Home / Berita / Lulusan Sekolah Kejuruan Mesti Siap Bersaing secara Global

Lulusan Sekolah Kejuruan Mesti Siap Bersaing secara Global

Lulusan sekolah menengah kejuruan, terutama yang telah mendapat program revitalisasi pendidikan vokasi, mesti mampu bersaing di dunia internasional. Mereka telah melalui proses pembelajaran berorientasi penuh pada produksi dan bisnis dengan 70 persen kurikulum disusun kalangan industri.

Revitalisasi sekolah kejuruan ini implementasi dari Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang revitalisasi sekolah menengah kejuruan di Indonesia.

”Inpres Nomor 9 Tahun 2016 mempercepat kemitraan para siswa di SMK dengan kebutuhan kalangan industri. Mereka tidak bisa lagi menyusun kurikulum tanpa memperhitungkan kebutuhan industri. Program ini belum merata, lainnya harus sabar karena jumlah SMK di Nusantara sebanyak 13.000 sekolah,” kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy, Jumat (4/1/2019) sore ketika meninjau SMK Negeri 6 dan SMK Negeri 7 Kota Semarang, Jawa Tengah.

KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO–Mendikbud Muhadjir Effendy (mengenakan peci) disambut Kepala SMK Negeri 6 Kota Semarang Ummi Rosydana, Jumat (4/1/2019). Kehadiran Mendikbud untuk meninjau sejumlah SMK yang telah mendapat program revitalisasi pendidikan vokasi.

Pada kesempatan itu, Muhadjir disambut para siswa tingkat akhir yang mahir memeragakan keahlian di sejumlah laboratorium sebagai ruang praktikum. Selain itu, hadir pula para pimpinan perusahaan ataupun perhotelan yang menjadi mitra pendukung SMK.

Muhadjir mengatakan, ada lima jurusan di SMK yang menjadi fokus program revitalisasi, yakni pariwisata termasuk perhotelan, maritim, pertanian, industri kelautan, dan ekonomi kreatif. Dalam program revitalisasi ini, setiap sekolah memperoleh bantuan dana Rp 7,5 miliar pada 2018.

KOMPAS/WINARTO HERUSANSONO–Para siswa-siswi jurusan perhotelan di SMK Negeri 6 Kota Semarang memeragakan praktik menata kamar hotel di hotel laboratorium milik sekolah.

Dana tersebut difokuskan untuk revitalisasi sarana dan prasarana penunjang praktikum siswa kejuruan. Mulai dari perbaikan fasilitas ruang laboratorium, prasarana penunjang, peningkatan kurikulum, hingga membangun jaringan dengan kalangan industri ataupun bisnis.

”Program revitalisasi praktis berjalan sejak akhir 2016 dan ternyata dampaknya sangat baik bagi peningkatan keahlian ataupun keterampilan alumni sekolah kejuruan. Ini akan menepis anggapan alumni sekolah kejuruan menganggur atau bekerja tidak sesuai keahlian. Mereka bisa saja tidak menjadi karyawan, tapi menciptakan peluang kerja sesuai keterampilan,” ujar Muhadjir.

Muhadjir berharap, sekolah kejuruan yang sudah mampu mandiri sebaiknya difasilitasi oleh gubernur untuk membentuk Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). Misalnya SMKN 6 Kota Semarang yang telah memiliki hotel berkamar 16 unit ini sebaiknya memiliki BLUD agar bisa beroperasi untuk umum.

Harapannya, pengelolaannya dapat lebih profesional dan menerima tamu dari luar. Hasil dari kegiatan hotel dapat menambah pembiayaan peningkatan keterampilan para siswa.

Peningkatan kualitas
Kepala SMKN 6 Kota Semarang Ummi Rosydiana menuturkan, melalui bantuan dana program revitalisasi, pihaknya meningkatkan kualitas hotel yang sekaligus laboratorium sekolah dengan jurusan perhotelan, tata boga, tata busana, dan kecantikan tersebut. Semula, hotel untuk praktikum para siswa itu memiliki 19 kamar, kini telah diubah menjadi hanya 16 kamar, tetapi dengan desain interior dan kelengkapan setara hotel bintang dua.

Dari 1.264 siswa alumni jurusan perhotelan, sekitar 94 persen lulusannya langsung terserap oleh industri perhotelan di Kota Semarang, sekitar Jawa Tengah dan bahkan di luar provinsi. Para siswa ini juga diberi kesempatan magang selama 6 bulan dalam dua periode di hotel-hotel berbintang untuk meningkatkan keterampilan secara langsung.

Sejumlah siswa-siswi mengaku belajar banyak terkait manajemen perhotelan. Mulai dari penyediaan menu makanan di hotel, penataan kamar, sampai kebersihan. Setiap siswa berlatih menata, merapikan, dan menyiapkan kamar untuk ditempati tamu sebanyak 20 kamar dalam sehari.

”Kami harus bisa menata, merapikan, dan membersihkan satu kamar hanya dalam waktu 30 menit,” ujar Avi, siswa kelas XII SMK Negeri 6 Semarang.

Ketua DPD Indonesia Hotel General Manager (IHGM) Provinsi Jateng Albertus Widi Purnomo mengungkapkan, pihaknya sudah lama bekerja sama dengan SMKN 6 Kota Semarang. Para alumni ataupun siswa juga sudah biasa magang untuk selanjutnya bekerja di hotel yang dikelola para anggota IHGM.

Widi menilai, program revitalisasi SMK mempercepat langkah para siswa mengikuti perkembangan bisnis dan persaingan sumber daya manusia di sektor pariwisata, khususnya perhotelan.–WINARTO HERUSANSONO

Sumber: Kompas, 4 Januari 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: