19:03 WIB

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: