Mahasiswa Papua Berjuang Mewujudkan Mimpi

- Editor

Senin, 30 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kelulusan empat mahasiswa asal Papua dan Papua Barat yang mengikuti Program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (Adik) di Universitas Haluoleo, Kendari, Sulawesi Tenggara, awal bulan ini, melegakan pemerintah. Ibarat menanam pohon, program itu telah menghasilkan buah yang menggembirakan.

Betapa tidak, pada tahap awal, ada mahasiswa Program Adik yang memilih pulang karena tak bisa beradaptasi, termasuk pula karena tidak tahan dengan beasiswa yang pencairannya tidak teratur. Ada mahasiswa yang sakit, bahkan meninggal, gara-gara kurang makan. Ada pula mahasiswa yang memiliki indeks prestasi kumulatif (IPK) di bawah standar.

Adik Diintegrasikan dengan Adem
Andi Ilham Mahmud, Pengelola Program Beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (Adik), mengatakan, perbaikan seleksi terus dilakukan agar terpilih peserta yang siap untuk kuliah. Bahkan, Program Adik juga mulai diintegrasikan dengan Afirmasi Pendidikan Menengah (Adem) yang merekrut lulusan SMP untuk melanjutkan sekolah di SMA/SMK favorit, terutama di Pulau Jawa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Andi, mahasiswa program Adik perlu dibantu, terutama untuk kesiapan mental menghadapi tantangan perkuliahan. Sistem pendidikan di Papua yang belum bagus membuat mereka tertinggal daripada rekan-rekan lainnya.

”Mustahil kalau mereka dikompetisikan secara sama dengan yang lain untuk bisa masuk PTN. Di sinilah pemerintah hadir. Ada aturan-aturan di PT yang terpaksa dikesampingkan dulu. Contohnya, mereka yang IPK 1,5 mestinya drop out, ini dibantu untuk bisa memperbaiki secara optimal,” kata Andi.

Program Adik, seperti halnya Bidikmisi, membuat mereka yang tidak pernah bermimpi sekarang bisa memiliki bekal untuk sukses. Ketika nanti pendidikan tinggi di tanah Papua memiliki kualitas yang setara dengan daerah lain, program afirmasi tidak lagi dibutuhkan.

(ELN)

”Hal ini menjadi inspirasi bagi yang lain bahwa mimpi bisa diwujudkan dengan keinginan dan kerja keras. Anak-anak Papua sama potensinya dengan anak-anak lain,” kata Intan Ahmad, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Intan ikut mewisuda lulusan Program Adik di Universitas Haluoleo, 4 Mei.

Saat wisuda berlangsung, wajah peserta program Adik, Yulius Gobai (25), asal Kabupaten Paniai, Papua, memancarkan kebahagiaan. Perjuangan hidupnya sebagai anak yatim piatu untuk mengubah nasib lewat pendidikan mulai membuahkan hasil. Ia sempat harus menahan lapar karena pencairan uang beasiswa sering terlambat. ”Saya mau mengabdikan ilmu untuk kemajuan Papua,” ujar alumnus Fakultas Teknik Universitas Haluoleo dengan IPK 2,76 itu.

Stevanus Obagame, lulusan Administrasi Publik dengan IPK 3,5, juga menjalani perjuangan yang berat. Saat tidak memiliki uang, Stevanus bertahan dengan makan ubi kayu dan pisang yang diperolehnya di sekitar perumahan dosen.

Program Adik diperuntukkan bagi lulusan SMA sederajat dari Papua, Papua Barat, serta daerah terluar, tertinggal, dan terdepan (3T) yang telah lulus satuan pendidikan dan memiliki potensi akademik baik. Hingga 2016, ada 4.151 mahasiswa yang menerima bantuan Program Adik. Mereka masing-masing menerima bantuan Rp 1,4 juta per bulan.(ELN)
———
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 30 Mei 2016, di halaman 12 dengan judul “Mahasiswa Papua Berjuang Mewujudkan Mimpi”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 2 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB