Home / Berita / Masyarakat Mentawai dan Padang Disiapkan Hadapi Tsunami

Masyarakat Mentawai dan Padang Disiapkan Hadapi Tsunami

Zona patahan raksasa di segmen Mentawai bisa sewaktu-waktu melepas gempa bumi berkekuatan hingga M 8,8 diikuti tsunami besar. Masyarakat di Kabupaten Kepulauan Mentawai dan Kota Padang, Sumatera Barat dituntut bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Dengan kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, jumlah korban dan dampak bencana bisa dikurangi.

“Gempa-gempa pada tanggal 2 dan 5 Februari lalu memang mengkhawatirkan karena terjadi di batas utara dan selatan segmen megathrust (patahan raksasa) Mentawai yang sudah lama menyimpan energi. Segmen patahan ini bisa runtuh sewaktu-waktu dan memicu gempa bumi besar yang berpotensi tsunami,” kata ahli gempa bumi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman Natawidjaja dalam Rapat Koordinasi Mitigasi dan Penanganan Gempa dan Tsunami di Provinsi Sumatera Barat di Padang, Rabu (6/2/2019).

KOMPAS/AHMAD ARIF–Aktivitas kegempaan di segmen megathrust Mentawai dikhawatirkan mendekati siklus gempa besar yang berpotensi tsunami. Kondisi Kota Padang, Rabu (6/2/2019), hampir dua pertiga atau sekitar 618.000 warga kota ini tinggal di kawasan pesisir yang rentan terdampak tsunami.

Rapat diikuti Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati, Gubernur Sumbar Irwan Prayitno dan wakilnya Nasrul Abit, Bupati Mentawai Yudas Sabbagalet, serta pihak-pihak terkait lainnya termasuk pakar kebencanaan.

Setelah pertemuan di Padang, rombongan kemudian ke Tuapejat, Ibukota Kabupaten Mentawai untuk menggelar pertemuan yang juga diikuti puluhan perwakilan masyarakat.

Menurut Danny, di segmen Mentawai ini pernah terjadi gempa berkekuatan M 7,9 pada tahun 2007 dan M 7,8 pada 2010. Namun demikian, saat itu yang lepas energinya baru sebagian kecil.

Sekitar dua pertiga segmen ini belum runtuh dan potensi gempanya bisa mencapai M 8,8 jika dihitung dari energi yang tersimpan selama 222 tahun sejak gempa besar terakhir pada tahun 1797 dikurangi dengan energi yang dilepaskan saat gempa tahun 2007 dan 2010.

“Sebelum 2007 dan 2010, potensi gempanya bisa mencapai M 9. Kita berharap, gempa berikutnya tidak dilepas sekaligus, tetapi harus juga diwaspadai kemungkinan terburuk,” kata dia.

Danny telah meneliti perulangan gempa bumi di zona subduksi Mentawai ini untuk disertasinya sejak tahun 2000-an. Pada tahun 2003 dia telah menyampaikan ancaman gempa dan tsunami dari Mentawai ini.

“Sampai sekarang gempa bumi belum bisa diprediksi kapan terjadinya, namun melihat perkembangan kegempaan terakhir kita harus bersiap, bisa hari-hari ini, tapi bisa juga bertahun-tahun lagi. Skala umur geologi berbeda dengan umur manusia,” kata dia.

Dwikorita mengatakan, saat ini ada delapan zona bahaya (gempabumi) di Indonesia yang perlu diwaspadai karena menyimpan energi besar. “Mentawai termasuk di dalamnya, bahkan dijadikan nomor satu. Terus terang, itu menjadi fokus prioritas pertama kami karena sudah saatnya pecah energinya, sekitar tahun-tahun ini. Di Sulawesi juga masih banyak titik, tetapi sudah lepas sebagian,” kata Dwikorita.

Menurut data BMKG, selama Februai ini sudah terjadi 115 kali gempa di sekitar Mentawai. Dari seluruh kejadian gempa itu, ada dua yang berkekuatan magnitudo di atas 6 dan tiga lagi hampir bermagnitudo 6.

Ancaman tsunami
Doni Monardo mengatakan, data-data kegempaan dan kajian para pakar ini menjadi perhatian serius. “Seluruh komponen masyarakat harus saling membantu dan melengkapi dan fokus untuk mengurangi risiko bencana sebagaimana telah diperintahkan Presiden,” kata Doni.

Menurut Doni, melarang masyarakat untuk membangun di kawasan pesisir memang sulit dilakukan. Oleh karena itu, yang bisa dilakukan adalah bagaimana mengingatkan masyarakat untuk lebih siap misalnya dengan memiliki bangunan tahan gempa dan bisa segera evakuasi jika terjadi gempa kuat.

“Jangan tunggu alat, jangan tunggu sirine karena bisa jadi gagal berjalan. Masyarakat harus segera evakuasi jika merasakan guncangan yang kuat,” kata dia.

Dengan kondisi pesisir yang landai, gelombang tsunami yang tingginya lebih dari 10 meter bisa masuk ke Padang lebih dari 2,5 kilometer. “Jadi, masyarakat yang tinggal sejauh 2,5 kilometer dari pantai harus diberitahu terkait hal ini,” kata Doni.

Selain itu, kata Doni, infrastruktur penting seperti Bandara Internasional Minangkabau harus mendapat perhatian khusus. Apalagi posisinya yang berada sangat dekat dengan kawasan pantai.

Walikota Padang Mahyeldi mengatakan, hampir dua pertiga atau sekitar 618.000 warga Padang tinggal di kawasan pesisir yang rentan terdampak tsunami. Oleh karena itu, mitigasi menjadi salah satu perhatian mereka.

Bupati Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet mengatakan, masyarakat Mentawai saat ini sudah jauh lebih siap. Setiap kali terjadi gempa, mereka sudah terbiasa evakuasi ke bukit.

“Sekarang, program yang kami lakukan memang mendorong agar masyarakat pindah ke tempat yang lebih tinggi. Sebagian sudah mulai pindah karena adanya program Trans Mentawai. Dari 53 desa, ada sekitar 26 desa di kawasan pesisir dan 10 yang paling rawan di Siberut Utara, Siberut Barat, dan Pagai Utara,” kata Yudas.

Kajian peneliti tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjo Kongko menyebutkan, gelombang tsunami bisa tiba di daratan Kepulauan Mentawai dalam hitungan kurang dari lima menit, sedangkan di Padang sekitar 20 menit.

“Dari pemodelan kami sebelumnya, tsunami bisa tiba di Padang tanpa didahului surut dulu karena saat gempa pesisir Kota Padang akan mengalami penurunan tanah 1,5 meter sehingga bisa langsung terendam air laut,” kata dia.

Oleh AHMAD ARIF / ISMAIL ZAKARIA

Sumber: Kompas, 7 Februari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: