Home / Berita / Kasus Infeksi akibat Ketahanan Antimikroba Meningkat

Kasus Infeksi akibat Ketahanan Antimikroba Meningkat

Jumlah kasus infeksi akibat ketahanan antimikroba karena penggunaan antibiotik yang tidak sesuai ketentuan meningkat. Infeksi ini mengakibatkan proses penyembuhan pasien menjadi lebih lama.

Sejumlah zat bersifat kebal terhadap antibiotik salah satunya extended spectrum beta lactamase (ESBL) yang dapat dihasilkan bakteri Escherichia coli dan Klebsiella pneumonia. Ketahanan ini disebut resistensi antimikroba atau antimicrobial resistance (AMR).

Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan Harry Parathon mengatakan, apabila pasien terjangkit AMR, proses terapi yang ditetapkan dokter dapat terganggu. Penyembuhan pun dapat berlangsung lebih lama. Risiko kematian pun meningkat.

Dampak lainnya adalah terjadi kegagalan bedah. Harry menceritakan pernah menemukan kasus tidak berhasilnya operasi pada kerongkongan seorang pasien akibat infeksi AMR. “Menurut riwayat kesehatannya, dia mengonsumsi antibiotik tidak sesuai ketentuan,” katanya dalam Seminar Nasional Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia XV di Jakarta, Jumat (20/10).

Berdasarkan data yang dikumpulkan KPRA, jumlah kasus atau prevalensi ESBL di Indonesia meningkat. Pada 2013 prevalensinya sebesar 26-56 persen. Adapun pada 2016 prevalensinya sebesar 45-89 persen.

Berdasarkan pengamatan resistensi antimikroba pada 2016 di 9 kota besar yang dihimpun KPRA, lebih dari setengahnya memiliki prevalensi di atas 50 persen. Tiga kota tertinggi meliputi Aceh (82 persen), Semarang (79 persen), dan Medan (78 persen).

Harry mengatakan, kasus AMR yang mengakibatkan infeksi saat perawatan di rumah sakit sebesar 5-19 persen. “Kami pernah menemukan perpindahan AMR melalui stetoskop,” ucapnya.

Karena itu, Harry mengimbau agar rumah sakit memperhatikan sterilitas sebelum menangani pasien sesuai dengan protokol yang berlaku. Tidak hanya tenaga kesehatannya, alat-alat rumah sakit juga harus diperhatikan.

Dia mengatakan, AMR dapat dicegah dengan memberikan antibiotik sesuai dengan kebutuhan pasien. AMR muncul karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat. Bisa saja pasien tidak membutuhkan antibiotik, tetapi tetap diberikan. Ada juga penggunaan dengan dosis berlebihan.

Sekretaris Majelis Kehormatan Etik Rumah Sakit Indonesia Pusat Sintak Gunawan menambahkan, pasien juga perlu disiplin dalam menggunakan antibiotik. “Jangan membeli antibiotik sembarangan,” katanya.

Tingkat lanjutnya, menurut Sintak, pasien dapat mengambil tes resistensi mikroba untuk mengetahui antibiotik yang kebal pada tubuhnya. Sampelnya berupa urine, darah, atau tinja.(DD09)

Sumber: Kompas, 21 Oktober 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: