LIPI Dijadikan Bank Data

- Editor

Senin, 27 Oktober 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seluruh data hasil riset di Indonesia, baik oleh peneliti di lembaga riset maupun akademisi di perguruan tinggi, nantinya dikirim dan disimpan di Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Itu kesepakatan sejumlah institusi yang hendak menjadikan LIPI sebagai Pusat Data Informasi Iptek Nasional.

Selama ini, Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI hanya menghimpun literatur yang dipublikasikan berbentuk jurnal atau majalah ilmiah. Namun, hal itu dinilai tidak cukup.

”Data hasil riset yang menjadi dasar tesis atau tulisan ilmiah yang tidak dipublikasikan juga perlu disimpan di pusat dokumentasi itu,” kata Kepala PDII LIPI Sri Hartinah dalam Lokakarya Nasional Dokumentasi Informasi, pekan lalu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pertemuan itu membahas tentang postur Pusat Data Informasi Iptek Nasional (PDIIN). Saat ini, postur PDIIN dinilai belum final meskipun dibahas pada empat kali pertemuan yang melibatkan Bappenas, Kementerian Ristek, Dirjen Dikti, dan perguruan tinggi.

meja-infoeUntuk mewujudkan pusat data, yang perlu disiapkan adalah dasar hukum. Menurut Asisten Deputi Relevansi Kebijakan Riset Iptek Kementerian Ristek Sadjuga, diperlukan amandemen UU Nomor 18 Tahun 2002 tentang Sistem Iptek Nasional, yakni dengan menambahkan satu pasal yang memberi kewenangan kepada PDII dan mendorong keluarnya peraturan pemerintah yang mengatur tentang pengelolaan data riset tersebut.

Ratusan ribu literatur
Saat ini, PDII LIPI menghimpun lebih dari 300.000 literatur, antara lain jurnal ilmiah dari seluruh Indonesia. Jumlah itu masih di bawah 50 persen dari perkiraan total.

Para peneliti dan akademisi dinilai belum memiliki kesadaran penuh untuk memberikan karya tulis ilmiahnya kepada PDII. Nantinya, untuk pengumpulan data ilmiah primer, kata Sri, akan menggunakan dua cara, yaitu koneksi akses di PDII dan sistem sentralisasi penyimpanan data di PDII LIPI.

Penyimpanan di PDII LIPI memberikan beberapa keuntungan, di antaranya mencegah duplikasi penelitian, menyelamatkan data dari risiko hilang, dan efisiensi dana riset. Melalui penelusuran data ke PDII, peneliti dapat memanfaatkan data hasil penelitian sebelumnya. (YUN)

Sumber: Kompas, 27 Oktober 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 3 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB