Home / Berita / Memodifikasi Atmosfer untuk Mengerem Pemanasan Bumi

Memodifikasi Atmosfer untuk Mengerem Pemanasan Bumi

Suhu rata-rata Bumi terus meningkat. Karenanya, negara-negara sepakat untuk merem suhu Bumi agar tidak mencapai lebih dari 2 derajat celsius pada tahun 2100 dibanding sebelum masa evolusi industri abad ke-18.

Dari berbagai proposal teknologi untuk menahan kenaikan suhu Bumi, salah satu yang dianggap paling prospektif adalah dengan menyemprotkan aerosol tertentu ke atmosfer. Aerosol itu akan memantulkan sebagian sinar Matahari kembali ke atmosfer bagian atas. Terhalangnya sebagian sinar Matahari itu diyakini akan menurunkan suhu Bumi.

Meski masih berupa proposal, teknik itu telah diuji di alam. Letusan Gunung Pinatubo di Filipina pada 1991 lalu membuat atmosfer Bumi dipenuhi partikel-partikel debu hasil letusan. Itu mengakibatkan suhu Bumi mendingin sekitar 0,6 derajat celsius selama 15 bulan.

Namun, usulan itu bukan tanpa risiko. Sebuah pemodelan komputer yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications menemukan bahwa menyemprotkan aerosol di belahan Bumi utara akan mengurangi tingkat keparahan badai di Samudra Atlantik. Sebaliknya, menyemprotkan aerosol itu di belahan Bumi selatan justru akan meningkatkan keparahan badai di Samudra Atlantik bagian utara.

Berkurangnya keparahan badai di Samudra Atlantik sepertinya memberi hasil positif dan menguntungkan. Padahal, itu memiliki konsekunsi berbeda di bagian Bumi lainnya.

“Menyemprotkan aerosol di belahan Bumi utara juga akan meningkatkan kekeringan di Sahel, wilayah perbatasan antara Gurun Sahara di Afrika Utara dengan padang sabana di bagian tengah Afrika,” kata Anthony Jones dari Universitas Exeter, Inggris, salah satu peneliti, seperti dikutip space.com, Sabtu (18/11).

Sahel merupakan wilayah rentan mengalami kekeringan akut. Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 2012 menyebut 15 juta warga Afrika Barat dan Sahel mengalami kekurangan gizi akibat kekeringan yang melanda wilayah itu.

Jones menegaskan, rekayasa kebumian dengan momodifikasi atmosfer untuk merem kenaikan suhu Bumi memiliki risiko yang sama seperti perubahan iklim. Dampak kerusakan yang ditimbulkannya tidak merata di seluruh Bumi, hanya pada wilayah-wilayah tertentu saja.

“Rekayasa kebumian baik secara regional maupun global bisa menimbulkan konsekuensi mengerikan di bagian Bumi lain,” ujarnya.

Meski demikian, terlepas dari segala risikonya, para ahli rekayasa kebumian menilai modifikasi atmosfer itu bisa dijadikan alternatif pilihan sembari melakukan pengurangan emisi karbon. Mengurangi emisi karbon tidak bisa dilakukan secara singkat sehingga butuh langkah transisi untuk menuju peralihan dari ekonomi padat karbon menuju ekonomi hijau.

“Kami sangat memahami bahwa rekayasa atmosfer ini bukanlah solusi dari pemanasan global. Manusia harus mengurangi emisi karbon. Namun, rekayasa ini hanyalah langkah awal,” kata kata Frank Keutsch, salah satu ilmuwan dari Universitas Harvard Amerika Serikat yang akan melakukan rekayasa atmosfer tersebut kepada seeker.com, 11 April 2017.

“Dampak dari ide untuk menurunkan suhu Bumi itu memang mengerikan. Namun, konsekuensi dari perubahan iklim juga sama mengerikannya. Ini adalah masalah yang sangat serius,” tambahnya.

Metode modifikasi
Uji lapang pertama modifikasi atmosfer dengan memantulkan kembali sinar Matahari itu akan dilakukan dengan menyemprotkan uap air berisi sejumlah material ke stratosfer di ketinggian antara 20-50 kilometer dari permukaan Bumi. Proses uji diharapkan bisa dilakukan pada 2018.

Material itu akan dikirim ke stratosfer menggunakan balon udara yang diluncurkan dari wilayah Tucson, Arizona, AS. Saat di stratosfer, balon udara itu akan menyemprotkan uap air ke atmosfer yang akan menciptakan gumpalan es terapung dengan panjang 1 kilometer dan lebar 100 meter.

Selanjutnya, balon udara yang dikendalikan dari lokasi peluncuran itu akan bergerak melintasi awan buatan itu secara perlahan dan melakukan pengukuran berbagai paramater awan tersebut.

Pada tahap awal, material yang digunakan hanya berupa air karena tujuannya untuk menguji metodologi dan teknologi riset itu. Jika berhasil, sejumlah material baru bisa diperkenalkan mulai dari kalsium karbonat, sulfat, bahkan debu berlian. Karena uji coba, para peneliti memastikan tidak akan menimbulkan dampak ekstrem karena berat masing-masing material tidak lebih dari 1 kilogram.

“Rekayasa atmosfer ini memiliki konsep yang sama seperti obat penghilang rasa sakit yang bermanfaat dalam jangka pendek, bukan untuk tujuan pengobatan jangka panjang atau penyembuhan,” kata Kepala Program Penelitian Rekayasa Kebumian Matahari Universitas Harvard Gernot Wagner.

Meski berisiko, namun ide modifikasi atmosfer ini sangat menjanjikan. Para ahli pun yakin konsep rekayasa kebumian itu bisa bisa digunakan secara bertanggung jawab, membantu sebagian masalah pemanasan Bumi dan bukan mengatasi seluruhnya. Semuanya patut dicoba dan harus terukur.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 21 November 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: