Mahasiswa Teliti Pengembangan Pariwisata Taman Nasional

- Editor

Rabu, 9 Desember 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Taman Nasional di Indonesia berpotensi dikembangkan menjadi kawasan wisata alam minat khusus karena memiliki keindahan alam serta kekayaan plasma nutfah dan karakter alam yang unik. Namun, selama ini pengembangan kawasan taman nasional justru lebih banyak dilakukan orang asing. Minimnya pengetahuan masyarakat lokal tentang industri jasa pariwisata menjadi salah satu penyebabnya.

Pengembangan wisata minat khusus di kawasan taman nasional penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang tinggal di sekitar taman nasional. Dengan memiliki pendapatan tambahan, masyarakat diharapkan tidak akan lagi merambah hutan.

Sebagian desa di sekitar taman nasional sudah mencoba untuk mengembangkan pariwisata di desanya. Dengan cara itu diharapkan sebagian penduduk bisa beralih profesi menjadi penyedia jasa pariwisata untuk wisatawan yang ingin melakukan kegiatan di sekitar taman nasional. Sayangnya, pengelolaan desa wisata belum optimal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kondisi itu merupakan kesimpulan dari hasil penelitian mahasiswa Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB) yang dibahas dalam diskusi bertema “National Park Into Deep, Managing, Marketing and Developing” di Bandung, Selasa (8/12).

Tahun ini sekolah tinggi tersebut menerjunkan 27 mahasiswa ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung yang terletak di Kabupaten Maros serta Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Provinsi Sulawesi Selatan, Taman Nasional Danau Sentarum serta Taman Nasional Betung Kerihun di Kalimantan Barat.

6a3c873ff1e64393983cf2a90f07970cKOMPAS/LUSIANA INDRIASARI–Pameran dalam rangka seminar riset dasar taman nasional di Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung, Selasa (8/12). Para mahasiswa diterjunkan untuk meneliti kondisi desa-desa wisata di sekitar sejumlah taman nasional sebagai antisipasi pengembangan wisata alam taman nasional di Indonesia.

Penelitian tersebut untuk melihat bagaimana kondisi masyarakat di sekitar taman nasional berikut upaya mereka untuk menyediakan jasa serta mengelola pariwisata. “Kesadaran tentang pariwisata mendorong masyarakat untuk semakin melestarikan alam karena mereka sadar betul bahwa kelestarian alam inilah yang bisa mendatangkan pemasukan,” kata Angga Prathama dari World Wildlife Fund (WWF) Indonesia yang menjadi pembicara di acara diskusi tersebut.

Keindahan alam di kawasan taman nasional bisa dikelola menjadi kegiatan luar ruang serta wisata edukasi yang menarik tanpa harus mengabaikan kelestarian alam. Danau Sentarum yang menjadi hulu Sungai Kapuas, misalnya, memiliki karakter unik di mana danau ini akan berubah menjadi padang sabana saat musim kemarau tiba. Saat musim hujan, cekungan danau akan terisi penuh air dengan kedalaman hingga 12 meter.

“Karakter pasang surut ini yang membuat para peneliti asing serta wisatawan dari luar datang ke Sentarum,” kata Teguh Hartono dari Bogor Eco and Sustainable Tourism yang juga menjadi pendamping penelitian para mahasiswa STPB.

Masing-masing taman nasional memiliki daya tarik bervariasi. Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung memiliki bentang alam yang unik dan langka seperti kawasan karst gua prasejarah dengan lukisan gua berusia ribuan tahun. Masih ada lagi hewan-hewan endemik yang hanya ditemukan di tempat tersebut.

Mahasiswa diterjunkan ke desa-desa wisata yang ada di sekitar taman nasional. Salah satu desa yang menjadi lokasi penelitian adalah Desa Menua Sadap di dekat Taman Nasional Betung Kerihun dan Desa Wisata Melemba di Taman Nasional Danau Sentarum.

Meski kedua desa tersebut sudah dicanangkan sebagai desa wisata, kenyataannya kedua desa itu masih kurang promosi. Wisatawan juga dikelola perorangan tanpa terintegrasi dengan fasilitas lain.

Mengantisipasi
Beta Budisetyorini, pembimbing mahasiswa dari STPB, mengatakan, taman nasional menjadi tema penelitian kali ini karena melihat kawasan taman nasional mulai banyak dikunjungi wisatawan. Era internet menjadikan taman nasional di Indonesia mulai dikenal luas sehingga ke depannya dibutuhkan pengelolaan dengan baik.

Felix Feitsma, dosen di STPB serta pemandu wisata yang sudah masuk keluar semua wilayah taman nasional di Indonesia, mengatakan, kedatangan wisatawan serta pengunjung dari pemerintahan, lembaga swadaya masyarakat atau lembaga penelitian sebaiknya tidak mengabaikan keberadaan dan kearifan masyarakat setempat. Selama berkunjung ke sejumlah taman nasional dan berbaur dengan penduduk, Felix menemukan keluhan yang sama dari masyarakat lokal.

“Mereka merasa dilangkahi. Tiba-tiba banyak orang datang dengan membawa aturan ini itu tanpa mengajak bicara masyarakat sekitar. Orang luar yang butuh pariwisata dan mereka menjadi korban,” kata Felix. Pengelolaan pariwisata di taman nasional, menurut Felix, sebisa mungkin memasukkan unsur-unsur adat setempat dalam pengembangannya.

LUSIANA INDRIASARI

Sumber: Kompas Siang | 9 Desember 2015

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 18 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB