Home / Berita / Melindungi Diri di Tengah Keterbatasan

Melindungi Diri di Tengah Keterbatasan

Di tengah situasi pandemi Covid-19, tenaga kesehatan berinovasi untuk membuat alat pelindung diri demi meminimalkan kontak dengan pasien. Hal itu bertujuan untuk mengurangi risiko tertular penyakit tersebut.

—Kotak aerosol buatan sendiri yang digunakan di Rumah Sakit Umum Daha Husada Kediri, Jawa Timur. Kotak berbahan akrilik ini diharapkan bisa melindungi tenaga medis saat melakukan intubasi terhadap pasien Covid-19. Sumber: Dokumentasi dr Tri Maharani, RSU Daha Husada

Kreativitas sering kali muncul saat kita terdesak. Situasi itu pula yang memicu para tenaga kesehatan di dalam dan luar negeri berkreasi membuat berbagai peralatan perlindungan diri guna mendukung tugasnya sebagai garda terdepan dalam perang melawan pandemi penyakit Covid-19.

Perang baru dimulai. Namun, nyaris setiap hari kita mendengar tenaga kesehatan yang berada di garda depan meninggal karena Covid-19. Data dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), sejauh ini sudah ada 23 dokter dan 6 dokter gigi yang meninggal akibat Covid-19. Sedangkan jumlah perawat yang meninggal hingga pekan lalu sudah 19 orang.

Kegagalan mendeteksi masuknya SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 ke Indonesia membuat pemerintah lengah. Selama Januari hingga Februari 2020, hasil pemeriksaan spesimen korona di Indonesia selalu negatif, padahal negara-negara tetangga sudah mengonfirmasi adanya kasus positif Covid-19.

Kondisi ini membuat kita nyaris tak melakukan persiapan guna mengantisipasi masuknya wabah. Tenaga kesehatan yang berada di garis depan pun tak disiapkan dengan protokol yang baik, juga tak ada dukungan peralatan. Bahkan, pada periode itu, Indonesia yang menjadi salah satu produsen masker dan alat pengaman diri banyak mengekspor produknya ke luar negeri.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, ekspor masker sepanjang Januari 2020 mencapai 2,1 juta dollar AS. Kemudian, pada Februari 2020, nilai ekspor naik hingga 34 kali lipat atau naik 3.480 persen, yakni mencapai 75 juta dollar AS. Sementara jika dibandingkan Februari 2019, ekspor masker pada Februari 2020 mengalami kenaikan 75 kali lipat atau 74.600 persen.

”Menyedihkan, karena pada saat yang sama banyak tenaga kesehatan kita harus memakai masker buatan sendiri dan mantel hujan,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Umum Indonesia (PDUI) Abraham Andi Padlan Patarai.

Melihat kondisi itu, Abraham Andi telah membuat surat terbuka ditujukan kepada Presiden Joko Widodo agar pemerintah menjamin ketersediaan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesahatan. Tanpa APD yang sesuai standar, akan semakin banyak dokter dan perawat yang meninggal.

Banyak tenaga kesehatan yang terpukul dengan ketidaksiapan dan keterlambatan respons pemerintah. Tri Maharani, dokter spesialis emergensi yang juga Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daha Husada Kediri, Jawa Timur, termasuk salah satunya.

”Marah dan kecewa tentu saja. Indonesia merupakan negara dengan angka kematian tenaga kesehatan terbanyak karena Covid-19. Kita terlambat antisipasi dan alat pengaman diri memang terbatas, terutama di daerah,” kata Tri Maharani.

TRI MAHARANI–Petugas kesehatan mengenakan alat pelindung diri yang dibuat oleh dokter Tri Maharani di sebuah rumah sakit di Kediri, Jawa Timur. Foto dikirimkan dokter Tri Maharani pada Minggu (19/4/2020).

Tidak menyerah
Sekalipun kerap bersuara keras soal ketiadaan APD ini, Tri Maharani tak menyerah. ”Kalau tenaga kesehatannya menjadi korban, bagaimana masyarakat yang harus kita rawat? Kita harus sehat dan selamat agar tetap bisa bertugas. Kita tetap harus mencari cara,” ujarnya.

Salah satu titik rawan bagi tenaga kesehatan primer saat melakukan pemeriksaan atau kontak awal terhadap pasien. Apalagi, sebagian besar orang yang menderita Covid-19 hanya bergejala ringan, bahkan tanpa gejala. Namun, mereka tetap bisa menularkan kepada orang lain.

Dengan dasar ini, Tri Maharani lalu berinisiatif melengkapi protokol keamanan di tempat kerjanya dengan perlindungan maksimum, termasuk dengan membuat peralatan pendukung, di antaranya stetoskop jarak jauh dan memakai speaker untuk menjaga jarak fisik dengan pasien saat diagnosis awal. Dibantu perawat di rumah sakitnya, Sumber Agung, Tri Maharani memodifikasi stetoskop dengan tambahan pipa aluminium sekitar 1,5 meter.

Untuk setiap unit stetoskop jarak jauh ini, Maharani hanya perlu mengeluarkan uang Rp 110.000, yakni Rp 100.000 untuk membeli stetoskop dan Rp 10.000 untuk membeli pipa aluminium. ”Awalnya pasien yang datang kaget juga, tetapi lama-lama jadi biasa. Kita semua ingin aman,” ungkapnya.

Selain digunakan sendiri, Tri Maharani juga membuat stetoskop jarak jauh untuk dibagikan ke koleganya di rumah sakit lain. ”Sudah buat 20 unit, banyak dikirim ke Jakarta, salah satunya kami kirim ke kolega Australia, dr Xiu,” kata Tri Maharani, pendiri Indonesia Toxinilogy Society, yang menamatkan pendidikan dokter umum, spesialis emergensi, hingga doktoral bidang biomedik di Universitas Brawijaya, Malang, ini.

Melalui komunikasi media sosial, dokter Xiu mengaku ingin menggunakan stetoskop jarak jauh yang dibuat Maharani di kliniknya di Adelaide. ”Saya kira para dokter di klinik butuh proteksi, butuh jaga jarak dengan pasien juga,” katanya.

–Tri Maharani (kiri), dokter emergensi dari RSU Daha Husada Kediri, Jawa Timur, mencoba stetoskop jarak jauh kreasinya. Sumber: Dok Tri Maharani

Kotak aerosol
Selain membuat stetoskop jarak jauh, Tri Maharani juga membuat alat pelindung bagi tenaga kesehatan saat melakukan intubasi pada pasien Covid-19. Intubasi endotrakeal merupakan tindakan medis dengan memasukkan sejenis tabung melalui mulut atau hidung untuk menghubungkan udara luar dengan kedua paru. Ini biasa dilakukan kepada penderita yang pernapasannya terganggu.

”Saya bertugas di IGD dan sering melakukan tindakan intubasi. Ini berisiko tinggi tertular karena rentan terkena droplets (percikan) dari pasien. Idealnya, pasien dengan penyakit sangat menular seperti Covid-19 harus dimasukkan dalam isopod saat diintubasi, tetapi harga peralatan ini sangat mahal, sekitar Rp 150 juta. Belum tentu rumah sakit besar punya itu, apalagi rumah sakit daerah,” ungkapnya.

Setelah berkonsultasi dengan rekan-rekannya di sejumlah negara, Tri Maharani mendapatkan inspirasi dari Taiwan. Lai Hsien-hyung, dokter di Rumah Sakit Kristen Mennonite, telah membuat kotak pengaman yang kemudian dinamakan aerosol box, untuk mengamankan para dokter saat mengintubasi pasien positif Covid-19.

Hsien-hyung menyebut dirinya telah mendaftarkan hak paten kotak aerosol di bawah lisensi ”Creative Commons”. Ia menekankan desain kotak aerosol bisa diduplikasi oleh siapa saja asal tidak untuk digunakan untuk tujuan komersial.

Dengan melihat petunjuk video di media sosial, Tri Maharani mengajak kenalannya, Budi Rachmad Basuki, wirausaha lulusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), untuk membuat kotak aerosol sendiri.

TRI MAHARANI–Petugas kesehatan mengenakan alat pelindung diri yang dibuat oleh dokter Tri Maharani di sebuah rumah sakit di Kediri, Jawa Timur. Foto dikirimkan dokter Tri Maharani pada Minggu (19/4/2020).

Mereka menggunakan bahan plastik akrilik dengan ketebalan 5 sentimeter dan dibentuk kotak dengan dua lubang untuk tempat masuknya tangan saat memeriksa pasien. ”Dengan kotak ini, kontaminasi dari droplets saat intubasi pasien bisa diminimalkan,” ujarnya.

Pelindung wajah
Kreasi lainnya adalah face shield atau alat pelindung wajah dengan plastik mika yang ditempelkan pada potongan paralon dan double tape. Dengan memberi baut, plastik pelindung ini bisa dinaik-turunkan seperti helm untuk sepeda motor.

”Kita menyadari, APD saat ini sangat langka. Kalaupun ada, harganya amat mahal, jadi kita harus berkreasi, tentu dengan memperhatikan keamanan,” kata Maharani yang kini diperbantukan di Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso, di Jakarta, yang menjadi rujukan penanganan Covid-19.

Leliltasari Danukusumo, dokter dari 4life yang memproduksi peralatan keselamatan kerja, mengatakan, di tengah keterbatasan, APD buatan sendiri harus memperhitungkan keselamatan kerja. Sebagaimana juga diingatkan Abraham Andi, ”Kami tak bisa mengikuti peribahasa tidak ada rotan akar pun jadi. Itu terlalu berisiko. APD harus sesuai standar keamanan.”

Oleh AHMAD ARIF

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 20 April 2020

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: