Gelombang Covid-19 ke Jawa Timur

- Editor

Senin, 8 Juni 2020

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jawa Timur menjadi episentrum wabah Covid-19 terbesar kedua di Indonesia setelah DKI Jakarta. Hal itu menandai menjalarnya gelombang pandemi penyakit yang disebabkan virus korona baru tersebut ke daerah-daerah.

Gelombang pandemi Covid-19 atau penyakit yang disebabkan virus korona (corona virus) baru kini menjalar ke daerah-daerah. Jawa Timur menjadi episenter atau pusat wabah Covid-19 terbesar kedua di Indonesia dan dikhawatirkan jumlah kasus dan kematiannya bakal menyalip Jakarta. Situasi di Jawa Timur ini harus menjadi peringatan bagi daerah lain.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan yang disampaikan Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto pada Minggu (7/6), jumlah kasus baru di Jawa Timur mencapai 113 kasus sehingga total kasus positif Covid-19 di provinsi ini mencapai 5.948. Jumlah ini merupakan nomor dua setelah Jakarta yang memiliki kasus positif sebanyak 8.033.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jumlah kematian di Jawa Timur telah mencapai 483 orang, atau nomor dua setelah Jakarta yang mencapai 529 orang. Sedangkan jumlah orang dalam pemantauan (ODP) di Jawa Timur yang meninggal sebanyak 109 orang dan pasien dalam pemeriksaan (PDP) yang meninggal husebanyak 699 orang.

“Sekitar 60 kasus di Jawa Timur disumbangkan dari Surabaya yang sejak seminggu terakhir melakukan pemeriksaan massal. Sisi positifnya, kita jadi tahu sebaran Covid-19 di Surabaya,” kata epidemiolog Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Laura Navika Yamani.

Menurut Laura, saat ini surveilans digalakkan dan telah menemukan 30 kluster di 31 kecamatan di Surabaya. “Ada kluster pasar, instansi, pabrik, mal, bahkan juga penularan di dalam keluarga yang menyebabkan satu keluarga yang meninggal. Tingginya penularan ini terutama dari OTG (orang tanpa gejala),” tuturnya.

Pemeriksaan secara massal dan surveilans seperti di Surabaya ini seharusnya juga dilakukan di daerah-daerah lain di Jawa Timur, bahkan juga di daerah lain yang kasusnya masih minim. “Belajar dari Surabaya, kita harus deteksi sejak awal, jangan sampai membesar dan menjaga perbatasan agar tidak ada penularan dari zona merah,” kata dia.

Laura menambahkan, seperti di Jakarta, kepadatan dan mobilitas penduduk di Surabaya juga sangat tinggi. “Selain itu, yang membedakan mungkin tingkat kedisiplinan mayarakat. Di Surabaya dikenal bonek (nekad) sehingga sering menyepelakan protokol keselamatan, seperti tidak menjaga jarak dan enggan pakai masker,” ungkapnya.

Ketua Pusat Riset Keselamatan Pasien Unair Inge Dhamanti mengatakan, dalam praktiknya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Surabaya Raya, meliputi Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik banyak diabaikan. “PSBB di Surabaya Raya ini sudah tiga kali diperpanjang, tetapi tidak ada yang berubah. Masih bebas sekali. Pemeriksaan, hanya terlihat di jalan utama, kalau di pinggiran bebas sekali. Banyak yang nongkrong, jalan tidak pakai masker,” ujarnya.

Layanan kesehatan
Inge mengkhawatirkan keterbatasan layanan kesehatan yang tidak bisa menampung pasien. Saat ini banyak rumah sakit melampaui kapasitas, terutama karena masih lamanya waktu tunggu hasil pemeriksaan. Beberapa rumah sakit juga sudah menerapkan prioritas mana yang akan ditangani.

Menurut Inge, situasi saat ini mulai terbantu dengan dibukanya rumah sakit non rujukan yang diarahkan turut menampung pasien Covid-19. Namun, kondisi ini bisa meningkatkan risiko tenaga kesehatan, terutama karena jumlah alat pelindung diri (APD) yang belum mencukupi.

“Sekalipun sudah banyak bantuan APD, namun di lapangan masih kekuarangan. Standarnya, untuk melayani satu pasien di ruang isolasi buruh 20 APD per hari. Yang terjadi, dokter dan perawat harus pakai APD yang sama sepanjang hari untuk melayani banyak pasien,” tuturnya.

Inge juga menemukan, di salah satu rumah sakit di Kota Surabaya, yang pasiennya di ruang isolasi jarang dikunjungi perawat ataupun dokter lantaran keterbatasan APD. Persoalan APD, dan membludaknya pasien ini, pada akhirnya meningkatkan risiko tertular pada tenaga kesehatan.

Kepala Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daha Husada Kediri, Jawa Timur Tri Maharani mengatakan, dalam seminggu terakhir terdapat empat dokter di Jawa Timur yang meninggal dunia karena Covid-19, salah satunya di Kediri.

“Situasi di kota-kota lain di Jawa Timur, saat ini juga mengkhawatirkan. Namun demikian, pemeriksaan masih kurang, terutama di daerah-daerah, termasuk di Kediri. Untuk tes PCR (reaksi rantai polimerase) masih susah, saya yang menjadi PDP karena kontak dengan pasien meninggal, juga harus tes di Tulungagung,” ujarnya.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 8 Juni 2020

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 10 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB