Home / Artikel / Lomba Penelitian Ilmiah dan Lomba Matematika; Sarana Melatih Sikap Ingin Tahu

Lomba Penelitian Ilmiah dan Lomba Matematika; Sarana Melatih Sikap Ingin Tahu

”One of the wonderful things about science is that there are no stupid questions. Nobel Prize winners ask the same ones you do.” (Anne Underwood/Karen Springer/Mary Hager, dalam Newsweek 13 Januari 1997, hlm. 46).

SEWAKTU menghadiri suatu lokakarya, saya menginap di suatu hotel yang baru saja dibuka. Rapat-rapat telah berlangsung sejak pukul 08.00 sampai dengan pukul 17.00 dan akan disambung kembali mulai pukul 20.00. Oleh karena itu sekembali di kamar saya gantungkan tanda ‘jangan diganggu’ di tombol pintu. Baru saja terlelap, telpon berdering dan sewaktu saya angkat ternyata yang menelpon adalah pelayan kamar. Ia perlu waktu untuk mengantar cucian saya, tetapi di pintu tergantung tanda larangan mengganggu. Maka itu ia menghubungi saya melalui telpon agar dibolehkan masuk!

Kalau yang menelpon adalah petugas pelayanan di kantor depan, ia pasti tidak tahu bahwa saya ingin istirahat. Lain halnya dengan pelayan kamar yang sudah jelas mengakui bahwa saya telah menggantungkan tanda ‘jangan diganggu’ di tombol pintu. Untuk tidak melanggar aturan, ia tidak mengetuk pintu, tetapi demi untuk menyelesaikan tugasnya, ia menelpon saya karena di pintu saya menggantungkan tanda ’harap jangan di ganggu‘.

Kejadian yang saya alami di Pekanbaru itu adalah suatu teladan mengenai keadaan sumberdaya manusia kita yang kurang paham menggunakan akalnya untuk memanfaatkan keterangan atau informasi yang diketahuinya bagi penyelesaian masalah di luar masalah atau sebagai lanjutan masalah yang sedang dihadapinya. Kalau sumber daya manusia Indonesia masih memiliki keragaan seperti ini, maka dalam beberapa tahun yang akan datang mereka akan menjadi pengangguran, karena hotel-hotel dan lembaga pariwisata di Indonesia bebas mempekerjakan karyawan dan karyawati yang lebih terlatih dan berasal dari negara tetangga.

Demikian pula halnya misalnya dengan kekacauan lalu lintas yang terjadi apakah di jaIan-jalan dalam kota atau di jalan lintas-cepat. Sopir angkutan kota menurunkan penumpang di tengah jalan karena enggan kehilangan waktu dengan menepikan kendaraannya terlebih dahulu. Namun karena ulahnya ini terjadi penghambatan lalu lintas yang akhirnya menghambat perjalanannya sendiri. Di jalur lintas-cepat orang yang mengemudikan mobil mewah melaju mendahului dari kiri melalui jalur darurat, karena ia merasa kendaraan yang ada di jalur lambat dan cepat menhambat perjalanannya. Padahal ia sendiri telah melaju dengan kecepatan di atas kecepatan maksimum yang diperkenankan, sehingga hambatan yang dirsakannya itu sebenarnya bukanlah karena orang lain berkendara terlalu lambat, melainkan karena ia berkendara terlalu cepat.

Kita cenderung mengatakan bahwa hal-hal itu terjadi karena tidak adanya disiplin, namun sesungguhnya hal itu terjadi karena pelakunya tidak biasa bernalar apa yang dapat terjadi karena ia berlaku seperti itu dan akhirnya membahayakan dirinya dan orang lain. Ia sudah mampu membeli mobil mewah, namun belum mampu, memelihara hartanya itu agar tidak membahayakan orang lain.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa baik di kalangan masyarakat sederhana dengan pendidikan yang seadanya, maupun di kalangan masyarakat yang pernah mengenyam pendidikan yang lebih tinggi dan kemudian dapat hidup dengan sangat nyaman, banyak yang tidak terbiasa melihat suatu persoalan secara menyeluruh. Yang dicoba ditanganinya hanyalah persoalan yang dihadapinya pada ketika itu tanpa memikirkan lebih lanjut apa akibat-akibat yang dapat terjadi karena tindakan menyelesaikan persoalan melalui naluri yang muncul dalam seketika saja. Perilaku menangani masalah secara menyeluruh hanya dapat dilatihkan kepada seseorang kalau ia pernah diberi kesempatan memahami pengetahuan sampai pada peringkat analisis dan sintesis. Dengan menjadi terbiasanya ujian diadakan menggunakan uji pilih-ganda orang hanya dilatih untuk memahami pengetahuan sebagai fakta. Oleh karena itu kegiatan lomba penelitian ilmiah untuk remaja serta kegiatan penelusuran calon peserta olimpiade matematika melalui ujian-ujian yang menekankan pada pemecahan masalah bagi pesertanya adalah suatu latihan untuk menguasai metode menemukan pengetahuan baru pada peringkat analisis dan sintesis. Tulisan ini hendak mengantarkan pembaca mengenali kedua jenis kegiatan tersebut.

Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR)
Kegiatan ini sudah diadakan sejak tahun 1977 sehingga sampai dengan tahun yang lalu sudah ada 20 angkatan peserta lomba dengan usia antara 12 hingga dengan 19 tahun. Walaupun di dalam buku petunjuk lomba tidak disebutkansecara eksplisit, kegiatan ini merangsang remaja untuk mencoba menemukan masalah untuk kemudian dicarikan jawabannya melalui pengumpulan data dari percobaan atau survai dengan menggunakan pengetahuan yang telah pernah dipelejarinya. Dengan demikian kalau ia dapat menemukan jawab terhadap masalah itu ia telah menunjukkan kemampuannya menguasai pengetahuan yang telah dipelajarinya itu pada peringkat sintesis dan analisis, bahkan mungkin juga pada peringkat yang tertinggi, yaitu peringkat penilaian.

Kalau karya-karya awal yang masuk lebih banyak merupakan pemikiran murni para peserta, seperti yang telah diajukan oleh Wigid Dwijatmoko, Nasrullah, Baswardono, Abraham Rach man dan Asril Astaman pada lomba angkatan 1970 hingga dengan 1980, akhir-akhir ini banyak peserta lomba sesungguhnya hanya meniru saja pola berpikir peserta terdahulu, terutama yang masuk ke tahap akhir. Seakan-akan mereka mengira bahwa yang akan menang dalam lomba adalah pokok masalah yang pernah dimenangkan orang lain. Sedangkan yang sesungguhnya dinilai terutama ialah kemampuan peserta menemukan suatu masalah menarik untuk diteliti.

Demikianlah pada tahun 1984 Syarif Are dari Kendari memenangkan juara kedua untuk penelitiannya yang memanfaatkan adanya Gerhana Matahari Total yang melanda Kendari, berjudul ”Pengaruh Gerhana Matahari Terhadap Percepatan Gravitasi Bumi”. Dewan Juri tertarik akan hasil penelitiannya itu karena kejelian peneliti itu memanfaatkan keadaan lingkungan yang langka tersebut guna meneliti perubahan gravitasi yang mungkin terjadi dengan menggunakan peralatan yang sangat sederhana. Akan tetapi pada tahun berikutnya dari SMA yang sama ada masukan penelitian yang pola pemikirannya tepat sama yang telah dilakukan oleh Syarif Are. Peserta itu mungkin mengira bahwa agar menang ia harus mengajukan pokok bahasan yang mirip dengan yang telah terbukti menjadi juara.

Oleh karena itu kalau suatu daerah ingin mengusahakan agar siswa-siswanya banyak yang mengajukan hasil penelitian yang bermutu, yang harus dilakukan bukanlah mewajibkan semua calon lulusan SMU membuat karya-tulis sebagai prasyarat lulus SMU. LuIusan SMU bukanlah Sarjana atau Magister ataupun Doktor, sedangkan pada masa ini ada propinsi yang mewajibkan semua siswa SMU kelas III untuk membuat karya tulis sebagai prasyarat kelulusan dari SMU. Sebagai hasilnya banyak lulusan SMU yang menghasilkan karya yang judul dan isinya tidak kalah dengan skripsi sarjana pertanian atau sarjana peternakan. Kalau memang semuanya dihasilkan secara wajar, sebaiknya di propinsi itu fakultas peternakan dan fakultas pertanian ditutup saja. Lebih murah mengangkat lulusan SMU sebagai sarjana peternakan dan sarjana pertanian.

Yang penting dalam rangka memasyarakatkan keikutsertaan dalam lomba penelitian ilmiah remaja bukanlah suatu surat keputusan yang mewajibkan semua siswa kelas III SMU membuat karya penelitian. Lebih baik diadakan upaya agar dauat karya penelitian. Lebih baik diadakan upaya agar dalam sistem proses belajar-mengajar siswa dirangsang mempertanyakan segala sesuatu yang mereka pelajari. Belajar untuk menghadapi uji pilih-ganda dengan baik dengan demikian bukan proses belajar yang baik. Selama dalam proses belajar-mengajar yang ditekankan hanya menemukan strategi menghitamkan kotak-kotak di depan jawab yang diperkirakan adalah jawab yang benar, maka selama itu pula siswa tidak punya bekal yang baik untuk mengikuti LPIR.Walaupun ia telah mengirimkan karyanya untuk dinilai di Jakarta, karyanya itu akhirnya hanya dibuat “melantai” saja oleh anggota dewan juri.

Olimpiade Matematika
Internasional Olimpiade Matematika Internasional (OMI) bermula sebagai suatu lomba matematika antara siswa-siswa sekolah menengah negara-negara Eropa Timur. Kemudian lomba itu merambat ke seluruh dunia. Indonesia mulai ikut dalam kegiatan itu dalam OMI 1988 di Sydney, Australia. Kemudian Indonesia juga ikut serta seterusnya dalam IMO 1989 di Braunschweig, Jerman Barat hingga dengan IMO 1996 di Mumbai, India. Prestasi terbaik yang diraih regu Indonesia aialah dalam IMO 1995 di Toronto, Kanada dengan satu medali perunggu dan beberapa penghargaan. Di kesempatan lainnya suasananya tidak menggembirakan.

Dalam suatu IMO setiap negara peserta diwakili sebanyak-banyaknya oleh enam peserta. Mereka diuji selama dua kali 4.5 jam selama dua hari berturut-turut untuk memecahkan enam soal ujian. Setiap soal ujian yang dikerjakan dengan lengkap bernilai 7. Nilai 1 diberikan kalau peserta dapat menunjukkan suatu pernyataan yang dapat dipakai sebagi landasan memecahkan soal itu lebih lanjut tetapi tidak dapat melaksanakannya. Nilai 4 diberikan untuk pekerjaan yang benar tetapi tidak lengkap. Kalau soal itu berupa suatu pembuktian misalnya, maka nilai 4 diberikan untuk pembuktian syarat ’keperluan’nya tetapi tidak syarat ‘kecukupan’nya. Nilai-antara lainnya diberikan sebagai peralihan dari 1 ke 4 dan 4 ke 7. Lima puluh persen peserta terbaik dipastikan mendapat medali. Dari yang mendapat medali ini seperlima terbaik akan mendapat medali emas, duaperlima di bawahnya medali perak, dan selebihnya medali perunggu. Dari mereka yang tidak mendapat medali jika ada yang menyelesaikan satu soal dengan nilai 7, maka ia akan mendapat sertifikat penghargaan.

Tampaklah bahwa jenis soal ujian bukan berupa uji pilih-ganda melainkan soal yang harus ditangani menggunakan kemampuan analisis, sintesis dan evaluasi. Teladan bentuk soal yang terdekat mungkin dapat diambil dari soal-soal geometri zaman MULO dan HBS. Bedanya soal-soal itu tidak pernah merupakan masalah yang sudah dikenal atau dibuktikan sebelumnya. Oleh karena itu agar seorang calon peserta dapat berhasil dalam OMI ia harus sudah terbiasa menangani soal-soal yang memerlukan kemampuan menggunakan pengetahuan matematikanya secara generative. Kemampuan seperti ini tidak mungkin dimiliki oleh seorang siswa SMU kalau ia hanya dibiasakan menyelesalkan contoh-contoh soal UMPTN.

Sebagai teladan tentang bagaimana cara siswa SMU berlatih menguasai matematika secara generatif dapat dikemukakan tentang kebiasaan ‘pionir-pionir ’di St Petersburg berlatih diri menghadapi suatu lomba matematika. Pada setiap hari Ahad mereka bertemu di Istana Pionir dan mempertukarkan soal-soal yang mereka buat sendiri. Dalam suatu jangka waktu tertentu pada hari itu mereka mencoba menjawab sendiri-sendiri soal-soal yang telah diajukan itu kecuali soaI yang mereka buat sendiri. Pada akhir latihan mereka menilai pekerjaan sesama rekan mereka dan yang mendapatkan jumlah nilai tertinggi kemudian dinobatkan sebagai matematikawan minggu itu.

Kemampuan membuat suatu soal yang baik menurut penilaian rekan-rekan sebaya adalah juga suatu pertanda bahwa seorang siswa telah mampu memahami matematika yang dipelajarinya itu secara generatif, yaitu pada peringkat analisis, sintesis, dan evaluasi. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa kebiasaan ini mengakibatkan bahwa setiap regu perserta OMI dari Rusia hampir selalu terwakili oleh seorang atau lebih peserta yang berasal dari St Petersburg yang universitasnya memang memiliki tradisi kuat dalam matematika.

Renungan
Setiap akhir tahun pelajaran kita selalu menghasilkan lulusan-lulusan SMU yang semakin hari semakin banyak. Namun apakah mereka sudah siap untuk mengikuti kegiatan akademik di perguruan tinggi masih merupakan pertanyaan yang besar. Dalam tiga ujian Matematika Pra-Kalkulus yang saya adakan untuk mahasiswa Tingkat Persiapan Bersama program studi Biologi, Kimia, Ilmu Komputer, dan Statistika yang banyaknya kira-kira 180 orang saya susun ketiga ujian itu sedemikian rupa sehingga ujian pertama dan kedua mencakup penilaian sampai tingkat penerapan, sedang untuk ujian ketiga saya sediakan dua dari lima soal yang memerIukan kemampuan analisis sintesis, dan evaluasi.

Persebaran nilai hasil ujian untuk kedua ujian yang pertama bersifat menjulur ke kiri. Kebanyakan mahasiswa mencapai nilai cukup tinggi sehingga modusnya ada di sebelah kanan mendekati nilai 80. Tetapi ujian ketiga menghasilkan bentuk persebaran yang setangkup dengan modus ada di sekitar 60. Setelah diperiksa pertelaan butir-butir nilai yang mereka peroleh, untuk seluruh kelas hanya kira-kira dua persen yang memiliki kemampuan analisis dan sintesis. Untuk program studi Statistika dan Ilmu Komputer yang memiliki kemampuan ini lebih tinggi namun cukup rendah, yaitu di sekitar lima persen. Hal itu dapat menerangkan mengapa dari bantuk yang menjulur ke kiri, histogram frekuensi perolehan nilai menjadi setangkup. Sebagian besar dari mereka yang tadinya termasuk kelompok peraih nilai tertinggi bergeser kedudukannya ke peringkat pertengahan. Padahal untuk mampu melakukan pekerjaan akademik, mahasiswa harus mampu menggunakan matematika sebagai alat bernalar dalam pekerjaan sehari-harinya.

Maka pekerjaan utama yang dihadapi oleh perguruan tinggi dalam proses mengubah perilaku siswa menjadi perilaku mahasiswa yang menjadi insan akademik ialah mengubah cara belajar mahasiswa baru agar terbiasa belajar mamahami pengetahuan secara generatif. Peakerjaan ini akan dapat diringankan kalau di SMU semua siswa juga dibiasakan belajar secara generatif, diikuti oleh keikutsertaan dalam lomba-lomba seperti LPIR dan Lomba Matematika yang bukan merupakan adu-tangkas yang mengutamakan kecepatan menjawab. Namun mendorong siswa SMU untuk mengikuti LPIR saja tanpa mempersiapkan sarana dan perilaku berpikirnya tidak akan menghasilkan apa-apa. Akhirnya, perlu pula direnungkan bahwa ketakterbiasaan lulusan SMU belajar secara generatif, melainkan berpuas diri belajar menimba pengetahuan secara reproduktif saja, dipicu oleh perguruan tinggi itu sendiri dengan mengandalkan kriterium ujian saringan masuk melulu pada uji pilih-ganda. Bahkan sampai di dalam sistem ujian di perguruan tinggi itu sendiri masih banyak dosen yang percaya bahwa melalui ujian pilih-ganda ia dapat mebina insan akademik ampuh yang dapat menggunakan pengetahuan yang dikuasainya untuk menemukan pengetahuan baru.

Andi Hakim Nasoetion, Gurubesar Statistika, FMIPA Institut Pertanian Bogor, Jawa Barat.

Sumber: Kompas, 1 April 1997

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Menunggu Jendela bagi Fisika Baru

PARA fisikawan yang berasal dari 11 institusi dari Amerika Serikat, Rusia, Jepang, dan Jerman, yang ...

%d blogger menyukai ini: