Home / Berita / Menanti Kecepatan ”Si Kereta Peluru” Jelajahi Bandung-Jakarta

Menanti Kecepatan ”Si Kereta Peluru” Jelajahi Bandung-Jakarta

Kereta Cepat Jakarta-Bandung dijanjikan kehadirannya tahun depan. Setelah tertunda beberapa tahun, kecepatan kereta ini ditunggu banyak pihak jadi contoh kendaraan masa depan.

Jakarta dan Bandung bakal terhubung lebih singkat dengan kereta cepat yang mampu melaju hingga 350 kilometer per jam. Namun, target yang mundur hingga tiga tahun ini membuat masyarakat harus menanti lebih lama untuk merasakan trayek kereta peluru pertama di Asia Tenggara ini.

Harapan untuk merasakan koneksi yang lebih cepat antara Jakarta dan Bandung tumbuh saat Presiden Joko Widodo melakukan peletakan batu pertama di tengah perkebunan Mandalawangi Maswati, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis (21/1/2016).

”Sekarang merupakan era persaingan, competitiveness. Negara yang efisien, yang cepat dalam membangun, cepat dalam memutuskan, akan menjadi pemenang dalam persaingan. Kereta api cepat adalah untuk memenangi persaingan,” kata Presiden sebagaimana dikutip Kompas, Jumat (22/1/2016).

Kecepatan memang menjadi penawaran menarik dari proyek yang dikelola PT Kereta Cepat Indonesia China (PT KCIC) ini. Perusahaan ini merupakan patungan antara Indonesia dan China dengan skema bisnis.

Indonesia membentuk konsorsium badan usaha milik negara (BUMN) melalui PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), sedangkan pihak China membentuk konsorsium perusahaan perkeretaapian Tiongkok melalui Beijing Yawan HSR Co Ltd.

Megaproyek ini menelan dana yang diperkirakan lebih dari Rp 70 triliun dalam perhitungan awal pembangunan pada tahun 2016. PT KCIC membawa kereta cepat produksi China, CR400AF, yang akan digunakan ini mampu melaju hingga 350 kilometer per jam saat beroperasi.

Kecepatan ini mampu menyalip ”kereta peluru” legendaris asal Jepang, Shinkansen, yang mencapai kecepatan maksimal 320 kilometer per jam. Dengan kecepatan yang hampir setara mobil balap Formula 1, perjalanan Jakarta-Bandung bisa ditempuh hanya dengan waktu sekitar 36 menit.

Waktu tempuh ini hanya berbeda enam menit dibandingkan menggunakan pesawat komersial Jakarta-Bandung yang beroperasi saat ini dengan durasi 30 menit. Hanya maskapai Wings Air dengan menggunakan pesawat baling-baling yang melayani rute langsung Jakata-Bandung.

KOMPAS/MACHRADIN WAHYUDI RITONGA—Seorang petugas melintasi konstruksi stasiun konektivitas Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Stasiun Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Senin (12/4/2021). Stasiun ini menjadi salah satu tujuan transit dari kereta cepat menuju Kota Bandung karena dekat dengan akses Pintu Tol Padalarang (1,5 kilometer) dan 14 kilometer dari Stasiun Bandung.

Berdasarkan data yang dihimpun PT KCIC, CR400AF ini memiliki lebar 3,36 meter dan tinggi 4,05 meter dengan panjang hingga 208,95 meter. CR400AF juga memiliki masa penggunaan lebih lama, hingga lebih dari 30 tahun sejak tahun produksi.

CR400AF mampu beroperasi di empat iklim, salah satunya iklim tropis dengan kondisi suhu dan kelembaban tinggi seperti Indonesia. Setiap rangkaiannya dilengkapi dua lightning arrester (penangkal petir) untuk meningkatkan keamanan terhadap sambaran petir, terutama di sisi peralatan tegangan tinggi.

Kereta peluru ini juga mampu menjajal lintasan Jakarta-Bandung yang cenderung menanjak. Daya di setiap rangkaian yang mencapai 9750 kW mampu memberikan akselerasi bagus dalam melintasi dua daerah berbeda ketinggian ini.

Satu rangkaian CR400AF terdiri atas delapan gerbong yang akan singgah di empat stasiun, yaitu Stasiun Halim, Karawang, Padalarang, dan Tegalluar. Kereta ini mampu membawa 601 penumpang dengan komposisi 18 penumpang VIP, 28 kelas 1, dan 555 penumpang kelas 2.

Sempat tertunda
Dalam rancangan awal, kereta cepat sudah bisa dinikmati masyarakat pada tahun 2019. Namun, seiring waktu berjalan, proyek pun tidak berjalan mulus sehingga diberi tenggat hingga akhir 2022. Pandemi Covid-19 ikut memengaruhinya.

Berbagai kendala dilalui proyek kereta cepat pertama di Indonesia ini, mulai dari pembebasan lahan hingga pandemi. Contohnya, pada Maret 2018, lahan yang dibebaskan baru 56,5 persen sehingga berdampak pada target yang mundur dari tahun 2018 menjadi 2020.

Meski demikian, harapan cerah menanti, secerah cuaca yang menaungi Stasiun Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (12/4/2021). Di sana, Direktur Utama PT KCIC Dwiyana Slamet Riyadi meyakinkan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bahwa proyek ini bisa rampung tahun 2022.

Dwiyana menyatakan pembebasan lahan telah mencapai 100 persen sehingga pengerjaan konstruksi, mulai dari rel hingga terowongan, tidak terkendala. Proyek ini memiliki 237 titik (work points), yaitu 156 titik jembatan, 68 titik subgrade, dan 13 titik terowongan.

”Saat ini pengerjaan sudah mencapai 70,98 persen. Kalau dilihat dari skedul, bisa sampai Desember 2022. Kami akan lakukan percepatan sehingga ini bisa dilewati dengan baik,” ujarnya.

Dwiyana melanjutkan, jika beroperasi, potensi penumpang dari Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) ini bisa menyentuh lebih kurang 61.000 orang per hari. Namun, pandemi Covid-19 yang melanda Tanah Air membuat perhitungan ini menyesuaikan dengan kondisi sehingga tinggal 26.486 penumpang per hari.

Akan tetapi, angka ini dikritik Luhut. Luhut meminta Dwiyana untuk meneliti potensi penumpang lebih lanjut lagi dengan mempertimbangkan berbagai aspek. ”Saya minta angka (penumpang) ini harus dilihat lagi, mulai dari inflasi sampai perkembangan ekonomi nanti,” ujar Luhut sambil diiringi anggukan dari Dwiyana serta Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dan Gubernur Jabar Ridwan Kamil yang mendampingi.

Di sisi lain, untuk mencapai Kota Bandung dari Stasiun Padalarang, penumpang ini pun diberikan opsi untuk melanjutkan dengan kereta penghubung. Tidak hanya itu, kereta lokal Bandung Raya juga tersedia di Stasiun Padalarang yang menjangkau hingga Cibatu, Kabupaten Garut.

Terkait kereta penghubung, Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Didiek Hartantyo memaparkan, pihaknya akan melakukan integrasi antara KCJB dan kereta api. Stasiun Padalarang pun akan dikembangkan menjadi stasiun konektivitas kereta cepat dengan kereta api.

Pertimbangan matang
Akan tetapi, kondisi ini berdampak pada meningkatnya arus lalu lintas kereta api. Bakal ada sejumlah persimpangan sebidang antara Stasiun Padalarang-Stasiun Bandung.

Menurut Didiek, setidaknya ada sejumlah pelintasan sebidang yang akan berdampak sehingga perlu dibangun jalan layang atau terowongan untuk lalu lintas. Perlintasan ini antara lain Jalan Sriwijaya, tepatnya di dekat Rumah Sakit Dustira (Cimahi), Jalan Gatot Subroto dekat Pusat Persenjataan Artileri Medan TNI AD (Cimahi), dan Jalan Garuda dekat Bandara Husein Sastranegara (Kota Bandung).

”Jika kereta cepat aktif, minimal ada 100 perjalanan. Hal ini berdampak pada sejumlah pelintasan sebidang yang lewat infrastruktur penting. Pelintasan ini kami targetkan bisa selesai sebelum 2022 sehingga bisa dipergunakan saat kereta cepat beroperasi,” ujarnya.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil pun berharap pelintasan sebidang ini bisa rampung sesuai target. Karena itu, dia menyatakan siap membantu asal dengan persiapan matang.

”Saya akan ingatkan dan bantu dalam pelintasan sebidang. Tapi, saya mohon disiapkan secara matang,” ujarnya.

Tidak hanya dari segi kemacetan, potensi bahaya dari kondisi bumi tempat kereta cepat ini melaju pun perlu diperhitungkan secara matang. Setidaknya ada empat sumber gempa di kawasan itu yang pernah memicu gempa merusak.

Empat sumber gempa ini meliputi Sesar Baribis, Sesar Lembang, Sesar Cimandiri, dan zona subduksi lempeng di Samudra Hindia. Hal ini dikhawatirkan dapat membahayakan pengoperasian kereta cepat.

Sesar Baribis membentang dari Kabupaten Subang hingga Kabupaten Kuningan. Sementara itu, Sesar Lembang membentang sepanjang sekitar 25 kilometer dan hanya berjarak 10 kilometer di utara Kota Bandung. Di Kabupaten Bandung Barat ada Sesar Cimandiri yang mungkin beririsan langsung dengan jalur kereta cepat.

Bahkan, di selatan Jabar bersemayam zona subduksi lempeng Samudra Hindia. Lempengan ini sempat memicu gempa di atas M 8,5 dan menimbulkan kerusakan di Bekasi, Purwakarta, dan Bandung. Bahkan, patahan ini diduga menjadi sumber gempa Jakarta pada 1699 yang berkekuatan M 8-M 9.

Dengan berbagai macam potensi dan ancaman yang mengelilingi, pembangunan kereta cepat ini patut menjadi atensi. Di samping keunggulan yang diberikan, kondisi alam dan tata kota pun perlu diperhitungkan demi keamanan dan kenyamanan masyarakat. Mereka menanti koneksi kereta peluru untuk mendapatkan moda transportasi yang aman, nyaman, dan dapat diandalkan.

Oleh MACHARDIN WAHYUDI RITONGA

Editor: CORNELIUS HELMY HERLAMBANG

Sumber: Kompas, 13 April 2021

Share
%d blogger menyukai ini: