Home / Berita / LIPI Kejar Manfaat Mikroba

LIPI Kejar Manfaat Mikroba

Peneliti Mengoleksi Spons Laut untuk Bahan Senyawa Obat
Kelompok mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengisolasi mikroba dari sekitar 50 sampel dari darat dan laut di Pulau Enggano, Bengkulu. Mikroba itu akan dimurnikan dan disimpan di Indonesia Culture Collection LIPI, Bogor.

Tim mengumpulkan sumber sampel berupa tanah, sedimen lumpur, serasah atau daun kering, daun hidup pada pohon, berbagai buah, dan air. “Pada area satu tumbuhan, misalnya, mikroba yang didapatkan dari sumber tanah, daun, dan buah bisa berbeda jenis,” kata koordinator kelompok mikrobiologi Dian Alfian Nurcahyanto, Minggu (26/4), di Pulau Enggano.

Tim LIPI berada di Pulau Enggano dalam rangka Eksplorasi Bioresources Indonesia 2015, yang merupakan bagian dari Ekspedisi Widya Nusantara 2015. Tim terdiri atas peneliti bidang zoologi (ilmu yang mempelajari satwa), botani (tumbuhan), dan mikrobiologi (mikroba). Bioresources atau sumber daya berbasis biologi diprediksi menjadi tulang punggung perekonomian negara-negara yang mengarusutamakan pengembangan teknologi.

Khusus kelompok mikrobiologi, hampir semua anggota tim meninggalkan pulau tersebut pada Minggu (26/4). Anggota kelompok tim zoologi dan sebagian anggota tim botani juga masih terus mengumpulkan sampel atau spesimen hingga 2 Mei.

Menurut Dian, misi utama kelompok mikrobiologi adalah melindungi keanekaragaman mikroba Enggano terlebih dulu sebelum hilang atau punah akibat kerusakan habitat, misalnya karena pembukaan lahan hutan yang masif. Sejumlah titik lokasi hutan di Pulau Enggano sudah dan sedang dibuka untuk kegiatan perkebunan, baik oleh penduduk asli maupun pendatang.

Sementara kekayaan hayati (biodiversitas) di hutan Enggano belum terdata secara lengkap, sehingga Indonesia berpotensi kehilangan potensi manfaat sumber daya hayati sebelum sempat diteliti jika pembukaan hutan terus dibiarkan tanpa kendali.

“Jika manfaat mikroba dari Enggano ditemukan, keuntungan bukan hanya untuk masyarakat Enggano, melainkan seluruh Indonesia, misalnya untuk pengembangan pangan, obat, dan energi yang nantinya dijalankan industri,” tutur Dian, yang juga peneliti arkea atau archaea (bakteri yang hidup dalam kondisi ekstrem). Pusat Penelitian Biologi LIPI, bekerja sama dengan Jepang, saat ini mengembangkan penelitian sumber energi berbasis mikroba dari biomassa.

Indra Fakhma Saprila, teknisi Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, mencontohkan, Pusat Penelitian Bioteknologi saat ini juga sudah menghasilkan suplemen spirulina untuk mempertahankan kekebalan tubuh. Spirulina merupakan mikroalga hijau yang dikoleksi dari laut Indonesia.

Suplemen ini tidak memiliki efek samping, tetapi masih harus mendapatkan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) serta masih ditawarkan kepada industri untuk produksi massal.

Peneliti dari kelompok mikrobiologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mengoleksi spons di laut area pesisir Taman Buru Gunung Nanua, Pulau Enggano, Bengkulu, Jumat (24/4). Peneliti mencari bakteri yang hidup dalam spons untuk mengetahui potensi pemanfaatannya secara spesifik. —KOMPAS/JOHANES GALUH BIMANTARA

Indra menambahkan, target tim bioteknologi di Pulau Enggano adalah memperoleh alga hijau chlorophyta dari laut. Tim sudah mengoleksi sampel laut dari Banjarsari, Malakoni, Kaana, dan Kahyapu. “Kami menargetkan mendapatkan alga hijau karena potensi pemanfaatan mikroba ini beragam, antara lain untuk energi dan pangan,” ujarnya.

Spons laut
Hari Jumat (24/4), empat anggota tim mikrobiologi juga mengambil sampel dari area pesisir Taman Buru Gunung Nanua. Mereka menumpang perahu motor menyusuri pantai dari dermaga Kahyapu sepanjang sekitar 15 kilometer untuk mengambil sampel sedimen tanah dan tumbuhan di pantai.

Selama di laut, tim juga mengoleksi beberapa sampel spons, hewan tak bertulang belakang yang banyak mengandung senyawa bioaktif untuk berbagai kegunaan.

Peneliti bakteri LIPI, Rini Riffiani, mengatakan, tim menargetkan memperoleh bakteri yang mendapat sumber makanan dari spons hasil koleksi. “Selama ini, banyak bakteri yang ditemukan pada spons ternyata menghasilkan senyawa obat, termasuk berpotensi untuk antibiotik,” ujarnya.

Rini menyebutkan, potensi manfaat dari bakteri-bakteri spons yang diambil dari laut area Enggano bisa diketahui sekitar dua minggu ke depan. Sebelumnya, peneliti harus memurnikan koloni bakteri terlebih dulu hingga tidak tercampur dengan mikroba lain, lalu menguji potensi pemanfaatan senyawa yang dihasilkan bakteri melalui sistem deteksi cepat. (JOG)
———————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 27 April 2015, di halaman 14 dengan judul “LIPI Kejar Manfaat Mikroba”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: