Home / Berita / Limbah Botol dan Ban untuk Pemecah Gelombang di Ampenan

Limbah Botol dan Ban untuk Pemecah Gelombang di Ampenan

Selalu ada cara mengatasi persoalan, seperti upaya anak muda di Lingkungan Kampung Melayu, Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Mereka membuat tanggul sederhana berfungsi sebagai pemecah gelombang yang ditenggelamkan di kedalaman laut sekitar 4 meter, berada 100 meter dari pesisir Ampenan yang berhadapan langsung dengan kampung mereka.

Bahannya berupa botol plastik bekas wadah minuman air mineral, ban bekas kendaraan roda dua, roda empat, yang dibeli secara swadaya ataupun sumbangan warga. Botol-botol itu diisi pasir basah—karena menggunakan pasir kering bisa menyusut jadi setengah bagian jika terendam air. Ban-ban bekas itu dirangkai sedemikian rupa menyerupai bak. Lalu ribuan botol-botol diikat pada ban ”rakitan” tadi sebagai pemberat, lalu dicurahkan ke laut.

Menurut Soni (36) dan Arya Wirayana (40), yang bertugas memasang tanggul di dalam air, ada dua unit yang mereka buat, dan satu di antaranya dipasang hari Minggu (11/5). Satu unit lainnya dipasang Januari lalu. ”Idenya sederhana, tanggul ini berfungsi memecah gelombang agar energi ombak ke pesisir jadi berkurang,” ujar Arya Adiana si empunya ide.

Tanggul-tanggul berukuran 10 meter persegi itu—di dalam air tanggul—dalam posisi berdiri. Tujuannya, tanggul itu sebagai tempat menempelnya hewan kecil dan biota laut lainnya sehingga menyerupai terumbu karang yang dapat memecah gelombang. Keyakinan demikian terindikasi dari tanggul yang dipasang pertama saat terjadi air pasang disertai ombak Februari lalu. ”Saat itu, dua rumah, termasuk rumah saya, terhindar dari terjangan ombak,” tutur Arya Adiana.

Kampung mereka berhadapan langsung dengan pantai bekas Pelabuhan Ampenan. Dua kali setahun: saat musim angin barat dan tenggara, permukiman warga di pesisir itu didatangi gelombang serta ombak yang merendam dan menerjang rumah penduduk setempat.

Warga yang menjadi korban terpaksa mengungsi ke rumah tetangga, keluarga, bahkan bikin tenda darurat. Uang dari hasil sebagai nelayan dan pedagang kaki lima selama berbulan-bulan terkuras habis untuk merehabilitasi rumah.

Kondisi itulah yang mendorong sejumlah warga setempat memunculkan gagasan mengurangi dan mengendalikan bencana ini. Sebelum tanggul sederhana itu dibuat, mereka menyurvei. Hasilnya sepanjang 10 kilometer garis pantai dari utara ke selatan, topografi pesisir Ampenan berupa pasir, terumbu karang yang ada sudah mati akibat penangkapan ikan menggunakan bom dan potasium. Akibatnya, abrasi tak terhindarkan oleh terjangan gelombang dan ombak begitu deras karena tak ada penghalangnya.

Keberadaan tanggul itu sudah dirasakan manfaatnya, seperti sebagai tempat berkembangnya ikan dasar, seperti cumi-cumi dan lobster yang dua dekade lalu tidak pernah terlihat. Burung camar yang sebelumnya menghilang kini mulai tampak beterbangan di seputar perairan itu.

Memang tanggul itu sebagai solusi sementara karena secara teknis dipertanyakan daya tahannya menahan gempuran ombak. Namun, mereka tak tinggal diam—bahkan menambah tanggul pemecah gelombang sebanyak-banyaknya demi menjaga keselamatan warga di kampung itu. (KHAERUL ANWAR)

Sumber: Kompas, 18 Mei 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: