Home / Berita / Media (Jepang) dan Penanganan Bencana

Media (Jepang) dan Penanganan Bencana

”Tsunami menimbulkan korban jiwa hingga 20.000 orang. Para korban tinggal di wilayah sebaran koran kami. Padahal, kami selama ini sudah menulis kewaspadaan akan tsunami. Kami merasa sangat tidak berguna.”

Demikian ungkapan sedih Shinichi Takeda, Kepala Kantor Pengurangan Risiko Bencana dan Proyek Edukasi Kahoku Shimpo Publishing.

Pada 26 November-4 Desember 2018, Kompas berkesempatan mengikuti program Japan-East Asia Network of Exchange for Students and Youth (Jenesys) 2018.

Saat itu, Kementerian Luar Negeri (MOFA) Jepang mengundang delapan pemuda yang bekerja di industri media Indonesia untuk belajar transportasi publik dan mitigasi bencana alam dari Jepang. Detail kegiatan Jenesys ditangani Japan International Cooperation Center (JICE).

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI–Shinsuke Okada, asisten profesordi International Research Institute of Disaster Science (IRIDeS) Tokohu University menunjukkan kesiapan lembaganya dalam hal mitigsai bencana.

Terkait dengan bencana, rombongan jurnalis asal Indonesia diajak berkunjung ke koran lokal di kota Sendai, Prefektur Miyagi. Tepatnya mengunjungi koran lokal Kahoku Shimpo dan stasiun televisi lokal PT Higashi Nippon Broadcasting (KHB).

Kahoku Shimpo adalah salah satu koran berpengaruh di sana. Untuk terbitan pagi, mereka menjual 450.000 eksemplar dan pada sore hari menjual 70.000 eksemplar. Koran itu memiliki karyawan 450 orang.

Tujuan kami ke Kahoku Shimpo adalah mendengar kisah unik mereka saat terjadi tsunami pada 11 Maret 2011. Pada hari itu, kantor Kahoku Shimpo pun menjadi korban. Ia menjadi satu dari 15 perusahaan penerbitan yang terdampak tsunami saat itu. Sebanyak 27 pekerja menjadi korban. Dua kantor cabang disapu tsunami. Sistem publikasi dan penerbitan berhenti karena rusak total.

Shinichi Takeda, di Aoba, kota Sendai, Prefektur Miyagi, mengisahkan bahwa perusahaannya saat itu bertekad tetap menerbitkan koran sehari setelah tsunami 11 Maret 2011. Mereka memegang prinsip bahwa hanya media yang bisa memberikan informasi akurat untuk masyarakat.

”Meski kondisi sulit, kami bisa mengantar koran ke tangan pelanggan dan diantar ke rumah-rumah pembaca pada esok hari setelah tsunami. Yang membahagiakan, begitu pelanggan kami menerima koran, mereka menangis.

Selain membaca kondisi sebenarnya akan bencana saat itu, mereka juga merasa, mereka pun harus bisa bangkit. Sebab, saat itu kami tetap bisa menerbitkan berita. Padahal, kondisi kami juga sulit,” kata Shinichi Takeda.

Mereka tetap bisa mencetak koran karena sudah memiliki sistem untuk bisa mencetak dan menerbitkan koran di perusahaan penerbitan/koran lokal lainnya. Kahoku Shimpo saat itu mencetak pada salah satu koran lokal lain di Prefektur Niigata.

Bagaimana bisa sebuah koran mencetak di koran lain yang notabene adalah ”lawannya”? Buktinya bisa. Persisnya, setahun sebelum tsunami, Kahoku Shimpo sudah bekerja sama dengan koran di Prefektur Niigata.

Kerja sama itu dibuat setahun sebelum tsunami, dan sebulan sebelum tsunami, mereka sudah saling mengirim penanggung jawab kerja sama dan melakukan uji coba.

Dan, sejak saat itu, Kahoku Shimpo terus memberitakan soal dampak gempa, upaya pemulihan pascabencana, dan tetap mengingat momen tragedi setiap tanggal 11 Maret itu. ”Kami akan terus memberitakan peringatan tsunami.

Mungkin setelah 10 tahun mulai banyak orang tidak akan tertarik lagi dengan berita tsunami. Jadi, sebelum orang-orang melupakan bencana tsunami itu, kami melakukan hal-hal agar orang tidak pernah melupakannya,” kata Takeda.

Tindakan
Selain memberitakan tentang dampak tsunami (selama bertahun-tahun setelah bencana terjadi), Takeda menyebut ada tiga tindakan.

Pertama, Kahoku Shimpo melakukan Musubi-Juku, yaitu menggelar workshop mitigasi bencana dengan berpindah-pindah daerah, terutama daerah rawan bencana, termasuk di luar negeri. Hal itu dilakukan mulai Mei 2012.

Dalam workshop ke daerah itu, Kahoku Shimpo mengajak pakar mitigasi bencana dari kampus, sekolah, masyarakat, dan berbagai elemen masyarakat. Jumlah peserta 10 orang. Disebut workshop karena acara itu bukan sekadar diskusi, melainkan juga pelatihan kesiagaan bencana, misalnya pelatihan evakuasi.

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI–Shinsuke Okada, asisten profesor di International Research Institute of Disaster Science Tohoku University, menunjukkan permainan dan model sosialisasi untuk mitigasi bencana yang dibuat.

”Kami membuatkan tulisan khusus agar masyarakat selalu ingat dampak gempa dan tsunami saat itu sungguh dahsyat,” katanya. Menariknya, model berbagi pengalaman bencana ini juga sudah dilakukan oleh Takeda di Banda Aceh tahun 2013.

Kahoku Shimpo mengalokasikan dana 3 juta yen setahun untuk mendanai program tersebut. Dana itu, menurut Takeda, dinilai tidak besar jika dibandingkan dengan pengeluaran untuk kebutuhan lain dalam penerbitan koran.

Hal kedua yang dilakukan adalah membangun diskusi meja bundar tentang bencana. Kegiatan ini bertujuan membangun koordinasi lintas lembaga, baik itu pemerintah, kampus, media massa, maupun masyarakat, dalam hal mitigasi bencana. Hal itu dilakukan sejak 2015.

Di sini, anggaran dana diusung bersama-sama antara pemerintah, kampus, dan media. Hingga saat ini sudah ada 90 kelompok masyarakat atau organisasi dan sekitar 180 orang tergabung dalam kegiatan itu.

Adapun hal ketiga adalah Jisedai-Juku, yaitu mengajak anak-anak muda untuk mengenali bencana dengan seminar ataupun aksi bersama dalam mitigasi bencana. Kegiatan itu dilakukan mulai April 2017.

”Sudah ada 130 pelajar mengikuti kuliah ataupun penjelasan kami. Tujuannya adalah melatih mereka terbiasa dengan mitigasi bencana dan mengingatkan dampak bencana pada memori mereka,” kata Takeda.

Tidak berguna
Kenapa Kahoku Shimpo sangat getol membangun upaya mitigasi bencana? Toh, mereka (hanya) media massa. Jawabnya adalah bahwa sebenarnya Kahoku Shimpo merasa terpuruk saat tsunami 2011 terjadi.

Saat itu, ada 20.000 orang di wilayah sebaran koran Kahoku Shimpo menjadi korban. Sebagai koran lokal yang memiliki ikatan dan kedekatan dengan pembacanya, Kahoku Shimpo merasa tidak mampu mengajak, mengajarkan, dan mencegah jatuhnya korban jiwa akibat bencana.

Perasaan terpuruk itu diperkuat dengan sebuah survei sebulan setelah bencana. Kahoku Shimpo membuat survei terhadap para korban bencana tsunami. Satu pertanyaan survei adalah menanyakan apakah tulisan dan pemberitaan Kahoku Shimpo selama ini berguna untuk kewaspadaan bencana.

”Saat itu, jawaban masyarakat sungguh mengejutkan. Sebanyak 72 persen mengaku pemberitaan itu tidak berguna. Itu sungguh membuat kami merasa sama sekali tidak berguna,” kata Takeda.

Sejak saat itu, Takeda mengatakan, Kahoku Shimpo tidak hanya menulis, tetapi juga memilih melakukan hal-hal lebih jauh dalam terkait dengan mitigasi bencana. Caranya dengan membuat tiga program tersebut di atas.

Lalu, apakah semua koran bisa? Bagi Takeda, semua bisa asalkan memiliki niat. ”Untuk koran nasional, misalnya, memang tidak semudah kami yang koran lokal dalam menggandeng masyarakat. Namun, tetap bisa dilakukan dengan bekerja sama dengan koran lokal. Menurut saya, lakukan saja,” kata Takeda.

Media elektronik di Jepang pun mengambil peran dalam penanganan bencana. Stasiun televisi PT Higashi Nippon Broadcasting (KHB), sebuah televisi lokal di Sendai, menceritakan bahwa hingga tujuh tahun seusai bencana tsunami mereka masih terus memberitakan tentang dampak tsunami 2011.

Selain meliputnya sebagai berita biasa, KHB juga membuat liputan paket khusus, misalnya program siaran berjudul ”Hari Ini 5 Tahun Lalu”. Program itu membandingkan progres pemulihan Sendai setiap tahunnya sejak tsunami 2011.

”Kami akan terus memberitakannya agar anak-anak kami nanti paham betapa dampak tsunami sungguh luar biasa,” kata Junya Sato, Departemen Pemberitaan KHB.

Ada hal menarik diungkapkan Sato terkait dengan pemberitaan televisi saat tsunami 2011. Di tengah-tengah siaran langsung tsunami, nyaris tidak ada iklan komersial berseliweran di televisi.

”Ini bukan karena televisi menghentikan iklan, melainkan memang perusahaan-perusahaan meminta iklannya tak disiarkan dahulu. Gantinya akan disiarkan iklan layanan masyarakat soal proses evakuasi, lokasi-lokasi aman, dan imbauan penanganan bencana,” kata Sato. Bisakah media di Indonesia melakukannya?–DAHLIA IRAWATI

Sumber: Kompas, 27 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: