LIPI Daftarkan 8 Tanaman untuk Sertifikat PVT

- Editor

Minggu, 15 Mei 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia mendaftarkan 8 jenis tanaman untuk dapat sertifikat perlindungan varietas tanaman (PVT). Dari 8 tanaman yang didaftarkan, 3 di antaranya dalam proses sertifikasi. Lima varietas hasil pemuliaan tanaman yang telah disertifikasi Kementerian Pertanian adalah Aeschynanthus Soedjana Kassan, Hoya Kusnoto, Aeschynanthus Mahligai, Begonia Tuti Siregar, dan Begonia Lovely Jo. Mendaftarkan hasil pemuliaan penting.

”Itu juga akan melindungi peneliti agar hasil temuan tak dimanfaatkan orang lain secara komersial,” kata Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Bambang Subiyanto pada lokakarya PVT LIPI, Rabu (11/5), di Bogor. Kepala Pusat Inovasi LIPI Nurul Taufiqu Rohman menuturkan, peneliti dapat keuntungan lain, seperti pemberian nilai angka kredit yang besar. Kendati demikian, ada sejumlah kendala yang membuat pendaftaran varietas tanaman LIPI pada PVT minim. Selain jumlah peneliti tanaman LIPI kurang dari 25 orang, pengembangan varietas tanaman perlu waktu lama. ”Saat persilangan gagal, harus menunggu enam bulan lagi,” ujarnya. (C03)
—————-
Air Bersih dan Sanitasi Masih Bermasalah

Ketersediaan air bersih dan sanitasi layak masih jauh dari harapan. Pencapaian akses universal berarti 85 persen penduduk memperoleh standar pelayanan minimal (SPM) layanan air bersih 60 liter per orang per hari. Di bidang sanitasi, 85 persen penduduk memperoleh layanan SPM, antara lain sanitasi air limbah dan penanganan sampah. ”Saat ini, akses pada air minum bersih mencapai 70 persen dan akses sanitasi layak 64 persen,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Rina Agustin Indriani dalam dialog Indonesia Urban Water, Sanitation, and Hygiene (IUWASH), ”Ketersediaan Air Bersih dan Sanitasi dalam Perspektif Media”, Rabu (11/5), di Jakarta. Turut berbicara wartawan senior Maria Hartiningsih, Redaktur Pelaksana Republika Subroto, Produser 360 Metro TV Amanda Valani, dan Redaktur Humaniora Media Indonesia Soelistijono. Penasihat Senior Sanitasi Program IUWASH Lutz Kleeberg menyatakan, Indonesia masih butuh 40 juta septic tank untuk mencapai sanitasi layak 100 persen. Dana yang dibutuhkan Rp 120 triliun, yang sulit dicapai jika hanya mengandalkan pemerintah. (C01)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 13 Mei 2016, di halaman 14 dengan judul “Kilas Iptek”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 28 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB