Home / Berita / Memahami Teror Gempa Jailolo

Memahami Teror Gempa Jailolo

Sudah tiga pekan gempa meneror masyarakat Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara. Dalam sehari, gempa terasa puluhan kali, bahkan pernah hingga 146 kali. Namun, kecemasan terutama disebabkan oleh isu gempa akan diikuti gempa lebih besar dan tsunami atau akan terjadi letusan gunung api.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa beruntun berpusat di laut dan darat itu merusak 1.593 rumah di 19 desa di Kecamatan Jailolo. Sebanyak 145 rumah rusak berat, 273 rumah rusak sedang, dan 1.175 rumah rusak ringan. Gempa juga merusak 2 sekolah, 8 rumah ibadah, dan 3 kantor pemerintahan. Kerusakan terbanyak terjadi di Desa Bobanehena di Teluk Jailolo.

“Sebanyak 10.165 orang mengungsi. Kebanyakan membuat tenda atau bangunan darurat, khawatir rumah roboh,” kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho. Gelombang pengungsian diperparah isu bahwa gempa itu baru permulaan dari gempa lebih besar yang berpotensi tsunami, tanah longsor, bahkan gunung meletus.

Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Daryono, Maluku Utara dikenal rawan gempa dan tsunami. Secara tektonik, zona aktif itu berada di zona rawan gempa bumi Halmahera-Sangihe. Zona gempa itu membentang ke utara, saling berhadapan, dan didasari zona Benioff yang menunjam berlawanan.

Subduksi ganda itu terbentuk akibat tekanan lempeng laut Filipina dari timur di zona Halmahera. Dari barat, lempeng Sangihe mendorong ke timur. Akibat dorongan itu, terjadi akumulasi energi di bagian tengah dan di zona tumbukan Laut Maluku yang mengakibatkan zona itu sangat rawan gempa.

Catatan sejarah, kawasan Halmahera beberapa kali dilanda gempa merusak. Gempa 8 Maret 1989 merusak 233 rumah. Gempa 21 Januari 1994 berkekuatan (magnitudo/M) 6,8 menimbulkan banyak kerusakan dan menewaskan dua orang di Kao dan Malifut.

Berbeda dengan gempa-gempa sebelumnya, rentetan gempa di Jailolo saat ini membingungkan. Gempa tektonik di Indonesia lazimnya bertipe terjadi sekali. Jika kekuatannya besar, gempa akan diikuti gempa susulan dengan kekuatan dan frekuensi mengecil.

Tipe lain, gempa permulaan relatif kecil, baru gempa besar. Gempa jenis ini terjadi 4 November 2015 di Alor, Nusa Tenggara Timur. Sebelum gempa berkekuatan 6,2 skala Richter (SR) pukul 10.44, terjadi gempa berkekuatan 5,4 SR pada pukul 04.25 di lokasi sama.

Tipe swarm
Beda dengan kedua tipe itu, gempa di Jailolo terjadi beruntun berkekuatan relatif kecil dan frekuensi naik turun dalam waktu lama. Data BMKG, 16 November hingga 4 Desember 2015, gempa bumi di sekitar Jailolo mencapai 659 kejadian dengan kekuatan rata-rata 3 SR. Tidak ada yang di atas 5,0 SR.

Pada 21-29 November terjadi penurunan aktivitas gempa sangat signifikan, dari 146 gempa per hari (19 November) menjadi 1 gempa per hari (29 November). Pada 1 Desember kembali terjadi peningkatan jumlah gempa hingga 96 kali per hari. Namun, pada 2 Desember kembali terjadi penurunan aktivitas gempa. Pada 4 Desember hanya terjadi enam aktivitas gempa.

“Berdasarkan monitoring BMKG, hingga 5 Desember terjadi penurunan baik dalam jumlah aktivitas gempa harian maupun magnitudo,” kata Daryono. “Dari ciri-cirinya, gempa Jailolo digolongkan swarm, yaitu gempa dengan magnitudo relatif kecil, kejadian cukup banyak, dan aktivitas bisa lama. Gempa tipe ini tidak akan diikuti gempa lebih besar,” lanjutnya.

Meski tergolong langka, gempa swarm sebenarnya terjadi beberapa kali di Indonesia. Februari 2011, di Kampak, Trenggalek, Jawa Timur, terjadi serangkaian gempa 2,0 SR hingga 4,0 SR. Gempa swarm juga pernah melanda Kemiling, Bandar Lampung, Juni 2006, dan berlangsung hingga tiga bulan.

Kepala Bidang Pemantauan Gunung Api Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Gede Suantika mengatakan, gempa swarm pernah terjadi di Jailolo pada 2013. “Saat itu tidak seintensif sekarang. Rata-rata tiap hari tiga kali gempa dan ini dua bulan,” katanya.

Di luar negeri, gempa swarm banyak dilaporkan. Pada Februari-April 2008, wilayah Reno, Nevada, Amerika Serikat, diguncang serangkaian gempa. Dalam dua bulan, ada lebih dari 1.000 gempa berkekuatan rata-rata 4,7 SR.

Gempaswarm juga pernah melanda wilayah Galati, Romania, selama beberapa minggu pada Oktober 2013. Sekalipun kekuatan gempa rata-rata hanya 3.8 SR, pusatnya sangat dangkal. Banyak rumah rusak.

Tahun lalu, gempa swarm terjadi di perbatasan California, Oregon, dan Nevada di AS. Gempa tiga bulan mencapai 800 kali. Kekuatannya 2 SR-4 SR.

Tektonik dan vulkanik
Gede Suantika mengatakan, gempa swarm bisa murni terjadi karena gerakan tektonik. Itu biasa terjadi karena gempa di batuan yang heterogen dan rapuh. Namun, gempa swarm juga bisa berasosiasi dengan aktivitas vulkanik, seperti di sekitar Gunung Unzen, Jepang.

November 1989, gempa tektonik menerus terdeteksi pada kedalaman 10 kilometer (km), sekitar 20 km dari Gunung Unzen. Sepanjang tahun, gempa mendangkal dan mendekati Unzen hingga akhirnya terjadi letusan freatik pada November 1990. Pada Mei 1991, Gunung Unzen meletus hebat: 43 tewas, termasuk tiga vulkanolog dunia. Sebelum letusan 1991, Unzen meletus tahun 1792, menewaskan 15.000 jiwa.

“Tidak tertutup kemungkinan gempa swarm di Jailolo berasosiasi dengan aktivitas vulkanik,” kata Gede. “Masalahnya, gunung yang mana?” ujarnya.

Di sekitar sumber gempa ada banyak gunung api aktif, di antaranya Kei Besi, Gamalama, Gamkonora, dan Ibu. Di sana juga ada Gunung Jailolo dan Todoko-Ranu bertipe B: tak tercatat pernah meletus sebelum abad ke-16. Namun, belajar dari Sinabung di Sumatera Utara, gunung tipe B yang tak pernah meletus dalam 1.000 tahun bisa aktif lagi dan meletus.

“Kei Besi dipantau terus 24 jam. Demikian juga Gamalama, Gamkonora, Ibu, dan Dukono. Hanya Gunung Jailolo dan Todoko yang belum ada alat pemantaunya,” kata Gede. “Namun, sejauh ini, gunung-gunung itu belum menampakkan perubahan aktivitas. Masih aman.”

Daryono menegaskan, dari aspek tektonik, gempa tipe swarm umumnya tak akan diikuti gempa besar, apalagi tsunami. Namun, ini harus jadi momentum bagi masyarakat Jailolo mengenali wilayahnya yang ternyata rentan dan lebih penting lagi membenahi kualitas bangunan. Gempa bumi tak pernah membunuh. Konstruksi bangunan yang buruklah asal petaka itu.–AHMAD ARIF
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 7 Desember 2015, di halaman 14 dengan judul “Memahami Teror Gempa Jailolo”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: