Home / Berita / Lintah Bantu Ungkap Proses Resistensi Antibiotik dari Ayam ke Manusia

Lintah Bantu Ungkap Proses Resistensi Antibiotik dari Ayam ke Manusia

Resistensi antibiotik terhadap bakteri semakin meluas. Salah satu sumber resistensi adalah penggunaan antibiotik pada peternakan ayam. Bagaimana hubungan antibiotik pada ayam menyebabkan resistensi pada manusia belum terlalu jelas. Namun, tim ilmuwan internasional menemukan hubungannya melalui penelitian dengan bantuan lintah.

WAWAN H PRABOWO–Sejumlah kalangan menilai lintah sebagai binatang pengisap darah yang harus dijauhi. Namun, di Klinik Qonita Denntistika Plus, Jalan Rawa Buntu, Bumi Serpong Damai, Tangerang, Banten, lintah justru dimanfaatkan sebagai media untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit.

Penelitian berjudul Antimikroba Tingkat Rendah dalam Lintah Medis Pilihan untuk Patogen Kebal yang Menyebar ke Pasien itu dimuat dalam jurnal mBio yang dipublikasikan sciencedaily.com, 24 Juli 2018.

Peneliti yang terlibat di antaranya Lidia Beka, Joerg Graf, dan Sophie M Colston dari Departemen Biologi Molekuler dan Sel, Universitas Connecticut, Amerika Serikat; Iain S Whitaker dari Fakultas Kedokteran Swansea, Inggris; dan Brigitte Lamy dari Laboratorium Biologi CHRU Montpellier, Perancis.

Mikrobiologis Joerg Graf sangat akrab dengan lintah. Dia memeriksa isi tubuh ribuan lintah selama bertahun-tahun. Dia mempelajari bagaimana bakteri dapat hidup di dalam saluran pencernaan hewan tanpa membuat hewan sakit.

Namun, pada 2011 dia mendapat kejutan yang tidak menyenangkan. Salah satu mahasiswa pascasarjana, Sophie Colston, kesulitan mengembangkan salah satu galur bakteri Aeromonas. Aeromonas biasanya hidup sangat baik pada lintah. Mereka akan memasukkan Aeromonas ke lintah dan kemudian memeriksa seberapa baik bakteri itu tumbuh di usus. Kali ini, Aeromonas sedang bermasalah.

Lidia Beka, mahasiswa pascasarjana lain di laboratorium, mengejar penyebabnya. ”Untuk beberapa alasan, (galur bakteri) itu sulit bertahan hidup di habitat aslinya,” kata Beka.

Pada saat yang sama, ahli bedah plastik melaporkan masalah pasien yang terinfeksi bakteri Aeromonas yang resisten terhadap ciprofloxacin, antibiotik yang penting untuk manusia. Pasien itu diterapi dengan lintah untuk melancarkan aliran darah di bekas luka operasi.

SP/TBR–Seorang pasien mendapat terapi lintah di India, 28 Desember 2013.

Biasanya bakteri Aeromonas mudah diobati dengan ciprofloxacin. Selain itu, tidak ada informasi Aeromonas kebal terhadap ciprofloxacin di rumah sakit. Aeromonas yang resisten terhadap obat harus berasal dari lintah. Akan tetapi, bagaimana caranya? Lintah-lintah dibesarkan di peternakan khusus, diberi makan diet terkontrol dan hanya digunakan sekali pada satu pasien.

”Tanpa pernah berada di rumah sakit, tanpa pernah melihat pasien manusia, lintah ini mengandung bakteri kebal ciprofloxacin,” kata Graf. Ketika Graf menerima lintah, dia menyimpannya dalam botol kecil yang ditutupi dengan lapisan keju dan disimpan di kulkas untuk menyimulasikan musim dingin.

Ketika lintah keluar dari penyimpanan dingin, mereka lapar. Mereka menginginkan darah. Lintah tidak pilih-pilih dari mana asal darahnya. Lintah adalah pengisap darah yang oportunistik.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO (NUT)–Sapi-sapi potong dikembangbiakkan dengan cara dibiarkan di padang rumput di kawasan Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Potong Padang Mangatas, Kabuopaten Limapuluh Kota, sumatera Barat, Kamis (8/10/2015). Peternak lintah memberi makan lintah dengan darah sapi.

Jadi, ketika terjadi wabah penyakit sapi gila di Eropa, peternak lintah tidak memberi makan lintah dengan darah sapi. Seorang peternak lintah medis besar di Eropa beralih memberi makan lintah dengan darah ayam sebagai ganti darah sapi.

Hal tu memberi Graf petunjuk. Bagaimana jika darah ayam itu terkontaminasi dengan antibiotik? Mereka menganalisis isi usus lintah dari peternakan yang memberi makan darah ayam. Graf menemukan jejak ciprofloxacin dan enrofloxacin, analog ciprofloxacin yang digunakan dokter hewan. Jumlah antibiotik sangat rendah, hanya sekitar 0,01 mikrogram per mililiter, 400 kali lebih kecil dari konsentrasi bakteri yang harus bertahan agar dianggap resisten terhadap antibiotik. Lintah dari peternakan lain, dengan galur bakteri Aeromonas masih tumbuh dengan baik, tidak memiliki antibiotik yang terdeteksi di ususnya.

Mungkinkah tingkat rendah seperti ciprofloxacin benar-benar menyebabkan resistensi antibiotik? Graf, Beka, dan rekan-rekan memutuskan untuk mencari tahu. Mereka mengisolasi galur Aeromonas dari lintah yang terkontaminasi dengan antibiotik dan mengurutkan genom mereka.

Dua rekan peneliti ain, Matt Fullmer dan Peter Gogarten, menegaskan bahwa mereka mengandung tiga DNA, dua gen dengan mutasi dan plasmid, yang diperlukan untuk resistensi terhadap ciprofloxacin.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Seorang peneliti bekerja di laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Jakarta, Senin (31/7/2006).

Ketika Aeromonas yang kebal ciprofloxacin ditanam dalam media laboratorium yang bersih atau di dalam lintah, galur bakteri uji tumbuh di seluruh media tanam itu. Jika bahkan ada sedikit antibiotik yang ditambahkan ke dalam campuran, serendah 0,01 mikrogram per mililiter, maka varietas yang tahan terhadap ciprofloxacin mendominasi.

”Ini adalah kali pertama tingkat antibiotik yang rendah melakukan hal ini di lingkungan alam. Tingkat antibiotik 100 kali di bawah titik klinis memungkinkan bakteri resistensi berkembang biak satu juta kali lipat!” ujar Graf.

Hasil penelitian ini mengkhawatirkan karena ciprofloxacin dan obat-obatan terkait tidak terurai dengan baik di lingkungan. Mereka bertahan di alam. Mereka ditemukan di air limbah rumah sakit, limbah dari pabrik farmasi dan peternakan, bahkan kadang-kadang di limbah. Ternyata ada juga dalam darah ayam.

KOMPAS/ADHITYA RAMADHAN–Aman (48) peternak di Desa Payungagung, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, memeriksa pipa air minum untuk ayam pedaging, Rabu (25/4/2018). Sejak larangan antibiotik sebagai imbuhan pakan dilarang per Januari 2018, pertumbuhan ayam pedaging menurun.

Penggunaan antibiotik telah dilarang di peternakan unggas di AS, tetapi tidak di Eropa. Karena antibiotik hadir di rumah sakit, farmasi dan air limbah di tingkat yang sangat rendah, sumber-sumber lain ini umumnya tidak diatur pemerintah.

Penelitian Graf, Beka, dan rekan-rekan mereka menunjukkan, tingkat antibiotik rendah ini penting. Jika tidak mengatur praktik pembuangan limbah medis, hal itu berisiko membuat beberapa antibiotik terpenting tidak berguna untuk pengobatan.

Indonesia juga mulai melarang penggunaan antibiotik pada peternakan ayam melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 14/Permentan/Pk.350/5/2017 tentang Klasifikasi Obat Hewan. Permentan tersebut mengatur khusus larangan antibiotik imbuhan pakan, yang terdiri atas produk jadi sebagai imbuhan pakan atau bahan baku obat hewan yang dicampurkan ke dalam pakan.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 25 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

SpaceX Ukir, Perusahaan Penerbangan Luar Angkasa, Ukir Sejarah Baru

SpaceX, perusahaan asal Amerika Serikat, menjadi perusahaan swasta pertama yang berhasil mengirimkan manusia ke Stasiun ...

%d blogger menyukai ini: