Home / Berita / Mangrove yang Hilang di Mempawah

Mangrove yang Hilang di Mempawah

Seusai mengikuti upacara memperingati Hari Sumpah Pemuda di sekolahnya, SMK Negeri 1 Mempawah Hilir, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Ziky Zulkarnain (18), sibuk berjalan kian kemari sambil menenteng kamera. Dia turut mempersiapkan banyak hal menjelang dimulainya acara ”Mangrovestasi 2014” pada 27-28 Oktober 2014 di Mempawah.

Tak cuma Ziky, siswa kelas XII jurusan Multimedia itu yang sibuk, ada pula di antaranya Apriliyanti (16), siswa kelas XI jurusan Administrasi Perkantoran dan Syarif Rahmat Fadila (17), siswa kelas XII jurusan Multimedia. Mereka hanya sebagian dari 270 siswa dari enam sekolah di Mempawah yang melakukan penanaman mangrove secara simbolis di Desa Penibung.

Meskipun tinggal di kawasan pesisir, sebagian besar siswa yang berasal dari SMKN 1 Mempawah Hilir, SMAN 1 Mempawah Hilir, SMAN 2 Mempawah Hilir, SMAN 1 Siantan, SMKN 1 Mempawah Timur, dan SMA Muhammadiyah Mempawah itu, belum pernah menanam mangrove. Bahkan sebagian dari mereka tak tahu manfaat mangrove.

Oleh karena itulah, mereka begitu bersemangat saat mengambil bibit-bibit mangrove untuk ditanam di tepi pantai. ”Lebih asyik lagi karena kami menanamnya beramai-ramai dengan teman,” kata Ziky sambil mengingatkan teman-temannya untuk mengumpulkan polybag di kantong besar yang telah disediakan.

Jadilah suasana penuh canda mewarnai penanaman mangrove pada pagi itu. Sebagian siswa yang ragu-ragu melangkah ke lumpur, didorong teman-temannya. Siswa yang sudah menanam pun meminta lagi bibit mangrove dari teman di daratan. Lalu, sambil mengambil bibit mangrove, sebagian dari mereka menarik tangan temannya untuk masuk ke lumpur.

Suasana pun riuh di antara canda dan omelan mereka. Meski lumpur membuat mereka sulit berjalan, sebagian siswa justru menantang teman-temannya untuk menanam mangrove lebih jauh dari bibir pantai, persis di belakang tumpukan batu pemecah ombak.

”Saya harus mengingatkan mereka agar berhati-hati,” kata Rizki, guru Geografi SMAN 1 Mempawah Hilir, yang mendampingi muridnya. Bahkan Rudi Darmadi, guru SMAN 1 Siantan, ikut terjun ke lumpur menanam mangrove.

Duta lingkungan
Mayoritas siswa di Kabupaten Mempawah belum bersinggungan langsung dengan pelestarian lingkungan, tetapi di beberapa sekolah kesadaran untuk ikut menjaga lingkungan sudah terwujud. Abdul Fattah, Kepala SMKN 1 Mempawah Hilir misalnya, memasukkan cinta lingkungan sebagai salah satu unsur pendidikan karakter siswa.

Di sini dikembangkan green school dan dipilih beberapa siswa sebagai Duta Lingkungan. Andi Sholihin (19), siswa kelas XII jurusan Multimedia salah satunya. ”Waktu tetangga membakar sampah, kami mengobrol. Salah satu topiknya tentang keburukan dari dampak membakar sampah,” kata Andi tentang upayanya menularkan rasa cinta lingkungan.

Sementara di SMAN 1 Mempawah Hilir dan SMAN 1 Siantan, rasa cinta siswa pada lingkungan antara lain dikembangkan lewat ekskul Pencinta Alam. Niluh Dewi (17), siswa kelas XII IPA SMAN 1 Mempawah Hilir yang juga menjadi Duta Lingkungan misalnya, setiap Jumat mengajak teman-temannya membersihkan area sekitar sekolah.

Penanaman mangrove di PontianakKompas/Chris Pudjiastuti (CP)Kompas MudaAdapun Rudi mengajak sekitar 50-an siswa Pencinta Alam dari 583 murid SMAN 1 Siantan menanam bakau di kawasan Bakau Kecil dan Penibung, bekerja sama dengan Mempawah Mangrove Conservation (MMC), dan menanam bibit pohon tanjung.

”Untuk menumbuhkan rasa cinta bahari siswa, kami pergi ke Pulau Kabung, Kabupaten Bengkayang. Anak-anak saya ajak snorkeling,” lanjutnya.

H Syahrizal, Kepala Badan Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana Daerah (BLHPBD) Kabupaten Mempawah menambahkan, ”Hidup kita harus seimbang. Kalau kita mengambil sesuatu dari alam, berarti wajib memberi sesuatu pula untuk lingkungan.”

Dia juga mengingatkan agar siswa tak hanya peduli lingkungan dengan sekali menanam mangrove. Sebab, kepedulian mereka pada lingkungan kini akan membuahkan kualitas kehidupan yang lebih baik di masa depan. ”Kita sendiri yang akan menikmatinya.”

Ayo peduli
Raja Fajar Azansyah, Ketua MMC yang juga bekerja di BLHPBD Kabupaten Mempawah, pada acara ”Mangrovestasi 2014” yang diadakan Kompas MuDA dan BRI Peduli di Mempawah ini, menjadi salah satu ”motornya”.

Fajar, panggilannya, berbagi pengetahuan tentang manfaat mangrove bagi kehidupan manusia. Misalnya, sebagai penyaring polutan dan sumber makanan bagi biota laut. Dia juga mengingatkan, abrasi terjadi setiap hari.

Itulah mengapa mangrove penting, karena menjadi ”penghubung” antara daratan dan laut. ”Ada sekitar 65 jenis mangrove. Jenis mangrove yang banyak ditanam di sini adalah avicennia, sonneratia, dan rhizophora,” katanya.

Dia mengajak siswa untuk mengubah cara pandang masyarakat terhadap mangrove. ”Saya berharap anak muda bisa lebih terbuka wawasannya, mau melihat kenyataan rusaknya lingkungan pesisir dan semakin terkikisnya daratan kita,” ujar Fajar.

Sejak mendirikan MMC tahun 2011 dan mengajak warga menanam dan menjaga mangrove, dia menghadapi mayoritas orang tua di Mempawah tak peduli terhadap lingkungan. Mereka menganggap penanaman mangrove sekadar proyek.

Oleh karena itulah, sejak 2012 Fajar lebih memfokuskan upaya penanaman mangrove di kalangan siswa SMA dan sederajat. Dia mendekati pihak sekolah untuk bersama-sama mengedukasi siswa akan pentingnya mangrove. ”Dalam setahun kami menanam 10.000 bibit mangrove,” ujarnya. (CP)

Sumber: Kompas, 31 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pandemi Menggerakkan Kerja-kerja Penelitian

Pandemi Covid-19 mendorong geliat riset di kalangan ilmuwan. Bermacam disiplin ilmu kini tengah berupaya memecahkan ...

%d blogger menyukai ini: