Home / Berita / Manfaatkan Limbah untuk Berdayakan Industri Pengecoran

Manfaatkan Limbah untuk Berdayakan Industri Pengecoran

Industri pengecoran logam skala kecil dan menengah terancam gulung tikar karena ketiadaan bahan baku dengan harga terjangkau. Masalah ITU dapat diatasi dengan memanfaatkan limbah komponen aluminium dari produk otomotif.

Inovasi telah dihasilkan untuk mengolah limbah tersebut yaitu dengan teknik proses sederhana, relatif murah, dan ramah lingkungan. Karena itulah metode pengecoran yang baru ini memungkinkan diaplikasikan industri mikro dan kecil pengecoran logam.

Hal ini disampaikan Prof Wahyono Suprapto, pakar pengecoran logam dari Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, Kamis (31/1/2019). Hasil riset itu disampaikan dalam pidato pengukuhannya sebagai gurubesar di Universitas Brawijaya, Malang, Rabu (30/1/2019). Pidatonya berjudul “Prospektif Pengecoran Aluminium Usaha Mikro di Era Industri 4.0”.

KOMPAS–Pekerja mempersiapkan logam cair yang telah mendidih sebelum dimasukkan ke dalam cetakan di Koperasi Industri Pengecoran Logam Batur Jaya di Dusun Batur, Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Ceper, Kabuptan Klaten, Jawa Tengah, Selasa (23/8/2011). Setiap hari industri pengecoran logam tersebut mampu membuat 400 blok rem kereta api pesenan PT KAI.Kompas/Totok Wijayanto (TOK)Malang, Kompas

Selain Wahyono Suprapto (63), Senat Akademik UB yang dipimpin Prof Arifin juga mengukuhkan Prof Elok Zubaidah MP (59), sebagai guru besar dalam bidang ilmu mikrobiologi dan pangan fermentasi. Acara itu dihadiri Rektor UB Nuhfil Hanani.

Pada pengecoran limbah aluminium, lanjut Wahyono, inovasi yang dihasilkan adalah pada pembuatan tungku induksi skala kecil dan teknik pengecoran menggunakan bahan coran semi-cair (atau padat-cair). Dua temuan ini berpotensi paten, karena itu akan terus dikembangkan hingga ke tahap aplikasi di industri.

Hal ini sesuai dengan harapan Nuhril. “Peneliti harus mampu menciptakan inovasi yang layak dijual dan memberikan pemasukan bagi lembaga,” ujarnya.

Wahyono pun berkeyakinan inovasinya memiliki prospek ekonomi yang baik untuk memberdayakan industri mikro, kecil dan menengah. “Industri kecil memungkinkan mengaplikasikan inovasi ini. Karena biaya tungku pengecoran ini relatif lebih murah dan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan cara konvensional,” katanya.

Pada proses metalografi tersebut, energi yang digunakan lebih rendah dibandingkan harus mencairkan seluruh material limbah aluminium sebelum dicor. Daya listrik yang digunakan 15 kilowatt perkilogram. Sementara sistem yang baru hanya memerlukan daya 0,5 kilowatt perkilogam. “Dengan demikian penghematan biaya energi dapat mencapai 90 persen,” urai Wahyono.

Dengan meningkatkan efisiensi energi tersebut dan menggunakan bahan baku dari limbah yang relatif lebih murah dibandingkan bahan baku yang tersedia dipasaran, maka biaya pengecoran jadi lebih murah.

Kelebihan lain dari teknik proses ini adalah dapat menekan polusi hingga 40 persen, karena proses pembakarannya lebih singkat. Selain itu dapat mereduksi penumpukan limbah barang otomotif seperti sepeda motor dan mobil yang mencemari lingkungan.

Jumlah limbah komponen almunium dari kendaraan bermotor yang telah menjadi barang rongsokan tergolong banyak sejalan dengan kenaikan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia. Jumlah sepeda motor mengalami kenaikan hingga 12 persen per tahun. Kini, jumlah sepeda motor menurut Badan Pusat Statistik lebih dari 105 juta unit.

Kemitraan
Pengembangan teknik proses ini lebih lanjut di industri diperlukan untuk menghasilkan produk jadi yang memenuhi standar nasional bahkan internasional. Itu memerlukan kemitraan antara peneliti yang menguasai saintifik dan praktisi di industri yang menguasai masalah eksperimen atau teknologi terapan.

Wahyono berharap inovasi pengecoran logam dapat terus dikembangkan di Laboratorium Pengecoran Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik UB. Laboratorium ini dalam lima tahun kedepan dapat menjadi Pusat Informasi Pengecoran Aluminium untuk pembuatan komponen otomotif di kawasan timur Indonesia.

Untuk itu laboratorium pengecoran ini perlu bekerjasama dengan berbagai pihak terutama UMKM (usaha mikro, kecil dan menengah), dalam memberikan pelatihan. Pemerintah perlu mendukung program pelatihan dan sertifikasi proses dan produk. (YUN)

Oleh YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas,31 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: