Home / Artikel / Memilih Rektor

Memilih Rektor

Pemilihan rektor di Institut Teknologi Bandung (ITB), akhirnya dimenangkan oleh Reini D Wirahadikusumah. Kemenangan yang diraih Reini penuh dengan jalan berliku dan menuai kontroversi.

Berdasarkan siaran pers dari ITB, tahapan pemilihan rektor sudah dimulai pada tanggal 11 September 2019. Dan pada tahap awal berhasil merekrut 30 calon rektor yang memenuhi syarat untuk memimpin ITB. Selanjutnya pada 21 Oktober, calon rektor tinggal sepuluh; dan pada tanggal 2 November, calon rektor tinggal tiga orang saja.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Kiri ke kanan: Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) periode 2020-2025 Reini D Wirahadikusumah, Ketua Majelis Wali Amanat ITB Yani Panigoro, Rektor ITB periode 2015-2020 Kadarsah Suryadi, dan Dekan Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika ITB Jaka Sembiring dalam jumpa pers pengumuman Rektor ITB periode 2020-2025 di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Dan pada tanggal 8 November, dari tiga calon yang tersisa, terpilihlah Reini D Wirahadikusumah, sebagai rektor wanita pertama di ITB. Terpilihnya Reini setelah masuk suara Menteri Pendidikan dan Kebudayaan sebesar 35 persen ke dalamnya. Suatu peraturan yang sudah disepakati sebelumnya.

Politik di perguruan tinggi
Barangkali bagi orang luar kampus, pandangan terhadap suhu politik di perguruan tinggi dalam keadaan adem-ayem saja, atau tenang, tenteram, dan sejuk. Pandangan seperti ini tidak sepenuhnya salah, karena aktor-aktor yang bertarung biasanya adalah para profesor. Mana mungkin para profesor bermain politik kotor dan fitnah.

KOMPAS/TATANG MULYANA SINAGA–Ketua Panitia Pelaksana Pemilihan Rektor Institut Teknologi Bandung (ITB) Agus Dana Permana (kiri) di Kota Bandung, Jawa Barat, Kamis (10/10/2019).

Para pemilihnya pun orang-orang yang sangat arif dan bijaksana: para profesor juga, atau paling tidak doktor yang menguasai dan mengajar pada berbagai bidang ilmu. Dengan latar belakang seperti ini, rasanya mustahil pemilihan rektor bisa berlangsung dalam suhu politik yang sangat panas.

Ternyata tidak. Berbeda dengan pemilihan presiden yang melibatkan orang yang sangat banyak, dan daerah pemilihan yang sangat luas, sehingga suhu politik meskipun tinggi, terdistribusi merata dalam ruang yang sangat luas. Sedangkan pemilihan rektor berlangsung di ruangan yang sangat sempit. Para pemilih terdeteksi dengan baik arah kiblat aliran politiknya. Yang memilih dan yang dipilih adalah para kolega yang saling kenal mengenal dengan akrab. Karena hampir selalu bertemu dalam rapat-rapat yang rutin.

Sedangkan pemilihan rektor berlangsung di ruangan yang sangat sempit. Para pemilih terdeteksi dengan baik arah kiblat aliran politiknya. Yang memilih dan yang dipilih adalah para kolega yang saling kenal mengenal dengan akrab.

Akibatnya, masa-masa pemilihan rektor: ketika sebelum, sedang, dan setelah pemilihan rektor, ditandai dengan suhu politik yang sangat panas. Atmosfer akademik sangat kotor dan beracun. Karena tim sukses dari masing-masing calon rektor bergerilya tanpa lelah, berusaha keras untuk memenangkan calonnya.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Tiga calon rektor Universitas Indonesia, yakni (kiri-kanan) Abd Haris, Ari Kuncoro, dan Budi Wiweko saat memberikan pemaparan terkait visi dan misi dalam acara debat terbuka pemilihan rektor UI periode 2019-2024 di Gedung Makara Art Center UI, Depok, Jawa Barat, Rabu (25/9/2019). Setelah pemilihan suara dari seluruh anggota MWA UI dilaksanakan, Ari Kuncoro yang terpilih sebagai rektor UI periode 2019-2024.

Para pemilik suara harus ekstra hati-hati dalam menentukan sikap. Karena tim sukses mempunyai daya pendengaran dan penciuman yang sangat tajam.
Calon rektor, seperti halnya politikus yang dapat kita pelajari dari buku-buku sejarah: ada yang hebat dan ingin memajukan bangsa dan negaranya, ada yang kejam yang tidak segan menghukum lawan politik (beserta pengikut-pengikutnya), ada yang bodoh tapi nekat dan seterusnya.

Demikian juga di universitas, calon rektor yang ingin mencalonkan dirinya sebagai rektor bisa beragam juga: yang rakus, yang adil dan arif, yang tidak peduli dengan masalah akademik di kampus dan seterusnya.

Terkadang, kita tidak tahu perangai asli seorang rektor. Sebelum terpilih, semua hal yang baik-baik, dan yang hebat-hebat yang terlihat. Ketika terpilih, baru semua terbongkar: rakus, punya catatan melakukan plagiarisme, dan seterusnya.

Terkadang, kita tidak tahu perangai asli seorang rektor. Sebelum terpilih, semua hal yang baik-baik, dan yang hebat-hebat yang terlihat.

Kalau sudah seperti ini, semua pemangku kepentingan kampus akan terluka dan tentu saja tersandera. Tetapi apakah rektor seperti ini akan gagal? Tidak. Rektor yang punya rekam jejak yang jelek menurut akal sehat, akan mudah terpilih dua kali. Bukan karena prestasinya.

Tetapi karena keberaniannya dalam menebarkan ancaman kepada para pemilih. Insan akademik yang tidak setuju terhadap kebijakannya dalam bidang akademik, lebih baik diam atau curhat ke sesama teman-temannya yang seide di lorong-lorong sunyi dan senyap dengan penuh ketakutan sambil berharap pertolongan Tuhan, agar si rektor cepat turun.

KOMPAS/MOHAMMAD HILMI FAIQ (MHF)–Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) berunjuk rasa di pintu 1 kampus USU, Selasa (2/3). Mereka mendesak agar pemilihan rektor diulang karena pemilihan yang berlangsung pada tanggal 25 Februari 2010 mereka nilai cacat hukum.

Sebelum terpilih, semua hal yang baik-baik, dan yang hebat-hebat yang terlihat. Ketika terpilih, baru semua terbongkar: rakus, punya catatan melakukan plagiarisme, dan seterusnya.

Apa yang harus dilakukan menteri?
Saya berpendapat sebaiknya rektor di perguruan tinggi negeri ditunjuk saja oleh menteri. Sehingga, menteri, berdasarkan rekam jejak calon rektor, dapat yakin bahwa rektor yang ditunjuknya akan amanah dan mampu menjalankan seluruh instruksi menteri. Kalau memang rektor yang ditunjuk ini tidak amanah atau tidak mampu menjalankan instruksi, menteri dapat dengan mudah menggantinya.

Tetapi, kalau rektor masih tetap dipilih (dengan atau tanpa suara menteri), tetap saja menteri agak sulit menurunkan atau memberhentikan rektor di tengah masa jabatan. Rektor beserta seluruh pendukungnya sudah pasti akan melakukan perlawanan, baik lewat jalur hukum atau melalui pengerahan mahasiswa.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (UI) Saleh Husin (dua dari kiri) berfoto bersama seusai menyaksikan proses seleksi yang digelar Panitia Khusus Pemilihan Rektor UI di Jakarta pada Rabu (4/9/2019).

Perlawanan seperti ini tentu sangat melelahkan dan merugikan banyak pihak: pemerintah, mahasiswa, dosen, dan seluruh pemangku kepentingan.

Sudah saatnya kita tidak bermain judi dengan pemilihan rektor. Tatkala kita salah memilih rektor, maka universitas harus sabar selama empat tahun tersandera oleh kebijakan rektor yang tidak pro akademik. Bahkan bisa sampai delapan tahun, kalau rektor yang tidak memiliki akal sehat ini terpilih dua kali periode masa jabatan. Sungguh penantian yang cukup lama. Ini bisa mengakibatkan seluruh sendi universitas rusak parah, dan butuh waktu yang lama juga untuk memperbaikinya

(Syamsul Rizal, Profesor di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh)

Sumber: Kompas, 19 November 2019

Share
x

Check Also

Catatan 75 Tahun Pendidikan

Untuk 25 tahun ke depan, penentu kebijakan dan masyarakat perlu lebih mampu mengendurkan hasrat penyeragaman ...

%d blogger menyukai ini: