Home / Berita / Lindu Peringatan untuk Jawa dan Bali

Lindu Peringatan untuk Jawa dan Bali

Gempa bumi berkekuatan M 6 yang mengguncang Situbondo dan Sumenep pada Kamis (11/10/2018) menjadi peringatan tentang kerentanan Jawa dan Bali. Dua pulau terpadat di negeri ini juga memiliki riwayat gempa bumi merusak dan bisa kembali berulang kapan saja.

Tiga orang tewas akibat gempa atau dalam bahasa Jawa disebut lindu yang berpusat sekitar 35 kilometer arah selatan dari Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Propinsi Jawa Timur pekan lalu. Semua korban tewas ini karena tertimpa bangunan yang rontok.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Ahrito berada di sekitar rumahnya yang hancur oleh gempa di Desa Prambanan, Kecamatan Gayam, Pulau Sapudi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Sabtu (13/10/2018). Gempa dengan magnitudo 6,3 menyebabkan 475 rumah di pulau tersebut rusak.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah mengidentifikasi, gempa ini memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) dengan kemiringan bidang sesar ke arah selatan. Dengan ciri-ciri ini, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono menduga, gempa ini bersumber dari sesar naik Flores yang sebelumnya juga memicu rentetan gempa di Pulau Lombok.

SHARON UNTUK KOMPAS–Rangkaian Gempa akibat Sesar Naik Flores yang dicatat oleh BMKG terjadi sejak 1815. Bagi Lombok, ini adalah gempa pertama akibat Sesar Naik Flores.

Sesar naik Flores diketahui memanjang dari utara Pulau Flores di Nusa Tenggara Timur dan menerus ke Nusa Tengara Barat, hingga utara Bali. Sesar ini terdiri dari beberapa segmen yang bertanggungjawab terhadap sejumlah gempa besar diikuti tsunami, seperti terjadi di utara Flores pada 1992 dan utara Bali pada 1815.

?Tsunami Flores 26 tahun lalu yang menewaskan sekitar 2.000 jiwa barangkali masih diingat sebagian orang. Apalagi banyak saksi mata yang masih hidup. Namun, tsunami Bali 1815 sudah jarang diketahui, bahkan bagi masyarakat Bali sendiri. Apalagi tapak bencana ini, saat ini berkembang menjadi area padat penduduk dan kawasan wisata yang ramai.

Padahal, Arthur Wichman (1918) dalam katalog gempa bumi di Kepulauan Indonesia periode 1538-1877 menyebutkan, gempa di utara Bali terjadi pada 22 November 1815 sekitar pukul 10 malam dan diikuti tsunami. Babad Buleleng dan Babad Ratu Panji Sakti, juga merekam bencana yang terjadi pada tahun Saka 1737 atau 1815 ini, sekalipun ringkas.

?Sedangkan naskah di Puri Ayodya, Singaraja mendeskripsikannya cukup lengkap, ”Pada hari Rabu umanis kurantil tahun Saka 1737 (22 November 1815), gempa bumi besar mengguncang. Getaran gempa bumi mengakibatkan pegunungan retak longsor dengan suara menggelegar seperti guntur. Longsoran pegunungan lantas menimpa ibu kota Buleleng, Singaraja. Desa-desa tersapu ke laut. Bencana ini menewaskan 10.523 orang. Banyak pejabat penting kerajaan turut menjadi korban, tetapi Raja Buleleng I Goesti Angloerah Gde Karang selamat.” (Kompas, 22/07/2017).

Waspada Bali
?Peneliti gempa bumi Universitas Gadjah Mada Gayatri Indah Marliyani mengatakan, gempa yang melanda Situbondo kemungkinan besar terjadi di ujung barat sesar naik Flores ini. Gempa-gempa yang beruntun di Lombok rupanya telah mengganggu keseimbangan batuan di sepanjang jalur sesar naik Flores di segmen yang berdekatan.

?“Jalur sesar ini sebenarnya melewati utara Bali, namun kali ini terlompati. Semoga, segmen sesar yang di utara Bali masih belum akan bergerak, karena masih menabung energi. Tetapi, Bali memang harus waspada, karena suatu saat akan gempa juga,” kata dia.

?Selain dilanda gempa pada 1815, Pulau Bali juga pernah dilanda gempa berkekuatan M 6,5 pada 14 Juli 1976. Jumlah korban saat itu mencapai lebih dari 400 jiwa dan 3.000 orang mengalami luka-luka (Kompas, 17 Juli 1976).

“Sebagai tempat wisata utama, Bali merupakan etalase Indonesia. Jika gempa kembali terjadi di sana, dampaknya akan sangat besar. Selain sesar besar di utara dan zona subduksi di selatan, di daratan Bali juga banyak sesar-sesar kecil yang belum terpetakan dengan baik,” kata dia.

Kerentanan Jawa
?Seperti Bali, Pulau Jawa juga dilintasi banyak sesar darat yang aktif. “Gempa di Situbondo ini harus membuat kita sadar bahwa gempa dengan kekuatan yang sama bisa terjadi di daratan Pulau Jawa,” kata Irwan Meilano, ahli gempa bumi dari Institut Teknologi Bandung.

–Sebaran Gempa di Jawa dari publikasi Visser (1922)

?Irwan sudah lama curiga, sesar naik Flores memiliki kemenerusan dengan sesar Kendeng yang juga aktif. Dalam buku Sumber Gempa Nasional 2017 yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), sesar Kendeng ini disebutkan memanjang mengarah barat timur dari Jawa Tengah hingga bagian barat Jawa Timur. Di bagian barat sesar Kendeng ini terlihat menyambung ke dalam sistem sesar Semarang dan Baribis. Gempa-gempa dangkal berukuran sedang (M 4-5) terjadi di sepanjang zona sesar ini dalam beberapa tahun terakhir.

?Bukti pergerakan sesar ini dapat diamati dengan adanya teras-teras sungai yang terangkat seiring dengan pergerakan sesar-sesar di daerah ini (Marliyani, 2016). Hasil penelitian terakhir dan juga hasil diskusi kelompok tim revisi zonasi gempa menunjukkan bahwa Sesar Baribis merupakan bagian dari satu kesatuan jalur sesar naik belakang busur, termasuk di dalamnya Sesar Semarang dan sesar-sesar naik di zona Kendeng, Jawa Timur (Natawidjaja dan Daryono, 2016).

?Gayatri yang disertasinya tentang jalur sesar di Pulau Jawa mengatakan, sumber-sumber kolonial merekam banyak kejadian gempa bumi di pulau ini. “Dari hasil kajian paleseismologi memang ada gempa berulang berkekuatan sekitar M 6-7 di berbagai lokasi di Jawa. Kekuatan sebesar itu kalau di darat dekat permukiman akan menimbulkan kerusakan besar, seperti di Yogyakarta tahun 2006 yang korbannya sampai 6.000 orang,” kata Gayatri.

?Misalnya, pada 26 November 1852 terjadi gempa merusak yang berpusat di Grati, Pasuruan, Jawa Timur. Gempa ini dirasakan sampai di Surabaya yang berjarak 60 km dari Grati. Catatan Visser SW (1922) telah merekam setidaknya 21 kali gempa bumi cukup kuat yang pernah terjadi di Pulau Jawa dari kurun 1699 hingga 1920. Beberapa daerah yang disebut menjadi pusat gempa di antaranya, Cirebon, Rembang, Banyumas, Ambarawa, Yogyakarta, Kuningan, Cianjur, Sukabumi, Majalengka, Madiun, hingga Salatiga.

–Daftar Gempa di Jawa dari publikasi Visser (1922)

Gempa besar Jakarta?
Bahkan, Jakarta juga tak luput dari gempa besar.Seperti disebutkan dalam katalog Arthur Wichman, gempa amat kuat dirasakan di Jakarta pada 5 Januari 1699 sekitar pukul 01.30, saat hujan lebat. Selain merobohkan banyak bangunan, gempa itu menyebabkan longsor besar di Gunung Gede Pangrango dan Gunung Salak.

?”Banjir bandang berisi lumpur dan kayu memenuhi Sungai Ciliwung di Batavia, mengalir ke laut. Di mana-mana terjadi kehancuran,” tulis dokumen ini.?

Ahli gempa bumi dari Research School of Earth Sciences, Australian National University PR Cummins, saat menjadi pembicara kunci dalam lokakarya di Tsunami & Disaster Mitigation Research Centre (TDMRC) Universitas Syiah Kuala Aceh, pekan lalu menyebutkan, sumber-sumber kolonial menunjukkan, hampir seluruh Pulau Jawa pernah diguncang gempa bumi di atas skala 5 Modified Mercalli Intensity (MMI) dalam kurun 1699 hingga 1867.

?Dengan melihat kepadatan penduduk dan kualitas konstruksi bangunan saat ini, Cummins mengkhawatirkan, jika gempa-gempa ini terjadi kembali saat ini, jumlah korban jiwa bisa lebih dari 10.000. Khusus untuk gempa besar yang pernah melanda Jakarta tahun 1699, korban jiwa bisa mencapai lebib dari 100.000 jiwa.

?Selain itu, gempa kuat juga merusak rumah-rumah di di Jakarta pada 1780 (Wichman, 1918). Beberapa kali kejadian gempa di Jakarta ini membuat sejumlah peneliti menduga kuat adanya sesar darat melintas di kota ini, sekalipun sampai saat ini jalur persisnya belum diketahui karena kepadatan hunian dan juga lapisan sedimen tebal.

?Hingga saat ini gempa bumi memang belum bisa diprediksi kapan terjadinya, namun dari data-data sejarah ini, hanya soal waktu kota-kota padat penduduk di Pulau Jawa akan kembali mengalaminya. Melalui mitigasi, di antaranya memperkuat bangunan menjadi tahan gempa, risiko kerugian dan jumlah korban bisa dikurangi.–AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 16 Oktober 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

%d blogger menyukai ini: