Home / Berita / Menanti Replikasi Sarongge

Menanti Replikasi Sarongge

Kamis (27/8) siang, terik matahari menemani kami saat menyusuri jalur tapak di Sarongge, model desa ekowisata di Cianjur, Jawa Barat. Seusai meniti jalan setapak melintasi kebun sayur warga, jalanan mulai menanjak dan kami terhenti sesaat di bawah rerimbunan pohon setinggi 6-7 meter. Alang-alang setinggi lutut seperti mengepung.

Itu buah arbei sudah matang,” seru Syarif Abdul Karim, pengurus Desa Ciputri, Pacet, Cianjur, yang menemani kunjungan wartawan bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan ke Sarongge.

Seketika, kami bergegas memetik buah arbei hutan berwarna merah menyala. Duri-duri kecil di rantingnya tak menghalangi kami memetik buah seharga Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per bungkus di Gerbang Kebun Raya Cibodas itu.

Sambil menikmati arbei itu, Syarif yang juga Ketua Dewan Pengawas Koperasi Sugih Makmur menceritakan, areal rimbun bersemak-belukar di sekitar kami itu hasil rehabilitasi hutan 5-7 tahun lalu. Sebelum dihutankan kembali dengan berbagai tanaman endemis Gunung Gede Pangrango, lahan itu dijadikan kebun sayur warga.

Lahan berada di kawasan hutan produksi yang awalnya dikelola Perhutani. Oleh badan usaha milik negara itu, pemanfaatan hutan dikerjasamakan dengan masyarakat. Intinya, warga boleh bercocok tanam di hutan Perhutani dengan kewajiban memelihara tanaman eukaliptus dan pinus Perhutani.

Tahun 2003, Menteri Kehutanan memasukkan 7.655,03 hektar kawasan produksi Perhutani, termasuk 38 hektar lahan pertanian masyarakat di Bukit Sarongge, Gunung Gede, sebagai bagian Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Perluasan taman nasional tertua di Indonesia menjadi lebih dari 22.000 ha itu membawa konsekuensi ribuan warga penggarap lahan yang semula bisa bertani di kawasan hutan harus “turun gunung” atau dilarang bertanam lagi.

Sebanyak 155 keluarga yang menggantungkan hidup dari lahan Perhutani selama 25 tahun tak mungkin dipaksa meninggalkan lahan garapannya. Mereka harus diperlakukan sebagai manusia yang perlu penghasilan lain jika “dirumahkan”.

“Poin terpenting memberi solusi pendapatan ekonomi dan kesejahteraan warga agar mau turun,” kata Tosca Santoso, Presiden Direktur Green Radio dan pendiri Green Initiative Foundation (Yayasan Prakarsa Hijau). Institusinya sejak tahun 2008 bersama Balai Besar TN Gunung Gede Pangrango mulai menggarap program adopsi pohon di 38 hektar lahan pertanian warga di Sarongge.
Ichwan SusantoWarga Sarongge di Desa Ciputri, Kec Pacet, Cianjur, Jawa Barat menjadi contoh sukses penghutanan kembali kawasan hutan yang telah berubah menjadi pertanian. KOMPAS/Ichwan Susanto

232057KOMPAS/ICHWAN SUSANTO–Pengunjung Camping Ground Sarongge, Kamis (27/8), melintasi jalan setapak bekas lokasi pertanian masyarakat yang lima tahun terakhir dihutankan kembali karena berada di kawasan hutan konservasi Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Petani kebun diberi alternatif, seperti beternak kelinci, pemandu wisata, dan berbagai pendekatan ekonomi lain, agar mau meninggalkan pertanian di kawasan hutan.

Tosca yang mantan Sekjen Aliansi Jurnalis Independen memanfaatkan medianya, Green Radio (kini tak aktif lagi di jalur terrestrial karena kendala teknis-administratif), untuk menyosialisasikan dan mengajak berbagai pihak agar mengadopsi pohon di Sarongge. Akhirnya, banyak perusahaan, yayasan, dan perseorangan yang berpartisipasi.

Biaya satu pohon Rp 108.000. Sebagian besar biaya untuk penanaman/perawatan tanaman selama tiga tahun dan pemberdayaan masyarakat.

Berbagai jenis bibit tanaman endemis, seperti rasamala (Altingia excelsa), suren (Toona sinensis), hanjuang (Dracaena fragrans), dan jamuju (Dacrycarpus imbricatus), diperoleh warga dari dalam hutan. Jika pohon mati akan diganti.

Pengadopsi dibolehkan memberi nama dan mengetahui titik koordinat lokasi penanaman. Bahkan, pada Januari 2013 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono turut menanam pohon rasamala yang tingginya bisa mencapai 60 meter.

Program adopsi itu berakhir seiring tertanamnya 20.000 pohon yang diadopsi di Bukit Sarongge. Warga pun mulai terbiasa dengan pekerjaan lain, seperti Mamad yang merasakan manisnya beternak kelinci. Dari sembilan kelinci yang dikembangbiakkan tahun 2008, kini jadi 120 ekor. Ia bersama 35 warga dalam kelompok ternak Duduk Jaya memproduksi 1.000-1.500 kelinci setiap bulan.

Setiap bulan, 15 kelinci betina Mamad beranak. Jika satu induk menghasilkan enam anak, setiap bulan ia memperoleh 90 ekor anakan berharga Rp 12.000 per ekor. “Dari sisi penghasilan jauh lebih baik dibanding bertani di hutan,” kata Mamad yang sejak September 2010 meninggalkan 10 patok lahan di hutan.

Cerita sukses menghutankan kembali Sarongge itu titik kecil dari 7.000 hektar kawasan hutan di TN Gede Pangrango. Titik kecil itu bisa direplikasi ke hutan lain.

Pendekatan itu bisa dilakukan demi mengembalikan tutupan hutan di 33.000 hektar kawasan hutan konservasi dan 44.000 hutan lindung di Indonesia yang terdegradasi (Kementerian Kehutanan, 2011-2012).–Ichwan susanto
—————————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Agustus 2015, di halaman 14 dengan judul “Menanti Replikasi Sarongge”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: